Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 65


__ADS_3

Desa manun si cantik dan megah


"Ayo di beli! Wewangian Barus dan berbagai wewangian lainnya ada di sini."


"Ayo di beli, di beli, di beli. Wewangian dari kamper, bunga Magnolia dan bunga mawar hitam dari bukit Ararat semuanya tersedia di toko kami."


"Bulu domba terbaik dari Utara! Mampirlah tuan-tuan dan nyonya-nyonya di tempat ku!"


"Patung Dewi Rhodes dari barat, kami memiliki replikanya. Di buat dari emas sempurna dan di pahat oleh ahli dari ardon. Kalian semua pasti menyukainya."


Orang-orang berteriak menjajakan barang dagangannya. Sean, Jessica dan Driyad melintasi pasar desa yang ramai. Sama seperti di desa kota sebelumnya, tempat ini menghipnotis mereka karena gaya bangunan yang lebih maju.


"Sean!" Sambil berjalan Jessica membisik. "Aku heran pada tempat ini. Kenapa semua bangunan di sini sangat indah dan berarsitektur penuh budaya. Apakah kau tahu sesuatu?" Jessica berharap bahwa Sean dengan kejeniusannya bisa mendapatkan sebuah cerita yang enak di imajinasi kan.


"Mungkin karena mereka adalah orang-orang yang ahli dalam menuangkan ide mereka dalam seni. Jadi... Kemegahan bangunan ini adalah bentuk ekspresi mereka." Sean menjawab sekenanya. "Dan bisa jadi mereka Professor arsitektur." Sean menambahkan leluconnya.


"Tidak lucu," Jessica membalasnya cuek.


Driyad berjalan satu langkah di hadapan mereka. Di pasar memang agak sempit jalan yang mereka lalui karena banyaknya orang-orang yang berlalu.


Tubuh besar Driyad menjadi tontonan, semua orang bisa melihatnya. Melihat bulu berjalan melenggang seperti anak anjing. Dia akrab pada lingkungan bergaya megah dan keramaian orang-orang. Tidak ada yang takut padanya, karena memang menjadi hal wajar di tempat ini. Bahkan tidak ada ubahnya seperti desa kota yang pernah mereka lalui sebelumnya, semua orang sedikit menghormati makhluk itu.


"Kemana kita akan pergi setelah ini," Jessica bertanya pada Driyad. Sambil matanya menyentuh barang-barang dagangan yang ia temui. Dia berjalan menyelaraskan langkah kaki Driyad.


"Ke sadon." Driyad menyingkat jawabannya.


"Sadon?" Jessica bingung mendengar kata ini. "Apa itu sadon!" Dia bertanya karena tak mengerti dan ini pertama kali baginya mendengar nama itu.


"Itu istana yang di bangun sebagai tempat persinggahan para pedagang!" Sean menjawabnya menggantikan Driyad yang berbicara.


"Ya, dia benar." Kata Driyad setuju pada Sean.


Tetapi Jessica tidak mengerti. Dia heran kenapa Sean bisa mengenal 'sadon' ini. "Tunggu! Dari mana aku bisa tahu instana sadon ini? Kau sedang tidak menutupi sesuatu dari ku bukan?" Dia menatap Sean dengan sorot mata ingin tahu.

__ADS_1


"Bukan aku yang menutupinya. Tapi kalian lah yang tidak mau membaca sebuah misteri!" Sean berkata santai. Suasana bicaranya sudah membaik dari sebelum dia menangis tadi.


"Misteri?" Jessica mengulanginya. Mereka berhenti sejenak di tengah jalan yang sempit ini. Jessica tidak peduli orang-orang yang melewati jalan yang sama dengannya, menabrak punggung gadis itu.


Sean mengangguk. "Ya, misteri!" Dia sedikit memaniskan gaya bahasa dan bibirnya. Seperti sedang bersikap bergaya menggemaskan. "Terakhir kali sebelum kita datang ke manun, aku melihat di dinding manor nimfa terdapat lukisan yang terukir di dinding manor itu. Aku melihat tulisan itu dalam bentuk aksara dan dengan mudahnya aku membaca kata shadon atau shadow yang berarti bayangan. Tidak tahu apakah yang aku katakan benar atau salah, hanya penerjemah bahasa itu yang paham!" Dia menjelaskan terperinci.


"Tunggu!" Jessica menghentikan bicara Sean agar tak lagi bercerita. "Dari mana kau bisa membaca sebuah manuskrip dalam bahasa aksara? Sansekerta kah atau memang kau punya keahlian menjadi peneliti!" Jessica mulai kebingungan. Terutama pada Sean yang penuh misteri.


"Kau pikir aku terlalu bodoh!" Sean mencengir. "Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku bisa membaca tulisan heliograf itu!"


"Aku tidak mengatakan itu. Kau yang mengatakannya lebih dahulu," Jessica menghindar dari pernyataan itu. "Lalu? Heliograf? Apa yang kau maksud Sean." Jessica menuntut penjelasan.


"Aku pun tidak tahu dari mana aku bisa membacanya. Setidaknya aku sendiri tidak mengerti bagaimana aku bisa memahami manuskrip tua itu. Yang pastinya, sebelum pergi, manuskrip berbahasa kuno itu membuat aku tertarik membacanya." Sean terkenang pada kejadian di manor nimfa. Mulutnya bicara dengan pikiran yang masih tertinggal di manor emas itu.


Dari belakang Sean datang beberapa orang dengan pakaian sedikit oke tidak terlihat seperti gembel. Dia berkata dengan kata yang sopan. "Oh! Anak-anak yang manis!" Dia menyapa. Di mata Sean, wanita setengah tua ini adalah wanita dengan anting besar menggantung di telinga. Wanita paruh baya membawa tongkat kayu dan di ikuti oleh dua orang pelayan yang cantik.


Jessica membisik di telinga Sean. "Tidakkah dia mengingatkan pada seseorang," kata Jessica meragukan wanita bersorban menutupi seluruh kepalanya. Jessica menatap seluruh tubuh, dan terlihat bahwa wanita itu berkulit hitam namun tidak terlalu gelap. Lebih identik ke kulit cokelat gelap.


"Siapa?" Sean membalas bisikan Jessica yang menggeli di daun telinganya.


Sean ber-oh kecil. Dia ingat kejadian itu lebih-lebih muka si buta. Guratan wajah tua menyeramkan membayangi ingatannya. "Tidak terlalu mirip, jauh berbeda bahkan dia lebih baik dari si buta!" Sean menunjuk wanita yang berdiri di depannya sambil membandingkan dia dengan si buta pada Jessica.


"Ku pikir kau akan mengenalinya sebagai si buta," Jessica masih membisik. Kali ini dia terkekeh karena berhasil membual tentang lelucon tak jelas.


"Kalian tidak menjawab sapaan ku!" Wanita itu menegur mereka yang asik berbincang.


Hampir saja Sean melupakan bahwa dia bergosip di depan orang yang ia gosipi.


Sean mendeham. Dia bersikap datar dan tersadar harus membalas sapaan wanita itu. "Oh iya maaf. Kupikir kau tadi memuji kami. Tak ku sangka ternyata kau menyapa kami." Kata Sean polos dan lugu.


Wanita tua itu menggelengkan kepalanya. Dia menaiki kedua alisnya karena bicara Sean yang lucu ini. "Kalian pasti Sean dan Jessica bukan?"


Jessica melirik Sean dan Sean juga melirik Jessica. Mereka saling lempar pandang karena wanita itu tahu nama mereka. "Bagaimana dia bisa tahu nama kita," kembali dia membisik.

__ADS_1


"Entahlah!" Sean menjawab tak paham.


"Kalian tidak perlu membisik aku tahu nama kalian dari mana." Wanita tua itu menyelinap menyela bisikan keduanya.


"Aku Medika, penjaga istana sadon." Wanita ini memberitahu siapa dia. Medika tua ingin mempercepat pembicaraan.


"Iya... Aku tahu itu. Kau Medika!" Sean ingat saat itu Dewi Handita membisikkan tentang istana sadon dan penjaganya, si Medika yang patuh pada panjagaan manuskrip.


"Kau sudah tahu aku. Pastinya Dewi Marmaida itu telah memberitahu mu bahwa aku adalah penjaga sadon."


Sean sedikit tersipu, ternyata wanita yang di katakan oleh Dewi Handita adalah perempuan tua yang berwibawa. "Sedikit!" Sean berkata sangat singkat. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Jessica, kau nampak cantik dari yang ku duga," Medika memuji. "Dan, kalian nampak serasi!" Kata Medika membual.


"Hanya lelucon." Jessica menimpalinya. "Tidak baik di usia muda berkutat dalam kisah romantis," Jessica sok mendewasakan diri.


Medika menyunggingkan bibirnya sambil menyentuh bahu Jessica. "Kau gadis yang pemberani." Medika lalu menatap Driyad dan yang lainnya. "Orang-orang hilir mudik. Tidak baik bicara di pasar yang berisik seperti ini," mungkin Medika berkata mengkode mereka.


"Benar. Tempat ini dari tahun ke tahun semakin ramai," Driyad mengenang kisah lama. "Terakhir kali di manor nimfa kau nampak muda." Driyad memperhatikan raut wajah Medika. Dia teringat pada wajah tua itu. "Tidak ada rencana untuk menyerahkan pekerjaan ini pada pelayan sadon?"


"Tuan Driyad amat memuji ku!" Medika sedikit tersipu. "Beban ku tidak terlalu berat. Hanya saja orang-orang yang mengatakan aku sedikit lebih tua dari umur ku tahun lalu." Medika sedikit merendah di hadapan Sean, Jessica dan Driyad.


Jessica entah kenapa dia tertawa sedikit terbahak-bahak saat wanita itu merendahkan diri. "Nyonya Medika terlihat cantik di usia yang seperti ini. Tidak baik jika terlalu merendah," perkataan Jessica seakan sedang menyindir.


"Sudahlah. Lupakan masalah kecantikan ini." Medika mengalihkan topik pembahasan mereka. "Sebaiknya kita ke istana sadon. Orang-orang hilir mudik disini. Tidak enak di dengar bergosip di tengah pasar," dia mengajak dan ingin menggiring mereka menuju sadon.


"Bagaimana Sean? Kau setuju pergi ke istana sadon?" Driyad meminta pendapat anak itu. Setidaknya butuh persetujuannya menuju ke sadon.


Sean mengangkat kedua bahunya, seakan kode isyarat itu menggantikan suaranya. "Tak masalah."


Akhirnya mereka memutuskan pergi ke sadon bersama Medika. Dan di sepanjang jalan dia mengoceh tak karuan. Terkadang Sean tak mengerti apa yang di katakan oleh wanita tua itu.


Jessica sering menyikut Sean, bertanya apakah dia mengerti apa yang di katakan oleh Medika.

__ADS_1


Sama halnya seperti Jessica, Sean memberikan jawaban tak tahunya.


BERSAMBUNG


__ADS_2