
“Hahaha. Kau kira, penobatan mu sebagai penguasa tanah ini akan berlangsung meriah. Mimpilah kau Lausius. Terimalah kenyataan bahwa kau hanya akan menjadi perburuan ku!”
Dia berkata sangat sombong, Sean tak menyukainya. Para penduduk yang melihat Elius, dengan segera kabur kocar-kacir meninggalkan istana. Mereka takut, Elius adalah pemilik kekuatan besar, tak ada yang berani melawannya.
“Kau terlalu sombong Elius. Kau belum membayar atas semua perbuatan mu!”
Sean menunjuknya berang, pedang merah Sean sudah mengacung, siap membelah isi kepala Elius. Elius masih bersikap santai, dia belum pernah sesantai ini dalam menantang lawannya.
“Terlalu nyaman dengan kekuatan mu, justru akan membuat mu terlihat lemah di mata ku!”
Sean mendengkus. “Kalau begitu, kau patut menerimanya.”
Sean siap memulai, pertanda jika Sean menggema dengan kekuatannya, ialah cahaya di tubuh Sean. Jika cahaya itu mulai berpendar di tubuh Sean, itu tanda bahwa Sean dalam emosi yang tak bisa dikendalikan sama sekali.
Sean mengepakkan sayapnya, suara Sean sudah melengking. Anak itu, dia sudah siap dengan pedang yang akan menghunus tubuh Elius.
“Pangeran, hentikan!”
Amuria menarik bahu Sean, Sean Kembali ke posisinya. Hampir saja Sean terbang mendekati Elius, beruntung itu tidak terjadi.
“Biarkan kami yang menghalau pengacau ini. Pangeran tak perlu mengotori tangan menghadapi makhluk pendosa seperti dia,” kata Amuria berang.
Elius terpekik tertawa terbahak-bahak ketika mendengar penghinaan besar terhadapnya. “Hei, Amuria. Kau kira, jika kau berada di dekat Lausius itu kau akan selamat. Ingat, kau akan berubah menjadi harimau Padang rumput jika sampai Lausius yang kau lindungi mati ditangan ku!”
“Apakah kau berusaha menyinggung ku dibalik kata provokasi mu?”
Elius menggeleng. “Bahkan Lord Shutanhamun aku rasa tak bisa melindungi mu dari serangan ku!”
“Terlalu sombong!” pecut Amuria.
Dengan sigap, kuda-kuda secepat kilat itu menyerang Elius. Pria penjahat itu, entah apa yang dia pikirkan.
Pembawaannya amat tenang, bahkan ketika pedang Amuria hampir sampai di pelupuk matanya, dia masih santai.
Elius melirik Nekabudzer, pria yang terbang rendah dibelakang Elius ini mengangguk paham.
BLAR!!
Sebuah cambuk api keluar dari tangannya. Cambuk itu mulai melucuti Amuria. Tanpa disadari oleh Amuria, cambuk api milik Nekabudzer mengenai dadanya. Belum sempat dia menghindar, cambuk itu menghantam Amuria.
Tubuhnya terpental-pental, punggungnya menghantam tiga anak tangga tempat Sean berpijak. Dada Amuria terasa sesak saat menerima serangan itu.
“Hahaha ..., bagaimana? Apakah kau masih mau melawan ku?” ledek Elius.
“Kau ....”
“Dia bukan lawan mu Amuria,” kata Lord Shutanhamun pada Amuria. “Kekuatan tinggi ini tak cukup bisa dikalahkan oleh kekuatan yang tak sebanding.”
“Haha. Kau sangat pintar tua Bangka,” sahut Elius kembali. “Aku tak menyangka, kau masih bisa menilai musuh para Lausius meskipun sudah ribuan tahun kita tak bertemu.”
“Kau ....”
__ADS_1
Sean menunjuk Elius berang, tapi si pria tua itu cepat melabuhkan tangannya di pundak Sean.
“Jangan gegabah. Di istana awan Metis, mereka tak akan bisa berbuat apapun,” kata Lord Shutanhamun memberitahu.
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?” tanya Sean tak tahu. Dia bingung, harus melakukan apa untuk menumpas Elius di depannya. “Dia mengacau di tempat ini,” kata Sean agak cemas.
“Biarkan aku yang menghalaunya pangeran,” sahut Driyad menawarkan diri.
“Kau ....”
“Jangan khawatir, aku bisa melakukannya pangeran!”
Belum selesai Sean berkata, Driyad sudah menyerang Elius lebih dahulu. Sean tak bisa mencegatnya, kecuali hanya bisa menyaksikan Driyad berjuang seorang diri.
“Apakah dia mampu mengatasi kekuatan Elius?” tanya Sean pelan pada Lord Shutanhamun.
Pria tua tersenyum tipis. “Walau dia tak bisa menghalau kekuatan Elius. Namun, Driyad adalah pelindung Lausius. Sudah menjadi tanggung jawabnya melindungi Lausius, apapun yang terjadi.”
“Bagaimana jika dia mati?”
“Itu sudah menjadi takdirnya!” tegas Lord Shutanhamun menjelaskan. Sambil berkata, dia membelai lembut Surai jenggot putihnya.
Manik-manik matanya tak lepas dari pertarungan di depannya.
Sean, dia merasa bersalah jika sampai Driyad mati hanya untuk melindunginya. Sean tak sanggup jika ada orang yang rela bertarung demi dirinya, sedangkan Sean hanya menjadi saksi bisu atas kematian seseorang itu.
Maka ....
“Pangeran!” teriak Crypto.
Tangan Crypto ingin meraih Sean, namun anak itu lebih cepat dari Crypto. Sekejap mata, Crypto sudah ada dihadapan Elius dan Nekabudzer.
“Biarkan dia melakukannya!” Lord Shutanhamun menarik bahu Crypto, menahan pria itu agar tak menyusul Sean.
“Tapi, pangeran ....”
“Dia bisa melakukannya!” ujar pria tua itu.
Terpaksa, Crypto tam bergeming. Dia menuruti kata Tuannya, Crypto tak membantah atau ikut alur Sean.
“Pangeran. Semoga dia bisa melakukannya,” gumam Crypto khawatir.
Setiap gerakan Sean, Crypto mulai mencemaskan keadaannya. Dia Lausius muda, jelas Crypto meragukan kekuatan Sean.
Jessica dan Edward terdiam kikuk tak bersuara, kecuali memperhatikan Sean. Tapi, Edward, anak itu justru penasaran pada apa yang terjadi di depannya.
Di udara, Sean terbang kilat. Matanya jeli.
Saat cambuk api Nekabudzer ingin menghantam tubuh Driyad, Sean dari udara menangkisnya dengan pedang hitam itu.
TRANG!
__ADS_1
Cambuk api Nekabudzer terpental bersama Tuannya. Elius terkena dampaknya, dia juga terdorong mundur.
Namun, Nekabudzer menahan punggung Elius. Agar punggung pria itu tak menghantam tiang penyangga mahligai.
“Kau tak apa-apa?” tanya Nekabudzer sambil memapah berdiri Elius.
“Aku tak apa-apa,” balas Elius. “Tapi, anak itu tetap kuat. Bagaimana bisa aku tidak mampu mengalahkannya!”
“Jiwa cahaya itu sudah menyatu dengan dewa ular. Untuk saat ini, dia bukan Lausius yang bisa kita taklukan seperti sebelumnya.”
Nekabudzer membisik, membuat Elius mengernyitkan keningnya. Matanya lalu melirik Sean, dengan jelas tubuh bercahaya anak itu makin kuat.
Sean memapah Driyad, menapaki lantai. Hampir saja makhluk itu mati ditangan Nekabudzer.
“Apakah kau terluka?” tanya Sean khawatir.
“Tidak pangeran. Aku baik-baik saja, terima kasih,” balas Driyad sedikit kuyu. Tangannya memegang dada, mungkin sakit dan sesak.
“Kau melampaui batasan mu. Dia seharusnya bukan tandingan mu saat ini.”
“Tetapi itu sudah menjadi tugas ku pangeran. Aku harus melindungi Pangeran!”
“Tidak,” bantah Sean. “Kau tak perlu melakukannya. Ini adalah takdir ku. Aku yang harus menanggungnya.”
“Tapi pangeran ....”
“Aku yang akan menghadapinya!” seru Sean menegaskan lagi.
Sean menginterupsi keadaan sekitar. Jauh lebih peka dari sebelumnya, mata kuning memerah Sean sangat teliti memperhatikan Elius.
“Apakah Sean mampu mengalahkan makhluk iblis itu?” bisik Edward pada Jessica.
“Entahlah. Aku tak tahu persis,” balas Jessica angkat bahu. “Tapi aku yakin, Sean tak bisa diragukan lagi.”
“Apakah kau tahu kenapa Sean memiliki kekuatan itu. Sayap ..., oh aku tak percaya bahwa Sean adalah seorang ksatria surga.”
“Kau sedang memujinya?” tanya Jessica.
Edward mengangguk. “Tentu saja. Dia sahabat ku, tentu aku akan memujinya.”
“Kalau begitu kita perhatikan saja. Jangan banyak tanya. Atau kau akan jadi umpan untuk Elius. Kau akan mati di tangannya,” kata Jessica menakuti Edward.
Anak itu langsung bergidik ngeri ketika mendengar ucapan Jessica. “Tidak. Aku tidak mau mati ditangan iblis itu. Jauh lebih mengerikan daripada apapun.”
“Kalau begitu, tetaplah diam. Jangan bicara sepatah katapun. Perhatikan saja apa yang terjadi didepan.”
Ucapan Jessica bagai sebuah pedang, begitu tajam. Sialnya, Edward langsung terpaku tak bisa berkata apapun. Jadi, Edward memilih untuk bungkam alih-alih berkata apapun lagi setelahnya.
Dia amat takut, ngeri jika membayangkan tubuhnya dicincang oleh Elius.
††††
__ADS_1