
Udara malam itu amat dingin. Sean memakaikan jubah yang dia kenakan pada Jessica. Menyelimuti gadis itu, supaya dia tidak masuk angin. Jessica tidur di atas batu, seolah sempurna. Batu itu seakan membentuk tempat tidur.
Sean mencari tempat berlindung, namun tak di temukan sama sekali. Terpaksa, malam itu Sean harus bermalam di pinggir telaga. Ada air mengalir deras di sana, sesekali ikan mampir ke pinggir telaga, sekedar menyapa Sean. Walau bisu.
Malam itu selain dingin, juga gelap. Hanya ada Sean yang bercahaya, Ligong tertidur pulas di sebelah Sean.
Sean duduk tak jauh dari Jessica, sementara Sean sendiri sedang menghangatkan tubuhnya di api yang baru saja Sean nyalakan.
“Kau sudah bangun?”
Ketika sedang menggosok tangannya agar hangat, Jessica bangun. Dan segera Sean langsung menghampirinya.
“Sean.... Kau!”
“Kau akan baik-baik saja. Jangan terlalu banyak bergerak, kau nampaknya kelelahan.”
Jessica mencoba duduk, Sean sudah memintanya agar tak banyak bergerak. Namun gadis itu malah tetap tak menghiraukan Sean.
“Sejak kapan kau dan aku berada di sini.”
“Kau melupakannya?”
Sean menatap aneh Jessica, teman wanitanya itu terlihat seperti melupakan segalanya. Dalam sekejap.
“Tidak. Maksud ku.....”
“Jessica. Kau sedang tidak melakukan hal yang konyol bukan?”
Jessica menggeleng. “Aku benar-benar tidak tahu sejak kapan kita ada di sini. Sungguh.”
“Ha?”
Sean agak ragu. Aneh, Jessica bisa melupakan hal seperti ini secepatnya. Seperti bukan Jessica yang Sean kenal. Mata Sean mulai menyipit ke arah manik-manik mata Jessica. Gadis itu kuyu, seperti tak bertenaga. Setahu Sean, Jessica gadis yang tangguh, namun nalam ini, batu kali pertama Sean melihatnya kuyu.
“Kau yakin jika kau Jessica?” tanya Sean menginterupsi.
“Sean......”
“Katakan.... Apakah kau benar-benar Jessica?”
“Aku.....”
Sean menaikkan satu alisnya, pertanda bahwa Sean curiga pada keraguan Jessica.
“Entah kenapa, aku meragukan mu wahai Jessica. Kau seperti bukan gadis yang aku kenal.”
“Ragu bagaimana Sean?”
Dengan cepat Jessica membalas, membantah argumentasi Sean. Sementara wajah Sean benar-benar serius, Jessica bisa merasakan dengan benar kengerian atas tatapan intimidasi itu.
“Ragu. Tentu saja kau aneh. Kau seakan semudah ini melupakan kejadian tadi. Berbeda dengan Jessica yang aku kenal. Kau nampak seperti....... Seseorang yang kehilangan arah.”
“Itu.... Aku.....”
“Kau pasti bukan Jessica.”
“Maksud mu Sean?”
“Kau bukan Jessica,” ujar Sean mengulangi.
Sean berdiri, memunggungi gadis itu. Sesekali sudut di matanya melirik sekilas Jessica yang makin gugup itu.
“Aku Jessica Sean, kenapa kau tidak mempercayai ku.”
“Jangan mendekat!”
Sean tahu, gadis itu berusaha menjelaskan. Seseorang, jika sudah terpojok—maka dia akan mengambil alih ucapan, mendekati lawan bicaranya agar percaya pada apa yang mereka ucapkan. Sean memahami karakter ini, dan wanita di belakang Sean ini adalah salah satunya. Dia berusaha semampunya, menyembunyikan kesalahannya dalam keterpojokan.
“Sean.... Kau..”
“Jessica memiliki sifat keras kepala dan tidak mudah lupa pada apa yang terjadi. Dia paling tidak bisa bersikap lemah lembut atau mudah mengeluh dalam segala kondis walau dia sendiri terluka. Dia gadis yang cuek, tetapi tangguh dan pemberani. Dia juga teman yang perhatian, selalu tak bisa mengalah kalau berdebat. Ini sangat berbeda dengan mu. Dan aku yakin, kalau kau bukan Jessica. Kau adalah wanita yang menyamar sebagai Jessica!”
Sean memutarkan tubuhnya, satu tangan yang secepat angin sudah mengacungkan pedang, tepat di leher Jessica gadungan itu.
“A—apa maksud mu, Sean?” tanya Jessica tak paham.
“Kau tidak perlu berdalih. Katakan, siapa kau.”
“A—aku?”
“Katakan kau siapa?”
Sean meninggikan suaranya, sedangkan Jessica berwajah kuyu.
__ADS_1
“Sean, aku.....”
“Baiklah. Jika kau tak mau mengatakan siapa kau? Maka jangan salahkan aku jika menyakiti mu!”
Sean menurunkan pedangnya, sebentar. Kemudian, matanya mulai kembali bercahaya. Lalu menyerang Jessica, tanpa berpikir ulang.
“Sean, kau mau membunuh ku?”
“Tidak peduli. Kau bukan Jessica.”
Jessica membulatkan matanya ketika pedang itu hampir menyentuh pelipis matanya.
Degup jantung Jessica terasa makin berdebar, baru kali ini Sean melakukan kekerasan verbal padanya.
“Matilah kau!” pekik Sean.
Suara dentingan pedang terdengar ketika tajamnya pedang besar Sean siap menghunus Jessica.
Ada penghalau, membuat pedang Sean teralihkan. Seketika, Sean terdorong mundur. Sean memicingkan matanya saat seseorang menengahi serangan Sean pada Jessica.
Seseorang berjubah hitam, menghalau pedang Sean menggunakan belati kecil. Kemudian dia berdiri di sisi Jessica, wajah yang di tutupi jubah itu amat misterius. Akan tetapi, Sean seperti mengenali wajah itu sebelumnya.
“Kau semakin memikat ku pangeran,” ucap suara yang menghalau Sean tadi. Di balik jubah, dia melenggang menggoda. “Aku semakin tertarik untuk terus berada di dekat mu.”
Gaya sensual itu, muak bagi Sean untuk di lihat. Sean menyadari, ternyata itu suara wanita. Jessica tersenyum picik, Sean menyaksikan senyum pahit nan getir tak enak di pandang—dari sudut bibir Jessica.
“Sudah aku duga, kau pasti bukan jessica.”
Sean menegakan pedangnya di tanah, berat rasanya kalau terus mengangkat pedang besarnya itu. Sean agak sumringah riang, tak sekalipun dia takut saat berhadapan dengan dua wanita licik sekaligus.
“Hahaha...... Kau pintar Lausius. Kau bisa mengenali aku bukan teman wanita mu itu. Sungguh Lausius yang cerdik.”
Sean tahu itu. Sean hapal, Jessica tidak mungkin sedingin wanita yang telah berubah kembali wujudnya. Di hadapan Sean, wajah Jessica palsu itu kembali ke wujudnya yang semula. Lebih buruk dari seekor keledai, seperti itu rasanya kalau Sean ingin meledek wajah palsu Jessica.
“Haha.... Lausius ini makin memikat kita. Seolah dia benar-benar di takdirkan untuk kita.”
“Oh. Penyihir buta yang buruk rupa di sini juga nampaknya.”
“Kau.....”
“Memang pantas kau di sebut begitu.”
Sean meledek, lagi-lagi penyihir yang pernah menyergah Sean di perkampungan mati itu, kembali muncul di hadapannya. Ingatan Sean masih baik.
Melihat keduanya saling membisik, Sean tahu, pasti dia adalah penunggu telaga ini. Cukup menguasai keadaan, maka tebakan Sean benar kalau dia wanita yang sudah lama tinggal di telaga ini. Lebih-lebih, banyaknya mayat yang terkapar. Sean yakin, ini pasti ulah wanita yang sempat menyamar sebagai Jessica. Tidak takut, peduli apa Sean pada wanita itu.
“Aku tebak. Penyihir jelek dan kau wanita bau. Kalian berdua pasti teman lama.”
“Haha.... Pintar sekali kau menebak, wahai Lausius!” si wanita tak tahu siapa namanya itu melahai terbahak-bahak. Sean bingung harus menggelarinya apa.
Sean melongos, memoles hidungnya dengan ibu jari. Sean ingin menyombongkan diri pada kedua wanita itu—bahwa mereka terlalu meremehkannya.
“Dan aku juga menebak kalau kau yang membunuh semua makhluk yang ada di sini.”
“Benar sekali. Aku yang sudah membunuh semua orang di sini. Dengan angin lembut ku, aku juga bisa saja ikut membunuh mu Lausius. Jika aku mau.”
Cih, Sean bahkan tidak takut—hanya karena dia pemilik telaga ini. Uniknya, kedua wanita jelek di depan Sean ini sama-sama membuat Sean ingin terkekeh.
“Jangan banyak berkata. Ini kesempatan kita. Tidak akan ada yang menghalangi kita di sini.”
Penyihir—Moore membisik, Sean tidak tahu apa yang mereka bisikan. Lagi pula, setahu Sean, pasti keduanya akan merencanakan sesuatu.
“Benar. Ini kesempatan kita,” balas wanita jahat pemilik telaga ini.
Setelahnya, dia menatap Sean sinis. Seolah keduanya memiliki dendam lama, padahal Sean tak mengenal sedikitpun siapa dia.
“Lausius. Kali ini kau harus menjadi milik ku!” teriak si wanita jahat pemilik telaga.
“Siapa takut!”
Sean mengangkat kembali pedangnya, kedua wanita itu sudah siap dengan serangannya.
Ada beberapa belati tajam menyerang Sean. Dengan kecepatannya, Sean mampu menyeimbangi laju belati yang siap menusuknya itu.
“Hiya.....”
Sean terbang, memutarkan tubuhnya beberapa kali. Menangkis setiap serangan dari belati itu.
Suara dentingan adu senjata tajam itu memekik di telaga yang menggema ini. Ada dua hingga tiga belati yang terpental sampai menancap di pepohonan. Ada juga yang terpental jatuh di atas batu, masuk danau ada juga yang......
“Akh..... Kau....”
Sean terkekeh, ketika satu belati milik wanita pembunuh di telaga ini—tak sengaja mengenai bahu Moore.
__ADS_1
Hingga merobek jubah hitam, lebih-lebih darah hitam mengalir deras dari sana.
“Hahaha.... Kau rasakan itu!” ledek Sean—membuat Moore makin murka.
“Aku tidak bisa menahan amarah ku lagi. Dia sudah memprovokasi ku!”
Moore, dia langsung menyerang Sean. Kali ini tindakan Sean telah melecehkannya. Sambil menahan sakit akibat luka, penyihir itu mencabut pedangnya. Menyerang Sean, dengan dentingan suara yang keras.
Sean menangkis beberapa kali serangan dari udara itu. Dia lumayan tangguh, namun Sean menyukainya. Bertarung, yah Sean mulai menggila kala di hadapkan dengan banyak musuh.
“Moore. Dia masih saja ceroboh.”
Pembunuh berhawa dingin pemilik telaga ini menggeleng. Sesaat kemudian, dia mendesah. Melihat si Moore sudah menyerang Sean, rekan Moore ini ikut membantunya. Tanpa terkecuali.
“Kau harus menjadi milik ku. Dengan begitu, maka aku akan kembali menjadi abadi,” kata wanita telaga ini pada Sean di sela-sela pertarungan mereka.
Kedua wanita itu menyerang bersama-sama, membuat Sean agak sulit bergerak. Pergerakan mereka sama cepatnya, membuat Sean sedikit kewalahan.
“Jangan harap itu terjadi wanita busuk. Aku tidak akan membiarkan kau melakukannya!”
Sean sempat memilih mundur tadi karena serangan tiba-tiba dari wanita telaga itu. Lalu, Sean kembali mengejar keduanya, dengan pedang yang menggesek di tanah.
Dan siap, Sean kembali memulai pertarungan. Beberapa kali mereka menghindari Sean, bahkan naik turun dahan pohon.
“Hemp, terlalu ambisius. Aku tidak suka manusia seperti itu,” dengus Sean pongah.
Pedang Sean kembali menghantam dari atas, namun Moore berhasil menangkalnya menggunakan, pedangnya.
Sean mundur, di belakang Sean wanita telaga itu melemparkan banyak belati pada Sean. Secepatnya, Sean kembali menangkis, hingga suara dentingan itu memecahkan dan menggema seisi tempat ini.
“Hiya.....”
Berakrobat di udara, hingga mendarat tepat di belakang wanita telaga itu. Tanpa di sadari, wanita telaga itu terkena goresan pedang Sean.
ZRASH!!
Dia tersungkur, di punggungnya terluka lumayan parah akibat pedang Sean. Wanita itu menahan sakitnya pedang Sean, rasanya sesak di dada.
“Kau....”
Sean tersenyum miring ketika Moore menunjuknya berang.
“Jangan salahkan aku. Tapi salahkan diri kalian, kenapa berani menantang ku!” kata Sean angkuh. Dan baru kali ini Sean berkata seperti itu.
Ngomong-ngomong, Sean sebenarnya tidak tega, namun sayang itu sudah terjadi. Si wanita telaga berbahaya itu sudah terluka cukup parah. Dia memuntahkan darah segar berwarna hitam pekat. Sean hanya bisa menyalahkan keadaan, kenapa dia bertemu dengan kedua wanita itu.
Kulit putih pucat wanita yang sedang terluka, makin menambah kesan kalau dia seperti mayat kaku.
“Dia.... Anak itu benar-benar tangguh,” ucap wanita telaga itu terbata-bata.
Di pangkuan Moore, dia nampak sekarat. Sedangkan Sean, dia kurang peduli. Dirinya kini menjadi anti sosial, tak mau mengulurkan bantuan apapun pada wanita telaga yang terluka parah.
“Aku akan membalasnya untuk mu. Kau jangan khawatir, aku akan membalasnya.”
“Jangan.” Wanita telaga menahan Moore, dia tahu konsekuensinya kalau melawan Sean seorang diri. “Dia saat ini jauh lebih kuat di banding sebelumnya. Sebaiknya kau pergi!”
“Tidak. Kau tidak boleh mati sekarang. Kita belum mencapai puncak kejayaan kaum Manun. Kau harus hidup. Kau harus menjadi saksi kembalinya kecantikan semu kaum Manun.”
Moore mengguncang tubuh wanita telaga, berharap dia akan baik-baik saja. Sementara, wanita sekarat itu makin tak berdaya, untuk menyentuh kulit wajah Moore yang cantik sesaat pun, dia tak mampu.
“Kau pergi sekarang. Kau bukan lawannya.”
“Tidak. Kau akan baik-baik saja. Aku pastikan itu terjadi.”
“Ckckck,” Sean men-decak seraya menggeleng. Pedangnya kini sudah kembali terpasang menggantung di punggungnya, sementara kedua tangan Sean melipat santai di dadanya. “Aku tidak menyangka kalau aku akan melakukan semua ini. Tapi, apalah daya ku. Aku tidak sengaja melakukannya.”
“Kau Lausius muda. Aku sudah cukup bermain-main dengan mu. Aku sudah muak!”
Moore menatap sinis Sean, dan remaja ini terlihat hanya mendengus dingin, tersenyum memaksa.
Oh, Sean angkuh, bahkan di situasi seperti ini, dia bahkan menyandarkan tubuhnya di bebatuan.
“Aku pergi dulu. Jika teman mu mati, maka katakan permintaan maaf ku padanya. Selamat jalan penyihir busuk.”
Sean berlalu, namun wajah berang Moore tak bisa di tahan. Dia ingin mengejar Sean, tetapi satu tangannya di tahan oleh temannya.
“Biarkan dia pergi.”
†††††††
“Kita ke Utara atau ke selatan?” tanya Sean pada Ligong. Makhluk itu mendengus, menunjuk ke arah Utara.
Di sana, di dalam hutan ada dua jalur jalan, menyimpang ke kiri dan ke kanan. Sean agak bingung, itulah kenapa dia meminta pendapat makhluk hitam bercahaya itu.
__ADS_1
“Baiklah kawan, kita akan kesana.”