Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 147


__ADS_3

“Pangeran Lausius, apakah kau benar-benar mau menerima gelar sebagai pengganti ku?”


Mata Sean terpana ketika Lord Shutanhamun menyucikan dirinya. Sean, pikirannya memang masih berputar pada kejadian dimana dia melihat dunianya. Dunia yang terasa begitu asing, namun telah menyadarkan Sean. Menyadarinya, bahwa Sean adalah Lausius.


Dia melihat sembilan puluh sembilan saudaranya mengemban tugas yang berat. Menjadi ksatria Medan perang, menjadi pengawal dan juga pelindung istana awan Metis. Yang kini hanya menyisakan raga, dipajang seolah adalah sisa-sisa dari penebusan suatu karya.


Sean, dia yakin dia mampu. Sean sangat bertanggung jawab, dia tidak mau jika gelar Lausius itu tak berarti apapun baginya—tanpa adanya sebuah pengabdian.


Mata Sean bercahaya, sejak tadi tak meredam. Sean duduk disebuah kolam kecil. Air menampung disana, uap es muncul kepermukaan.


Sean duduk bersila, didalam ruangan ini mungkin Sean akan dibaptis oleh si pria tua. Sean mengangguk saat pertanyaan itu mulai menjajahnya.


Sean memberanikan diri untuk maju ke lembah yang paling berbahaya— sekalipun nyawanya akan hilang.


“Kakek. Aku percaya, kau sangat menantikan kehadiranku sebagai pejuang dan pelindung penduduk kota Saranjana. Aku tidak akan ragu, aku akan maju. Aku akan menerima gelar sebagai pangeran Lausius, penerus takhta mu. Menjadi ksatria Medan perang. Aku akan melakukannya demi melindungi semua penduduk yang tak berdosa, demi misi, dan demi para saudara ku yang telah menyisakan raganya.”


Si tua tersenyum. “Jiwa Lausius mu tak bisa diragukan lagi. Maka aku, sebagai kakek mu. Aku tidak akan membiarkan keturunan ku hancur tanpa membawa kemenangan di tanah ini. Kau adalah harapan ku Nak.”


Sean mengangguk. “Akan aku lakukan semua keinginan mu.”


Pria tua itu meraba kulit bercahaya Sean. Warna yang indah, kelahirannya sangat ditunggu. Sekali lagi, kulit Sean sangat bersih. Kesucian itu nyaris hilang, jika saja Sean menikahi Dewi ular. Untung itu tidak terjadi, atau jiwa lotus birunya akan hilang diserap oleh dewa ular.


Lord Shutanhamun sangat menantikan tubuh itu. Didalam ruangan yang berisi puluhan Lausius tak bernyawa, Sean mulai dimandikan dengan air ..., entah apa.


Sean tak tahu itu air apa, namun rasanya air itu sangat segar saat membasahi semua kulitnya. Sean yakin, semua pria yang ada didalam peti kristal, sama seperti dirinya. Di baptis, sebelum menjadi ksatria tangguh.


“Apa yang terjadi pada mu nak setelah menerima kucuran air berkah dari langit ini?”


Sean memperhatikan dirinya. “Aku merasa ..., oh. Tunggu!”


Sean mengangkat tangannya. Tubuhnya mulai merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.


“Katakan, apa yang kau rasakan?” tanya si tua. Dia sepertinya tak sabaran ingin tahu apa yang terjadi pada Sean. Perubahannya, jelas si tua sangat menantikan hal itu.


“Tulangku, rahang ku, perutku. Semuanya terasa mengeras. Otot-otot ku terasa mengencang, hidungku juga terasa makin kecil. Aku tidak tahu kenapa. Ditambah energi didalam tubuhku, aku merasa bahwa aku benar-benar merasakannya. Perbedaan yang signifikan.”


Pria tua itu tersenyum ramah, mendeham kecil, diikuti tangannya mengurut lembut bulu-bulu di dagunya.


“Itu artinya, jiwa Lausius sudah sangat menyatu dengan kekuatan dewa ular dan pembawaan cahaya yang tenang. Kau benar-benar mampu mendapatkan kesempatan ini.”


Sean memperhatikan lagi tubuhnya. Sekali lagi, Sean benar-benar dibuat takjub akan tubuhnya yang baru. Tubuh bercahaya Sean, rasanya ringan dari sebelumnya.


“Apakah setelah ini, aku harus tetap seperti ini saja. Ataukah ....”


“Ada tugas lain yang menanti dirimu,” Lord Shutanhamun menyahut. “Ini hanyalah permulaan. Setelahnya, kau akan menemukan rintangan yang makin besar.”


“Semisal ....”


“Membunuh raja Mossarus.”


Ow. Sean mengerti. “Jadi, kapan aku bisa mendapatkan kesempatan itu?” tanya Sean ingin tahu.


“Secepatnya.”


“Itu artinya, aku akan segera mengambil misi ini?” tebak Sean.


Pria tua itu mengangguk. “Misi yang sulit, kau akan mendapatkannya segera.”


“Baiklah. Apapun itu, baik sulit atau tidak. Aku akan menerima semua misi ini.”

__ADS_1


Sean tersenyum sumringah, sekali lagi Sean memperhatikan dirinya terus. Tanpa meragukan, kini tubuh Sean berotot dan gagah. Ketimbang dirinya yang dahulu sebelum menjadi Lausius, Sean terbilang lemah.


“Tubuh ku makin gagah, apakah ini bertahan cukup lama?” tanya Sean.


“Tentu saja,” balas Lord Shutanhamun. “Setiap Lausius akan memiliki bentuk tubuh yang gagah sempurna. Dan wajah yang menawan, itulah kenapa, selain Lausius diburu menjadi persembahan untuk kekuatan abadi. Lausius juga sebagai kekuatan memperpanjang umur, memperbaiki rupa. Kau harus mengetahui sifat dasar dari Lausius.”


“Apakah itu artinya, tubuh se-gagah ini tak akan berubah meskipun aku tak pernah melakukan oleh raga?”


Pria tua itu mengangguk. “Bentuk tubuh yang abadi. Kau memilikinya sekarang.”


Oh, betapa senangnya Sean. Anugerah yang dia dapat saat ini membuatnya terasa berbeda dari sebelumnya.


Berkali-kali Sean memandangi tubuh bercahayanya itu, tak bosan untuk terus diperhatikan.


“Sebentar lagi adalah penobatan mu sebagai Lausius. Ksatria Medan perang. Hari ini kau akan diumumkan sebagai penguasa baru istana awan Metis. Kau akan menjadi penguasa yang akan dikenal oleh semua orang.”


Lord Shutanhamun memberitahu. Sean yang tengah asik memperhatikan dirinya, berhenti untuk melakukan tindakan itu. Sean menoleh, memperhatikan punggung pria tua yang memunggunginya itu.


“Apakah itu artinya, aku ....”


“Kau akan siap dengan tanggung jawab mu yang baru,” kata Lord Shutanhamun menjelaskan.


“Tapi, bagaimana jika aku tak mampu melakukannya?” tanya Sean ragu.


Dia keluar dari kolam kecil itu, meraih pakaiannya. Lalu, berdiri tepat disebelah pria tua itu.


“Membunuh Mossarus adalah hal utama. Selanjutnya, kau akan mendapatkan kesempatan untuk membunuh iblis pasir. Itulah ujian setiap Lausius. Namun, tidak semua Lausius mampu melakukannya. Karena, biasanya mereka mati sebelum mencapai tujuan mereka.”


“Apakah Elius dan iblis neraka termasuk?” Sean menghubungkan ucapan Lord Shutanhamun dengan kedua orang yang terlintas dalam benaknya.


Pria tua itu mengangguk. “Kau jangan melupakan Zumirh dan Zurry. Mereka juga salah satu pengincar Lausius. Kau harus tahu, mereka bukan musuh yang bisa dituntaskan dalam sekali serangan. Mereka memiliki kekuatan besar, yang tidak dimiliki oleh Lausius.”


Kini Sean mengerti, anak itu makin dewasa menanggapi setiap cerita Shutanhamun. Sean berjalan menghadap kearah ukiran Phoenix emas. Dia memperhatikan ukiran burung itu, namun pikirannya masih terbawa sampai pada Zurry, Zumirh, dan yang lainnya.


“Jangan terburu-buru nak. Kau masih memiliki banyak kesempatan,” Lord Shutanhamun mengingatkan. “Saat ini, kau akan menjadi pemimpin baru di istana awan Metis ini. Kau harus siap dengan semua ini.


“Aku akan melakukannya kakek.”


Sean mengangguk paham. Dia siap dengan semua yang akan dia tanggung sekarang.


††††


Para penduduk kota telah datang. Mereka datang atas perintah Lord Shutanhamun. Kini, banyaknya kedatangan para penduduk memadati aula istana di atas awan ini.


Edward, Jessica dan Yudhar berdiri diantara kursi singgasana Lord Shutanhamun.


Dari pintu luar, Sean datang diiringi oleh Lord Shutanhamun. Dia nampak gagah dengan pakaian cyborg-nya.


Semua orang terpana, termasuk ketiga bocah itu.


“Astaga. Kenapa Sean terlihat sangat tampan!” puji Jessica girang.


Wajahnya merona, dia menyukai Sean yang baru. Dengan semua detail ini, hampir Jessica tak mengenal siapa anak yang berjalan mengarah kearah singgasana besar. Jika bukan dengan teliti matanya menelaah an mengenali Sean.


Edward menyikut Jessica. “Hentikan mata jahat mu Jessica. Sadarlah, saat ini Sean tak akan memperhatikan kita lagi!” serunya mengingatkan.


Jessica angkat bahu. “Tahu apa kau tentang Sean,” katanya sebal.


“Kau ini ....”

__ADS_1


“Hei, berhentilah bertengkar,” sahut Yudhar menengahi. “Ini saat yang penting. Kenapa kalian masih saja bertingkah seperti anak-anak?”


“Dia dahulu yang memulai,” kata Jessica melimpahkan kesalahan pada Edward.


Edward membantah. “Kau yang dahulu memuji Sean. Kau seharusnya sadar, kau bukan siapa-siapa Sean saat ini!”


“Sudah, sudah. Hentikan. Kalian ini, kenapa meributkan Sean yang sedang khidmat. Jika kalian terus berdebat, maka para penjaga akan mengusir kalian keluar dari tempat ini!”


Yudhar kembali menengahi, Jessica dan Edward saling lempar pandangan benci. Sesaat kemudian, Jessica mendengkus sebal, lalu memalingkan wajahnya. Edward ikut, dia memalingkan wajahnya dari perhatian Jessica. Keduanya bersikap ketus.


Jessica terdiam, pun demikian dengan Edward. Anak itu terdiam, tak lagi berkata. Kini mereka lebih memilih fokus menatap Sean.


Sean menaiki ketiga anak tangga. Di sana, mulut tua Lord Shutanhamun mulai berkata.


“Hari ini, aku mengumpulkan sebagian penduduk kota. Aku ingin menyampaikan kepada kalian bahwa penerus istana awan Metis ini sudah datang. Kalian sudah menantinya bersama ku. Maka hari ini, semua keajaiban itu datang. Kota Saranjana akan diberkahi dengan hadirnya pangeran Lausius.”


Semua orang-orang terpana. Ada yang saling berbisik-bisik, memperhatikan pemimpin wilayah yang sedang berkata.


Tak lama, Lord Shutanhamun kemudian mengambil baju cyborg untuk Sean. Crypto yang memegangnya, baju kebesaran Lausius itu berada didalam nampan. Sangat rapi, dengan kehati-hatian Crypto memegangnya. Lord Shutanhamun memasangkan baju zirah itu pada Sean, dia nampak menawan di mata orang-orang yang menatapnya.


“Ini adalah berkah langit, kita memiliki seorang pelindung. Maka, hari ini, pemimpin tanah kemakmuran ini aku serahkan pada Pangeran Lausius, putra terakhir Edna.”


Lord Shutanhamun mengalungkan baju cyborg untuk Sean. Semua yang menyaksikan pengangkatan Sean sebagai Lausius, bersorak. Sean amat cocok dengan pakaian barunya.


Tubuh gagah sempurna nan menawan itu, kini sudah bukan lagi Sean yang seperti dahulu. Dia memang cocok menjadi seorang pangeran di negeri dongeng, termasuk Jessica yang diam-diam mengaguminya.


Driyad, dia ikut merasakan aura Sean. Aura yang mampu membuat orang terdiam, terkesima akibat parasnya.


“Pangeran, dia sangat cocok dengan karakter barunya. Aku harap, dia menjadi pangeran Lausius yang benar-benar hebat. Aku merindukan sosok pangeran itu.”


“Apakah kau sedang membisik pada ku?” lirih Amuria. Driyad tersenyum sok manis. Dia telah mengalihkan pandangan Amuria dari wajah menawan Sean.


“Maaf, aku hanya terlalu girang. Saat ini, kita kembali mengawali pangeran mengemban misinya.”


“Kau tak perlu mengingatkan aku Driyad,” kembali Amuria melirih Driyad. “Kau pikir aku lupa pada tugas kita.”


“Ku kira kau tak mengingatnya sama sekali,” balas Driyad terkekeh. Menggaruk kepalanya, memang sudah menjadi kebiasaan Driyad ketika dia sedang salah tingkah.


“Lupakan. Pangeran sedang bicara, kau jangan mengacau.”


Amuria diam, Driyad pun demikian. Mereka kini fokus pada Sean yang sedang diangkat menjadi pangeran.


Sean merasa agak gugup, tapi ..., ya Sean menerimanya. Semua orang kini sudah melihatnya sebagai pangeran disini. Bukankah Sean sudah menjadi penguasa, pengganti Lord Shutanhamun.


Dari luar, pintu istana terbuka lebar. Ada prajurit yang datang tergesa-gesa, berjalan memburu. Hingga dihadapan Sean, dia terjungkal.


“Ada apa? Kenapa kau sangat panik?” tanya Sean penasaran.


“Pangeran. Di luar ...,” tunjuknya.


“Ada apa di luar?”


“Nekabudzer dan Elius. Mereka ..., mereka menyerang para penjaga!”


“Apa?”


“Sudah terlambat pangeran!”


Sean geram, dia ingin keluar ketika mendapati kabar ini. Namun, belum Sean melangkah dari tempatnya. Sepasang sayap Nekabudzer dan Elius kini sudah memasuki istana.

__ADS_1


Kepakan sayap itu membuat semua mata takut, kecuali Sean dan yang memiliki kekuatan besar.


“Kau ....”


__ADS_2