Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 62


__ADS_3

Perjalan masih berlanjut. Anak-anak dan Driyad melanjutkan langkah kaki menuju pemukiman penduduk yang tak jauh dari tempat mereka beristirahat.


Perjalanan yang mereka tempuh dan lalui makin di jalani makin berat. Perjalan yang tak ada ujungnya.


Mereka telah melalui sungai besar, sungai kecil. Ngarai, bukit, lembah, kebun buah raksasa hingga serangan para mosarus cukup menjadi pengalaman seumur hidup.


"Kemana kita akan pergi?" Jessica bertanya lebih dulu.


"Entahlah! Hanya Driyad yang tahu!" Sean hanya mengikuti langkah kaki Driyad. Dia tidak bertanya kemana Driyad akan membawa mereka pergi.


"Pemukiman penduduk," kata Driyad meluruskan pertanyaan Jessica.


"Tidak kah terlalu jauh dari sini?" Jessica kembali bertanya. "Maksud ku, apakah masih jauh menuju pemukiman itu." Dia mengoreksi pertanyaan sebelumnya, gadis ini salah bicara.


Driyad melirik gadis yang berjalan sejajar dengannya itu. "Butuh waktu satu hari penuh untuk sampai kota yang berbatasan langsung dengan saranjana."


"Selama itu?" Jessica sedikit meragukannya.


Driyad mengangguk. "Iya... Itu pun sudah terbilang jalan paling singkat yang pernah aku temui. Setidaknya butuh tiga atau empat hari untuk tiba di sana melalui jalan biasa yang di pakai pejalan pada umumnya."


Bagi Driyad ini adalah jalan paling singkat di antara semua jalan, namun bagi Jessica perjalanan ini setidaknya masih jauh. Memakan waktu yang cukup lama untuk di tempuh. "Tuan Driyad," Jessica merengek. "Apakah tidak ada jalan lain yang lebih dekat menuju ke pemukiman itu."


"Sebenarnya ada," Driyad menjawab singkat. "Ada jalan yang lebih cepat menuju ke pemukiman penduduk."


"Dimana itu? Tunjukan jalan itu agar kita segera cepat sampai ke sana." Yudhar menyeringai bicara mereka.


"Hei.... Seharusnya aku yang bertanya begitu? Kenapa kau yang malah bertanya lebih dahulu." Jessica tak terima, apalagi Yudhar menyerobot pertanyaan yang akan ia tanyakan.


"Tetapi mulut ku lebih dahulu bertanya!" Yudhar meledek.


Jessica hanya bisa menahan amarahnya. Dia kesal, anak itu terus mengganggu ucapannya. Tidak peduli siapa yang bertanya lebih dahulu, bagi Driyad sama saja.

__ADS_1


"Tetapi, Medan yang akan di lalui sangat berbahaya," Driyad memberi tahu. "Ada begitu banyak ancaman yang akan kita temui jika melalui jalan itu." Driyad sangat hapal pada jalan yang akan mereka lalui.


"Aku rasa itu sebuah tantangan," Jessica berkata sok berani. "Bagaimana? Sean! Kau setuju melewati jalur itu?" Dia menyikut Sean berharap anak itu senada dengannya.


Sean menghardik Jessica yang bicara asal-asalan. "Lelucon belaka!" Sean kemudian mendengus nafasnya bagai kuda. "Apa kau pikir perjalan ini seperti sebuah perjalanan mendaki gunung." Kata Sean bicara ketus.


"Ya.. Setidaknya aku menyukai tempat itu," Jessica membantah sambil tertawa malu. Dia menggosok kulit wajahnya, Jessica mupeng saat itu. "Tetapi? Siapa tahu bahwa tempat itu sangatlah indah dari tempat sebelumnya." Jessica melanjutkan bicaranya.


Sean lalu mengingatkan Jessica pada rencana mereka. "Ingat pada Edward!" Dia menegaskan ucapannya. "Kau tahu itu. Kau tahu jika kita masuk kedalam tempat aneh ini karena ingin menemukan Eed. Kau pasti paham bukan pada situasi ini."


"Oke! Oke! Aku paham. Dan hentikan bicara mu. Aku tidak mau mendengarkan apapun lagi." Jessica menjawab sedikit mengalah. Dia sebal karena di omeli oleh Sean.


"Ehm....," Driyad pura-pura mendeham terbatuk. Dia ingin menyela keributan kecil kedua anak itu. "Sebenarnya, tidak jalan yang akan kita lalui ini, tidak juga jalan yang di sarankan oleh Jessica. Keduanya sama-sama berbahaya."


"Berbahaya." Mendengar kata-kata Driyad, Sean menatapnya bingung. "Mengapa kau tak mengatakan itu sejak awal? Tahu begitu sebaiknya kita tidak masuk ke kota ini." Sean berbicara agak sensitif, apalagi titik pencarian sahabatnya itu belum menemukan hasil.


"Hei bung! Kendalikan diri mu," Yudhar berusaha menenangkan Sean seraya merangkulnya.


"Tidak Sean! Bukan begitu maksud ku," Driyad memahami situasi ini. Dia berusaha menenangkan anak itu. "Kau salah paham."


"Salah paham," lirih sean. "Lalu apa maksud mu membawa kami masuk kedalam kota ini? Kau ingin memamerkan kepada kami bahwa kota ini sangat menakjubkan begitu!" Sean tidak bisa mengontrol emosinya. Gaya bahasa Sean sudah berbeda dari sebelumnya.


"Tidak Sean. Kau hanya belum mengerti saja," Driyad berkata sambil berusaha memahami karakter Sean.


"Belum mengerti?" Sean saat itu sudah muak pada perjalanan yang tanpa akhir ini. Dia tidak bisa memikirkan bahaya apa yang akan dia hadapi kedepannya. "Ya! Aku memang tidak mengerti dengan sikap lamban mu itu." Emosi Sean sudah amat memuncak.


Dia sudah tidak tahan lagi dan ingin bersikap masa bodoh pada kota ini. "Edward!" Sean menyebut nama sahabatnya itu. "Hanya Edward yang membuat aku datang ke tempat ini." Dia berkata sedikit kesal. "Tak ada alasan lain untuk ku memasuki tempat ini. Kau yang membawa kami ke tempat ini." Sean menunjuk Driyad, sedikit membara emosinya.


"Sean! Kendalikan diri mu," Jessica mencoba menenangkan emosi anak itu.


"Bagaimana aku bisa tenang," Sean membantah Jessica. "Bahkan keadaan Eed saja kita tidak tahu seperti apa? Apakah dia baik-baik saja atau dia dalam bahaya? Siapa yang tahu." Sean berkata begitu karena dia amat mengkhawatirkan Eed. "Dan satu lagi! Seandainya jika Eed tidak ada di tempat ini, apakah kau tahu konsekuensi yang akan kita hadapi." Dia memberitahu Jessica. "Kita tidak bisa kembali lagi ke dunia manusia. Apakah kau tidak tahu hal ini, Jessica. Sudah berapa kali kita menemukan berbagai macam bahaya."

__ADS_1


Jessica paham betul bahwa Sean tidak bisa lagi membendung rasa ingin bertemunya pada Eed. "Ya, Sean. Aku mengerti atas rasa kekhawatiran mu." Jessica mengalah, dia bersikap simpati pada Sean. "Aku paham maksud mu. Bahkan jika Eed tidak bisa di temukan di tempat ini, maka hanya penyesalan yang akan mengakhiri petualangan ini," Jessica mulai menyerah untuk berpikir.


"Dan satu lagi!" Sean melanjutkan kata-katanya. "Bahaya yang kita hadapi dan berkali-kali mungkin kita bisa melewati semua ini karena kita berkelompok. Coba kau lihat Eed. Apakah kau tidak merasakan bahwa dia sekarang sedang ketakutan dengan keadaan yang jauh lebih mencekam!" Sean menyinggung Edward. Dia membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu. "Kita tidak tahu bagaimana dia bisa menghadapi situasi sesulit ini." Sean menyinggung kisah mereka tadi. "Dan, makhluk bersayap dengan moncong mengerikan? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika anak itu bertemu dengan mereka. Apakah tidak terpikirkan oleh kalian bagaimana keadaannya."


"Aku paham Sean maksud mu," jawab Jessica bersikap netral. "Tetapi," perkataan itu belum sepenuhnya selesai, Sean menyambarnya dengan melanjutkan bicaranya yang terpotong oleh gadis itu.


"Aku tidak akan ikut Driyad menuju ke kota itu!" Sean berkata tegas. "Aku akan kembali ke perbatasan. Aku sudah tidak yakin jika Eed ada di sini. Jika pun dia ada di tempat ini, setidaknya ada jejak Eed yang bisa kita temukan." Dan mungkin kesal melanda membuat sean memutar balikan tubuhnya, beranjak pergi ingin meninggalkan ketiganya.


"Sean! Mau kemana kau!" Jessica memekik meninggikan suaranya.


Sean tidak memperdulikan teriakan Jessica. Dia tetap berlalu meninggalkan Jessica dan kedua makhluk aneh di sebelahnya.


"Apa yang harus kita lakukan?" Jessica melirik Driyad.


"Biarkan dia menenangkan dirinya lebih dahulu. Emosinya sedang labil," jawab Driyad. "Dia butuh waktu untuk berpikir jernih."


Yudhar berdiri sejak tadi diantara keduanya, dia telah di anggap batu, mungkin saja begitu yang mereka lakukan padanya. Setidaknya Yudhar tidak akan pernah mengerti apa yang keduanya katakan.


"Drama macam apa yang sedang mereka bincang-kan. Aku tidak paham," kata Yudhar tak mengerti pada perdebatan kecil Sean dan Jessica.


Yudhar mengejar Sean. Dia berinsiatif melakukan hanya karena tidak tega melihat anak itu bermuram. "Hei kawan! Ayolah, jangan bersikap begitu. Tidak baik untuk emosi mu." Yudhar menyamakan langkah kakinya secepat langkah kaki Sean. "Ayolah, bukan saatnya untuk bersikap egois seperti ini."


Sean meliriknya sekilas, dia tahu bahwa anak itu tidak akan pernah tahu posisi yang sedang di hadapi oleh dirinya. "Tidak perlu menghibur ku! Aku baik-baik saja."


"Oke. Kau memang baik-baik saja. Tetapi kau telah meninggalkan kedua sahabat mu di tengah hutan. Kau tentu tahu, tempat ini berbahaya."


Sean memang meninggalkan Driyad dan Jessica begitu saja. Karena dia kesal sebab tidak menemukan Edward secepatnya. Sedangkan Jessica dan Driyad hanya bisa menatap punggung anak yang sedang merajuk itu.


"Dia sedikit kekanak-kanakan," Jessica meledek Sean.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2