Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 81


__ADS_3

"Tenangkan diri kalian, aku adalah Dewi heksodus, pemilik kuil ini," wanita tua itu menjelaskan.


Sean nampak dalam keraguan, dia kurang mempercayai wanita itu.


"Jangan takut, aku bukanlah penjahat."


Suaranya terdengar sedikit lembut, walau terlihat sudah renta.


Sean mengacungkan pedangnya, dia masih waspada. "Kau jangan mengelak. Katakan siapa kau sebenarnya!" bentak Sean. "Jangan berlagak polos di balik tubuh tua mu itu. Katakan yang sebenarnya, siapa kau dan apa yang kau lakukan di tempat seperti ini," Sean masih belum mempercayai si tua itu.


"Ku pikir dia penyihir buta itu, Sean!" Jessica membisik pelan, dia sama seperti Sean, sama-sama dalam keraguan. "Serang saja dia, dan tumpas. Jangan ragu," Jessica merayu.


Driyad sadar jika dia benar-benar adalah si tua heksodus. Pemilik kuil usang yang telah menghilang ribuan tahun dari kisah yang di legenda-kan. "Tunggu! Jika kau benar-benar heksodus, bagaimana mungkin kau tak mengenali ku?" Driyad juga meragukannya, juga bimbang antara percaya dia heksodus atau bukan.


Si tua heksodus menyeringai. Dia sedikit tertawa kecil di balik kulit tua keriputnya itu. "Bagaimana mungkin aku tak mengenali Driyad, si penjaga setia lausius," ucap Heksodus. "Bahkan aku tidak akan pernah melupakan bentuk mu yang tak ada ubahnya selama ribuan tahun ini."


Driyad sedikit mengenang, ternyata memang dia masih mengingat dirinya.


Si tua heksodus benar-benar nyata, Driyad yakin bahwa dia memang heksodus.


"Kau mengenalinya?" bisik Jessica.


"Iya, dia pemilik kuil ini. Dewi heksodus," jawab Driyad.


"Itu artinya dia bukan penyihir buta si penjahat kelas ikan bawal itu?" Jessica membual. "Kau yakin dia tak sama dengan si buta bermata kurma itu, kau jangan menipu!"


"Tidak. Mana mungkin aku menipu," Driyad berkata meyakinkan Jessica. Bocah ini selalu curiga pada hal-hal di sekitarnya. "Aku sangat mengenali Dewi heksodus, dia lebih baik dari si bau ikan bawal itu," timpal Driyad ikut membual.


Syukurlah. Jessica merasa lega, yang di temui bukan seorang penyihir buta itu lagi, melainkan wanita tua terlihat lemah yang hampir sama dengan penyihir buta.


"Dia bukan penyihir buta itu, Sean," Jessica memberi tahu. Dia membisik di telinga Sean yang tengah berjaga-jaga mengacungkan pedangnya.


"Kau yakin itu?" tanya Sean memastikan. Dia mencuri-curi pandangan saat melihat Jessica. Dia takut wanita tua yang ada di hadapannya itu akan menyerang tanpa pemberitahuan. "Apa kau tak salah bicara?"


Jessica mengangguk. "Dia berkata benar, Driyad memberitahu ku," balas Jessica. "Dia pemilik kuil ini, si Dewi heksodus."


Sean menurunkan senjatanya, dia mulai percaya walau sempat ada keraguan. Wajahnya sedikit tegang tadi, karena mereka serupa namun tak sama.


Keduanya sama-sama tua renta dengan tubuh bungkuk sepuh.


"Heksodus? Kau yakin pemilik kuil ini?" kembali Sean bertanya memastikan. "Kau yakin bukan penyihir bermata kurma kering itu?"


Si tua heksodus tertawa saat Sean menyamakan dirinya dengan penyihir muli. Dia bergidik ngeri ketika di sandingkan dengan si buruk rupa terkutuk. "Kau lihat mata ku?" dia menjelaskan. "Apakah mata ku seperti kurma kering beraroma ikan bawal itu? sebegitu miripnya kah pemilik kuil heksodus dengan muli?"


"Kau tidak hanya mirip, tapi juga hampir identik," Sean berkilah. "Lagi pula, apa yang kau lakukan di tempat tua seperti ini seorang diri," Sean bergumam, dia terlihat lebih cerewet dari sebelumnya.

__ADS_1


"Kau terlalu polos," Dewi heksodus menimpalinya. "Akulah pemilik kuil ini, tentu saja aku akan tinggal di sini. Dasar payah."


Setidaknya Sean merasa bodoh atas pertanyaannya. Bertanya pada heksodus mengapa dia ada di kuil usang ini, dan jawabannya sangat tepat.


Sean lupa mengatakan bahwa dia terlalu pintar untuk berbasa-basi. Aku terlalu ramah sebagai seorang pria, tentu dia akan berkata bahwa memang sebenarnya aku payah. Sean mengumpat dirinya sendiri.


Dewi heksodus memandang seluruh wajah Sean dengan detail. Semua di perhatikan dalam satu kali tatapan, dia menatapnya sedikit intrik.


Si tua heksodus menghirup nafas segar dalam-dalam lalu menghembusnya sekali buang. "Kau," dia mulai berkata.


"Ada apa dengan ku?" Sean meresponnya cepat. Sambil melihat wajah si tua heksodus bingung.


Dia kembali menghirup udara segar bagai seorang paranormal. "Kau sangat unik. Aku mencium ada aroma bahwa kau terlahir dari beberapa sio. Kau adalah keberuntungan...." Heksodus mengatakan hal yang tak Sean paham.


Dia berkata seakan sudah pernah melihat masa kecil Sean. "Kau lahir dari seluruh gabungan dua belas sio."


Sean memandangi gelagat dan cara bicaranya. Dia terlihat seperti ahli dalam meramal. Apa yang di maksud oleh si wanita tua ini. Mungkin Sean akan bertanya seperti itu dalam benaknya.


"Kau adalah sumber keberuntungan. Kau adalah putra Edna dan Heyyden yang akan membawa kejayaan. Kau akan mewarisi setengah dari kejeniusan orang-orang yang serupa dengan mu, tapi kau tentu berbeda dari mereka. Kau......" Heksodus tua menghentikan bicaranya sejenak. Setelah itu dia menarik nafas panjang kembali, seperti sedang menghirup aroma segar sebuah parfum. "Kau.... Di lahir-kan dan di takdir-kan menjadi seorang ksatria di bawah awan metis."


Apa yang di katakan oleh si tua ini Sean tak paham. Dia mengernyitkan dahinya, menatap bingung wajah tua itu. Ya, dia memang benar. Aku adalah ksatria di bawah awan metis. Dia bicara mengenai kisah yang hanya dirinya saja yang tahu. Aku akan mengutuk otaknya agar tak bisa berpikir lagi. Sean bicara kecil, dia agak sinis melihat heksodus.


"Apa yang di katakan olehnya Sean? Kau mengerti?" tanya Jessica.


"Kau terlalu pandai dalam memanipulasi kata-kata Sean," Jessica terkekeh. "Aku menyukainya."


Sean hanya mengangkat kedua bahunya sambil melirik jijik. Anak seumuran Sean tak akan mengerti apa yang di katakan oleh si tua heksodus ini.


Melihat kecanggungan kedua anak yang tak paham itu, heksodus mengalihkan pembicaraan. "Sudahlah, lupakan apa yang baru saja aku katakan," ucap Heksodus meracau. "Sekali lagi, aku ingin mengatakan bahwa aku adalah heksodus, si tua pemilik kuil ini. Dengan bangga menyambut kedatangan tamu terhormat ku," heksodus berkata amat sedikit segan nan sopan.


"Ya, kau selalu bangga pada tamu-tamu mu. Sampai-sampai kau lupa harus mengizinkan kami boleh berteduh di kediaman megah ku atau tidak," Driyad menyinggung. Heksodus hampir melupakan bahwa mereka sedang berteduh.


"Ouh... Jangan khawatir Driyad dan kedua anak-anak yang menggemaskan. Aku tak akan lupa pada kedatangan kalian," heksodus tua menyeringai. Dia terlihat bahagia dengan menyambut kedatangan tamu dari luar.


Jari-jari ikut bergerak saat mulutnya berbicara.


"Dia berlagak seperti pelayan yang sedang menyambut bangsawan Duke," Jessica membisik di telinga Sean. Dia mengajaknya menggosip. "Apa kau berpikir seperti itu?"


"Sekilas," respon Sean. "Tapi terlalu buruk bagi istana bangsawan Duke jika memiliki pelayan tua seperti dia," tambah Sean sedikit meledek.


Jessica kembali terkekeh. Dia tak bisa menahan gelak tawanya saat Sean berkata melucu. "Kau ahli dalam membuat ku terbahak," puji Jessica. "Dia terlalu cantik sebagai seorang pelayan," Jessica menambahkan sedikit celetukan.


"Ehm...." Dewi Heksodus mendeham. Dia menghentikan bisik-bisik kedua anak itu.


"Oh. Maafkan aku Nyonya heksodus," Sean berkata. "Aku hampir melupakan kecantikan dan keanggunan mu," Sean mengucapkan kata-kata kiasan demi menarik simpati wanita itu.

__ADS_1


Terlalu buruk bagi Sean jika wanita itu tahu apa yang mereka katakan.


Heksodus sedikit terkesima saat Sean mengatakan kebohongan. Dia memegang pipi Sean. Heksodus tua terlihat akrab di mata dengan seyuman tuanya. "Tak masalah sayang, kau terlalu sungkan pada ku."


Meskipun dia terbilang tua, namun gaya bicaranya hampir menyerupai gaya bicara wanita berusia dua puluhan tahun. Dia sangat enerjik dalam berbicara. Bahkan lembut, Sean menyukai gaya bahasa si tua ini.


"Ikuti aku anak-anak. Aku akan menjamu-kan kalian makanan enak yang pernah ada di kuil ini," dia berjalan sedikit membungkuk.


Namun Sean memperhatikan, tubuh bungkuk itu perlahan berjalan tegak saat melewati beberapa langkah. Semula tubuhnya terlihat amat kurus dan renta, makin berjalan kedalam kuil, tubuhnya makin tegak dan sedikit berisi.


"Apa kau melihat wanita tua itu berubah?" Sean membisik pada Jessica.


Jessica mengangguk, dia juga melihat hal yang sama dengan wanita itu. "Benar Sean, aku melihatnya. Dia terlihat sedikit menggemuk dengan bagian pinggang yang lebar." Mata Jessica tak bisa lepas memperhatikan bentuk tubuh si tua renta itu. Dia makin berubah seiring berjalan menuju kedalam kuil.


"Aneh," Sean men-decak kebingungan. "Tidakkah kau lihat, bukankah tadi dia berambut putih. Kenapa sekarang rambutnya terlihat makin menghitam," Sean berkaca-kaca.


"Aku juga merasakan hal yang sama seperti mu Sean," timpal Jessica. "Dia berubah seiring dirinya masuk kedalam kuil. Mungkin ada rahasia di ruangan kuil yang ia tuju," Jessica menebak.


"Dia memang memiliki banyak rahasia," Driyad menyahut pembicaraan rahasia keduanya. "Nanti kalian akan tahu siapa heksodus sebenarnya," Driyad menjelaskan.


Tubuh tua heksodus kini benar-benar berubah menjadi wanita setengah tua berusia lima puluh tahunan. Dengan tubuh gempal dan pinggang besarnya, dia tidak lagi terlihat menjadi wanita renta yang hendak Sean hajar tadi.


Di balik dinding kuil yang gelap, heksodus menengok ke arah anak-anak seraya berkata, "Apa yang kalian tunggu disana, mari masuk kedalam, aku akan menyiapkan kalian makanan lezat," dia bicara sangat berkelas. Berbeda dengan wanita tua tadi, yang beruban putih bahkan bicara pun tak terlalu semangat.


"Oh ya, kami akan segera kesana," Sean berkata basa-basi.


Sean menyikut Jessica agar mengikutinya, menuju ke dalam kuil, lebih tepatnya di balik dinding tak berpintu.


Mungkin seumur-umur Sean tak akan percaya atas apa yang ia lihat. Wanita tua renta yang sebelumnya di kira penjahat, kini berubah menjadi sangat cantik. Bahkan dia jauh lebih cantik dari si penjahat bermata satu itu. Sean mengaguminya.


Heksodus tua menggiring anak-anak itu menuju tempat rahasianya. Seperti tempat tinggalnya yang tersembunyi namun bisa di lihat dengan mata terbuka.


"Kau," Sean tersentak kaget saat melihat wanita tua itu bukan lagi heksodus yang bungkuk. Tetapi seorang wanita muda cantik nan anggun. "Kau heksodus pemilik kuil ini, bukan?" Sean terpana, dia tak bisa berkata apapun, selain mengakui wanita itu ajaib.


Heksodus tersenyum, dia memandangi Sean. "Inilah rahasia abadi heksodus," dia bicara santai.


Jessica dan Sean hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya atas apa yang mereka lihat.


Sedangkan heksodus tak mempermasalahkan penampilan tua atau pun mudanya. Dia hanya sibuk dengan perkakas, menyiapkan kedua anak itu makanan bak seorang ibu yang sedang mengurusi kedua anak malangnya.


"Bagaimana bisa seperti ini," Jessica bergumam takjub. Dia merasa tersaingi oleh kecantikan para wanita di negeri fantasi ini.


"Semua bisa terjadi, karena yang kau lihat disini berbeda dengan apa yang kau lihat di dunia mu," heksodus menjelaskan. Dia tidak bisa membungkam anak-anak hanya dengan rahasia transformasi wajahnya saja.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2