
ZRASH! ZRASH!
Puluhan serigala bertanduk berhasil di tumpaskan oleh Sean. Beberapa dari mereka ada yang mengotori pedang Sean dengan darah.
“Akh, sial!” pekik Sean berang. “Mereka membuat aku sedikit berkeringat!”
Medusa cekikikan terkekeh. Sean mengundang perhatiannya untuk tersenyum.
“Pangeran! Di belakang mu!”
Oh, Sean tidak sadar kalau yang dia hadapi belum usai. Ada beberapa serigala bertanduk yang masih menyerang di belakangnya.
Sean berbalik, cakar maut itu sudah di depan mata. Siap menerkam. Akan tetapi, Sean selincah yang dia bisa, memutar pedangnya, menebas kepala serigala.
ZRAT!!?
OW... Medusa merasakan betapa kejamnya Sean. Namun tetap, Medusa mengaguminya.
“Pangeran!” Medusa mendekat, setelah makhluk bertanduk itu semuanya punah di tangan Sean. “Kau....”
“Aku tak mengapa. Jangan khawatirkan aku!” kata Sean memahami.
Sean cukup mengerti. Setelah menumpas semua makhluk itu, Sean menanggalkan kembali pedangnya di punggung. Sedetik kemudian, memutar tumitnya, masuk ke dalam goa.
“Ayo kita masuk,” ajak Sean pada Medusa “Aku yakin, masih banyak lagi makhluk yang akan datang menyerang kita.”
Medusa memegang dadanya yang berdebar. Dia bingung, bagaimana Sean tahu kalau akan banyak yang datang ke tempat ini. Bahkan Medusa sendiri tidak bisa memprediksi akan ada bencana kedepannya.
“Dia benar-benar Lausius yang misterius.”
»»»»»»»»»»»»
Elius duduk dengan raut wajah yang cukup gelisah. Sesekali tangannya memijat kepala, sakit rasanya kala mengingat-ingat kejadian kekalahan mereka tadi. Penghinaan besar baginya.
Nekabudzer berdiri di hadapan Elius, dia cukup memperhatikan rekannya saja yang sedang berang. Sudah menjadi kebiasaan Elius, dia tidak bisa menahan amarahnya.
“Bagaimana mungkin anak itu bisa mengendalikan dua jiwa sekaligus! Bahkan dia saat ini menjadi yang tak mampu di kalahkan sama sekali.”
“Kau tentu akan semarah ini Elius jika kau kalah. Coba kau tenangkan diri mu dahulu, baru kau akan tahu jawabannya.” Elius menyambar, menyahut gerutu berang Elius.
Kabar duka, Elius sudah merasa kepalanya akan pecah akibat ulah Sean yang mampu mengalahkannya.
“Pangeran itu!” kata Elius yang terang-terangan berang. “Dia telah mengundang kemarahan ku.”
“Jangan bertindak gegabah Elius. Atau kau akan rugi jika bertindak semau mu!”
Nekabudzer selalu saja menjadi penengah amarah Elius. Selalu.
Bahkan Nekabudzer menghitung, mungkin dia akan mengomel selama puluhan kali tiap menahan amarah.
“Kau susun rencana penangkapan Lausius itu, nanti di pintu perbatasan gurun Medusa. Aku ingin kau merencanakan dengan baik mengenai bocah tengik itu.”
“Kau mencoba memerintah ku?” tanya Nekabudzer.
Elius mengangguk. “Akankah aku meminta dewa iblis yang menyusun rencana untuk ku?”
Nekabudzer tahu yang terbaik. Sudah menjadi tugasnya menyusun rencana membantu rekannya ini.
Ketika mereka sedang berbincang, Uli datang. Wanita itu mendekat ke singgasana Elius.
“Maafkan hamba Tuan Elius yang agung!” Uli tertunduk hormat. Menyatukan kedua tangannya, meminta dengan ramah untuk berbicara.
“Kakatan. Kau membawa berita apa?” tanya Elius.
“Hamba membawa berita mengenai pangeran itu. Medusa membawanya masuk kedalam hutan perbatasan gurun. Setelah aku ikuti, mereka menghilang tanpa jejak di dalam hutan.”
“Huh...... Medusa lagi, Medusa lagi!”
Elius meremat keras singgasananya. Geramnya makin menjadi—ketika mendengar nama wanita ular itu.
“Baiklah. Sekarang kau boleh pergi. Cari tahu informasi tentang pemilik kuil di dasar bumi. Aku ingin tahu, rencana apa yang mereka lakukan.”
Elius memerintah, kali ini beda tugas. Dia ingin tahu seperti dua iblis itu akan bertindak.
“Maaf Tuan agung. Apakah aku harus datang ke istana Zumirh?” tanya Uli gugup.
Elius men-decak, menggeleng keras. Begitu bodohnya Uli. “Kau kira aku memerintah mu untuk mengawasi siapa di dasar neraka!” kata Elius makin berang. Uli sudah takut, dengan segera dia memahami ucapan tuannya.
“Maaf Tuan agung. Aku akan segera pergi!” kata Uli, meninggalkan istana Elius.
Elius memijat kepalanya lagi, kali ini di ikuti gelengan kepala sambil matanya terus menatap punggung Uli yang telah berlalu.
“Kau masih saja tak bisa menahan amarah mu Elius,” tegur Nekabudzer. “Aku yakin, jika tidak ada aku. Kau mungkin sudah bertindak gegabah.”
“Diam kau Nekabudzer!” bentak Elius. “Kau hanya membuat kepala ku makin pecah rasanya.”
__ADS_1
Nekabudzer mendengkus, lalu meninggalkan Elius sendirian. Dia sudah malas berdebat dengan makhluk satu itu.
“Sebaiknya memang begitu!” Elius bergumam pelan.
»»»»»»»»»
“Kau mulai saat ini jangan panggil aku pangeran. Aku tidak biasa di panggil seperti itu. Lagi pula aku juga bukan pangeran seperti yang kalian maksud. Jadi, aku katakan sekali lagi, jangan panggil aku pangeran,” kata Sean pada Medusa.
Sean berdiri di depan wanita ular yang duduk santai ini. Sementara tangan Medusa nampak gelisah, namun wajahnya terlihat sumringah.
“Kau tetap pangeran bagi ku. Aku akan memanggil mu begitu!”
“Kenapa? Apakah sulit bagi kalian untuk tidak memanggil nama ku saja?”
Medusa menggeleng. “Di tempat dengan peradaban kuno ini, kami tidak mengenal nama asing. Yang kami tahu, hanya ada nama Lausius. Itu saja.”
Oh. Sean benar-benar sudah lelah mendengar alasan demi alasan orang-orang ini. Selalu menyebut dirinya Lausius. Bahkan menjadi perebutan, hingga pertumpahan darah. Sialnya, Sean tak bisa mengubah namanya dengan baik di tempat ini.
“Terserahlah.” Sean mengangkat kedua bahunya. Dia lelah, orang-orang yang dia temui gila. Selalu meyebutnya pangeran. “Kau bisa memanggil aku dengan sebutan apa saja. Aku tidak peduli.”
Jujur, Sean muak dengan sebutan pangeran itu. Medusa hanya cekikikan terkekeh. Entah apa yang membuat lucu, dia tersenyum riang melihat Sean.
“Oh. Ngomong-ngomong. Mengenai cahaya di tubuh ku ini. Apa kau tahu bagaimana cara menghilangkannya?” tanya Sean yang kemudian beralih berkata.
“Cahaya ini?” tunjuk Medusa.
Sean mengangguk. “Aku sudah bosan melihat cahaya di tubuh ku. Dia selalu menyala, bahkan aku sudah sebal terus bercahaya. Apa kau tahu caranya agar dia tak lagi bersinar?”
Medusa menggeleng. “Jika pun itu bisa hilang, mungkin sesaat. Karena cahaya di tubuh pangeran tidak akan hilang sampai kapan pun.”
“Itu artinya.....”
“Cahaya itu adalah penanda kalau pangeran adalah Lausius. Bagaimana mungkin pangeran ingin melawan kehendak alam.”
Sean melongosnya dengan tatapan ternganga. Yah, setidaknya jawaban Medusa amat membantu. Tetapi, bukan itu yang dia inginkan.
“Apakah tidak ada cara lain agar dia tidak bercahaya lagi. Atau....”
“Ligong.” Medusa menyambar. “Dia penanda Lausius. Meskipun pangeran mencoba menghilangkan cahaya itu, maka dia akan kembali. Ligong adalah penyebabnya. Dia sudah mengikat keberadaan cahaya di antara kalian.”
“Makhluk itu!”
Sean mengingat-ingat. Sebenarnya Ligong adalah macan yang jinak. Teman barunya, meskipun Sean beranggapan dia buas ketika ada di istana Pharos. Benar apa yang di katakan oleh Medusa, Ligong pada malam itu sudah mengikat tanda lahir Sean.
“Lalu, bagaimana dengan kekuatan batu permata yang kau berikan pada ku?” Sean mencecar. “Apakah kau tidak berniat mengambilnya lagi?”
Nah, Medusa merasa berat mengatakan kala Sean menyinggung hal ini. Dua hal yang tak bisa Medusa jawab dengan keyakinan utuh. Yakni, kembalinya kekuatan batu permata dan jiwa roh dewanya itu.
Medusa sudah terlihat gusar, dadanya mulai berdegup. Dia sudah gugup bagaimana cara menanggapinya.
“Itu..... Mengenai cahaya itu....”
“Kenapa?”
Medusa berdiri. Menatap patung ular di kuil kecil di depannya. Medusa membelakangi Sean, namun sesekali dia menoleh ke arah Sean. Sampai dia melihat sedikit batang hidung remaja itu.
“Sebenarnya. Dia..... batu permata itu, juga jiwa dewa ular yang menyatu dengan kekuatan pangeran. Sebenarnya....... Tidak akan bisa aku ambil lagi.”
Sean membelalak. Dia ternganga. “ Maksud mu......?”
“Mereka akan menjadi kekuatan inti pangeran—yang sudah di takdirkan oleh petinggi awan Metis. Pangeran adalah pimpinan para dewa ular saat ini. Dengan roh ular yang menyatu dengan dewa cahaya di tubuh pangeran.”
Sean mengerjapkan matanya, Medusa yang di depannya, membuat Sean bingung menanggapi bicaranya. Kini Sean berdiri sejajar dengan wanita ular ini, dia mendekat, ingin tahu lebih jelas maksud ucapannya.
“Apakab itu artinya kau tidak bisa mengambil kembali kekuatan ini?” Sean menebak. Medusa mengangguk pasrah, wajahnya kembali gusar.
Walau Medusa tahu konsekuensinya, juga tahu kalau takdir itu sebenarnya kenyataan. Medusa tidak bisa menyangkal, kalau dia sebenarnya harus tunduk pada Sean. Itulah alasannya, kenapa Medusa harus menikahi Sean. Karena ada dewa ular di dalam jiwa Sean.
Sean-lah yang menjadi pimpinan pada kaum ular tertinggi saat ini. Drajadnya sama dengan dewa ular, Sean mampu mengendalikan kaum ular seutuhnya—Menuju peradaban. Meninggalkan tanah tandus, menuju ke tanah surgawi—Saranjana.
“Maaf, jika aku tidak memberitahu pangeran sebelumnya.”
“Oh....” Sean terlihat frustasi. Kabar buruk yang harus dia terima. Padahal Sean harus segera meninggalkan wanita ular ini jika sudah mengembalikan kekuatannya. Akan tetapi, wanita ular ini sudah mengikatnya dengan roh dewa ular. “Itu artinya, aku tidak bisa meninggalkan kau, wahai Medusa?”
Medusa mengangguk pelan, dia memahami keadaan Sean. “Maafkan aku jika harus membuat pangeran terkungkung pada takdir kaum ular.”
Wajah Sean sendu. Sebenarnya dia ingin marah pada wanita ular ini, akan tetapi dia tidak sanggup. Sean sendiri sudah melihat bagaimana perjuangannya mempertahankan kaum ularnya.
“Baiklah. Aku mengerti keadaan ini,” kata Sean pasrah. “Tetapi, kau harus menuruti permintaan ku—jika kau ingin aku membawa kaum ular mu ke puncak keabadian. Meninggalkan stigma kaum lemah dari makhluk lainnya.”
Medusa mengangguk, dia sanggup menyetujuinya. “Katakan. Aku akan siap mendengarkannya.”
“Ikut bersama ku. Mencari sahabat ku Eed dan Jessica. Setelah itu, kau boleh meminta ku melakukan apapun.”
“Apakah itu permintaan pangeran?”
__ADS_1
“Yah. Setidaknya itu tidak terlalu sulit,” kata Sean sedikit mencebikkan bibirnya.
Medusa terdiam sesaat. Baginya, pilihan ini amat sulit untuk di turuti. Bagaimana bisa dia menuruti kemauan Sean, bahkan dirinya sendiri tak mampu melakukannya.
Medusa menatap patung ular di depannya, sekali lagi, Medusa bingung harus bagaimana. Mungkin, mengalihkan pandangannya, Medusa bisa mendapatkan jawaban pasti.
Apakah aku harus meninggalkan tanah kelahiran ku. Bahkan sekalipun aku belum pernah pergi kemanapun. Meninggalkan kaum ku, mengabaikan mereka bagi ku amat berat.
Bagaimana jika mereka mengalami tindasan dari bangsa Gort. Bagaimana jika Elius datang, membasmi kaum ku. Atau Zumirh yang melakukannya, tanpa diri ku sebagai pelindung. Apakah aku harus menuruti kemauannya. Bahkan sekalipun, sejak lahir aku belum pernah meninggalkan gurun tandus ini.
Benar. Bagi Medusa, meninggalkan gurun tandus ini bukanlah perkara yang mudah dia lakukan. Belum pernah dia keluar dari gurun ini sekalipun, jika bukan Sean yang mengajaknya pergi. Meninggalkan gurun dan istana yang selama ini sudah akrab di matanya, sama saja dengan membunuh kaumnya sendiri.
“Apakah harus aku mengikuti mu mencari teman mu,” kata Medusa ragu.
“Itu adalah kesepakatan. Kau harus membantu ku menemukan Eed dan Jessica, setelah itu aku akan membantu mu.”
Oh, sungguh, pilihan yang sulit di pilih.
“Jika keputusan itu tidak bisa di urungkan. Maka......”
“Kau hanya punya satu pilihan,” sambar Sean. “Membantu ku, atau aku pergi sendiri.”
“Jiki itu pilihannya, maka aku tidak bisa ikut!”
“Tidak bisa ikut?” Sean membelalak kaget. Ini bukan jawaban yang dia inginkan. Sean hanya mau membantunya, dan wanita ular itu balas membantunya mencari Eed. Sean tak mau bersalah karena mengambil kekuatannya.
“Jika keputusan pangeran ingin pergi dari gurun tanpa akhir ini bulat. Maka besok, aku akan membawa pangeran menuju ke pintu perbatasan. Aku tidak bisa meninggalkan kaum ku hanya demi membantu pangeran.”
“Kau.....”
Medusa mengangguk ketika Sean menatapnya penuh kebingungan. Mungkin Medusa menebak kalau Sean sedang memikirkan dirinya.
“Bagi ku, kaum ular adalah segalanya. Bahkan jika aku harus kehilangan kekuatan ku, maka aku rela membiarkan pengeran pergi!”
“Apakah tidak ada cara lain agar kau bisa mengambil kembali kekuatan mu?” Sean sungguh-sungguh menyesal. Walau bukan kemauannya, setidaknya Sean datang sebagai perampas kekuatan Medusa.
Medusa menggeleng. “Jalan satu-satunya, hanya pangeran yang mampu menjadi pembawa berkah untuk kaum ular. Jika pangeran pergi, maka aku akan kembali bermeditasi ribuan tahun, menyempurnakan keabadian ku sendiri. Walau aku harus kehilangan separuh waktu yang telah aku sia-siakan demi menunggu kekuatan ini.”
“Aku........”
“Pangeran tidak perlu bersalah.” Medusa memegang kedua tangan Sean, wajahnya tersenyum tegar ketika harus kehilangan sesuatu yang sudah dia nantikan selama ribuan tahun ini. “Sudah menjadi takdirnya, kalau pangeran adalah pemilik roh jiwa dewa ular itu.”
“Maaf, jika membuat kau tak bisa memiliki kekuatan ini.”
»»»»»»»
“Kemungkinan Pangeran itu akan menuju ke pintu perbatasan gurun tidak lama lagi. Kita harus bersiap-siap ke sana. Jangan sampai dewa iblis dan yang lainnya tiba lebih dahulu!”
Sambil berkata, Zurry menenggak segelas arak memabukkan yang dia dapat dari persembahan pada iblis.
Zumirh tersenyum miring, ambisi Zurry adalah ambisinya juga.
“Aku sudah menyiapkan jarum beracun kali ini. Dan racun bisa melumpuhkan lawan dalam sekali tusukan,” kata Zumirh berbangga.
Dia menatap khidmat jarum-jarum yang telah dia baluri dengan racun. Tidak mudah baginya meracik sesuatu yang sedemikian menanggung banyak resiko ini. Apalagi dai harus berjuang, menuju ke pulau Hurian—tempat paling berbahaya di daratan Saranjana.
“Bagaimana dengan Medusa. Aku tak yakin jika dia bisa menyempurnakan kekuatannya dengan menikahi Lausius itu. Dia terlalu payah, namun tak bisa di anggap remeh.”
“Kau tenang saja. Saat ini si wanita ular licik itu tidak akan mampu menjalankan ritual pernikahannya dengan Lausius. Yang dia pikirkan sekarang adalah, bagaimana menghindari kita.”
Benar kata Zumirh. Zurry berpikir, meskipun Medusa termasuk pimpinan kaum yang paling kuat bahkan sejajar dengan mereka. Namun, ide mengikat penyatuan jiwa dengan Lausius saat ini adalah konyol. Yang di pikirkan oleh Medusa saat ini adalah, kaumnya. Itu pasti.
Zurry sudah menakar seberapa kuatnya Medusa. Melalui pertarungan yang dia saksikan sebelumnya, wajar Medusa masuk dalam lawan yang patut di juluki wanita iblis sesungguhnya. Bahkan melawan Nekabudzer pun, wanita itu masih sanggup.
“Kalau begitu, kita bersiap-siap. Sesegera mungkin, kita harus mendapatkan Lausius itu.”
Zumirh mengangguk ketika ambisi Zurry menggelora. Zumirh siap, dalam keadaan apapun.
“Kau pejuang yang gigih!”
Ilustrasi Zumirh
°°°°°
°°°°°°°°°°
»»»»»»
TBC
__ADS_1