Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 56


__ADS_3

Anak-anak telah meninggalkan manor milik Dewi Rhodes. Manor emas itu kini tidak akan lagi bisa di temui oleh ketiganya.


Hanya berlaku untuk malam itu saja. Perjalanan mereka menemui keindahan emas yang berkilau di balik bangunan ini sudah berakhir dan kedepannya hanya waktu dan takdir yang bisa mempertemukan mereka dengan manor emas ini.


Usai keluar dari dalam manor, seperti semula, di depan bangunan emas itu, manor yang sepenuhnya terbuat dari emas ini, kini kembali menjadi sebuah manor tua yang usang. Sama seperti semalam, manor ini tidak lagi menampakan kemewahan sedikit pun.


Sean dan kawan-kawan telah melintasi perbukitan menuju kota saranjana. Di bukit tuksila, pemandangan yang mereka lalui amat menyenangkan.


Terbayang oleh sikap ramah beberapa makhluk yang mereka temui sebelumnya, membuat anak-anak itu semakin percaya bahwa negeri dongeng ini memang benar-benar nyata.


Meninggalkan mitos yang pernah di katakan oleh Sean sebelumnya pada Edward, kini kata-kata yang di ucapkan oleh Mr. Franklin bukan sekedar bualan semata.


Sean harus membenarkan perkataan Mr. Franklin tanpa pengecualian. Bahkan dia harus mengakui kebenaran dari ucapan Edward yang berimajinasi tentang kota ini.


Sean terkenang pada kata Mr. Franklin sebelum mengucapkan kata libur akhir tahun pada semua murid. Kata-kata tentang kota saranjana yang menakjubkan itu.


"Terdapat hutan berdaun emas, hutan berwarna-warni dan hutan bercahaya di malam hari. Kota itu di selimuti keindahan yang tiada terhingga bagi siapapun yang melihatnya." Sean ingat betul tesis yang di katakan oleh profesor bertubuh besar itu.


Dalam langkah kaki mereka, perjalanan menuju persinggahan berikutnya, Sean sejenak bernostalgia pada kejadian beberapa waktu lalu.


Kejadian dimana dia membantah perkataan Edward dengan mengatakan bahwa kota ini mitos. Bahkan kota yang tak ada artinya untuk di teliti.


Sean mulai merindukan tingkah anak itu. Dan Sean tersenyum saat teringat Edward yang menggodanya di taksi tepat menuju ke bandara John. F. Kennedy.


Di jalan yang lumayan sepi itu, Edward tanpa malu menggodanya di depan sopir taksi kota tanpa memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh orang itu kala melihat tingkahnya. Dia mengenang kejadian saban hari itu.


Ekspresi wajah Sean jelas nampak di mata Jessica. Gadis yang selalu ingin tahu apa yang Sean pikirkan dan rahasiakan darinya.


"Suasana hati mu hari ini nampaknya sedang senang. Ada apa? Katakan pada ku." Setiap langkah Sean di perhatikan oleh Jessica. Raut wajahnya saat itu memang nampak sedang bahagia. Jessica menebaknya dengan benar tetapi tidak tahu apa yang di pikirkan oleh Sean itu mengenai apa.


Sean bicara omong kosong, dia menjawab Jessica dengan gaya bahasa yang datar. "Ehm... Tidak ada apapun. Aku hanya sedang memikirkan tempat ini. Sangat cantik bukan." Lirih Sean menipu.

__ADS_1


Entah benar atau tidak apa yang di katakan oleh Sean, Jessica meragukan gaya bahasanya yang aneh itu. "Aku tidak yakin kau hanya memikirkan tempat ini. Jangan-jangan kau sedang memikirkan aku, apa kau memikirkan aku Sean." Hardik Jessica menggoda.


Sangat membanggakan dirinya, Jessica amat percaya diri mengakui kalau Sean memikirkan dirinya. Jessica mulai menggoda remaja polos itu tanpa ragu.


Sean menyungging bibirnya, dia tidak suka gaya bicara Jessica yang narsis. "Aku tidak pernah berpikir untuk memikirkan mu." Dia menyingkat jawabannya.


"Kau yakin itu?"


"Bahkan otak ku tidak pernah sedetik pun ingin memikirkan diri mu, Jessica." Sean mengatakan kejujuran dari dalam lubuk hatinya yang teramat dalam.


Sean sungguh membuat hati Jessica tercabik saat mengatakan kata yang tanpa di sensor. Seandainya waktu bisa di ulang, pikir Jessica dia tidak akan mengatakan kenarsisan nya pada Sean.


"Setidaknya katakan bahwa 'iya, untuk sesaat aku memikirkan mu' apa susahnya berkata seperti itu." Jessica mulai mengomel seperti ibu-ibu pasar yang cerewet.


Anak-anak melintasi bukit tuksila. Dan yang menjadi salah satu hal paling menakjubkan adalah adanya hutan pelangi di sisi sebelah kanan lereng. Jessica pertama melihatnya. Dia mulai takjub pada keajaiban itu sehingga anak itu bersuara semangat. Dia melupakan omelan tak berartinya tadi.


"Oh tuhan. Hutan ini!" Jessica ternganga tak kuasa mengungkapkan kata-kata. Bahkan Kota tempat tinggalnya di new York tak ada apa-apanya di banding dengan hutan ini.


"Luar biasa!" Yudhar ikut menyahut. Ketakjuban pada kota ini tidak ada habisnya di temui oleh mata mereka. Seakan memberikan kesejukan pada mata siapa saja yang melihatnya.


Mr. Franklin berkata demikian pikir Sean karena dia pernah ke tempat ini. Sean menebaknya, pria bertubuh besar itu memiliki banyak pengalaman di kota ini.


Mereka berhenti sejenak di atas bukit itu demi menyaksikan pepohonan yang tumbuh berwarna-warni.


Jessica menyikut Sean sembari berkata penuh hasrat.


"Sean. Kau tahu? Seandainya jika Edward ada di sini, akankah dia takjub sama halnya seperti yang aku rasakan?" Jessica bertanya, namun dia menyinggung nama sahabatnya itu.


Sean tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya pada Edward apalagi membiarkan anak itu pergi sendirian ke tengah hutan. Tetapi semua telah terjadi, tidak ada yang perlu di sesali.


"Ya, mungkin dia akan takjub. Bahkan dia tidak akan berhenti berkata saat melihat semua ini." Sean mengingatkan Jessica tentang sifat sahabat mereka itu.

__ADS_1


Kehilangan Edward tidak bisa menutup kemungkinan bahwa Jessica dan Sean amat merindukan anak itu. Walau dia bertingkah sedikit kekanakan, tetap saja kelakuannya yang menghibur itu selalu terkenang.


"Anak-anak. Apa kalian tahu apa nama pohon itu?" Driyad menyela. Dia ingin menceritakan sebuah kisah layaknya seorang pemandu wisata yang sedang menjelaskan sebuah informasi penting pada para pelancong.


Jelas anak-anak itu ingin tahu. Sebab setiap apa yang di katakan oleh Driyad sama seperti membaca sebuah kisah sejarah sambil berjalan.


Driyad lalu memulai bercerita. Terlebih ketiganya antusias ingin mendengarkan ucapan makhluk ini. "Pohon-pohon itu adalah pohon Pinus artacamara. Pohon yang sangat berguna dan banyak manfaat. Di kota ini pohon itu di gunakan sebagai tanaman biasa sedangkan di alam manusia dia banyak manfaat."


Mendengar cerita Driyad ini terlalu biasa, hanya saja sebagai pendengar yang baik ketiga anak itu pura-pura antusias menyimak perkataan dengan seksama.


"Bahkan di kota new York pohon itu banyak tumbang di jadikan resin. Cerita yang membosankan." Jessica mengumpat Driyad namun ekspresi wajahnya berkata dia senang mendengar cerita makhluk itu.


"Wow!" Sean ternganga pura-pura takjub. "Bagaimana kau bisa tahu kalau di kota kami pohon Pinus banyak manfaat? Apakah kau pernah ke dunia manusia?"


"Tidak. Mana mungkin aku pernah ke alam manusia." Ujar Driyad membantah. "Aku hanya pernah mendengarnya saja."


"Setidaknya kau pernah menjadi pendengar yang baik." Yudhar menyahut. Dia tidak ingin ketinggalan perbincangan mereka.


Driyad berkata membantah kembali. "Tidak! aku tidak pernah mendengar kisah apapun tentang dunia manusia. Tidak ada gunanya," Driyad berkilah. "Lagi pula alam manusia itu lebih jelek. Dan, tak ada yang lebih cantik dari kota ini. Kalian akan menyukainya!"


Sean mengangkat alisnya. "Kau yakin tak pernah mendengar kisah apapun!" Sean berkata kontra.


"Ya.... Tak pernah sekalipun!" Driyad membalasnya.


"Lalu? Bagaimana kau bisa tahu alam manusia? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau tak pernah ke alam manusia." Sean berargumentasi cerdas.


"Jenius!" Driyad menyambar perkataan Sean. "Tak heran kenapa kau unik."


"Karena aku berkata benar bukan?"


"Ya. Kau terlalu benar untuk seorang serigala yang tak pandai berbohong." Driyad mengakhiri ceritanya. Dia sudah Allah telak dengan perkataan Sean. Dia pandai mematikan kata-kata Driyad.

__ADS_1


Hingga pada akhirnya pagi itu mereka memilih untuk berteduh sejenak di bukit tuksila. Sambil menatap betapa indahnya setiap pohon yang ada di lereng bukit. Driyad sesekali menghibur mereka dengan cerita membual khas dirinya. Mereka bersenda gurau menceritakan hal-hal tak penting.


BERSAMBUNG


__ADS_2