
KILAUAN EMAS VOL.2
Tok Tok Tok Tok..
Suara Sean mengetuk-ngetuk dinding-dinding goa.
Ia masih berusaha menemukan pintu rahasia yang akan membawanya keluar dari goa terkutuk itu?.
"Sean! sudahlah. Sampai kapan pun kita tak akan menemukan pintu sialan itu. Dan aku sudah pasrah terjebak di goa persetan ini.
Aku rela jika harus mati konyol disini bahkan aku tak pernah memikirkan akan mendapatkan pemakaman yang layak," jessica dengan ekspresi putus asa mengatakan menyerah dengan mudahnya.
"Hei Jessica, aku tak akan pernah membiarkan kita mati tanpa pemakaman disini. Aku berjanji akan membawa mu keluar dari sini! jadi bersabarlah," Sean berulang kali mengucapkan kata-kata semangat itu pada Jessica.
Setiap kata yang keluar dari mulut Sean terdengar sangat berarti bagi jessica.
Kata-kata penuh hiburan.
Kata-kata yang membuat hati kecil jessica seolah ada harapan.
Hati yang gelap itu tetiba di sinari oleh seberkas cahaya yang terpancar oleh kata-kata indah itu.
"Terserah kau sajalah Sean! aku hanya bisa menatap lelah mu bekerja tanpa putus asa.
Bagi ku sudah tak ada harapan bisa keluar dari sini. Ayah maafkanlah aku jika pernah durhaka padamu," jessica terus saja mengucapkan kata-kata menyebalkan untuk didengar.
kata-kata kesal bagi Sean.
"Kau cukup tenangkan dirimu, aku tak akan membiarkan mu mati konyol disini!" jawab Sean dengan tegas.
Jessica terus saja memasang wajah memelas iba.
Dalam hidupnya saat ini hanya ada kata menyerah dan putus asa yang terbesit dalam otaknya yang kacau itu.
Sementara Sean terus mencari apa yang ia duga.
Ia yakin jika dirinya benar-benar memperkirakan bahwa pintu rahasia itu memang ada.
Sean menghela nafas yang panjang.
Sesekali ia melihat Jessica yang duduk termenung melihatnya bekerja mencari apa itu harapan.
Dalam benak Sean masih ada harapan untuk bisa keluar meskipun Jessica sudah tak mempercayai apa itu keberuntungan.
Sean dan Jessica terbelenggu dalam suasana yang hening.
Dirinya tak mempercayai bahwa ia akan mengalami perjalanan yang amat memilukan.
Sudah berjam-jam ia kesana kemari mencari sesuatu yang ia yakini ada namun hasilnya tetap saja sama.
Tak ada apapun.
__ADS_1
Lelah dan putus asa sudah mulai menyelinap di tubuh Sean.
Ia mengambil tempat dan duduk tepat di sebelah Jessica untuk menghilangkan lelahnya sejenak.
Ia duduk di atas sebuah helm berwarna kuning lalu menyandarkan tubuhnya di dinding goa.
Matanya menatap langit-langit berharap bahwa ada sesuatu di atasnya.
Namun tetap saja hasilnya nihil, tak ada pun harapan bisa keluar.
Setidaknya hati kecil Sean berkata lain.
Hatinya masih berpegang teguh pada keyakinan nya itu.
"Apakah kau mulai lelah?" tanya Jessica.
ia bisa merasakan apa yang Sean tanggung malam itu.
Yakni sebuah tanggung jawab untuk melindungi dirinya bahkan lebih bertanggungjawab dari dirinya sendiri.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan ide lain!" tukas Sean tegas.
Namun Jessica, matanya terbelalak melihat Sean yang amat semangat tanpa ada tenggang rasa maupun kecewa.
Jessica merasa sangat senang jika di lindungi oleh Sean.
"Aku bahkan belum mengucapkan salam perpisahan untuk ayah ku! aku tak ingin durhaka pada ayah karena meninggalkannya hidup sendirian. Sementara ibu? dia sudah lama meninggalkan kami. Aku hanya berharap semoga tuhan bisa mempertemukan aku dan ibu ku di surga nanti," Jessica berandai-andai jika dirinya akan mati ditempat yang antah berantah ini.
"Bukan keduanya! Tapi lebih dari itu. Alasan ku masih ingin hidup sampai saat ini hanyalah untuk ayah ku. Bahkan aku pun tak pernah berpikir untuk meninggalkannya dengan cara yang kejam. Ayah maafkanlah aku jika aku telah menyusahkan mu," kali ini Jessica mulai menitikan air mata kesedihan.
kesedihan yang begitu mendalam.
Sean yang melihat Jessica menangis, mulai merasa iba.
Ia mulai merasakan tersentuh oleh ucapan Jessica yang amat puitis dan bersajak.
Perlahan tangannya membantu menyeka air mata Jessica yang mulai berjatuhan.
Ia menatap wajah itu dalam-dalam, wajah yang penuh dengan ketabahan.
"Kau tak perlu berkata seperti itu! apapun yang terjadi kita pasti bisa keluar dari sini baik hidup maupun mati. Jadi kumohon jangan bicara ngelantur lagi karena itu membuat ku merasa canggung!" ucap Sean menghibur Jessica.
Sial bagi Sean karena harus mengikuti alur sedih Jessica yang amat mendramatisir.
Bahkan di Amerika pun ia tak pernah menyaksikan drama sesedih ini.
Cukup melihat derita pilu Jessica, membuat Sean seolah sedang menyaksikan drama Asia yang amat mengharukan. Penuh dengan intrik dan pilu mendalam.
Dia adalah ahlinya dalam drama.
Pikir Sean Jessica sangat cocok dengan karakter kolosal drama Asia.
__ADS_1
Sangat menjiwai intuisi kesedihan yang tiada akhir.
"Ah sudahlah lupakan kisah pilu mu itu. Bahkan kau sangat cocok dengan karakter drama yang menjengkelkan.
Tenang saja tak akan kubiarkan kita terkurung disini.
Bahkan mati pun tak akan ku izinkan untuk menjemput kita disini. Sekarat dengan nafas-nafas menyakitkan hanya akan membuat kita amat di kasihani.
Begitu aku menemukan pintu itu, aku akan membawa mu liburan ke Opera house di Sydney!
Tempat liburan tom Cruise aktor hebat yang selalu kau idolakan.
Apakah kau menyukai tawaran ku?"
Sean mencoba bicara tenang seolah mereka sedang berada di tempat yang begitu asik.
"Lupakan itu Sean. Jangan pikirkan masalah duniawi sekarang. Aku sedang fokus menunggu malaikat maut menjemput ku," Jessica kembali berujar sembarangan.
"Terserah kau sajalah! pikirkan apa yang ingin kau pikirkan! aku tak peduli," Sean nampaknya tak bisa menahan kesebalannya pada Jessica.
Ia tak mau menatap wajah Jessica karena itu akan menggangu konsentrasinya saja.
Ia lebih memilih menatap sekeliling ruangan karena tak ada gunanya memikirkan kematian.
Pikiran Sean kacau ulah Jessica yang bicara omong kosong.
Sean selalu menghibur Jessica dengan kata-kata yang terus saja berulangkali ia ucapkan sebelumnya.
Selalu menenangkan Jessica dengan ucapan yang mungkin sudah Sean hitung puluhan kali ia ucap.
Apapun ucapan Jessica, Sean telah memikirkannya dengan seksama.
Jawaban tak jelas seperti: "aku janji pada mu, bahwa aku akan mengeluarkan mu dari sini," ucapan ini sangat mengganggu pikiran Sean.
Iya telah memikirkannya!. Mengapa ia selalu mengucapkan jawaban yang sama meskipun kalimatnya berbeda.
Entah apa yang Sean pikirkan, sehingga ia merasa bicara seperti pada sebuah patung yang tak mau mendengarkan ucapannya.
Wajahnya tak bisa menyembunyikan ekspresi kekesalannya atas ucapan Jessica yang heboh itu dan juga omong kosongnya yang tak beralasan.
BERSAMBUNG.
**
**
**
**
SARANJANA EPISODE 18
__ADS_1