
Marmaida & Danau Suci
Gebyar-gebyur suara percikan air danau dengan cahaya indah yang menyala bak lampu hias menemani asiknya ketiga bocah itu bermain air.
Mereka memang sudah berubah penampilannya, namun tetap saja siapa yang akan memperdulikan penampilan mereka di tengah hutan seperti ini.
Hingga danau sedikit berubah warnanya dan pergerakan air sedikit aneh. Ketiga anak yang ada di dalam air itu bisa merasakan ini.
Seperti ada gelombang yang sedang mendekati mereka. Sean, Jessica dan Yudhar saling melempar pandangan seakan bertanya satu sama lainnya. Dalam benak mereka seakan bertanya? "Apa kalian merasakan getaran ini." Sambil memandang wajah dengan serius ketiganya, khususnya Sean mengernyitkan dahinya.
"Tidak kah kalian merasakan danau ini sedikit aneh?" Sean mulai perbincangan.
"Ya, aku merasakannya. Seperti ada hal yang aneh di bawah danau ini." Jessica menyahut setuju.
"Benar. Sepertinya ada sesuatu yang aneh pada air ini." Tambah Yudhar senada pada kedua temannya. Gelombang air makin bergelombang sedikit menambah massa-nya.
Air sedikit berpusar dan berputar di tengah danau bercahaya ini. Anak-anak sedikit memperhatikan pergerakan itu. Apa yang akan keluar dari air pikir mereka.
Sean kemudian menatap wajah Driyad yang di berdiri di pinggir danau.
"Ada apa ini? Apakah di danau ini di tunggu makhluk lain semisal buaya?" Teriak Sean dari dalam air.
Dia bertanya seakan gelombang ini benar-benar sudah mencekam. Mereka belum naik ke atas karena sedikit penasaran di tambah mereka berendam tidak terlalu jauh dari pinggir danau.
"Itu adalah para Marmaida. Mereka penunggu danau suci ini." Driyad membalas pertanyaan Sean yang sedikit kaku ini.
"Kalian tenang lah, hal ini wajar karena mereka penasaran pada manusia yang bisa melihat danau suci keabadian ini." Tukasnya memberitahu anak-anak.
Ketiganya mendengarkan ucapan Driyad. Pikir Sean sebenarnya mana mungkin Driyad akan mengumpan mereka pada buaya. Lagi pula sejak awal Driyad tidak pernah mengancam keselamatan mereka maupun bertindak mencurigakan.
Hingga gelombang sungai menampakan tanda-tanda bahwa ada makhluk lain di dalamnya. Air kemudian sedikit menyembul dan terlihat dari kejauhan mata Sean ada banyak kepala yang keluar dari air mendekati mereka dengan beralaskan mahkota terbuat dari bunga-bunga cantik.
"Sean! Siapa mereka!" Seru Jessica yang nampaknya sudah takut.
"Ayo kita lari Sean. Aku rasa mereka makhluk penunggu danau ini. Mungkin mereka marah pada kita karena sudah memasuki kekuasaan mereka." Tambah Jessica sedikit panik.
__ADS_1
Dia ingin berlari menuju ke daratan seraya menarik Sean dan Yudhar. Tetapi Sean melepaskan tangan Jessica, dan kini gadis itu hanya menarik tangan Yudhar.
"Ada apa Sean? Ayo cepat lari ke atas." Jessica kembali memperingatkan Sean yang tak mengindahkan kata-katanya ini.
Namun Sean masih tak bergeming, bahkan Sean seperti memiliki nyali, dia menunggu kedatangan kepala-kepala yang mengapung di permukaan air itu. Bahkan jumlahnya lebih dari satu.
"Bagaimana kalian bisa melihat danau suci ini. Dan siapa kalian!" Salah seorang Marmaida bertanya. Wajah para makhluk ini amat rupawan.
Jumlah mereka ada enam dan dua diantaranya adalah pria. Mereka kini sudah mendekati Sean dan kawan-kawan.
Bahkan ke-rupawan-an makhluk ini tidak bisa di lupakan. "Sean! Tidakkah mereka terlihat seperti makhluk mitologi itu?" Jessica membalikan badannya sesaat setelah melihat makhluk itu telah mendekati Sean.
"Entahlah. Aku pikir memang mereka makhluk mitologi itu." Jawab Sean singkat. Para Marmaida adalah kawanan duyung berekor indah.
Di tangan mereka terpasang sirip seperti ikan yang sedikit runcing dan tajam, telinga panjang bagai peri hutan, punggung mereka juga terdapat sirip bak naga dan wajah mereka putih cantik dan tampan serta di leher makhluk itu terdapat beberapa insang layaknya ikan pada umumnya. Marmaida adalah duyung penunggu danau Osirus milik Asparos yang melegenda dan terkenal hanya seperti sebuah mitos.
Manusia menceritakan bahwa mereka memiliki sisik yang indah dan cantik bahkan saat sisik itu di ambil maka akan berubah menjadi emas.
Mereka memiliki sepasang mata yang indah. Saat para gadis olympia itu menangis, maka air mata itu nyata berubah menjadi sebuah berlian cantik.
Banyak diantara pemburu kisah mistis meragukan cerita legenda ini. Bahkan akhir abad ke-19 cerita yang sempat booming di belahan dunia ini menjadi top perbincangan hangat.
Cerita ini bahkan di sebut sebagai sirent dari timur karena beberapa orang percaya walau cerita ini hanya fiktif tetapi keberadaannya sangat nyata.
Hingga di akhir abad ke dua puluh, cerita ini hilang sejak beredar hilangnya para pelancong Amerika dan terjadi beberapa kecelakaan pesawat di wilayah segitiga pulau Kalimantan. Mereka beranggapan bahwa ini adalah sebuah kutukan karena menyebar luaskan berita ini.
Sosok yang sedikit menyeramkan yang ada di hadapan Sean ini akhirnya bisa terlihat oleh anak-anak itu. Dan sedikit pula tak percaya bagi ketiganya kala melihat makhluk ini. Sean dan Jessica tidak pernah mendengar cerita yang di sebut sebagai sirent dari timur ini, tetapi mereka mendeskripsikan bahwa para Marmaida lebih mirip duyung pembunuh itu.
"Tidak kah mereka mirip seperti sirent, Sean?" Bisik Jessica pada Sean.
"Ku rasa kita sungguhan sudah bertemu sirent." Balas Sean membisik.
Tidak tahu entah mengapa saat ketika melihat kawanan duyung ini, Sean merasa seolah akrab. "Maafkanlah kami yang lancang memasuki danau suci ini. Kami hanya anak-anak yang tersesat dan tidak bermaksud untuk mengusik kalian. Hanya saja, kami tak sengaja melintas di danau ini." Sean membual seraya menyatukan kedua tangannya dan merendahkan badannya membungkuk di hadapan para sirent yang Sean pikir begitu.
"Tunggu! Bagaimana kau bisa mengetahui danau suci ini. Bahkan tidak ada seorang pun yang bisa memasuki tempat ini selain orang-orang yang khusus. Kau hanya anak manusia! Bagaimana mungkin kau bisa melihat danau ini." Salah seorang Marmaida bertanya penasaran.
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa aku melihat tempat ini. Hanya saja itulah kenyataannya. Aku berkata jujur bahwa aku dan sahabatku hanya ingin membersihkan diri. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu di sini." Pungkas Sean bicara jujur.
Beberapa Marmaida saling menatap satu sama lainnya. Mereka seolah penasaran pada Sean yang bisa melihat tempat ini. Mudah, seakan tempat ini mudah di lihat siapa pun saat Sean ada di danau Osirus milik Asparos ini.
"Berdasarkan legenda yang ada, danau suci milik Asparos ini. Siapa pun tidak bisa melihatnya. Sebab siapa pun yang melihat tempat ini seperti sebuah hutan cantik. Dan kau, kau berhasil mematahkan kutukan itu.
Kau mampu melihat tempat ini, kau pasti bukan manusia biasa." Salah seorang Marmaida bicara sedikit takjub meragukan kejujuran Sean.
"Bukankah itu Driyad? Apakah dia di sini bersama anak-anak ini?" Bisik seorang Marmaida pada Marmaida lainnya.
"Aku rasa begitu." Tukas Marmaida yang lainnya ikut bicara.
"Maafkan kami para duyung danau Osirus. Maafkan aku yang lancang membawa mereka menyucikan diri di danau milik Asparos ini." Driyad yang berdiri di pinggir sungai menyambar perbincangan para duyung rupawan itu.
Dia mendengar semua apa yang di ucapkan oleh para makhluk di olympia itu.
"Tidak masalah Tuan Asgart. Hanya saja, bagaimana aku akan mengatakan pada Dewi Handita saat ketiga anak ini bisa melihat danau keabadian ini." Duyung yang mewakili bicara para kawanan Marmaida ini bernama Bessara si cantik kebanggaan Osirus.
"Katakan saja bahwa Asgart sedang menumpang minum di sini. Aku yakin dia akan mengerti." Ujar Driyad meyakinkan ketua kawanan Marmaida.
"Saat ini Dewi Handita sedang ada di kuil douglass. Mungkin dia sudah mengetahui jika ada manusia yang mengetahui tempat ini." Pungkas Bessara mengatakan berita ini pada Driyad.
Driyad sangat paham. Dia sangat tahu jika Dewi Handita pasti akan muncul di permukaan air terlebih kuil douglass pasti sudah terguncang saat Sean dan kedua sahabatnya itu masuk kedalam danau bercahaya ini.
Douglass adalah kuil persembahan milik Asparos dan sebagian makhluk olympia akan berkumpul saat mengadakan acara pasang surut air.
Kuil ini terbuat dari emas dan berdiri di dasar air yang tidak bisa di ketahui siapa saja kecuali para Marmaida yang mampu melihatnya.
Ketiga anak manusia itu tidak bisa mengerti apa yang dua makhluk aneh itu bicarakan. Mereka hanya sebagai pemerhati perbincangan mereka.
Di tengah danau Osirus ini, air kembali bergelombang. Kali ini massa-nya jauh lebih berat dari sebelumnya. Gelombang ini lebih besar.
"Dia telah tiba!" Kata Bessara sambil menatap pasang surut danau Asparos ini. Anak-anak merasa makin mencekam apalagi gelombang sungai bercahaya indah ini sedikit berubah. Mereka makin mendebar kala mendengar kata-kata yang terucap dari mulut Bessara.
BERSAMBUNG
__ADS_1