
"Wei!! Apa yang ingin kalian lakukan pada ku!" teriak Sean pada prajurit yang menyeretnya masuk kedalam ruangan besar.
Setelah memasukan Sean ke ruangan berlapis emas itu, mereka lalu menguncinya. "Jaga diri baik-baik pangeran," ucap salah seorang prajurit yang menyeretnya tadi. "Jangan buat kekacauan di dalam!"
Ah? Mungkinkah ini penjara untuk Sean. Atau mereka mencoba menahan Sean di tempat yang tertutup dan gelap ini.
"Hei. Apa yang kalian perbuat pada ku!" teriak Sean lagi sambil menggedor-gedor pintu. "Cepat buka. Aku benci tempat ini."
"Maaf pangeran. Kami tidak bisa membukanya. Kami hanya menjalankan tugas saja!" seru mereka yang ada di luar pintu.
"Biarkan pangeran sendiri di dalam. Sebaiknya kita pergi, jangan hiraukan dia," kata seorang prajurit pada teman-teman prajurit lainnya.
Mereka lalu pergi, meninggalkan Sean sendirian.
"Hei! Hei! Jangan pergi. Buka pintu ini! Aku ingin keluar. Hei! Apa kalian mendengarkan aku? Hei!" Sean menggedor pintu sekuat-kuatnya. Dia tahu prajurit-prajurit itu akan meninggalkannya. Namun, suara teriaknya terabaikan. Para prajurit sudah meninggalkan tempat ini. "Sial!" ucap Sean berang.
Sungguh malang nasib Sean. Dia di kurung di dalam ruangan yang agak gelap walau emas menyelimuti tempat ini.
"Dewi itu kurang ajar! Dia mencoba menipu ku." pungkas Sean mengepal tangannya keras-keras. Jujur, Sean ingin sekali menyayat-nyayat kulit mereka yang berani mengurungnya di tempat seperti ini.
Sean duduk termangu meratapi nasibnya di depan pintu. Dia menundukkan kepalanya, sungguh sedih nasibnya harus berakhir dalam genggaman Dewi Pharos.
Di ruangan itu sangat gelap. Di seluruh sudut yang terlihat berwarna hitam pekat, tak ada satupun penerang yang terlihat. Tapi ada satu celah lubang pentilasi udara yang memancarkan cahaya. Nampaknya cahaya itu berasal dari cahaya rembulan. Dari dinding-dinding yang sedikit terbuka itu, cahaya masuk dan berkumpul dalam satu titik.
Sean melihat ke arah celah itu sebentar, tapi—celah itu amat kecil. Hanya cukup untuk burung keluar masuk. Setelah melihat celah kecil itu, Sean yang berpikir bisa kabur melalui tempat itu, akhirnya mengurungkan niatnya. Apalagi tak ada alat yang bisa di gunakan untuk memanjat dinding yang lumayan tinggi ini.
Sean kembali merunduk, menatap kehidupannya yang malang. "Oh. Apakah aku harus berakhir menjadi seperti ini?" ucapnya lesu. "Benar-benar kesalahan mempercayai Dewi jelek itu."
Sean menutup matanya. Dia berharap kalau ini semua hanya mimpi. Sean berpikir kalau ini adalah imajinasinya saja. "Aku mohon, semoga aku masih ada di tumpukan salju tadi. Aku mohon. Aku mohon, kabulkan-lah!" katanya meminta. Entah pada siapa dia meminta, yang jelas Sean berharap yang ada di langit membantunya keluar dari tempat gelap ini.
Permohonannya mungkin tak akan di kabulkan oleh siapapun. Memang pada kenyataannya, Sean berada di lembah Pharos. Itu bukan mimpi di mana dia berharap bangun tidur tetap berada di tumpukan salju tempat di mana dia terjatuh. Tetapi inilah yang dia alami. Menjadi seorang yang mematuhi perintah orang lain, bahkan di kurung.
Sean tidak pernah berpikir akan bertemu dengan wanita yang menahannya ini. Saat tinggal bersama kedua orang tuanya, belum pernah mereka memperlakukan Sean seperti ini. Kecuali..... ah, Sean sebal jika mengingat-ingat wanita itu.
Saat dia sedang mengiba ingin menangis meminta bantuan. Sekonyong-konyongnya, Sean mendengar ada suara langkah kaki yang mendekatinya, di ikuti oleh bayangan besar berwarna hitam. Sean bisa merasakan kehadirannya. Dia terasa seperti makhluk besar yang keluar dari sudut kegelapan ruangan ini.
Sean mendongak menatap ke atas. Dia penasaran, siapa yang hendak menghampirinya. Saat beralih melihatnya, oh Sean terkejut. Bayangan itu membuat Sean hampir mati ketakutan.
"Aaa...." Pekik Sean seraya meloncat menghindari bayangan hitam itu. "S—siapa kau?"
Rrrr..... Makhluk besar itu mendengus sambil menggeram. Sorot matanya berwarna kuning terang di tengah gelapnya malam. Dia mirip kucing besar...... Ehm, lebih cocoknya mirip macan kumbang, badannya tinggi besar, kulitnya hitam pekat. Ada semacam mahkota dan tanduk di kepalanya. Warnanya merah, dan juga di punggung hewan itu ada yang muncul. Seperti sesuatu yang keras, mungkin tanduk atau semacamnya yang menyatu dengan tanduk di kepala.
Saat Sean ketakutan melihatnya, hewan hitam legam itu mendekatkan kepalanya di wajah Sean. Suara erangan, nafasnya terdengar agak berat mendengkur dan sedikit mengeluarkan asap dari lubang hidungnya.
"Jangan mendekat!" seru Sean pada hewan itu. Dia mengacungkan pedangnya agar hewan itu tak begitu mendekatinya. "Aku akan melukai mu kalau kau masih mencoba mendekati ku!"
Hewan besar itu tidak takut pada pedang merah Sean yang sudah menyala bersinar. Justru dia menepis pedang itu hingga terpental cukup jauh.
"Hei, bung. Aku bukanlah mangsa!" kata Sean yang mencoba meloby kucing besar itu agar tak menerkamnya. Sungguh Sean sudah merasa ketakutan saat dia menyorotinya tajam.
Tidak peduli seberapa manisnya mulut Sean berkata. Tetap saja kucing besar menyeramkan itu mendekati Sean. Suara dengkurannya makin membuat jantung Sean berdegup kencang.
Sean mengesot mencoba menghindari sepasang taring runcing nan pancang itu. Sean pikir dia ingin menerkam, sehingga Sean menutup kedua matanya agar tak melihat kekejaman hewan itu.
ROARK!!!
"Oh, tidak!" teriak Sean semakin panik ketakutan. "Kau jangan mendekat!"
Hewan itu tidak peduli Sean sudah ketakutan. Dia semakin garang, mendekati Sean lalu mencabik-cabik pakaian zirah yang terbuat dari besi itu hingga membuat anak itu telanjang dada.
"Oh tidak. Aku bukan mangsa mu, kawan!" ucap Sean. Dia menutup matanya, tapi tangannya menangkis moncong macam hitam itu agar tak menggigitnya. Walau Sean bisa menahan mulutnya, tapi cakar-cakar tajam itu berhasil mengoyak baju Sean hingga tak tersisa.
__ADS_1
Seberapa kuat Sean meronta, tetap tak ada ampun baginya agar makhluk itu menghindar darinya. Sean mencoba meraba-raba lantai, dimana pedang itu berada. Dan yah, yang terjadi, Sean tak menemukan pedangnya dalam pejaman mata.
Sean membuka matanya setelah tak ada lagi raungan yang mencoba menerkamnya. Pikirnya, dia sudah berakhir dalam perut kucing besar itu. "Apa aku sudah mati?" katanya sambil membuka mata perlahan. "Apakah aku sekarang ada di usus hewan itu?" katanya lagi sambil memeriksa seluruh bagian badannya.
Saat Sean memeriksa seluruh bagian badannya, cahaya itu muncul lagi. Cahaya kuning kemerah-merahan itu kembali bersinar di ruangan gelap.
Sinar itu muncul dari punggung dan dadanya.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?" ucap Sean yang sudah mendapati dirinya telanjang dada. "Sinar apa ini? Kenapa dia muncul lagi?"
Sean terus panik. Dia berusaha mencubit, mencongkel bahkan ingin mencakar sinar yang keluar itu. Sean menoleh ke sekitar ruangan, makhluk yang merusak pakaiannya tadi terlihat menunduk di hadapannya. Matanya kadang terbuka kadang tertutup. Lalu warna di kepala dan punggung hewan ikut bersinar ketika cahaya di tubuh Sean juga benderang.
"K—kau tak memakan ku?" tanya Sean. Sungguh, dia makin bingung? Kenapa makhluk itu tidak memakannya, padahal jelas tadi dia sudah merobek pakaiannya hingga menyisakan celana dan sepatu kulit saja. Hewan itu juga tadi terlihat sangat riang ingin memangsanya. "K—kau sungguh tak menjadikan aku makanan?" ucap Sean lagi sembari memastikan.
Hewan itu tak bersuara, justru dia tertidur santai depan Sean dan bersikap acuh tak acuh. Ruangan gelap itu perlahan agak terang karena cahaya keduanya yang memancar.
"Kenapa dia tidak memangsa ku? Bukankah tadi dia berusaha menerkam ku? Apa yang terjadi? Kenapa ini terlihat agak aneh?" ucap Sean pelan.
Sean melihat sekali lagi macan hitam itu. Benar-benar hewan itu tidak mau menggigitnya sama sekali. "Hei bung? Kenapa kau tidak jadi menyantap ku? Apakah kau berubah pikiran?"
Seperti anak kucing yang mengantuk. Macan hitam itu tak menyahut perkataan Sean. Bahkan Sean sempat menawarkan diri untuk di makan walau Sean tak terlalu berniat melakukannya.
Sean mengulurkan tangannya, pikirnya hewan besar itu jinak. Perlahan tangan lembutnya ingin mengelus kepala macan kumbang hitam itu. Walau sempat takut dan ragu, tapi Sean mencoba memberanikan diri.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyakiti mu. Aku anak yang baik-baik!" ujarnya memberitahu. "Jika kau tak mau memangsa ku. Itu artinya kita berteman."
Makhluk besar itu tidak agresif, saat Sean mengelus kepalanya dengan lembut, dia terlihat menikmati belaian hangat bocah itu. Sesekali dia juga mendengkur saat Sean membelainya, yang mana juga kadang membuat Sean kaget ketakutan.
"Wow.... Kau ternyata penurut," gumam Sean takjub. Dia agak tersenyum sumringah kala berhasil menjinakkan kucing liar itu.
Sean sudah merasakan keakraban dengannya walau baru sesaat. Oh, sungguh, Sean kali ini sudah mendapatkan makhluk yang benar-benar di luar dugaan. Dia garang, tapi nyatanya jauh lebih jinak dari pada kucing liar yang sering hilir mudik menyelinap di dapur rumahnya. Sekedar mencuri ikan masakan sang Ibu, namun yang ini sungguh-sungguh di luar ekspektasi.
Sean mengadu pada hewan itu, tapi dia terlihat apatis, acuh tak acuh. Tak peduli apa yang tengah Sean katakan padanya, dia tetap tertidur di lantai.
"Woh.... Sayap ini sangat indah. Apa benar dia keluar dari punggung ku?" ucap Sean memeriksa seluruh bagian punggungnya.
Dan yang Sean lihat adalah, sayap itu tak biasa. Sayap itu terbuat dari cahaya yang bersinar berwarna-warni, ringan dan juga..... Sean ingat. "Sayap ini mirip sayap para Nimfa!"
Sean mencoba terbang kesana kemari dengan sayapnya. Di ruangan itu, Sean perlahan mengepakan sayapnya. Walau tadi dia sempat bertanya-tanya kenapa dia bisa memiliki sayap juga tubuhnya ada simbol membentuk sayap. Ada tulisan Herenoid di dadanya, lalu bersinar. Sean ingin tahu dari mana asalnya semua itu, tapi semua sudah berlalu kala sayap itu membawanya terbang.
Macan besar yang Sean belai tadi, tertarik ingin menangkap cahaya yang terbang kesana kemari di atas kepalanya itu.
"Wohooo..... Sayap ini sungguh unik!" katanya yang tanpa henti bergumam takjub. Terbang kesana kemari kegirangan. "Oh, sungguh menyenangkan bisa terbang."
Di tengah dirinya yang asik terbang, daun pintu tiba-tiba terbuka lebar. Seseorang menyelinap masuk, mereka ada dua. Berjalan mengarah masuk ke dalam ruangan. Seketika, sayap-sayap yang membawanya terbang itu menghilang. Bahkan Sean belum sempat turun.
Alhasil, Sean terjatuh tepat di hadapan kedua orang yang masuk ke ruangan gelap ini.
"Ck!! CK!! CK!! Kau sungguh ceroboh pangeran muda!" kata salah seorang yang tak lain adalah Dewi Pharos.
"Kenapa kalian tiba-tiba masuk?" tanya Sean.
"Percobaannya sudah selesai," balas Dewi Pharos.
"Percobaan?"
"Cahaya di tubuh mu dan di tubuh Ligong sudah terikat. Dan kau benar-benar Lausius muda yang baru saja tumbuh."
Sean menggaruk kepalanya. Pikirnya membahas mengenai Lausius itu makin membuatnya runyam. "Maksud mu —"
"Ligong adalah macan kumbang salju yang memiliki ikatan dengan para Lausius. Saat Lausius dan Ligong berdekatan, maka cahaya di antara keduanya akan bersinar. Ligong adalah hewan takdir, dimana dia mampu melihat takdir masa depan Lausius," katanya menjelaskan. Dia jongkok di hadapan Sean sambil mengelus kepala macan hitam yang sedang bersinar itu.
__ADS_1
Oh. Kenapa mereka selalu mengatakan Lausius lagi Lausius lagi. Sean menyerah untuk bicara mengenai Lausius. Rasa kesal membahas Lausius itu membuatnya harus bersabar.
"Crypto. Kau lihat. Tuan mu yang baru benar-benar Lausius yang di tunggu-tunggu kelahirannya. Kau harus melindunginya dengan segenap raga mu," kata Dewi Pharos pada Crypto.
Dia meliriknya, pengawal yang sudah lama bersamanya ribuan tahun ini, kini kembali mengemban tugas darinya.
"Aku berjanji, demi jiwa ku. Aku siap melindungi pangeran Lausius muda. Bahkan jika jiwa ku ikut terbakar, aku rela menyerahkannya pada Tuan yang agung!" ucap Crypto berjanji. Dia menyilangkan tangannya, di kedua tangan itu di selimuti sarung tangan, di setiap celahnya ada belati-belati kecil yang tajam.
Mendengar kesetiaan Crypto, Dewi Pharos tak bisa meragukannya. Dia tahu, kesetiaan Crypto selama ini sungguh tak bisa di lupakan begitu saja.
Wanita itu lalu menatap Sean. Dia melihat anak yang tengah telanjang dada itu terpaku melihat mereka berdua berbincang.
"Ehm..... Pakaian pemberian Dewi para duyung itu sudah rusak. Apa kau perlu pakaian baru?" tegur Dewi Pharos.
Matanya tak berhenti melihat tubuh Sean. Dalam hatinya, dia memuji Sean. Tubuh anak itu sangat indah, pantas banyak kaum Manun yang tergila-gila padanya. Parasnya sungguh tak bisa di tolak oleh siapa saja yang melihat.
"Tentu saja aku butuh pakaian. Kucing besar mu telah mengkoyak pakaian ku hingga rusak tak berbentuk!"
Sean agak ketus, apalagi mengingat dia di tahan di tempat gelap ini.
"CK!" Dewi Pharos menggeleng. Sungguh, Sean adalah anak pertama yang membuatnya harus menahan diri untuk tidak mengomel. "Kau masih saja keras kepala. Aku hanya bertanya kau butuh pakaian baru atau tidak? Kenapa kau menjawab ku dengan banyak tuntutan?"
"Itu—karena kau telah mengurung ku di sini!" balas Sean mendendam. Dia memalingkan wajahnya, Sean masih marah saat dia memerintahkan prajuritnya menyeret Sean di tempat ini.
"Crypto. Aku serahkan dia pada mu. Kau yang akan melayani dia saat ini," Dewi Pharos berkata pada Crypto. Setelah itu, dia pergi meninggalkan ruangan itu.
Kini yang tertinggal hanya Sean dan Crypto. Pria menawan yang mengabdi kepada Sean ini, menjentikkan jarinya. Setelah itu keluar sebuah pakaian zirah dari tangannya.
"Ini pakaian pangeran. Jika tidak sesuai dengan selera anda, pangeran bisa mengatakannya pada ku. Aku akan menggantinya dengan yang baru!"
"Tidak perlu!" tandas Sean. "Berikan baju itu. Aku sudah kedinginan," ujar Sean apatis. Sean bersikap cuek, dia tidak mau menatap wajah pria itu.
Crypto menggeleng melihat tingkah Sean. Saat memberikan pakaian di tangan Sean, anak itu masih bersikap memusuhinya. "Pangeran perlu di bantu memakainya?" tawar Crypto berinisiatif. "Pakaian itu sedikit sulit di banding pakaian pangeran sebelumnya."
"Tidak perlu," balas Sean. "Aku bisa sendiri."
Crypto yakin tak yakin kalau Sean bisa memakai baju yang berat itu. Dia terlihat kurus walau bentuk tubuhnya gagah. Crypto sedikit khawatir kalau Sean tak bisa melakukannya seorang diri. Tapi, anak itu menolak dengan keras tawaran darinya. Crypto menurut, perintah Tuannya tak bisa di ganggu gugat.
"Oh, iya. Aku tidak tahu siapa kau! Tapi, yang jelas, aku tak mau kau memanggil ku pangeran! Aku bukanlah pangeran seperti yang kalian katakan!" sambil memakai baju besinya, Sean berkata pada Crypto. Dia melirik sekilas wajah yang terus melihatnya tanpa henti.
"Aku Crypto, pangeran bisa memanggil ku Crypto!" tegas Crypto menjelaskan. "Mulai saat ini aku akan menjaga dan melindungi pangeran."
"Huh," Sean menatapnya nanar. Pria itu terlalu menyebalkan, Sean sudah mengatakan kalau dia tidak mau di panggil pangeran. Tetapi dia masih menyebutnya begitu. "Jika kau terus menyebut ku pangeran. Maka aku akan pergi dari sini!"
"Pergi kemana?"
"Ke......... Terserah aku ingin kemana. Yang pasti, aku tidak suka kau memanggil ku pangeran!" Sean menegaskan.
Tapi pria itu tetap pada pendiriannya. Dia tidak mengindahkan perkataan Sean. "Ini bukan keputusan mutlak pangeran. Aku akan tetap memanggil pangeran, apapun yang terjadi."
"Aku tidak akan memakai baju ini," ucap Sean. Sesaat setelah pria itu tak ada ubahnya memanggil pangeran, Sean memberikan kembali baju zirah itu pada Crypto. "Selama kau masih memanggil ku pangeran. Aku tidak akan menerima apapun bentuk kebaikan mu."
Sean mang agak keras kepala. Dia tetap bertelanjang dada agar Crypto menuruti kemauannya.
"Jika keputusan pangeran tidak mau memakai pakaian pemberian dari ku adalah keputusan mutlak. Maka Pangeran akan tetap di kurung di tempat ini. Juga pangeran akan tidur bersama Ligong, sampai pangeran berhenti keras kepala!"
Saat Sean memberikan kembali pakaian itu pada Crypto, pria itu berlalu meninggalkannya. Bahkan daun pintu kembali di tutup rapat.
"Hei, aku tadi hanya bergurau! Kenapa kau begitu serius menanggapinya!" teriak Sean. Daun tetap tertutup, Crypto tak mendengarkan kata-kata Sean. "Menyebalkan!!"
BERSAMBUNG
__ADS_1