Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 140


__ADS_3

Sean, dia diam-diam menyelinap makin jauh mengikuti jalan di depannya. Usai para prajurit yang tadi sempat mencarinya pergi, Sean pun ikut pergi.


Di surga. Ya, Sean merasa dia seolah berada di surga. Awan putih menutupi seluruh istana yang berada di atas langit. Semua indah.


Sean belum mati kan? Pertanyaan klise. Anehnya, Sean tak begitu heran kenapa dia berada di tempat seindah ini. Di surga, Sean beranggapan begitu.


Seharusnya, melihat surga adalah ketika mati. Tetapi tidak berlaku di sini, Sean berada di sana sekarang. Semua yang terlihat di mata Sean adalah keajaiban. Kapan lagi Sean akan menikmati pemandangan di negeri dongeng seperti ini.


“Kita akan kemana sekarang?” tanya Sean pada Ligong.


Mereka tengah berada di sebuah kuil emas. Sean meluaskan pandangannya, menelisik alam yang menyatu dengan suasana fantasi menyenangkan.


Ligong melangkahkan kakinya, di jembatan berbatu. Jalur di sebelah kiri, menuju sebuah anak tangga.


“Oh. Kita harus kesana?” Sean menebak.


Dari kejauhan, Sean sudah melihat ada istana besar lainnya di atas ribuan anak tangga. Anak tangga itu panjang. Menanjak ke atas, dan Sean bisa tahu kalau ada ribuan anak tangga yang harus dia lalui agar bisa sampai di atas sana.


Di bawah Sean, terdengar suara gemercik air. Dan jelas, suasana sesejuk ini membuat Sean tahu dia berada di mana.


“Tapi tunggu..... Bukankah itu.... Sungai emas?”


Karena tadi penasaran, Sean akhirnya terpancing untuk melihat dari pembatas jembatan berundukan anak tangga.


Benar saja, Sean telah sampai di mana tempat yang seharusnya Sean tuju. Tak di sangka, ternyata di bawah sana adalah sungai emas itu.


“Kawan. Kita sudah tiba di sungai emas Mosapus. Kau benar, kita sudah tiba,” kata Sean kegirangan.


Lagi-lagi, Ligong menarik Sean. Mengajaknya agar naik ke atas, menyusuri anak tangga yang berjumlah ribuan. Tetapi, sejak kapan si macan hitam bilang kalau mereka akan tiba. Point' penting di lupakan Sean, dia yang terlalu kegirangan sampai lupa kalau Ligong tak pernah berkata apapun padanya. Kecuali, menggonggong bak anjing.


Tak masalah bagi Sean. Demi sampai di puncak atas. Sean rela meniti satu persatu undakan anak tangga. Apalagi ada istana di sana. Di sisi dan kanan jalan yang Sean lalui, sama.


“Wow.... Tempat yang menakjubkan. Tempat ajaib. Tempat penuh misteri.”


Mata indah Sean berbinar, membuatnya terpesona akan tempat ini. Apalagi bangunan di depannya, semua memikat mata Sean.


Banyak bangunan yang di hubungkan oleh jalan berbatuan terapung di awan. Di bawahnya ada sungai emas, lalu ada juga hutan di tutup kabut.


Batu-batu besar, sebagai tiang penyangga bangunan beton. Batu besar yang mengikat jembatan sebagai penghubung, di atasnya ada tempat kecil seperti saung. Namun beda, dia cukup tinggi layaknya mercusuar di pantai.


Oh tidak, bangunan itu agak rendah dari mercusuar. Bentuknya empat tiang, mirip gubuk tradisional. Berdiri di atas tiang batu besar, tidak memungkinkan berlama-lama di sana.


Agak ngeri jika berada di tempat itu dalam waktu yang cukup lama. Kanan kirinya curam, siapa saja yang jatuh di sana pasti.... Sean tahu, dia akan berakhir di sana jika terjatuh.


“Oh. Kenapa begitu beratnya menaiki anak tangga ini!”


Sean menyeringai keringat yang keluar dari keningnya. Di atas anak tangga, Sean sudah tiba di puncak. Dia agak mengeluh kala lelah itu menghampirinya.


Sean merentangkan sebentar badannya di lantai mengkilap istana. Kedua tangan Sean terbuka lebar.  Matahari meninggi, biasanya sangat panas. Tapi tidak, Sean tak merasakan panas sedikitpun walau dia berkeringat.


“Hei, ngomong-ngomong. Kita sudah sampai?”


Sean menyadarinya. Tadinya Sean yang meregangkan tubuhnya, melepaskan lelah. Kini dia duduk normal. Di sebelahnya, Ligong duduk menemani Sean.


“Kita sudah tiba. Itu artinya, kita harus melanjutkan lagi perjalanan kita. Aku yakin, kita akan menemukan tempat itu. Aku akan menemukan Jessica dan Eed. Setelah itu, aku akan kembali. Yeah, benar. Aku harus cepat.”


Sean nampak girang. Terutama dia ingat pada ucapan Dewi Handita. Dia bilang, Sean akan menemukan temannya Eed di sekitar sini. Dan..... Jessica, ah anak itu kini ikut menghilang. Pekerjaan ekstra bagi Sean harus menemukan dia.


“Ayo kawan. Kita harus mencari Eed dan Jessica. Aku yakin, mereka pasti sedang menunggu ku di sini.”


Sean sangat yakin atas apa yang dia pikirkan. Kedua anak itu berada di sini. Sean beranjak, berada di halaman istana berlantaikan keramik mengkilap, membuat Sean sedikit terpana. Tetapi, itu tidak cukup membuat Sean takjub walau tadi sempat ingin mengakuinya.


Semangat Sean kian membara ketika teringat dua nama itu. Di sisi kanan dan kiri istana di depan Sean adalah jalan lanjutan. Menghubungkan banyak bangunan megah yang menjulang tinggi.


Lalu, di belakang istana. Sean tahu, pasti tak ada jalan. Karena hanya ada dua jalan penghubung. Kiri dan kanan. Sean memilih....


“Oh. Kita ke kanan saja. Sejak tadi kita melalui jalan kiri selalu. Dan kini, kita merubah haluan.”


Ligong mengikuti Sean, anak itu mengambil jalur yang di anggapnya benar. Tidak kontra, Ligong Sepertinya menyetujui langkah Sean.


“Ayo kita ke sana.”


†††††


“Hiya.....”


Uli kembali menyerang si raksasa, tadi dia terpental beberapa kali karena tak mampu menghalau serangan dari si badan besar.


Uli kali ini tak mau kalah, sudah cukup sakit rasanya di punggung. Sakit terbentur di dinding yang keras. Dia tidak mau mengulanginya.


“Kau harus mati. Atau aku akan menyesal jika tidak melakukannya!” teriak Uli berang.


“Haha.... Kau sudah terluka, tapi masih mencoba berkata seperti itu!”


Tangan besar Gondola, menghantam tubuh Uli sebelum dia menyerangnya kembali. Wanita itu lagi-lagi terpental di dinding goa. Membuat sayap bercahayanya terasa patah.


Uli memegang erat dadanya, rasanya sesak ketika untuk kedua kalinya dia terbentur benda keras itu.


“Kau..... Uhuk.....”


Uli terseok-seok, darah segar kembali keluar dari mulutnya. Si raksasa rakus tertawa puas, setelahnya. Dia meraih tubuh Uli, siap memakannya.


“Kau sudah kalah. Kau menjadi santapan ku malam ini,” ujar Gondola sumringah.

__ADS_1


Ngeri, Uli merasa napasnya amat bau. Mulutnya terbuka lebar, lubang tenggorokan, lidah dan juga liurnya yang berlendir amat jijik untuk di lihat.


“Akh.... Lepaskan aku!” berontak Uli. “Kau akan merasakan sengsaranya jika berhadapan dengan Tuan agung ku.”


“Elius maksud mu?”


“Kau akan mati di tangannya.” Uli mengerang sakit, napasnya tak bisa di tarik dalam. Sulit, sungguh.


“Hahaha..... Kita lihat saja, apakah Tuan agung mu itu akan datang menyelamatkan pesuruhnya. Itu hanya angan-angan mu saja.”


“Akh..... Kau ti......dak bisa melakukannya....”


Suara cecapan dari lidah yang siap mengoyak tubuhnya, membuat Uli makin ngeri-ngeri takut. Raksasa itu menjilat bibirnya, tanda bahwa dia makin bergairah untuk menyantap mangsanya.


“Hahaha...... Makanan lezat.”


Uli tercengkram erat, tak bisa bagi Uli membebaskan dirinya. Kini dia berakhir.


“Gondola.....”


Belum sampai Uli menyentuh bibirnya, terdengar seseorang menyebut nama raksasa ini.


Pria tua berbadan besar ini menengok ke kanan dan kiri. Mencari suara yang familiar di dengar. Suara ribuan tahun itu.


“Tuan?” Uli menoleh, dan dia yakin itu suara Elius. “Itu Tuan agung. Dia datang. Dia menyelamatkan aku.”


Dari  pelupuk mata Uli dan Gondola, datang dua pria bersayap. Mereka terbang merendah, dengan satu tangan di lipat di punggung.


Pria menawan, pria awet muda, si badan besar tak bisa melupakan makhluk terkuat di tanah Saranjana.


“Hoho.... Elius dan Nekabudzer rupanya yang datang.”


“Kau berani menyantap anak buah ku tanpa persetujuan ku. Apakah begini cara mu menghormati ku?”


Elius terbang rendah sebatas mata Gondola. Tepat di depan mata si raksasa berbadan besar, Elius menunjukkan esensinya. Sementara Uli, dia hampir saja menjadi santapan Gondola—jika Nekabudzer dan Elius tidak datang secepatnya.


“Beruntung.”


Namun Gondola besar itu masih mencengkram erat tubuh Uli. Wanita itu menahan napasnya, dia merasa sesak tertekan.


“Hoho..... Kau kira aku berani melakukannya tanpa suatu sebab. Kau tentu tahu, siapapun yang memasuki tempat ku, maka dia akan berakhir menjadi santapan malam ku.”


“Bagaimana jika dengan ku?” Elius meliriknya sinis, menginterupsi si badan besar. “Apakah ada sebuah pengecualian?”


Elius menyinggungnya, membuat Gondola ini teringat pada kejadian ribuan tahun yang lalu. Kejadian yang sama seperti saat ini. Gondola pernah kalah melawannya.


Lebih tepatnya, Gondola memang tak pernah menang kala menghadapi si Elius. Dia jauh lebih kuat dan tangguh. Elius, dia adalah ancaman bagi raksasa ini sekarang.


Jika aku mencari perkara padanya. Kemungkinan aku menjadi pihak yang rugi. Hanya karena satu makanan lezat, aku akan kehilangan harga diri ku sebagai penguasa tanah ini. Tak akan aku biarkan dia melakukan hal ini. Dia tidak boleh menghancurkan kaum raksasa begitu saja.


Gondola lebih memilih melepaskan Uli dari cengkeramannya. Wanita itu terbatuk-batuk saat bebas. Dimana, Gondola nyaris merenggut nyawa Uli.


“Jika kau datang kemari untuk menyelamatkan pengikut mu. Maka aku berikan pengecualian. Aku tahu, aku tidak mampu mengalahkan mu begitu saja.”


Elius mendengkus, kemudian dia tersenyum miring. “Memang sepatutnya kau tidak melakukan hal ini.”


Sama seperti sebelumnya, Elius di mata  raja raksasa masih angkuh. Dia membenci Elius, namun tak sanggup Gondola mencari perkara pada Elius.


Elius melirik Nekabudzer yang terbang rendah di belakangnya. Pikiran Elius berputar pada kejadian tadi, dimana saat itu dia merencanakan semua ini.


“Kau ternyata licik. Kau merencanakan hal ini untuk mengetahui keadaan Lausius itu. Kau memang patut di sebut sebagai pria paling beruntung. Kau dengan metode mu, bisa mengelabui banyak musuh,” kata Nekabudzer pada Elius tadi.


Saat mereka terbang, keduanya saling berbincang.


“Dalam peperangan tentu ada taktik. Jika tidak, bagaimana bisa kita akan menang dalam peperangan ini.”


“Benar. Kau sangat benar,” kata Nekabudzer setuju. “Kau memang hebat dalam menyusun siasat.”


Beberapa saat yang lalu, ketika mereka sedang berbincang di istana Elius. Nekabudzer menyinggung Elius melalui rencananya ini.


Elius memang sengaja memerintahkan Uli agar turun ke sana. Jika Uli di tangkap dan di tawan sebagai santapannya, maka Elius dengan mudah akan tahu keberadaan Lausius.


Sementara itu, Elius diam-diam mengikuti langkah Uli. Dan dia bersembunyi di balik bebatuan. Dia ingin mendengar percakapan tentang Lausius.


“Kalian tiba di sini. Tentu tidak sembarangan. Kalian  pasti sedang mencari sesuatu di tempat yang terisolasi ini. Benar bukan?”


Si badan besar menebak. Terutama kedatangan mereka yang mendadak apalagi tiba di saat dirinya akan memakan pengikutnya, si Uli.  Sedangkan Elius, dia masih bersikap sok wibawa.


“Nekabudzer. Katakan, apa tujuan kita ke sini?” lirih Elius padanya.


“Hanya ada sedikit keperluan yang memaksa sebuah kejujuran. Bukan sesuatu yang penting,” kata Nekabudzer memulai intinya.


“Kejujuran?” sahut si badan besar.


Nekabudzer terbang mendekati Gordon, satu tangannya dia taruh di belakang punggung.


“Katakan. Apakah Lausius yang masuk ke tempat ini sudah menjadi santapan mu?”


“Lausius?”


“Jika aku tidak salah, dia terjatuh ke dalam lubang di luar goa. Lalu dia menuju ke sini, tak sengaja bertemu dengan mu. Apakah kau ingin berbohong sekarang kalau dia sudah berada di perut mu.”


Elius menyambar ucapan, dia makin mendekatkan tubuhnya di pelupuk mata Gondola besar ini.

__ADS_1


Gondola besar ini, tentu saja tidak akan lupa pada kejadian sebelumnya. Kejadian di mana dia tak mampu menjadikan Lausius muda itu santapan nikmatnya.


Hanya saja, si badan besar sedang berusaha menyembunyikan kekalahannya pada Elius dan Nekabudzer. Karena dia tahu, semua orang di tanah surgawi ini mengenalnya sebagai badan besar yang tak terkalahkan. Namun tidak di mata Elius.


“Ehm..... Lausius itu. Aku tidak melihatnya di sini,” kata Gondola memberitahu. “Namun, beberapa anak buah ku melihat dia sudah keluar dari gurun ini.”


“Kau sedang tidak membohongi ku bukan?”


Elius kembali menginterogasi. Kali ini, dia tidak yakin pada pengakuan raksasa di depannya. Sama seperti sebelumnya, Elius tidak pernah percaya pada siapapun.


“Jika kau tak percaya pada ku. Sebaiknya kalian lihat saja sendiri. Anak itu mungkin saat ini sudah tiba di telaga kematian. Jika dia bisa lolos dari tempat ku, aku tidak yakin dia bisa lolos dari telaga kematian itu.”


Tidak peduli Elius percaya atau tidak, bagi Gondola besar ini dia sudah mengakuinya. Walau berbohong.


Elius melirik kesana kemari. Seisi tempat penuh tulang ini dia perhatikan. Seperti......


“Apakah kau merasakannya Nekabudzer?” bisik Elius pelan.


Nekabudzer mengangguk, dia juga merasakan hal yang sama seperti Elius.


“Dia datang.”


Benar saja, tidak lama setelah merasakan aura kedatangan itu. Dari pasir, terdengar suara gemuruh. Sesuatu muncul dari tanah yang berputar bak topan. Sekarang kecil, tidak seperti topan yang pernah di rasakan oleh Elius sebelumnya.


“Hahaha.....  Nampaknya kalian berdiskusi tanpa diri ku.”


“Dewa iblis!”


Elius tidak kaget. Dia cukup tahu kalau si pecundang jalanan itu menguping di bawah sana.


Tidak lama, tubuh si badan iblis jahanam itu muncul. Menunjukan rupanya, bahwa dia ingin ikut dalam perbincangan ini.


“Apakah kau kaget Elius melihat kedatangan ku?”


Elius menanggapinya agak dingin, dia tidak mudah di ajak bicara sekelas iblis rendahan.


“Aku tidak pernah merasa bahwa kau adalah musuh terbesar dalam hidup ku. Bagi ku kau adalah iblis hina yang sepatutnya mati.”


“Kurang ajar. Kau....”


“Tahan.”


Dewa iblis menarik pundak Xavier saat dia berang mendengar penghinaan terhadap Dewa iblis. Xavier ingin memulai pertarungan, namun tak mudah bertarung tanpa alasan yang cukup.


“Jangan merusak lingkungan Gondola. Kita harus menghormatinya,” kata dewa iblis sok bermurah hati.


Sudah biasa baginya di hina. Dewa iblis tak masalah atas mulut pedas Elius. Karena itu perangai buruknya, dewa iblis memahaminya.


“Hoho...... Dewa iblis selalu ramah. Tidak ku sangka, hari ini dia makin berwibawa saat bertamu ke rumah Gondola yang rakus.” Raksasa menyahut, suaranya memekik telinga ketika dia melahai terbahak-bahak.


“Nekabudzer. Kita tidak punya waktu di sini. Sebaiknya kita pergi sekarang.”


Elius meliriknya, Nekabudzer juga tahu. Elius paling malas bertemu dengan dewa iblis. Kedatangan mereka ke sini bukan karena ingin menghabiskan tenaga, tetapi karena Lausius itu.


“Sebaiknya kita pergi sekarang. Tidak ada waktu menjamu mereka,” balas Nekabudzer membisik.


Elius mengangguk. Sayapnya terkepak sempurna, siap kembali terbang—meninggalkan tempat tak berguna ini.


“Kami tidak ada waktu berlama-lama di sini. Maaf, jika tidak bisa ikut dalam jamuan daging kotor Gondola.”


“Hahaha.... Kau ingin pergi. Sedangkan aku baru saja tiba,” sahut dewa iblis girang.


“Uli,” lirih Elius dingin. “Kau ingin tetap di sini menjadi santapan si rakus. Atau kau ingin ikut kami.”


“Aku ikut Tuan,” balas Uli cepat. Dia mengepakkan sayapnya, menyamai Elius. Meninggalkan tempat ini, jauh lebih aman dari apapun.


Elius tak menggubris perkataan dewa iblis. Keangkuhan Elius tak bisa di ragukan lagi. Elius beranggapan kalau dia adalah makhluk paling kuat di sana.


Elius berbalik, dia akan meninggalkan goa butut milik gondola buas. Sebelum itu, Elius menoleh sinis sebentar.


“Lausius itu belum mati. Jawabanya sudah jelas.”


Setelah berkata seperti itu, Elius benar-benar pergi. Menghilang dari pandangan mata dewa iblis, Xavier dan gondola rakus.


“Dia Sepertinya mengetahui apa tujuan kita kemari.”


Dewa iblis mengangguk. “Tujuannya jelas. Lausius itu yang mampu membuat siapa saja bersatu di tempat yang sama.”


Gondola besar hanya mendesah lelah. Akibat dari Lausius muda yang terakhir, orang-orang di hadapannya ini rela bertumpah darah demi mendapatkan keabadian dari bocah itu.


“Gondola. Aku rasa, aku tidak butuh jawaban dari mu. Kami pergi, kau tahu apa yang kami cari di sini.”


Gondola paham maksud dewa iblis. Dia paham, kedatangan mereka ke tempatnya hanya dalam satu tujuan. Lausius.


Jelas, itu yang membuat mereka rela mengunjungi tempat ini.


“Apakah kalian tidak mau mencoba dahulu anggur darah dari goa ku?” tawar gondola.


Dewa iblis tidak punya waktu menikmati anggur jorok itu. Dewa iblis paham, dia berhenti untuk tidak mencicipi makanan kotor yang tidak jelas asal usulnya.


“Kami pergi sekarang. Terima kasih atas jamuan kali ini. Ayo Xavier, kita pergi.”


Tanpa basa-basi, dewa iblis pergi. Lenyap di balik pasir goa. Gondola hanya bisa menggerutu kesal, dia seakan tak di anggap oleh para makhluk itu.

__ADS_1


“Mereka terlalu angkuh.”


TBC


__ADS_2