Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 40


__ADS_3

"Pohon-pohon ini begitu unik jika dilihat dari atas. Warnanya begitu cantik untuk di sentuh dan bentuknya yang begitu mempesona, membuat siapa pun pasti akan menyukainya."


Jessica terkagum memuji.


Di bawah pohon besar tepat di atas lereng bukit itu, mereka berteduh dari teriknya matahari siang.


Semua mata tertuju pada pemandangan pohon magaru ungu yang berdiri dengan rapi di sepanjang mata memandang.


"Aku tak habis pikir, apa yang tak pernah aku lihat di dunia nyata akhirnya terwujud di tempat ini." Jessica kembali bergumam takjub.


Untuk sesaat penat dan lelah anak-anak menghilang seiring indahnya pemandangan yang mereka saksikan. Terlebih di sekitar bukit, bunga-bunga bermekaran dan sering mengubah warna mereka seakan mereka adalah bunglon yang bisa berkamuflase dengan alam.


Terkadang berwarna merah muda, ungu kehijau-hijauan dan bertransformasi menjadi hitam pekat dan kembali lagi pada warna semula.


Semua itu pastinya menjadi keindahan tersendiri di kota bernama SARANJANA ini.


Untuk sesaat Sean termenung melamun dengan tubuh menyandar di pohon magaru ungu yang lebat daunnya.


Ia seperti sedang memikirkan sesuatu dalam benaknya. Entah apa, namun lamunan itu sepertinya cukup membuat anak itu terbuai dalam dunianya sendiri.


Jessica yang melihat Sean, paham jika ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh temannya itu.


"Sean! apa yang sedang kau pikirkan? apakah kau sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting?" jessica bertanya penasaran.


"Tidak! aku hanya sedang memikirkan cara bagaimana kita menemukan Edward," Sean berujar sekenanya.


"Apakah kau yakin itu?" Jessica mulai memancing Sean agar ia lebih jujur.


"Ya, aku cukup yakin," tegas Sean.


"Jika dilihat dari raut wajahnya, Sean sepertinya sedang merindukan sesuatu. Aku tak yakin apa itu, tetapi wajahnya tak bisa membohongiku. Aku rasa dia tidak sedang memikirkan Edward tetapi sedang memikirkan hal lainnya," jessica bicara dalam hati menebak apa yang sedang Sean pikirkan.


"Baiklah jika begitu, aku rasa kau mungkin lelah!" seru jessica.


"Sebaiknya kau istirahat dulu," gadis belia itu memberi saran.


"Hmm," Sean hanya mengangguk tak lagi mulut itu berbicara. Inilah khas Sean, bicara hanya sekenanya saja jika itu perlu.


Mereka mencoba mengistirahatkan tubuh senyaman mungkin di bawah pohon yang rindang sebelum melanjutkan perjalanan menuju sumber makanan yang melimpah ruah seperti yang di ucapkan oleh asgart.

__ADS_1


Tak terbayang oleh Jessica seperti apa gunungan makanan yang di katakan oleh driyad. Mungkin yang ada dalam benak Jessica adalah gunungan makanan yang berbahan dasar daging.


"Apakah makanan yang di maksud tuan serigala adalah sushi? burger? pizza? ataukah makanan khas asia?" jessica menebak.


"Semoga saja itu benar," lirih jessica membayangkan makanan lezat di benaknya.


Pikirannya jauh entah kemana-kemana menemukan titik makanan yang dimaksud oleh asgart bahkan sesekali ia menelan ludah menahan nafsu untuk mencicipi makanan itu.


Sehingga tak terasa tubuhnya terbenam dalam tidur siang yang sedikit sangat enak untuk di nikmati setelah melakukan perjalanan jauh.


Yudhar juga mengekori jessica terbenam dalam mimpi yang penuh fantasi. Namun tidak untuk Sean dan driyad. Keduanya masih tak bisa memejamkan mata meskipun untuk sesaat.


Tapi, disiang itu entah apa yang terjadi, tiba-tiba pohon magaru ungu yang semulanya nyaman dan damai secara mendadak berubah menjadi bising ulah burung-burung yang terbang panik.


Mereka tak sadar jika banyak burung diatas kepala mereka yang sedang berteduh jua. Hal itu dirasakan setelah mereka mendapati kepakan sayap burung-burung itu terbuka dengan paksa penuh kepanikan dan ketakutan terbang entah berantah. Bahkan banyak sayap burung-burung itu berhamburan rontok jatuh ketanah.


Hal ini membuat anak-anak cukup kaget dan terbangun dari istirahat mereka.


Mata-mata itu mulai melirik di sekeliling bukit, melihat apa yang terjadi sehingga burung-burung terbang dengan panik tak menentu.


"Ada apa ini Sean!" Jessica bertanya kaget.


"Setahu ku, jika burung-burung sudah meng-epakan sayap dengan keras biasanya ada ancaman di sekitar!" Yudhar berinisiatif menebak.


"Apakah kau yakin itu?" Jessica bertanya seakan dia kurang yakin pada anak itu, sebab jessica tahu bahwa Yudhar manusia yang cukup kolot dan sulit menangkap sebuah ide yang cemerlang.


"Tentu saja aku yakin. Aku sudah lama tinggal di dalam hutan dan juga aku sangat paham pada karakteristik perilaku hewan." Yudhar bicara dengan yakin sesuai pengalamannya.


Mereka memasang pertahan dengan siaga mengantisipasi apakah gerangan yang terjadi, sehingga membuat burung-burung berhamburan panik di udara.


"Driyad, apakah kau tahu apa yang terjadi?" Sean berinisiatif bertanya pada driyad yang sedang memicingkan mata melihat kebawah lereng bukit disisi kanan mereka.


"Apa yang di katakan Yudhar itu benar, sepertinya ada yang tidak beres disini," jawab driyad penuh kepastian.


"Jika itu benar, maka kalian harus bersiaga. Mereka akan segera datang," lanjut driyad memperingati anak-anak seakan dirinya sudah tahu apa yang akan terjadi.


Anak-anak paham dan mereka mengangguk setuju.


"Kami paham!" seru anak-anak dan tak bertanya lagi.

__ADS_1


Ucapan driyad benar, tak selang beberapa lama tumbuhan ilalang yang menguning di bawah bukit sisi kanan mulai bergoyang sedangkan tak ada angin yang melintas di sekitar bukit itu.


"Sssshhhhhh!!" suara mendesis terdengar amat jelas.


Telinga anak-anak termasuk driyad amat jeli dan peka menangkap suara desisan itu.


Suara itu makin dekat, dan terdengar bukan hanya satu gerombolan tetapi banyak bahkan dugaan driyad ada ribuan, terlihat dari goyangan ilalang yang bergerak tak karuan.


"Mereka sudah mendekat!" seru driyad pada anak-anak sambil tubuhnya bersiaga.


"Kalian harus turun bukit jika mereka sudah menampakan diri," teriak driyad sekali lagi memperingati anak-anak.


Semua mulai panik, namun mereka bisa mengendalikan diri agar tak terlalu gegabah dalam menghadapi situasi pelik ini.


Dan akhirnya apa yang ditunggu pun datang.


Mereka yang di maksud oleh driyad adalah segerombolan ular-ular berbisa yang mengetahui keberadaan manusia. mereka adalah ular Derik padang pasir yang sensitif pada aroma. Dengan insting mereka dalam mengenali aroma tubuh manusia, ular-ular itu bisa mengetahui keberadaan aroma itu dari jarak yang cukup jauh.


Bagai komodo yang bisa mencium bau darah dan bangkai dari jarak radius ratusan meter.


"Kalian tenangkan diri kalian!" seru Sean pada kedua teman itu agar tak panik.


Driyad berada di bagian depan anak-anak sebagai pelindung sekaligus pengamat segala kemungkinan apa yang akan terjadi.


"Anak-anak lari!" teriak driyad berseru dengan suara nyaringnya setelah ular-ular itu berhasil menaiki bukit dan mendapati anak-anak.


Ular-ular itu melompat dengan lincah diatas lereng bukit yang di pihak oleh Sean dan rombongan.


Ketiga manusia kecil itu paham dan berlari menuruni bukit. Jessica yang berada di bagian depan tak sengaja jatuh tepat di atas sebuah kayu lapuk yang berbentuk mirip seperti perosotan taman atau lebih mirip dengan perahu Arum jeram.


"Oh tidak," teriak Jessica diikuti oleh kedua lelaki dibelakangnya yang juga tersandung oleh tubuh Jessica. Ketiga anak itu akhirnya terjatuh dalam sebuah kayu yang lumayan besar dan cukup menampung beban ketiga orang itu.


Kayu itu nampak kasar permukaannya dan sedikit berbolong diberbagai sisi.


Dan kayu itu meluncur mengikuti jalur setapak yang amat curam tanpa kendala.


Driyad mengikuti mereka dari belakang dan berlari sekencang mungkin mengikuti arah kayu itu meluncur. Sementara ular-ular mengejar dengan kecepatan penuh yang gesit nan lincah.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2