Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 26


__ADS_3

KILAUAN EMAS VOL.10


Sean dengan wajah gusar dan tergesa-gesa menarik lengan Jessica.


Ia membawa wanita itu bersembunyi di sela-sela lorong dinding yang gelap, menyaksikan dari jauh siapa makhluk yang hendak menghampiri mereka.


"Ada apa Sean? mengapa kau tiba..!" Jessica belum selesai sepenuhnya bicara dan bertanya? Sean telah menutup rapat bibir gadis itu dengan jari telunjuknya.


"Sssstttt."


"Jangan bersuara!" Pinta Sean berbisik pada Jessica.


****


Mata Sean bergerak kesana kemari mengintip suara yang datang mendekat ke arah api.


Awalnya hanya bayangan saja yang nampak, namun makin mendekati api bayangan itu semakin membesar dan mulai menampakan wujud aslinya.


"Hoawkkkk," Bayangan itu menguap mengeluarkan suara dengan begitu kerasnya hingga jelas terdengar oleh gendang telinga Sean yang teliti.


Suara yang sangat familiar. Suara lelah dan kantuk yang menyerang, itulah yang di duga oleh Sean.


Sean mulai menyipitkan matanya yang lentik dan fokus menyaksikan makhluk apakah gerangan yang jalan begitu lamban.


****


Yang ia nantikan kini mulai muncul menampakan dirinya.


Sesosok makhluk besar mendekati nyala api dan ingin mendapatkannya masuk kedalam sisi tubuhnya.


Seekor beruang hitam besar menghampiri api yang menyala.


Seakan bahwa ia adalah pemilik api tersebut, hewan bertubuh besar bahkan dua kali lipat lebih besar dari beruang pada umumnya ini, tidur tepat di dekat api.


Hewan besar ini ternyata membutuhkan kehangatan.


Meskipun beruang yang nampak di mata Sean besar dan berbulu lebat, namun ia bukan tipikal beruang salju yang bisa bertahan di cuaca dingin seperti es.


Ya, goa ini sedang di Landa salju.


Tak tahu bagaimana bisa terjadi di tempat ini.


Di negara ini pun menurut badan cuaca tak akan ada salju! mengapa bisa ada salju di sini.


Bahkan negara ini adalah negara tropis yang tak akan mendapatkan salju karena hanya ada dua musim, berbeda dengan di Amerika.


Lalu bagaimana salju bisa masuk menyeruak keseluruhan goa itu.


Bahkan sangat sulit bagi keduanya menjelaskan secara logis.


Banyak sekali teka teki jika terus memikirkan hal ini, seolah tak akan ada habisnya jika membahas keajaiban tempat ini.


Seolah salju ini adalah hasil dari imajinasi pikiran siapa pun yang melihatnya, walau sejengkal mata pun sangat sulit mengetahui makna dari tempat ini.


Aneh dan amat membingungkan itulah hal yang akan membuat siapa pun yang datang ke tempat ini rasakan.


Udara dingin masuk kedalam sela pori-pori kulit, seperti ingin memakan kulit itu dengan dinginnya yang lembut mencoba membunuh perlahan-lahan.


****




"Sean? apakah itu beruang? apakah itu beruang Grizzly?" tanya Jessica berbisik pelan.


"Iya itu adalah beruang sejenis Grizzly. Namun dia lebih buas dari beruang umumnya! jadi jangan berisik," balas Sean pada pertanyaan Jessica.


Bicara mereka amat pelan, karena tak ingin ada orang lain yang tahu keberadaan mereka di dalam lorong gua yang gelap tempat dimana mereka bersembunyi.


Sepasang mata manusia itu tak bisa lepas dari tindak tanduk beruang yang sedang memejamkan mata itu.

__ADS_1


Mereka menyaksikan tidurnya yang lelap dari kejauhan.


Kehangatan api membuatnya nyaman dan santai, bahkan tak takut jika ada makhluk lain yang datang dan menyerangnya.


Kedua pemuda dan pemudi itu sangat erat menempel di dinding goa bak cicak, dan tak bisa melakukan apapun selain menunggu hewan itu pergi.


Dinginnya angin yang berhembus malam itu kini menjadi lawan terberat keduanya selain hewan buas itu. Sungguh perjalanan yang amat pelik keduanya rasakan, bahkan pengalaman paling buruk yang terkesan dalam hidup mereka saat itu.


"Sean! berapa lama lagi kita terus berdiri disini?" Jessica memulainya.


Memulai kata-kata yang membuat Sean bingung apa yang akan ia lakukan saat itu juga.


Jessica sudah mulai tak tahan melawan rasa lelah berdiri dan menjadikan dirinya gusar.


"Ah.... Ehmm... Ya aku rasa kita lebih baik menunggunya 15 menit lagi!" seru Sean pada Jessica gugup.


"Bagaimana jika ia tak kunjung bangun dan beranjak dari api itu! kau tahu? tempat ini sudah membuat ku mati membeku!" jessica memberikan tesisnya yang amat ketus itu pada Sean secara spontanitas.


"Oke!! Baiklah!! aku akan memikirkan cara agar kita bisa keluar dari tempat ini. Jadi kumohon diamlah dan tenangkan diri mu oke!" ucap Sean membalas nada ketus jessica dengan sedikit meninggikan nada bicaranya walau mereka terjebak dalam perbincangan bisik berbisik.


Jessica tak membalas ucapan bernada tinggi itu.


Dengan ekspresi menyombongkan diri, Jessica menyilang kedua tangannya ke dada, bahwa dirinya lagi merasa sebal pada pria yang berdiri disampingnya.


Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lorong goa yang pekat dengan kegelapan.


Tak ada satu pun cahaya yang mau menusuk lorong-lorong itu.


Sedangkan Sean sibuk dengan ide memikirnya.


****


"Drrtttttttt, sssstttttt."


Suara hewan berbisa nampaknya ikut menyambangi kedua remaja malang itu.


Jessica yang sedang membenamkan diri dalam luapan kesebalan, tak sadar jika ada hewan yang mendekatinya.


"Aaaaaahhhhhhh."


Teriak Jessica reflek kaget seraya menarik paksa dan melempar hewan yang mencoba menginjak wajahnya.


Ia mengambil langkah memeluk Sean sebagai tempat perlindungan. Jijik dan geli begitu menyiksa Jessica kala itu.


Hanya sebuah kelabang raksasa berukuran se-lengan orang dewasa berwarna merah muda.


Jeritan kaget Jessica sontak membuat sean kaget sesaat dan langsung menutup mulut gadis itu rapat-rapat.


Lengkingan suara wanita ini tak hanya sampai di telinga Sean saja, tapi juga sampai di telinga beruang yang sedang terlelap dalam mimpinya.


Beruang jumbo ini pasti merasakan kaget yang luar biasa.


Sehingga membangunkan tubuhnya yang besar dengan paksa.


Insting buasnya memaksa hewan ini mengambil tindakan cepat.


Suara dan manusia yang bersuara kini hadir di depan sepasang mata buas dan menakutkan.


"Oh tidak Sean!! aku telah membangunkannya!" ucap Jessica menyesal.


Ia tak percaya melakukan hal itu tepat di hadapan beruang yang terlelap tidur.


Sean tak bisa berkata apa-apa selain menyesali perbuatan hewan berbisa itu yang tak bisa bersahabat.


Sedangkan beruang itu datang menghampiri dua mangsa yang amat lezat.


"Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! kumohon jangan mendekat," ucap Sean pada beruang yang mencoba menghampiri mereka.


Dalam keadaan berbahaya ini Sean masih melindungi Jessica dan membelakangi wanita itu.


"Sean? apa yang harus kita lakukan?" Jessica menyela pria yang sedang mengalihkan perhatian hewan itu dengan ketakutan dan keringat basah di wajah.

__ADS_1


"Bersikap tenang dan jangan panik, jika tidak ia akan merasa bahwa kita adalah ancaman baginya," balas Sean meminta Jessica agar tak melakukan hal yang mencurigakan.


Kali ini Sean melakukan tindakan pencegahan dan pembujukan pada hewan itu. Hanya ini trik yang bisa Sean lakukan sebab tubuhnya yang besar telah membuat tubuh Sean yang kecil itu bergetar hebat. Tak tahu apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya, Sean hanya berharap hewan itu tak sebuas srigala yang mereka jumpai sebelumnya.


"Tenanglah sob!" ucap Sean pada beruang besar di hadapannya seraya mengambil langkah mundur.


Nahas bagi Sean karena ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kebuasan dan kesangaran hewan itu.


Dengan sombongnya beruang itu memamerkan moncong giginya yang tajam di hadapan sean. Sambil mengeluarkan suara garang khasnya "Roarrrkkkk," Ia ingin menunjukan pada Sean bahwa dirinya lebih kuat dari pada tubuh kecil anak manusia itu.


Bagi beruang itu! Sean adalah ancaman yang akan mengganggu kenyamanannya.


Sean menarik nafas yang dalam di barengi rasa takut yang membara dalam dirinya. Panas dingin ia rasakan, keringat ikut membanjiri tubuhnya.


Kini wajah tampan Sean sudah merasakan nafas dan suara garang beruang itu tepat di hadapannya.


Mengerikan dan amat menakutkan sungguh-sungguh Sean tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa bertemu dengan hewan itu.


Bau nafas hewan itu amat menjijikan bagi Sean.


Tak tahu sudah berapa lama hewan Malang itu tak menyikat giginya, sehingga amat betah dengan nafas naga itu.


****


"Sean?" Jessica bersua takut.


"Diamlah! jangan lakukan apapun yang dapat membahayakan keselamatan kita," jawab Sean menenangkan wanita ini. Sebab Sean juga sedang merasakan ketakutan yang sama dengan yang Jessica rasakan.


Entah apa kali ini yang terjadi, Sean merasa ia sedang dalam masa mengulangi bahaya serupa yang di alami sebelumnya kala menghadapi srigala buas di dalam hutan.


Kali ini Sean tak mampu berpikir kemana mereka harus melangkah sebab hal ini tiba-tiba saja terjadi.


Sementara Sean masih membelakangi wanita itu dengan segala cara untuk melindunginya.


Tangan putih remaja itu ia julurkan berharap hewan buas ini bisa bersikap tenang sambil kakinya melangkah mundur.


Semakin keduanya melangkah mundur maka semakin cepat pula hewan itu beraksi memajukan langkahnya.


Nafas Sean makin cepat tak karuan.


Ia bingung langkah apa yang harus ia ambil mengahadapi situasi ini.


"Tenanglah kawan!! Tenanglah!! aku bukan makanan lezat mu jadi percayalah pada ku. Kau akan sangat menyesal jika memakan daging ku yang alot ini." Ucap Sean membujuk rayu beruang di depannya. Kakinya gemetaran hebat.


Sean berpikir bahwa ini adalah ucapan yang harus ia katakan karena tak ada pilihan lain selain membujuk hewan itu meskipun ia tak paham pada bahasa manusia, setidaknya dengan prilaku tenang Sean ia mungkin akan berpikir ulang untuk memakannya.


Seraya tangannya itu ia ulurkan tanda bahwa Sean sangat bersahabat.


"Tenanglah kawan! Tenanglah! aku adalah kawan mu bukan musuh mu?" Ucap Sean sekali lagi membujuk makhluk buas itu.


Beruang yang mendekat itu rupanya memahami ucapan Sean.


Ucapan yang amat menyentuh hati seekor beruang raksasa itu.


Dengan serta Merta dirinya langsung menundukkan kepalanya di hadapan Sean.


Sean mulai mengerti bahwa hewan itu butuh perhatian dan kemanjaan.


Juluran tangan Sean perlahan ia daratkan di kepala beruang telah tertunduk itu.


Sean langsung memberikan belaian hangat kepada hewan buas itu dengan penuh perhatian.


BERSAMBUNG.


**


**


**


**

__ADS_1


SARANJANA EPISODE 26


__ADS_2