
SERANGAN
Gordon merasa agak takjub, Sean benar-benar luar biasa dalam bertarung. Tubuh kurus Sean tak bisa di ragukan lagi. Selain dia jenius, Sean kini mulai ahli dalam bertempur walau masih pemula.
Darah-darah menggenangi salju yang putih bersih ini. Darah para makhluk buas yang baru saja di tumpas-kan itu sudah mengotori salju seputih kapas ini. Awalnya Sean berencana membuat sebuah boneka salju.
Sean ingat, terakhir kali dia membuat boneka salju adalah saat musim salju turun di Amerika. Sean masih ingat, saat itu dia masih bocah kecil, mungkin keahliannya membuat boneka salju tidak semahir kala dia masih kecil. Semua berubah, Sean sudah remaja saat ini. Kadang kala dia mengingat-ingat masa kecilnya, terlintas wajah sang Ibu di pikirannya. Oh, malangnya pikir Sean harus meninggalkan kedua orang tuanya itu.
"Kalian baik-baik saja?" tanya Gordon memastikan. "Apakah tidak ada yang terluka diantara kalian berdua?"
"Kami baik-baik saja. Bahkan tidak ada yang perlu di khawatirkan!" seru Sean menyambung.
"Syukurlah," ucap Gordon bisa bernafas lega. Walau mereka bisa membantunya bertarung, tapi Gordon tetap saja mengkhawatirkan anak-anak itu. "Aku hampir tak bisa bernafas saat kalian bertarung. Aku mengkhawatirkan kemampuan kalian!"
"Oh, kau tenang saja Tuan gemuk," sahut Jessica. "Saat di kuil Heksodus, Sean menumpaskan ratusan Gort dalam sekali tempur. Juga.... Mayatnya Sean lempar ke jurang di bawah kuil. Bukankah itu cukup membuktikan kalau Sean memang pemberani!"
"Sungguh dia melakukannya?" tanya Gordon yang percaya tak percaya atas perkataan Jessica.
Jessica mengangguk, dia berkata benar. "Tanya saja sendiri pada Sean. Apa yang terjadi di kuil Heksodus kala itu!"
"Apakah benar nak apa yang di katakan oleh si rambut putih?"
"Hei, rambut ku berwarna pirang. Bukan putih! Kau pikir aku sudah tua!" tandas Jessica sebal. Dia di ledek oleh Gordon.
"Pirang!" ucap Gordon menirukan. "Apa itu pirang? Apakah sebuah makanan lezat?" tanyanya yang benar-benar tak paham.
"Huh," Jessica mengembuskan nafasnya. Dia lelah harus bertemu dengan orang-orang yang tak mengerti apapun mengenai kehidupan modern. "Pirang itu sejenis pasta. Biasanya dia bubuhi saus tomat atau saus cabai. Oh, lezatnya saat kau memakan pasta pirang itu."
"Apakah selezat itu makanan pirang?"
Jessica mengangguk sambil menahan kekehan melihat pria itu di bodohi olehnya. Diam-diam Jessica berhasil menipu pria yang di landa penasaran itu. "Sangat lezat, bahkan lebih lezat dari pada jagung yang kita makan kemarin malam."
Ucapan Jessica membuat Gordon berimajinasi. Dia yakin, makanan itu paking lezat di antara semua makanan yang pernah dia temui. Mungkin tidak ada makanan yang sebanding dengan pirang yang di ceritakan oleh Jessica
"Sean," sikut Jessica. "Kau hebat, juga gagah," katanya memuji. Wajah Jessica sedikit tersenyum saat temannya itu sedang menyelipkan lagi pedangnya di punggung.
"Kau terlalu memuji," balas Sean acuh tak acuh.
"Aku jujur. Kau benar-benar gagah juga makin menawan," tambah Jessica memuji.
"Sudahlah, jangan terlalu memperhatikan aku," kata Sean. "Aku merasa canggung saat orang lain memperhatikan aku."
"Ya, setidaknya aku memperhatikan mu dalam diam," kata Jessica pelan. Saat teman prianya itu menjauh beberapa langkah darinya, Jessica memperhatikan detail wajah Sean. Dia benar-benar menawan, sangat gagah dengan pakaian besi pemberian Dewi Handita itu. Oh, Jessica merasa semakin berdebar kala melihat bayangan punggung Sean, dia benar-benar sempurna sebagai seorang remaja.
"Kawanan serigala ini adalah peliharaan para suku bertopeng." Saat Sean mendekati Gordon, pria besar yang tengah membersihkan Godam besarnya dari darah, dia berkata. Dia memberitahu Sean, apalagi anak itu sudah mendekati dirinya, Gordon hapal. Sean pasti akan bertanya kenapa serigala-serigala itu menyerang secara tiba-tiba.
"Kau sudah tahu apa yang ingin aku tanya?" kata Sean mengadu.
"Kau terlalu banyak pertanyaan Nak. Jelas, siapa saja yang melihat mu, pasti tahu kalau kau banyak pertanyaan dalam benak ku!"
"Oh, ku pikir kau sudah ada jawabannya," kata Sean sayu. Si Gordon benar-benar ajaib, dia bisa menebak isi pikiran Sean.
"Aku sudah melihat orang-orang seperti mu di sekitar ku. Wajah orang-orang yang penasaran akan sesuatu, itulah kenapa aku bisa memahami apa yang ada di pikirkan mereka," jelas Gordon. Wajahnya terlalu mencolok untuk bertanya, jelas Gordon tahu kalau Sean akan bertanya banyak hal padanya.
Sean terpaku, dia tidak lagi bertanya tentang apapun. Isi pikirannya sudah di tebak oleh Gordon.
"Dari pada kalian bertanya mengenai suku bertopeng yang kanibalisme ini, sebaiknya kita pergi dari sini sekarang. Atau kita akan berakhir jadi santapan makan malam mereka."
"Hei," teriak Jessica pada Gordon. "Kau kira kami takut pada makhluk pemakan daging itu!"
"Siapa peduli?" Gordon bersikap apatis. Dia mengangkat kedua bahunya, seraya melangkahkan kakinya berjalan meng-egang. "Kalian akan tahu siapa mereka jika sudah berhadapan langsung dengan para topeng ini."
Saat melangkahkan kakinya beberapa meter. Gordon yang hendak berlalu meninggalkan kedua anak itu, mendadak berhenti. Dia mendengar suara itu lagi, suara ngilu di telinganya. Dia tidak salah, suara itu berasal dari pohon-pohon.
Gordon kembali melirik tajam apa yang baru saja di tangkap oleh gendang telinganya itu. Mata itu menjuling ke kanan dan ke kiri.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Jessica. "Apa kau mencoba menakut-nakuti kami lagi?"
"Tidak!" tandas Gordon menggeleng. "Mereka ada di sekitar sini."
"Siapa?" sahut Sean.
"Vandal bertopeng," jawabnya singkat.
"Ayolah," Sean merengek. "Kau tadi bilang kalau mereka datang. Sekarang mereka datang lagi. Yang mana informasi yang benar?"
"Yang kau bilang adalah bertopeng, tapi yang keluar adalah para serigala. Kau berusaha membual dengan kekonyolan mu itu?" tambah Jessica berkata menyahut.
"Tidak! Kali ini mereka benar-benar datang."
"Kau yakin jika kali ini mereka benar-benar datang?" tanya Sean sekali lagi memastikannya.
__ADS_1
Gordon mengangguk. "Kau bisa membantu ku memancing mereka keluar jika kau kurang yakin pada ucapan ku," kata Gordon yang masih fokus pada apa yang dia rasakan.
Uh, Sean harus menelisik sekeliling mereka. Dia ingin membuktikan apakah benar apa yang di katakan oleh Gordon. Saat menyusuri semua pohon di hutan ini, yang dia lihat hanya pohon-pohon, tak ada yang lain. Kecuali— "Tunggu," Sean merasakan. Ehm......... Sean merasakan keberadaan mereka. "Di balik pohon itu!" teriak Sean.
"Siapa Sean?" sambar Jessica.
Tangan Sean menunjuk pohon-pohon, dia tidak berkata. Gordon benar, mereka ada di sekitar ketiganya.
Tak lama saat Sean berteriak lantang karena mendapati orang-orang yang bersembunyi di balik pohon. Mereka yang di maksud akhirnya keluar dari persembunyian mereka.
"Kalian memasuki wilayah manusia kanibalisme. Maka kalian harus bersiap-siap menjadi santapan kami!" kata salah seorang yang mengenakan topeng.
Jumlah mereka begitu banyak. Mereka membawa kapak, ada juga kapak yang terbuat dari batu di ikat dengan sulur pohon menjalar. Terlihat kuat ikatan antara kayu dan media batu yang sudah di bentuk tajam itu. Ada juga yang membawa tombak, wajah mereka di tutupi oleh topeng besi.
Orang-orang itu telanjang bulat, hanya menggunakan sehelai koteka yang terbuat dari dedaunan yang di ikat di pinggang. Oh, koteka itu hanya menutupi bagian kelamin saja. Kulit mereka kurus kering seperti hanya menyisakan tulang saja, dan warna kulit juga terlihat agak gelap tapi tidak terlalu gelap. Kepala mereka plontos, tak ada rambut yang tumbuh di sana.
Sean sudah bersiap dengan pedangnya. Saat orang-orang bertopeng itu mendekati mereka, Sean sudah bersiaga.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tegur Gordon. Dia melihat Sean selalu waspada, hal ini membuat Gordon hampir terkekeh.
"Bersiap ingin bertarung!" seru Sean.
Jessica yang melihat pria itu, menggeleng bukan kepalang. Dia terus saja bersantai seolah ini bukan sebuah ancaman.
"Hei nak," kata Gordon. "Selama ada aku, kalian akan baik-baik saja," ucapnya menyombongkan diri.
"Hei, Tuan Gordon, di belakang mu," teriak Jessica.
Mata Gordon memicing menoleh ke arah belakang. Gordon nampaknya sudah siap dengan senjata besarnya itu. Dan........ BRUK!! Satu orang berhasil ia libas dengan Godam berjeruji tajam itu.
"Kalian ingin macam-macam dengan ku rupanya!" kata Gordon menantang.
Melihat satu teman mereka mati, para kawanan bertopeng itu berang.
"Serang mereka!" teriak salah satu diantaranya. Mungkin dia adalah pimpinan yang paling di segani oleh para topeng lainnya. "Makanan lezat kita malam ini tidak boleh di lepaskan begitu saja!"
"Anak-anak, bersiap!" ujar Gordon menyemangati.
Sean dan Jessica saling melempar pandangan, sesaat kemudian keduanya mengangguk memberikan isyarat masing-masing.
TANG!! TING!!! Suara adu pedang itu membuat suasana hutan bersalju itu heboh. Para topeng kanibalisme itu menyerang tanpa henti. Jumlah mereka amat banyak, tapi itu tidak menyulutkan keberanian Gordon maupun kedua anak itu.
"Woho, sangat menjengkelkan!" celetuk Sean.
Di belakang Sean masih tersisa satu musuh lagi. Dan saat Sean tak menyadarinya, Gordon dan Jessica melepaskan senjata masing-masing.
ZRET!!! Tubuh itu terkena panah dan tengkorak kepalanya hancur akibat hantaman keras Godam besar milik Gordon.
Darah itu berceceran, dimana-mana darah telah mengotori salju yang putih bersih ini.
"Kau kurang waspada Nak!!" seru Gordon.
"Oh, terima kasih," kata Sean menghargai niat baik Gordon.
Belum usai menghilangkan lelah, telinga Gordon yang peka kembali mendengar suara hentakan kaki. Jumlahnya banyak, mungkin ratusan.
Jedak, jeduk....
Suara itu, "Celaka, ini suara beruang salju. Kita harus lari anak-anak!" ucap Gordon memperingati.
"Kenapa lari?" tegur Jessica. Dia belum begitu paham kenapa pria itu memilih lari alih-alih bertarung kembali.
Gordon menunjuk tangannya ke atas. Pohon-pohon di sekitar mereka bergoyang, lalu ada bayangan..... "Beruang raksasa!" teriak Jessica.
Sean menoleh ke atas, memang jelas itu beruang besar berwarna putih. Tubuhnya lebih tinggi dari pohon-pohon yang ia lalui. Sean menoleh ke arah Jessica dan Gordon. Belum sepenuhnya mata itu melihat normal kembali, gadis cerewet dan pria gemuk itu sudah lari tunggang langgang.
"Mereka meninggalkan aku?"
Ah, Sean tak percaya kalau mereka akan lari tanpa dirinya. Bahkan tak memberikan aba-aba apapun sebagai isyarat untuk melarikan diri.
ROARK!! Suara beruang besar itu begitu mengerikan. Dia merusak seluruh pohon yang di laluinya. Tak ada pilihan lain bagi Sean, Kecuali.......... LARI!!
Secepat mungkin Sean menyusul kedua orang yang telah meninggalkan dirinya seorang diri itu. Hingga Sean mampu menyamai langkah kaki mereka.
"Cepatlah anak-anak! Mereka sulit di tangani!" teriak Gordon pada keduanya yang sudah berlari menyamai langkahnya.
Nafas mereka sudah ngos-ngosan, oh suara nafas itu terpental-pental bahkan tersengal-sengal. Di belakang mereka, ada beberapa beruang besar yang mengejar.
"Cepatlah Sean, mereka makin mendekat!" kata Jessica mengingatkan.
Sean sudah menyamai langkah kakinya di antara kedua orang itu. Mereka yang tanpa pemberitahuan lari meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Kalian meninggalkan aku tanpa memberitahu. Apa kalian mencoba meninggalkan aku sendiri di hutan itu?" ucap Sean pada Jessica yang berlari di sebelahnya.
"Tidak, bukan aku. Tapi dia," jawab Jessica melimpahkan kesalahan pada Gordon.
Sean tahu, Jessica hanya ikut alur.
"Kejar mereka!"
Terdengar suara itu memerintah.
Di belakang ketiganya, tidak hanya ada beruang besar saja. Tapi—
"Mereka kembali, jumlah mereka makin banyak. Apa yang harus kita lakukan Tuan benteng!" Jessica memburu panik. Sambil berlari, dia bertanya.
Sebenarnya Jessica sudah tidak kuat lagi berlari, tapi dia tidak mau mati konyol seperti ini.
"Lari saja secepat mungkin. Atau kalian akan menjadi sate lilit bahkan di kuliti oleh mereka."
"Jangan bicara omong kosong, di depan sana jalan buntu!" Sean memberitahu. Ah, yang benar saja. Di depan adalah jurang, sementara di sisi jurang adakah tebing bebatuan yang masih di tutupi salju juga.
"Jangan biarkan santapan kita lolos," dari belakang. Orang-orang kanibalisme tanpa pakaian itu masih mengejar tanpa henti. "Yang gemuk itu adalah satapan paling lezat, jangan biarkan mereka lepas!"
Teriakan penuh kegembiraan karena menemukan mangsa terlihat di raut wajah mereka. Para wajah bertopeng itu selain berlari mengejar, ada juga yang menunggangi beruang besar itu.
"Oh, di depan jurang!" seru Jessica.
Karena terus berlari. Tanpa henti, akhirnya membawa mereka ke ujung tebing, di bawahnya salju. Uh, pikir Sean mereka akan berakhir menjadi daging panggang.
"Haruskah kita menyerah?" Jessica memberikan opsi.
"Kau menyerah?" tanya Gordon.
Jessica menggeleng. Dia tidak mengatakan menyerah, namun...... "Mereka semakin dekat. Apa yang harus kita lakukan."
"Melompat!" ucap Sean menyahut.
"Apa kau gila, Sean?" tuntut Jessica. "Kita tidak tahu apakah bisa selamat saat melompat kebawah atau tidak. Kau lihat, semua disini bebatuan. Apa kau yakin melompat ke bawah tidak mengambil nyawa kita di sini?"
"Di bawah salju menumpuk sangat tebal. Aku yakin, kita tidak akan mengalami cedera jika melompat ke jurang di bawah sana."
"Kau pikir di bawah kasur yang bisa menjamin keselamatan kita!" sentak Jessica.
"Aku yakin sekali, kita akan baik-baik saja jika melompat ke bawah!" sekali lagi Sean menyakinkan.
Wajah menegang sudah terlihat dari guratan urat wajah Gordon. Sesekali di pandanganinya hutan berkabut salju itu. Beruang-beruang besar berbulu putih itu semakin mendekat. Suara raungan mereka terdengar makin jelas. Juga suara hentakan kaki para kanibalisme hutan itu juga semakin terdengar tak begitu jauh.
Jessica menimbang-nimbang, sesekali di lihatnya jurang yang cukup dalam itu. Ah, dia sudah bergidik ngeri melihat kedalaman jurang terlebih batu-batu tajam itu cukup seram. Bebatuan itu lancip, terlihat di dalam pikiran Jessica bahwa mereka akan berakhir di jurang itu.
"Tidak ada waktu untuk berpikir ulang!" seru Sean lagi. Sebenarnya Sean sudah memperkirakan bahwa di bawah adalah tumpukan salju lebat. Sejujurnya Sean berasumsi bahwa itu bukan jurang yang dalam, tapi sebuah lembah.
Memang dalam, jurang itu benar-benar amat tinggi. Pikir Sean mana mungkin melompat ke sisi tebing yang jarak keduanya puluhan meter. Yang ada sama saja, tetap jatuh ke bawah.
Para beruang yang mengejar mereka sudah terlihat. Mereka kian mendekat, tak ada pilihan lain bagi Sean kecuali, menarik lengan Jessica dan.......
"Aaaaa...." Suara teriakan itu menggema di lembah ini. Sean menarik lengan Jessica. Dan gadis itu menarik sabuk yang terikat di pinggang Gordon.
Jessica berharap kalau dia tidak akan terjatuh kebawah, namun dia salah. Gordon juga ikut tertarik sehingga mereka bertiga jatuh kedalam lembah ini.
"Wohooo!" teriakan kaget di lengkingkan oleh Gordon. Tubuhnya yang besar tidak menerima aba-aba apapun dari anak-anak itu. Alhasil, dia ikut terperosok kedalam jurang yang dalam dan gelap itu.
ROARK!! Di atas tebing, beruang besar itu meraung-raung. Mereka gagal mendapatkan mangsa yang lezat itu. Sedikit saja, hampir cakar beruang besar yang ditunggangi oleh makhluk kanibalisme itu mendapatkan tubuh Gordon.
"Mereka lepas," kata salah seorang yang bertopeng. Sangat di sayangkan saat mereka lepas dari kejaran para kanibalisme itu.
"Ayo kita kembali. Mereka mungkin tidak akan selamat setelah melompat ke lembah di bawah," kata seorang yang menunggang beruang besar itu.
Mereka meninggalkan tebing ini, memutar haluan. Mereka memilih kembali ke dalam hutan, enggan menangkap orang-orang yang sudah terperosok di dalam sana.
Bukan salah Sean memaksa keduanya jatuh ke dalam lembah bersalju tebal itu. Keadaanlah yang membuat Sean nekat menjatuhkan diri kedalamnya. Jika Sean tak melakukan ini, bisa jadi mereka akan berakhir menjadi sate bakar.
Suara teriakan Jessica dan Sean tak berhenti hingga mereka sampai di inti lembah. Karena begitu dalamnya, mungkin Sean akan menghitung berapa lama mereka berteriak seiring tubuh itu melayang di udara. Sampai.....
BRUK!!! PRAK!!
Tubuh ketiganya mendarat di atas tumpukan salju yang tebal. Karena beratnya badan Gordon, membuat dia tenggelam di dalam salju. Sean dan Jessica terjatuh tepat di atas perut besar milik Gordon.
"Apa kita sudah mati?" Jessica memastikan. "Oh, tidak. Aku sudah mati!!"
Dia menjadi yang pertama menyadarkan diri.
BERSAMBUNG
__ADS_1