Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 173


__ADS_3

____________________††††____________________


Para prajurit yang masih tertahan di dalam istana, bersiap-siap. Sibuk bahkan ramai. Gudang persenjataan di sesaki oleh para petarung.


Baju perang, bubuk mesiu sebagai bahan peledak, panah, pedang tak lupa tombak. Semuanya siap sedia. Usai mendapatkan jatah senjata masing-masing, para prajurit istana langsung bergegas menuju ke perbatasan.


Sebagian masih bersiap-siap. Jumlah pasukan istana lumayan banyak. Nyaris semuanya terbawa menuju ke Medan perang.


Jessica berlari menuju ke keramaian tempat. Dimana para prajurit itu sedang mempersiapkan diri. Anak itu nekat, dia ingin mengikuti para prajurit menuju ke perbatasan.


“Dimana aku bisa menemukan kuda?” tanya Jessica pada salah satu prajurit.


“Di belakang!” tunjuknya.


“Terima kasih!”


Jessica langsung bergegas. Berlari menuju belakang gudang persenjataan, di sana ada banyak kuda. Jessica mengambil salah satu kuda berwarna hitam. Menungganginya, lalu melesat keluar dari istana.


“Sean. Maafkan aku. Aku harus ikut dalam peperangan ini!” gumam Jessica pelan.


Dalam menunggangi kudanya, Jessica menitikkan air mata. Tak tahu kenapa, Jessica merasa seakan dia ingin terus menangis sepanjang perjalanannya.


††††


Sean tiba di istana perbatasan. Di sana sebagian pemukiman penduduk sudah luluh lantak akibat terjangan serangan dari batu api. Ketapel besar itu telah menciptakan ketakutan bagi penduduk di sekitar istana perbatasan. Tempat Sean dan Jessica berpelukan kala itu.


Tak ada penduduk yang terlihat, semuanya kemungkinan telah mengungsi ke pusat kota.


Pasar yang ramai, biasanya di malam hari seperti ini semua penduduk berkerumun. Sekarang yang tersisa hanyalah sebuah kerusakan berarti. Kebakaran besar melanda, semua kacau balau.


Saat Sean mengedarkan pandangannya, sebuah batu api tiba-tiba meluncur ke arah dirinya. Sayap emas Sean membuka lebar, dengan cepat melindungi Sean dari hantaman baru api itu. Nyaris saja, tapi Sean tahu keadaannya. Hampir mencekam, nyawa Sean berada dalam fase berbahaya.


“Sean. Ayo cepat, di benteng perbatasan beberapa prajurit sudah terluka.”


Entah dari mana Edward dan Yudhar datang, keduanya mendadak muncul dari belakangnya. Menunggangi kuda masing-masing.


“Ayo, kita kesana!” ajak Sean pada keduanya.


Memecut kudanya, Sean makin mempercepat langkah sang kuda. Jarak antara istana perbatasan dengan dinding benteng yang membatasi wilayah tidak jauh. Dalam waktu singkat, Sean sudah tiba di pintu perbatasan.


Di sana, banyak prajurit perbatasan yang telah terkapar. Sebagian ada yang mati, sebagain lagi terluka. Beberapa di antaranya masih di rawat oleh para ahli yang mampu menangani luka akibat peperangan.


“Di sana Sean. Crypto dan yang lainnya sudah berada di benteng istana!”


Yudhar menunjukkan. Crypto dan beberapa yang lainnnya memang sedang memantau dari atas. Sean bergegas naik, menuju ke tempat Crypto berada.


“Pangeran. Jumlah mereka banyak. Pasukan perang Elius di perkuat oleh para Gort. Jumlah mereka mencapai ratusan ribu. Ini pertama kalinya dalam sejarah, Elius mengerahkan pasukan yang kuat.”


Saat Sean tiba di atas dinding perbatasan—yang luasnya hampir menyerupai sebuah jembatan. Crypto mendetailkan ucapannya, pada Sean yang sedang mengamati mode peperangan yang di terapkan oleh Elius.


Batu api, anak panah yang telah di beri bubuk pembakar dan juga senjata serangan lainnya. Semua yang Sean lihat, telah memporak-porandakan dinding pembatas. Bahkan menara di perbatasan pun nyaris roboh, dan Sean yakin—satu hantaman lagi dari batu api Elius. Maka menara pemantau itu akan benar-benar roboh.


“Bagaimana pasukan yang lainnya?” tanya Sean.


“Pasukan perbatasan istana beberapa diantaranya di pukul mundur. Kita belum memiliki pasukan yang cukup saat ini. Kecuali menahan dahulu serangan mereka,” balas Amuria.


“Gordon ...,” lirik Sean.


Pria itu membungkuk. “Hamba ya Lord Lausius!” jawabnya sopan.


“Perintahakan banyak pasukan agar berada di baris terdepan. Aku akan menyusul. Dan kau menjadi panglima perang sementara, sebelum yang lainnya datang.”


Gordon kembali membungkuk. “Dengan hormat hamba akan melaksanakan perintah Lord Lausius!”


Gordon berlalu, menuju ke pasukan inti. Menuju keluar istana, Gordon membentuk barisan prajurit yang siap bertempur. Dia menunggangi kudanya.


Masih di tempat semula. Pasukan dari Elius memang belum mendekati benteng istana. Mereka berada lebih kurang setengah kilo meter dari perbatasan.


Mereka menyerang dengan panah api. Ratusan ribu anak panah menyangsang sisi perbatasan, membuat sebagian properti di sana terbakar.


Satu anak panah menyangsang Sean. Tanpa melihat ke arah anak panah itu, Sean menangkisnya.


Sean makin berang saat menerima sebuah serangan, namun Sean belum ingin menyerang lebih dahulu.


“Pangeran. Kami menuju ke perbatasan Utara lebih dahulu. Kami perlu memeriksa kesiapan pasukan di sana,” kata Amuria menyela.


Sean mengangguk. Driyad pun demikian, pria itu kali ini berinsiatif. “Hamba akan memeriksa pasukan bagian selatan. Pangeran tetap di sini, dan kami akan kembali jika semua pasukan sudah siap bertempur.”


Sean mengangguk lagi, tak lupa Sean memberikan mereka sebuah semangat. “Aku yakin, kalian mampu melakukan yang terbaik.”


Kedua pria itu tersenyum tipis, lalu cepat-cepat beranjak ke sisi kanan dan kiri benteng pertahanan. menuju ke Utara dan ke selatan. Karena benteng pertahanan ini memanjang, sepanjang perbatasan Istana awan Metis dan tanah Elius.


Crypto membungkuk di hadapan Sean, kala melihat kedua temannya sudah berlalu. “Hamba juga permisi pangeran. Hamba akan memeriksa semua prajurit yang baru saja tiba!”


“Berhati-hatilah. Selalu jaga keselamatan kalian. Aku akan menemui kalian jika pasukan lainnnya sudah datang!” balas Sean.


Crypto juga sudah berlalu. Hanya Sean yang ada di menara puncak. Menara pemantau, di dekat pintu gerbang perbatasan.

__ADS_1


“Sean!”


Ketika sedang mengamati keadaan sekitar, suara Jessica terdengar di tengah anak panah yang sedang menghujani dinding perbatasan.


“Jessica!” Sean menoleh.


Gadis itu mendekati Sean. Jelas, Sean heran. Anak itu bisa sampai di sini.


“Kau ...?”


“Maafkan aku Sean. Aku tidak ingin ketinggalan membantumu!” kata Jessica dengan berani.


“Ini bukan saatnya bermain-main Jessica. Ini mempertaruhkan nyawa.”


“Aku tahu itu Sean. Aku ingin melakukannya. Kau jangan khawatir pada diriku!”


Seberapa kerasnya Sean membantah Jessica, anak itu tetap memiliki alibi untuk menjawab.


“Baiklah. Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan. Aku tak berhak menahan keras kepalamu,” ujar Sean menyerah.


Seharusnya begitu yang Jessica harapkan. Laku, Jessica melanjutkan lagi ucapannya.


“Aku datang kesini, membawakan baju perangmu. Kau lupa membawanya. Beruntung, aku melihat baju perang mu di dalam kamar, jadi aku membawanya.”


Jessica memakaikan baju perang untuk Sean. Remaja pria itu lupa membawa zirahnya, sebelum berangkat ke perbatasan. Jessica juga memasangkan pelindung kepala untuk Sean, setidaknya itu bisa melindungi Sean dari serangan pedang.


Saat Sean menunduk di hadapan Jessica—untuk di pakaikan baju perang olehnya, satu anak panah menyangsang Sean. Dengan lirikan tajam, Sean menangkap anak panah itu menggunakan tangannya.


Sedangkan Jessica, dia nyaris terjatuh lantaran terkaget mendapatkan serangan tiba-tiba ini. Sean menangkap tubuh Jessica, membuat gadis itu jatuh dalam pelukan Sean.


Sean menatap wajah Jessica. “Kau tak terluka bukan?” tanya Sean.


Jessica mengangguk. “Aku baik-baik saja. Tapi ..., tanganmu.”


“Jangan pikirkan!” balas Sean. “Hanya luka kecil. Akan segera sembuh.”


Melepaskan tubuh Jessica, tangan Sean terkena sayatan dari anak panah tadi saat dia menangkapnya. Darah segar mengucur.


Sean ingin beranjak, Jessica menyela langkahnya. “Kau mau kemana Sean?”


“Aku akan pergi ke kelompok prajurit inti. Jika kau ingin membantu, datanglah bersama prajurit pembantu. Kau harus tetap di bagian belakang.”


“Tapi Sean, tanganmu masih terluka!”


Sean melirihnya sekilas. “Jangan khawatir, aku bisa mengobatinya nanti.”


Api sudah berkibar dimana-mana. Membuat malam itu nampak seperti siang. Sebagian ada yang sudah membakar kain istana, ada juga yang membakar tubuh pasukan Sean.


Mengeluarkan anak panahnya, Jessica membidiknya ke para Gort. Satu bidikan anak panah berubah menjadi ratusan, itulah kelebihan busur panah Jessica. Gadis itu sedikit antusias, demi membantu Sean dalam memenangkan pertempuran dahsyat ini.


Sean kembali pada Crypto dan yang lainnya yang sedang berkumpul. Mereka terlihat sudah siap.


“Bagaimana. Apakah pasukan utama sudah tiba.”


“Mereka sudah tiba, pangeran!” sahut Driyad. “Mereka sudah tiba di perbatasan.”


Sean bergegas menuruni anak tangga benteng. Yang lainnya mengikuti langkah Sean. “Di antara kalian ada yang menjadi panglima perang bagian barat, jangan lupa selatan dan Utara. Setiap pasukan harus di pimpin oleh satu panglima perang. Dan aku percayakan semua ini kepada kalian.”


Crypto dan yang lainnya mengangguk. “Perintah pangeran kami laksanakan!” katanya membalas.


Lalu mereka berpisah, memasuki pasukan mereka masing-masing. Tepat di depan pintu gerbang perbatasan, mereka berpencar.


Sean menaiki kudanya. Menuju ke Medan pertempuran. Tanah yang lapang dan luas, di sana semuanya sudah berkumpul.


Di kiri dan kanan Sean adalah pasukan perang. Mereka memberikan jalan untuk Sean, sebagai panglima tempur.


Ratusan ribu lebih prajurit Sean nampak sudah siaga. Tombak, pedang, tameng. Mereka sudah siapa dalam segala hal.


Dari atas dinding benteng, Sean memerintahkan ahli memanah untuk bersedia. Ketika Sean mengangkat tangannya, itu artinya mereka boleh menyerang dengan panah.


Jessica dengan kudanya, malah menyusul Sean. Dia enggan mengikuti perintah Sean tadi.


“Jessica, gadis itu!” Sean makin sebal melihat Jessica mengekorinya.


Namun Sean tak bisa mengusir Jessica pergi saat itu. Karena semuanya sudah sedia dalam formasi.


“Maafkan aku Sean. Aku akan tetap berada di belakangmu!” gumam Jessica pelan.


Di depan Sean, pasukan Elius berjejer rapi. Dan Elius serta Nekabudzer menjadi pemimpin perang.


Melihat kedatangan Sean, Elius tertawa membahak.


“Haha ..., Lausius ku rupanya yang menjadi pemimpin perang. Memang dunia ini sudah di takdirkan menjadi milikku!”


Sean mendengkus. “Peperangan ini akan menjadi akhir dari kehidupanmu. Berdoalah pada iblis mu, semoga kau bisa di selamatkan dari siksaan neraka. Sehingga kau bisa hidup damai di alam nirwana.”


“Haha ..., kau kira itu akan membuatku takut? Kita lihat, sekuat apa pasukan istanamu melawan pasukan iblisku!”

__ADS_1


Mata Sean mulai bersinar terang lagi. Sean sudah tahu, pasti pria itu akan memulai lebih dahulu sebuah serangan.


Elius mengangkat tangannya, mengode para pasukannya agar menyerang. Tanpa mengode dua kali, pasukan siluman dan prajurit Elius langsung menyerang.


Sebagian melancarkan serbuan anak panah, beruntung pasukan di belakang Sean sudah melindungi diri dengan tameng.


Beberapa anak panah yang menghujam Sean, dia tangkis. Sampai anak panah itu terpental kesana-kemari.


Sean demikian, dia mengangkat tangannya. Memerintahkan pasukannya menyerang. Pasukan yang ada di atas benteng, membalas serangan anak panah dari pasukan Elius.


Hingga dua pasukan perang antara Elius dan Sean yang berjejer itu, bertaburan. Saling bertemu, mereka saling serang menyerang. Suara dentingan dan dentuman ada dimana-mana.


Sean tak akan pernah membayangkan, jika dia akan menjadi pemimpin sebuah peperangan yang melibatkan banyak pihak.


Handita, Pharos, dan Dewi kecantikan lainnya terbang rendah di atas para pasukan perang. Mereka membantu Sean dalam menumpaskan pasukan Elius. Sesekali mereka menyerang para Gort dengan kekuatan. Sampai di antara pasukan Elius terpental.


Suara dentingan pedang, menggema. Jumlah sebanyak itu, memungkinkan banyak korban yang sudah berjatuhan.


Sebagian pasukan Sean sudah kalah, namun sebagain juga ada yang berhasil menumpas para raksasa. Gort sangat kuat, sekali mengibaskan senjatanya, dua sampai tiga pasukan perang Sean terhempas.


Jessica meloncat kesana kemari, membidik anak panahnya pada para siluman. Edward, Yudhar dan yang lainnya juga begitu lincah. Sementara Sean, dia masih bertarung melawan Elius.


Di tangan Jessica dan Edward serta Yudhar, mereka tak akan selamat. Para Gort itu, mereka mencoba menantang ketiga anak pemberani ini.


“Kau lihat Zurry. Inilah pertarungan yang aku inginkan!”


Dari atas, kepakan sayap Patriak Zhu mengamati di bawahnya. Zurry mulai memahaminya, kenapa Patriak Zhu tak ingin bergabung dengan Elius dalam berperang.


“Apakah ini adalah alasan kenapa Patriak Zhu tak ingin ikut campur dalam peperangan ini?”


Wanita itu tersenyum miring. “Tentu saja. Kau akan tahu nanti, seberapa cerdiknya seorang Patriak Zhu.”


Kembali pada perang besar di bawahnya, Patriak Zhu mulai menakar seberapa kuat bidikannya. Lausius, itulah yang membuatnya datang ke Medan pertempuran ini.


Sean mengangkat pedangnya, menghantam tubuh Elius. Pria itu tahan dalam gempuran Sean. Sesekali ada Gort yang menyela pertempuran Sean dan Elius. Tak jarang, para pasukan buruk rupa itu menyerang Sean.


Namun, itu adalah sebuah akhir. Sean hanya dengan sekali tebas, mampu membelah dua bagian makhluk itu menjadi terpisah.


Sean berlari, mengejar Elius yang sedikit menjauh darinya. Terbang rendah, lagi-lagi Sean menghantamkan pedang besarnya pada Elius.


Pria itu menahan lagi serangan-serangan dari Sean. Namun, kali ini dia terdorong mundur. Sean benar-benar tak bisa di kalahkan oleh Elius.


Elius terpental. Membuat Sean kalap, dan makin ingin merajam pria itu. Namun urung, saat satu Gort ingin menikam Jessica. Anak mata Sean dengan jeli melihat peluang para Gort untuk menyakiti gadis itu.


Sean melempar pedang besarnya pada Gort itu, membuat Jessica terselamatkan dari serangan para iblis pasukan iblis buruk rupa. Nyaris mati, beruntung Jessica di selamatkan oleh Sean.


“Berhati-hatilah. Jangan lengah,” bisik Sean pelan.


Jessica mengangguk. “Terima kasih Sean.”


Sean kembali melanjutkan pertempuran. Semua Gort serta pasukan Elius yang ada di depan Sean, tak akan ada yang selamat. Sean begitu kejam, membuat mereka mati hanya dalam sekali tebasan pedang.


Handita dan Pharos kini bertarung melawan Nekabudzer. Dua wanita itu mati-matian menyerang pria yang terbilang cukup kuat.


Beberapa kali Nekabudzer mengeluarkan kekuatannya, namun mampu di balas oleh Pharos dan Handita. Kekuatan mereka seimbang, itulah kenapa belum ada yang terkalahkan. Terbang ke sana kemari, kedua wanita itu terbilang lincah.


Moore dan Uli ikut bertempur. Mereka sama-sama menyerang pasukan Sean. Tapi, kali ini mereka di halau oleh Yudhar dan Edward. Kedua bocah nakal itu berhasil membuat keduanya kesal.


“Mencoba merusak, kau harus aku basmi!” kata Yudhar menantang.


“Bocah bau. Bukan di sini tempatmu. Tapi di kubangan, kau seharusnya bermain di sana!” balas Uli berang.


Edward terkekeh geli, sambil pedangnya teracung pada Moore. “Kau mengatakan temanku bocah bau. Kau lihat, bahkan temanmu jauh lebih bau. Seperti gembelan, kulitnya gelap, kulitnya keriput di tambah menggunakan tongkat kayu. Benar-benar sepuh!”


“Hei. Kau menghinaku!” sahut Moore geram.


Edward menyeringai. “Kau terlalu banyak bicara. Sebaiknya, aku menuntaskanmu dahulu!”


Edward, entah sejak kapan anak itu memiliki keberanian. Datang menyerang Moore, wanita penyihir itu dengan senang hati membalasnya dengan sihir. Namun, Edward tak kalah lincah. Dia bisa mengatasi wanita penyihir itu. Uli demikian, dia menyerang Yudhar.


Suara gaduh dah riuh bisa terdengar sampai istana langit. Begitu dahsyatnya peperangan ini.


Gordon, jangan di bilang seberapa dendamnya dia pada para Gort. Hanya sekali cekikan saja, dia mampu mematahkan leher siluman kerbau dan serigala itu. Dia begitu girang karena bisa menumpaskan banyak Gort di tangannya. Bahkan Godam hitamnya, kian meraja Lela merajam para Gort yang mengusik ketenangan seorang Gordon.


“Yuhu. Kalian bisa apa makhluk hina!”


Itulah Gordon, pria paling bahagia dalam peperangan se-dahsyat ini. Sementara itu, Crypto dan dua rekannya juga tak kalah tangguh. Walau sebagain pasukannya sudah berkurang, ketiga pria itu juga tak ingin kalah dalam menumpaskan pasukan Elius.


Tetapi ..., saat sedang asik bertarung, tiba-tiba saja semuanya hening—ketika suara Sean berteriak keras.


“Jessica!” teriak Sean.


Sean berlari ke arah anak itu, Jessica terkena anak panah saat mencoba melindungi Sean tadi. Tepat menusuk jantung Jessica, seketika gadis cantik itu roboh tak lagi membuka matanya. Sean meraih Jessica, sebelum dia terjatuh di tanah.


“Jessica. Kau ....”


Sean terisak, benar-benar dia tak mampu menahannya kala melihat gadis itu sudah tak sadarkan diri.

__ADS_1


“Jessica, bangun. Bangun Jessica. Jessica ....”


__ADS_2