
ASGART PART 3
Kawanan serigala yang berhasil di pukul mundur oleh herren, lari tunggang langgang kala melihat keganasan dan kekuatan para asgart.
Pimpinan serigala akan mengalami kematian lembut setelah menerima cakaran maut dari herren.
Pertarungan hingga puncak klimaks ini
Sangatlah menyenangkan karena bisa memberikan pelajaran kepada sekelompok pengganggu.
Keadaan aman, sungguh aman sehingga kelima kawanan itu bisa beristirahat lega setelah emosi dan tenaga terkuras habis oleh pertarungan yang hanya buang-buang waktu.
Sementara Anak-anak, mereka hanya terpaku saja melihat kawanan asgart yang semula satu ekor kini bertambah menjadi lima.
"Sean, apakah kali ini para serigala ini akan menyantap kita." Bisik Jessica mulai khawatir.
"Entahlah? Aku rasa ini mungkin akhir dari segalanya!" Balas Sean menyerah.
"Bagaimana menurutmu bung?" Sikut Sean pada Yudhar yang hanya terdiam sejak tadi.
"Aku pasrah!" Respon Yudhar cepat.
Mereka tak akan menyangka jika sepanjang malam itu akan di suguhkan pada pertemuan dengan para hewan buas.
****
Kawanan asgart tak mengeluarkan Auman keras dan buas mereka.
Namun mereka berputar-putar mengitari anak-anak. Driyad, asgart pertama yang datang membantu mereka menyambangi wajah anak-anak.
Asap nafas keluar dari hidungnya karena hawa dingin salju. Jelas nampak jika hewan ini amat lapar sehingga akan menjadikan mereka santapan makan malam kawanan Asgart ini pikir Sean.
Perlahan langkah kaki asgart muda mendekati wajah Sean. Sean hanya memasang ekspresi datar, pucat pasi bagaikan mayat yang baru di balsem.
Ia menutup mata, karena ia tahu akhir dari perjalanannya adalah di perut serigala.
Ayah ibu, bayangan kedua orang tuanya terlintas sejenak dalam pejaman mata yang indah itu.
Sean sungguh tak menyangka jika dirinya kini bertemu bahaya bertubi-tubi.
Sean teringat akan perkataan orang tuanya yang melarang datang ke tempat ini. Sungguh ini adalah penyesalan terbesar dalam hidupnya karena tak menghiraukan ucapan ibu.
Untuk terakhir kalinya ia ingin menyaksikan wajah ayah dan ibunya bahkan ingin memeluknya sebelum hidupnya menjadi santapan serigala dan berakhir dalam perut hewan ini.
Ia tak percaya ini, ucapan ibunya sungguh benar nyata hingga Sean tak akan membuat permintaan terakhirnya . Ia hanya butuh pelukan hangat kedua orang tuanya.
Bahkan jika serigala itu bisa berekspresi, mungkin ia akan memasang ekspresi wajah senyum pahit di sudut bibirnya dan berkata, "Aku tidak akan merasa lapar hingga tiga hari kedepan."
Mungkin dirinya agak menyombongkan diri karena dapat santapan lezat dari aroma tubuh manusia yang sehat dan segar.
Ia merasa amat puas melihat anak-anak di depannya ketakutan.
Beruntungnya anak-anak ini terampil dalam menghadapi situasi mencekam ini. Jika tidak, tentu saja salah seorang dari mereka akan mengeluarkan air seni tanda phobia yang merongrong.
****
__ADS_1
Sean yang memejamkan mata, perlahan membuka kelopak mata sebelah kanan. Ia terheran-heran mengapa dirinya belum merasakan sentuhan serigala di hadapannya.
Mata indahnya perlahan mengintip sekeliling alam bebas.
Kini wajah kedua makhluk beda spesies itu amat dekat hingga membuat Sean terkaget. Tanpa sadar euforia kagetnya membuat kedua temannya yang memejamkan mata ikut merasakan.
Lensa mata berwarna biru driyad makin mendekat pada Sean. Kepala itu mulai merunduk melihat wajah Sean dengan cermat dan teliti. Seperti belum pernah melihat makhluk lain selain kawanan serigala semasa hidupnya.
Heran, takjub bahkan sedikit iri pada Sean itulah yang dirasakan oleh driyad pikir Sean dalam hatinya.
Sean? tentu saja remaja itu bingung apa yang telah ia perbuat sehingga anjing liar itu bertingkah aneh padanya. Seperti seorang manusia yang terpesona pada wajah rupawan seorang selebriti.
Tangan Sean secara tak langsung ingin membelai kepala driyad yang tertunduk di depan wajahnya seakan driyad memberikan kode padanya.
"Apakah kau tak ingin memakan ku?" Tanya Sean sedikit ragu. Kekhawatiran itu perlahan menurunkan tensinya.
Driyad mendengus nafasnya hingga berubah menjadi asap di udara yang dingin ini. Namun Sean kaget karena menganggap hal itu seperti ekspresi katidaksukaan Hewan.
Tangan yang hendak membelai kepala hewan berwajah dingin ini, menarik kembali tangannya.
"Sean," Bisik Jessica pelan.
"Hati-hati, mungkin ini triknya untuk memangsa kita." Peringat Jessica pada Sean.
Lagi-lagi Jessica lebih cemas mengingat kejadian sebelumnya saat di lorong goa.
"Kurasa ya," Balas Sean bicara lembut.
Yudhar? Sean dan Jessica telah melupakan manusia hutan itu meskipun ia ada di hadapannya. Mereka tak akan bertanya maupun meminta saran pada Yudhar karena hal itu akan sia-sia. Ia selalu memberikan jawaban yang sama untuk semua pertanyaan dan saran yang di berikan.
Setiap kata-kata Sean penuh ketakutan bahkan sedikit ada vibrasinya. Namun ia mencoba tetap tenang dan mencoba menyembunyikan rasa takutnya itu.
Sepasang mata driyad tak bisa lepas dari tingkah Sean.
Anak-anak sudah di kepung oleh para asgart, rasa mencekam terus bertambah. Dag Dig Dug jantung mulai tak karuan. Raga sudah lama berpisah dari arwah. Hanya ada tubuh yang terduduk menyerah.
"Kawan. Apa kau baik-baik saja?" Kata Sean memastikan driyad yang terpaku seperti sedang terhipnotis.
"Hei! apakah kau baik-baik saja?" Tanya Sean sekali lagi. Tangan Sean ia lambaikan di mata yang tanpa henti menatapnya dengan serius.
Rrrrrrghhh
Driyad mengerang ganas. Tak tahu kenapa? Sean bingung pada serigala itu. Sementara yang lainnya hanya ikut mengerumuni mereka . Asgart lainnya tak berekspresi maupun bergeming kecuali menunjukan gigi-gigi tajam mereka serta suara khas mereka yang menggelegar.
Rrrrrrghhh
Sekali lagi ia mengerang ganas, di barengi moncongnya yang tajam menggelegar dan memekik tajam siap menerkam wajah Sean.
Untuk kesekian kalinya Sean menutup mata tak kuat menyaksikan dirinya akan di terkam. Kedua tangan putih itu menutupi wajahnya seakan sebagai tameng yang akan melindungi wajah indahnya dari serangan driyad.
Bukannya terkaman buas yang Sean rasakan, tetapi basah dan berlendir kini ia nikmati di tangan dan di sela-sela wajah yang tertutup punggung tangan itu.
Ia mengernyitkan dahinya, seraya membuka kembali kelopak matanya.
"Hei kawan! apa yang kau lakukan." Kali ini Sean bicara dengan ekspresi bahagia penuh kegelian.
__ADS_1
Wajah bersih Sean di jilat habis oleh driyad bahkan melumat wajah itu penuh dengan liurnya yang berlendir.
Wohooooo
"Aku sangat merasa geli kawan." Tukas Sean menahan geli dan sedikit jijik pada lumatan lidah driyad pada wajahnya seraya sedikit menghindar.
Jessica dan Yudhar? mereka bingung bin takjub. Apa yang telah mereka saksikan sungguh membuat mereka akan gila pada tingkah hewan yang sebelumnya bertingkah garang.
Wajah tampan itu kini nampak jijik akibat liur dari driyad.
Sekujur wajah di banjiri liur berlendir dan berbau khas nafas hewan.
Serigala itu tak menghiraukan ucapan Sean, bahkan lumatan lidahnya kini ia ubah menjadi elusan manja.
Kepalanya yang besar ia elus-eluskan di bahu kanan Sean sebagai tanda bahwa Sean adalah majikannya.
Dan liur tadi sebagai sebuah tanda persahabatan diantara keduanya yang tak boleh di miliki bahkan di klaim oleh asgart lain.
"Ya setidaknya itu adalah tingkah driyad muda." Tukas asgart bermata merah darah dengan ekspresi cuek. Dia memahami betul seperti apa tingkah para anggota kawanan para Asgart.
"Aku rasa dia mulai jatuh cinta lagi pada manusia. Mungkin saja ia beranggapan bahwa anak itu adalah pangeran kecil. Ah aku ingin meninggalkannya sendiri jika melihat tingkah monarkinya memonopoli anak itu." Tambah asgart bermata cokelat.
"Tunggu!" Jessica menyeringai bincang-bincang hangat kedua serigala di depannya.
"Jadi kalian bisa bicara? apakah kalian siluman?" Jessica memulai. Rasa ingin tahunya amat besar dan dia sedikit kaget karena ini kali pertamanya dia mendengar hewan bisa bicara.
Kaget Jessica bukan kepalang. Seolah dia tak percaya apa yang ia dengar dan ia lihat, Jessica ingin mati berdiri rasanya. Seolah semua yang terjadi saat itu adalah mimpi.
"Iya kami siluman yang akan memangsa mu gadis kecil."
Balas asgart bermata cokelat seraya mendekat menunjukan ekspresi seriusnya kembali. Ia akan menakut-nakuti Jessica dengan tipu dayanya.
Namun Jessica tak takut kali ini, justru ia mulai merasa bahwa para serigala besar ini adalah penolong mereka.
"Kau ingin memakan ku? Setidaknya aku adalah seorang wanita. Kau tahu? Di dunia manusia wanita amat di hormati dimana pun itu. Jadi sebelum kau ingin memakan ku, lebih baik kau makan lebih dahulu manusia hutan ini." Dengan sikap garang Jessica menyodorkan Yudhar sebagai gantinya. Dia mengumpan Yudhar sebagai santapan malam kawanan pem-buas rakus ini.
"Hei kenapa kau memberikan aku padanya."
Teriak Yudhar protes.
"Tapi aku tak menyukai daging bocah kecil ini. Aku suka daging gadis kecil seperti mu. Apalagi daging mu terasa sangat empuk dan renyah. Maka bersiaplah masuk kedalam bumbu kecap ku wahai anak manis." Lanjut Asgart menggoda jessica.
Asgart bermata cokelat ini menjilat wajah Jessica tanpa pamrih.
"Hei. Hentikan. Apa yang coba kau lakukan." Jessica menyeringai lumatan itu pada wajahnya bak seekor anjing yang sedang bermanja-manja pada tuannya. Dia sangat menolak tingkah Asgart.
"Kau adalah daging milik ku. Aku harus menandai mu." Dengan suara penuh kelicikan Asgart yang mengklaim Jessica sebagai Tuan nya merasa menang mengalahkan gadis ini.
Jessica hanya membalas dengan ekspresi cuek dan ketus. Dia sebal di perlakukan bagai anak kucing yang di jilati oleh induknya.
BERSAMBUNG.
*Sampai disini dulu untuk episode ini. Jangan lupa berikan dukungan kalian ya pada novel ini. Semoga novel ini menghibur kalian.
Salam manis; Penulis*.
__ADS_1