
ASGART PART 5
Bulir-bulir es semula kecil kini berubah makin membesar. Angin yang semula berhembus setengah kencang, kini berubah makin kencang.
Pohon-pohon bergoyang kesana kemari hingga salju-salju yang menghinggapi dahan berguguran akibat terpaan angin kencang.
Tornado badai perlahan membentuk, dan berputar makin besar bagai tornado yang mengguncang tanah Alaska dengan ganasnya.
Anak-anak bisa melihatnya.
"Oh tidak! Sean lihatlah badai salju mulai menggelegar. Bagaimana ini?" Jessica berujar panik.
"Aku juga tak tahu bagaimana ini?" balas Sean bingung.
Ditengah keterpurukan, mereka akan merasakan hal yang tak akan pernah mereka duga sebelumya.
Badai salju melesat datang lebih awal dari perkiraan Sean.
Sungguh ini diluar dugaan sean. Ia tak menyangka alam yang bisa ia prediksi kini melesat jauh dari angan-angannya.
Kini jiwa anak-anak tak bisa lagi setenang sebelumnya, karena badai kengerian sudah muncul datang melanda.
Angin itu kini mulai menerpa dengan kencang tubuh-tubuh kecil.
Pakaian mereka berkibar seakan ingin meninggalkan tubuh suci itu.
Namun driyad, tak akan membiarkan itu.
"Anak-anak, bersembunyi di belakang ku!" teriak makhluk itu dengan nada tinggi.
Ia tahu jika anak-anak mulai merasakan bahwa angin es itu memaksa masuk menyeruak kedalam pori-pori kulit, perlahan-lahan akan membunuh tubuh itu dengan cara yang lembut.
Lalu anak-anak menuruti perintah driyad bersembunyi di balik tubuhnya yang besar dan bulu tebalnya cukup untuk menghangatkan tubuh mereka yang dingin.
Wush..
Angin kencang ini menyapu bersih salju-salju dan memutarnya seiring dengan alunan perjalanan.
"Kalian bertahanlah, badai ini akan berlalu tak akan lama!" teriak driyad sekali lagi.
"Baiklah kami paham!" balas Sean.
Mereka memegang kaki hewan itu erat-erat dan memejamkan mata dengan rapat karena bulir salju bisa menusuk kornea mata sehingga akan menyebabkan iritasi.
Mereka mampu menghadapinya dan mampu menahan dinginnya salju yang berulah jahat itu. Meskipun tangan-tangan mungil nan lembut itu sudah mati rasa membeku dan ikut menyamai dinginnya es.
Driyad yang menjaga anak-anak dengan baik, tak ingin membuat tubuh lucu itu di terpa oleh badai salju yang cukup kencang. Bahkan sesekali tubuh itu mulai terguncang akibat tak kuat menahan deruan angin.
Bulu-bulu tebalnya bahkan berkibar tak karuan, meskipun beruntung bagi driyad ia cukup tangguh menghadapi dingin. Bahkan bulu itu lebih berkali-kali lipat lebih hangat dari domba dalam hal menjaga suhu tubuh.
"Kalian terus saja bertahan. Badai ini sudah menjadi hal biasa melintasi perbatasan ini!" teriak driyad kembali menyemangati anak-anak.
"Aku percaya pada mu tuan serigala!" kali ini Jessica membalas sahutan tuan beruang yang gagah ini.
Namun, itu tak berlangsung lama karena kawanan serigala kembali datang menjenguk mereka.
"Kami datang anak-anak," teriak kawanan asgart kembali menuju menemui anak-anak dan driyad.
"Sedikit terlambat, tetapi tak masalah bukan?" driyad bermata cokelat memulai candanya.
Namun herren, dengan wajah garangnya tak bertutur kata apa pun.
Langsung saja ia bicara pada intinya dan tak suka berbelit-belit.
"Bentuk formasi dan jalankan susunan sesuai rencana!" teriak herren lantang.
__ADS_1
Para kawanan asgart langsung menjalankan perintah Herren dengan segera.
Mereka membentuk formasi sesuai keinginan herren.
Kelima asgart mulai mengelilingi tubuh anak-anak yang semula berjarak cukup jauh, perlahan makin menyempit.
Driyad yang melihat formasi apik kawanannya ikut antusias. Ia mulai ikut ambil bagian dari tugas itu. Bahkan ia senang karena herren meskipun pimpinan berhati dingin, namun sesungguhnya ia peduli pada mereka.
Sean dan teman-teman bingung pada tingkah kelima kawanan itu. Apa yang mereka lakukan. Mereka belum cukup mengerti atas tindakan para kawanan asgart.
"Tenanglah nak, kau akan hangat dalam pelukan kami!" ucap asgart bermata biru.
"Hai gadis cantik, kali ini kita berjumpa lagi," lanjutnya menggoda jessica penuh dengan kemenangan.
Tubuh mereka berakhir dalam apitan para asgart bertubuh besar.
Kini mereka mulai merasakan hangat di sekujur tubuh.
Perlahan tubuh para driyad menutupi tubuh-tubuh kecil itu dengan tubuh mereka yang berkali-kali lebih besar dari tubuh anak-anak.
Mereka kini mulai merasakan kehangatan bulu hewan-hewan yang menutup tubuh mereka dari ganasnya salju yang menerjang.
Formasi yang di bentuk oleh para kawanan itu mirip seperti stadion sepak bola .
"Kalian tidurlah, anggap saja kalian sedang menikmati terapi suhu!" ucap asgart bermata biru yang mengklaim dirinya sebagai milik Jessica.
Tubuh anak-anak itu tertutup hingga tak ada seberkas cahaya pun yang masuk dalam dekapan hangat itu.
"Gelap bukan?" tanya driyad seraya kepalanya memeluk tubuh hangat Sean.
"Sangat gelap tapi nyaman!" balas Sean senang.
"Setidaknya kita aman sekarang!" hibur driyad pada Sean dan temannya. Mata biru driyad sangat jelas menyinari gelapnya dekapan mereka.
Nafas-nafas para para asgart ikut menambah kehangatan dalam dekapan yang nyaris seperti anak gunung yang di kelilingi oleh ngarai.
Nafas para hewan yang panas seperti uap rebusan air panas di atas kompor mampu mengalahkan dinginnya salju.
Anak-anak mulai memejamkan mata. Mereka tak peduli lagi pada badai kengerian yang hampir membuat mereka mati kedinginan.
Akhirnya dengan penjagaan ketat nan rapat, para kawanan asgart ikut tertidur bersama remaja yang menggemaskan bagi mereka.
Kelimanya nampak pulas tertidur saling tumpang tindih menikmati tidur di malam yang panjang ala sauna.
Namun tidak bagi herren pimpinan para asgart. Ia tidak ingin memejamkan mata mau pun tertidur meskipun badai menerpa dirinya.
Ia dengan tubuh tegapnya tetap berdiri kokoh di dekat kawanannya. Wajah serius dan dingin herren tak bisa ditebak karena hewan ini berekspresi seperti manusia saja.
"Herren! sebaiknya kau tidur disini! badai salju ini akan menerpa sepanjang malam. Setidaknya kau harus istirahat karena kita akan melanjutkan perjalanan pulang besok!" ucap salah satu kawanannya yang bermata merah darah.
"Aku tak membutuhkannya. Sebaiknya kalian saja yang tertidur. Aku tak masalah pada ini!" tukasnya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Mata dan telinganya yang amat peka menyaksikan sekeliling. Itulah tugasnya sebagai pemimpin kaum asgart, yaitu menjaga para kaumnya dari gangguan dan ancaman terutama para Troya.
Dan malam yang panjang ini berlalu dengan sendirinya.
Badai kengerian sudah berakhir dan kemungkinan akan kembali lagi nanti malam.
Tubuh-tubuh berbulu lebat itu tertimbun oleh salju-salju sisa badai semalam. Hingga tak nampak sedikit pun dari tubuh para asgart di atas permukaan salju, kecuali herren yang terlihat bersih dari sentuhan salju yang menggodanya. Ia setiap saat mengguncang tubuhnya dengan wibawa terlepas dari salju yang menempel.
"Wuaaah!"
Teriak asgart lega di pagi hari.
Mereka keluar dari gulungan salju yang menyelimuti tubuh sejak semalam.
__ADS_1
"Aku akan menjadi es jika tak segera bangkit!" ucap asgart bermata merah lega luar biasa.
Diikuti oleh asgart yang lainnya, ikut bangkit dari tidur dengan penuh kemerdekaan.
Anak-anak? tentu saja mereka akan bangkit dari tidur usai kasur empuk mereka terbangkit.
"Persiapkan diri kalian, kita akan pulang sekarang!" tegas herren yang masih pagi sudah memerintah seenaknya saja.
"Baiklah. Semuanya ayo kita berangkat!" ucap asgart lainnya.
Mereka mengikuti perintah para ketua.
"Bagaimana dengan anak-anak?" driyad kembali menyela.
Kali ini herren tak menjawab pertanyaan itu bahkan menanggapinya dengan dingin , namun bagi driyad itu sebuah kesepakatan.
Dengan wajah bahagia ia berseru, "Anak-anak naiklah di punggung ku!" driyad dengan bangga mempersembahkan punggungnya untuk sean.
Sean mengangguk setuju.
"Hei bung, kau tak boleh serakah! Si gadis kecil harus naik di punggung ku! bukankah begitu gadis kecil!" seru asgart bermata merah.
"Aku bukan gadis kecil, tetapi Jessica! aku Jessica kau mengerti!" balas Jessica ketus.
"Baiklah gadis kecil kau juga harus memanggil diriku Holocaus! mengerti!" tukas Holocaus seraya menarik paksa Jessica ke atas punggungnya.
Mau tak mau ia menerima tumpangan di atas tubuhnya.
"Hei nak, kau naik di punggung ku!" tawar driyad bermata biru pada Yudhar.
Yudhar dengan senyum sumringah setuju pada tawaran itu.
Semuanya berakhir pada keberangkatan yang menyenangkan.
Keenam asgart mengikuti langkah herren melintasi gurun pasir.
Mereka membentuk formasi satu empat satu.
Yang memiliki arti tersendiri bagi kaum asgart.
Satu di depan yaitu herren yang bertindak sebagai seorang pemimpin bertanggung jawab pada keamanan kawanannya.
Empat ditengah adalah kawanan yang sakit, tua renta, membawa bayi dan sebagainya. Mereka biasanya butuh perlindungan ekstra dari kawanan terkuat di depannya.
Sementara satu di belakang bertugas mengawasi keadaan sekitar dari belakang dan juga berkewajiban menjaga kawanannya yang ada di depan. Para asgart berjalan membentuk satu garis utuh dengan jarak pola lima meter di depan dan lima meter penjagaan belakang.
Formasi ini cukup kuat melindungi kawanan asgart dari ancaman.
Pagi itu langkah kaki para asgart sudah memasuki kota. Mereka menempuh jalan yang lumayan jauh dan sedikit melelahkan.
Sedangkan anak-anak mereka luar biasa gembira, bernyanyi ria, bersenda gurau dengan asgart mereka masing-masing. Bahkan Sean sesekali menjahili driyad dengan menutup mata hewan itu.
Namun driyad malah menikmati gangguan Sean.
Hewan-hewan itu semakin intim dengan sendirinya.
Sungguh Sean merasa beruntung. Ia takkan melupakan sahabat barunya ini kelak jika ia telah menemukan Edward.
BERSAMBUNG
Hai pembaca.
Terima kasih telah menyukai novel ini, dan jangan lupa tinggalkan like komen dan share pada teman kalian apa yang kalian baca.
Salam manis: Penulis.
__ADS_1