Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 31


__ADS_3

ASGART PART 2


Setengah jam sebelumnya.


Sekawanan srigala salju berbadan besar sedang melakukan patroli di perbatasan. Sayup-sayup terdengar suara di tengah perjalanan penjagaan mereka terhadap perbatasan.


Telinga hewan yang amat peka dan sensitif terhadap suara itu membawa langkah kaki mereka menuju suara ketiga anak yang berisik bersuara keras dan gaduh.


Mereka amat asik pada permainan salju mereka, sehingga tanpa sadar sekelompok kawanan serigala itu mendatangi mereka.


"Apa kau mendengar suara itu?" Tanya Pimpinan asgart pada anak buahnya.


Suaranya amat berat dan parau. Suara khas pemimpin yang berwibawa.


"Ya kami mendengar suara itu. Sepertinya suara itu berasal dari luar perbatasan." Jawab asgart yang lebih muda.


Asgart-asgart ini adalah serigala bertubuh besar yang bertugas menjaga perbatasan. Mereka memiliki kemampuan perang yang apik dan berani. Selain itu mereka adalah pimpinan perang yang sengaja di tugaskan di perbatasan agar tak ada penyusup yang masuk ketempat itu.


ASGART sendiri adalah kawanan serigala berbulu lebat berbadan besar yang dipimpin oleh ketua kaum bernama herren. Mereka di bedakan oleh karakteristik lensa mata yang berbeda-beda.


Corak mata yang indah serta bulu lembut dan halus yang amat lebat. Selain itu para asgart berbeda dengan serigala pada umumnya, karena serigala ini lebih peka dan sensitif terhadap suara beroktan rendah.


Kemampuan mereka berbicara bahasa manusia sangat baik dan juga tak suka mengganggu manusia. Kecuali mereka mengganggu perbatasan yang di jaga oleh para Asgart.


****


"kalau begitu mari kita lihat siapa yang berani mendekati perbatasan," Ucap asgart yang lebih tua dari Asgart-asgart lainnya. Asgart bersuara parau nan berat ini nampaknya adalah pimpinan kelompok serigala yang menjaga perbatasan.


"Apakah kita perlu menggunakan Auman keras untuk mengusir mereka dari perbatasan. Atau dengan kekerasan?" Tanya seorang asgart muda lainnya.


"Tidak perlu. Aku rasa mereka adalah manusia-manusia lemah. Lebih baik takuti saja mereka dengan tatapan kengerian yang kalian miliki. Dengan begitu mereka akan pergi dan tak akan mengganggu lagi perbatasan ini," Balas pimpinan asgart.


"Baiklah, Ayo semuanya berangkat!" Perintah asgart muda lainnya.


Mereka berjalan beriringan saling membuntuti satu sama lain.


Langkah kaki bercakar tajam itu menyusuri sumber suara yang berteriak berisik itu. Hingga pencarian sumber suara di temukan. Mereka menyaksikan ketiga anak yang asik bermain salju dengan riang. Dari balik semak-semak dedaunan salju para Asgart melihat riuhnya anak-anak bermain dari kejauhan.


"Sudah lama tak menyaksikan anak kecil di sekitar sini." Ujar Asgart bermata biru yang terhenti sejenak usai menyaksikan anak-anak.


"Benar sekali. Terakhir kali kita melihat anak-anak bermain saat ada perang Troya. Semenjak saat itu kita sudah tak melihat anak-anak lagi hingga ribuan tahun mendatang." Sambung yang lainnya membenarkan ucapan asgart bermata biru.


Para asgart ini rupanya tak ingin mengganggu remaja-remaja yang terlihat begitu bahagia dengan salju di tangan.


Mereka menghentikan langkah mereka sejenak demi menyaksikan anak-anak itu bertingkah lucu.


Asgart-asgart ini begitu bahagia kala menyaksikan Sean dan para sahabat saling serang dan lempar salju.


"Sungguh aku merindukan saat-saat itu kala bermain dengan pangeran. Menjaganya sedari kecil bahkan LORD SHUTANHAMUN sendiri mempercayai kaum Asgart untuk menjaga pangeran dalam buaian kasih sayang.


Aku merasa masih merindukan pangeran kecil berusia enam tahun itu. Dia adalah anak yang paling menggemaskan di dalam kota ini bahkan aku menganggap nya sebagai anak ku sendiri. Aku benar-benar merindukan pangeran kecil itu.

__ADS_1


Andai saja perang Troya ribuan tahun yang lalu tak terjadi. Mungkin pangeran saat ini sudah menjadi pimpinan kita dalam menjaga perbatasan kota ini dari serangan GORT.


Aku sungguh-sungguh merasakan bahwa pangeran kecil sekarang ada di hadapan ku." Dalam keadaan ambigu, asgart muda mencoba mengenang orang yang amat ia cintai semasa hidupnya. Bahkan tingkah serigala itu amat lucu kala ia menyeka air mata harunya.


Pikir manusia jika melihat kelakuan haru para asgart itu, mungkin tak akan percaya jika ada hewan berhati manusia bahkan bisa bicara bahasa manusia.


Namun itulah kelebihan mereka. Kelebihan yang luar biasa ajaib.


"Aku juga merasakan sangat rindu pada pangeran kecil. Jika bukan karena para GORT itu ingin menguasai tempat ini, mungkin LORD SHUTANHAMUN tak akan pernah seperti ini," sahut asgart lainnya yang ikut menyeka air mata kesedihan.


Mereka terduduk menyaksikan ketiga anak itu bermain dari jarak pandang yang jauh.


Semua tingkah anak-anak itu mencuri perhatian mereka seolah mereka telah menemukan sosok pangeran kecil mereka yang telah lama menghilang.


"Apakah kawanan asgart di berikan air mata dan bisa bersikap lemah lembut oleh LORD SHUTANHAMUN!"


Pimpinanan Asgart, Herren datang dari belakang menyela keharuan kawanan serigala yang tengah terduduk pilu.


Melihat pemimpin mereka datang, kelima kawanan serigala besar itu dengan serta Merta berdiri dengan hormat menghargai kebijakan dari pimpinan mereka.


"Apakah tugas yang ku berikan untuk mengusir para manusia itu membuat kalian berat hati. Ataukah karena anak-anak itu kalian menjadi lemah. Bahkan kalian menyeka air mata haru karena melihat para bocah-bocah itu bermain ria."


Pimpinan asgart ini menegur anak buahnya yang terlalu berhati lemah menghadapi ketiga bocah di hadapannya.


Karena terlarut dalam kesedihan, mereka kalah langkah oleh kawanan serigala yang bukan termasuk dalam kaum asgart.


Sekelompok serigala yang bukan bagian dari serigala penjaga perbatasan lebih dulu mendekat dan mengepung tiga anak itu.


"Apa-apaan itu! Mereka berani mencoba mengusik anak-anak itu. Apakah kawanan domba itu bosan hidup." Protes asgart bermata hijau lebih dahulu melihat kejadian ini.


"Aku akan menyerang mereka sekarang juga karena telah berani mengganggu kesukaan ku." Lanjut Asgart yang lain bersikap tergesa-gesa dan tak sabaran. Dia ingin menghampiri anak-anak itu.


"Hentikan langkah mu Driyad."


Herren menghela langkah driyad, asgart paling muda dari kelima asgart lainnya.


"Biarkanlah mereka melakukan sesuka mereka, itu bukan urusan mu." Ucap herren pimpinan asgart mengingatkan Driyad yang bertindak gegabah.


"Tapi Herren? Bukankah kau sendiri yang mengajarkan bahwa kita tak boleh membuat siapapun terluka. Apakah kau tak melihat ketiga bocah itu amat ketakutan. Apakah kau sudah tak memiliki perasaan lagi pada anak-anak." Driyad membantah perkataan Herren dan dia tidak menyukai sikap pimpinan para Asgart yang tidak lagi bersifat penyayang.


Herren yang tadi hendak meninggalkan kawanannya itu, berhenti sejenak usai mendengar perkataan juniornya.


Seakan perkataan itu mengingatkannya pada masa lalu. Ingatan yang sama sekali tidak pernah ia lupakan seumur hidupnya.


"Untuk apa kau peduli pada manusia-manusia itu. Mereka makhluk lemah yang tak berguna. Jangan buang-buang waktu kalian hanya untuk menolong anak-anak itu."


Herren tak peduli pada perkataan Driyad. Ia bersikukuh untuk tak menunjukan rasa simpatinya pada Sean dan temannya.


"Ayo kita kembali ke perbatasan. Jangan lakukan hal bodoh yang tak pernah ku perintahkan sebelumnya."


Herren dengan ucapannya meninggalkan kawanannya.

__ADS_1


Di ikuti oleh ketiga kawanan asgart lainnya, merek meninggalkan Driyad seorang diri. Mereka lebih menuruti perkataan pimpinan mereka itu ketimbang ikut membantu Driyad.


Namun driyad, ia tetap bersitegang ingin membantu Sean dan sahabatnya terbebas dari terkaman serigala yang mengepung mereka. Dia tidak peduli jika membantah sang ketua.


"Aku tak akan kembali ke perbatasan sebelum membebaskan mereka dari cengkraman makhluk buas itu. Aku akan tetap menolong mereka meskipun tanpa bantuan kalian." Tegas driyad muda.


Ia tak menggubris ucapan pimpinannya yang jauh lebih berwibawa dan berpengaruh dari dirinya.


Hewan itu berlari menyerang kelima hewan buas sebangsanya.


"Driyad." Teriak herren mengerang marah saat melihat kawanannya tak mendengarkan ucapannya dan mengindahkan peringatan Herren.


****


Mula-mula ia menyerang dengan beringas ketua serigala yang bertubuh lebih besar dari lainnya.


Hingga tubuh ketua kawanan serigala terpental mengenai batu besar.


Driyad mengeluarkan Auman ganasnya untuk menakutkan kawanan serigala.


Mereka saling serang namun driyad yang seorang diri tak bisa menahan kuatnya serangan lima ekor serigala.


Tubuh driyad yang mencoba melindungi anak-anak terpental tak karuan.


"Ah tidak. Kau tak boleh kalah," Ucap Jessica merasa iba pada driyad yang kalah.


Jessica cukup merasa bahwa driyad berpihak pada mereka.


Tubuh driyad mulai terkapar oleh hantaman keras dari serigala bertubuh besar darinya.


Driyad sungguh merasa teraniaya dengan sekujur tubuh yang lemah akibat pertarungan yang tak seimbang.


Grrrrrrrrr


Roarrrkkkk


Serigala bertubuh besar pimpinan dari hewan buas itu siap menerkam driyad yang mulai lemah, namun usaha itu harus gagal.


Herren dan kawanannya datang menyerang serigala tak berguna itu dengan sekali hantaman dan terkaman mampu melumpuhkan kawanan itu.


Mereka meninggalkan luka cakar yang cukup berarti dengan semangat kemenangan yang luar biasa.


Cakaran khas para asgart cukup membuat lawan mereka mati perlahan. Luka yang di derita bisa menimbulkan kontaminasi kuman berbahaya.


BERSAMBUNG.


Di episode kali ini penulis tidak merevisi naskah terlalu teliti seperti naskah lainnya. Mungkin naskah kali ini di ketik lalu di kirim tanpa ada perbaikan kata-kata yang salah.


Jujur ini naskah pertama yang tak sampai lima kali di revisi karena penulis ingin membandingkan dengan naskah yang di revisi.


Dan juga penulis ingin melihat seberapa antusias pembaca menyambut episode ini dengan dukungannya.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen and share novel ini ya agar penulis lebih semangat dalam menulis bagian selanjutnya.


Salam manis penulis.


__ADS_2