Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 145


__ADS_3

“Yudhar ..., kau?!”


Sean ternganga, ketika dia melihat anak itu ada didalam istana ini.


“Tunggu. Apakah aku sedang bermimpi?” gumam Sean pelan.


Sean memperhatikan dengan baik, wajah dan hidung yang dipahat sempurna itu. Wajah Yudhar, wajah anak itu. Sean masih hafal, namun belum yakin jika anak itu yang ada dihadapannya kini.


“Apakah dia benar-benar Yudhar, bocah hutan itu? Bukankah dia sudah mati diterkam oleh Mossarus?”


Pikiran Sean, tentu kembali pada ingatan dimana Yudhar mati. Lebih tepatnya, didalam hutan aneh itu. Sean sampai menangis saat anak itu mati. Namun, sekarang ....


“Tidak, tidak, tidak. Dia pasti bukan Yudhar. Dia pasti arwah gentayangan anak hutan itu.”


Sean menggeleng keras, dia tidak mau melihat Yudhar. Anak itu pasti tidak nyata, Sean pasti salah melihatnya.


“Sean. Kau ingat pada ku?”


Sean menutup mata dan telinganya, mengalihkan pandangannya dari anak itu.


“Tidak, kau bukan Yudhar. Pergi sana, aku tidak mengenal mu!” seru Sean meringis.


Jessica, dia ikut ternganga. Benar, dia ikut bingung. Bingung kenapa Yudhar masih hidup, sedangkan dengan jelas Jesicca melihatnya mati diterkam Mossarus. Jessica melihatnya, dia tidak mungkin salah melihat kala itu.


“Sean. Apakah dia hantu?” bisik Jessica pada Sean.


Sean menggeleng. “Aku tak paham. Tapi aku yakin, dia memang arwah bocah hutan itu. Arwahnya kini menghantui kita.”


“Bisa jadi ....”


Jessica menjentikkan jarinya. Lalu, dia memandang wajah Yudhar. Jessica mengerutkan keningnya, ada guratan keraguan didalam benak Jessica.


“Hei, apakah kalian tidak mengenali ku?”


Yudhar bersua, tapi Jessica dan Sean. Keduanya sepakat kalau dia adalah hantu.


“Kau pergi dari sini, atau aku akan membunuh bayangan mu. Hingga kau tak sanggup hidup lagi, lalu kau akan abadi didalam neraka!”


Sean mencabut pedangnya, lalu mengacungkan pedang itu pada Yudhar—remaja yang berpakaian layaknya anak-anak ciborg. Anak-anak yang berpakaian baju besi ringan, seakan baju zirah itu adalah alat pelindung di Medan perang.


“Hei kawan, kenapa kau melakukan ini pada ku!” kata Yudhar bernegosiasi.


“Kau bukan teman ku!” bentak Sean. “Kau pasti hantu. Kau bukan Yudhar. Kau arwah gentayangan.”


“Sean. Kau salah paham!”


“Tidak. Aku benar. Kau adalah hantu, kau bukan anak hutan itu!”


Yudhar memasang wajah polos, dia bingung pada Sean yang tak menganggapnya teman, tapi hantu.


Oh, Yudhar tahu, Sean pasti masih ingat pada kejadian itu.


“Padahal aku tidak mati. Tapi dia menganggap ku sudah tiada!”


Jessica mendekati Sean. Dia membisik. “Tidakkah anak itu agak aneh?"


Sean mengangguk. “Dia hantu, kau harus waspada,” katanya terus berjaga-jaga. “Jika tidak, kita akan diterkamnya.”


Pedang Sean belum turun, dia masih menaruh curiga pada anak itu. Yudhar tak bisa berbuat apa-apa, kecuali membela diri.


Edward, Gordon, Crypto dan yang lainnya memasang wajah bingung. Pasalnya, mereka tak tahu apa yang terjadi. Hanya itu, sungguh.


Lord Shutanhamun yang melihat tingkah Sean, dia tersenyum. Lagi-lagi, pria tua itu mengurut Surai jenggotnya.


“Ehm. Cucuku,” panggilnya pada Sean. Sean melirihnya dengan tatapan sinis, Sean tak tahu siapa yang dia sebut. “Dia bukan hantu atau arwah. Dia nyata. Turunkan senjata mu, kau tak perlu mencurigai Yudhar seperti itu.”


Sean berbalik. “Hei, Pak tua. Kau tahu apa tentang dunia ghaib. Kau bahkan tak nampak seperti seorang paranormal.”


Edward menggeleng ketika melihat kelakuan Sean. Dia mengurut kepalanya, pusing. Mungkin saja.


“Sean. Kau salah mengira. Dia nyata,” kata Edward juga memberitahu. “Sungguh, dia bukan hantu atau arwah. Dia memang benar-benar makhluk normal. Sama seperti kita!”


“Kau tak perlu ikut campur Eed. Dia makhluk jahat, pasti dia hantu.” Sean menjawab, sambil menatap tajam sorot mata Yudhar.


Si tua, dia  mendesah. Menggeleng lemah, lalu menjulurkan tangannya dari balik jubah putih suteranya.


Anak yang berada dibawah tangga singgasananya ini, sangatlah protektif.


Dari Lord Shutanhamun telapak tangannya, dia mengeluarkan sihir. Lalu, sederhana, pria tua itu menarik pedang Sean. Kemudian menjauh dari Tuannya.


“Hei, apa yang kau lakukan?”


“Kau akan tahu kisahnya,” kata Lord Shutanhamun.


“Apa yang kau katakan?” tanya Sean penasaran.

__ADS_1


Pria tua menyungging, kemudian melirih Yudhar. Dengan sigap Yudhar menyatukan kedua tangannya, dia menghormati si pria beruban putih.


“Hamba akan menjelaskannya pada Lord Lausius Muda,” kata Yudhar sambil membungkuk.


Sean tak paham, apa maksudnya. Yudhar, kini dia menghadap Sean, lalu mulai bercerita.


“Pangeran. Maaf, mungkin pangeran akan bingung kenapa aku masih bisa hidup. Aku akan menceritakannya pada Pangeran. Sedetail mungkin.”


“Apa maksud mu?” tanya Sean bingung.


“Aku akan menceritakan kejadian saat itu. Dan ini berkaitan, apakah aku arwah atau bukan.”


Sean termenung, otaknya mulai mencerna maksud perkataan Yudhar. “Dia aneh, sama seperti otaknya.”


Kemudian, ingatan Yudhar berputar kebelakang—mengingat kejadian saat dimana dia hampir mati dimakan Mossarus. Di lembah tandus, Yudhar dan yang lainnya terakhir kali berpisah.


“Saat itu, aku tidak mati. Itu hanya sebuah konspirasi. Aku tidak benar-benar lenyap dimakan oleh Mossarus. Aku hanya menghilang, lalu kembali ke istana,” kenang Yudhar pada Sean.


“Konspirasi?” ucap Sean mengulangi.


Yudhar mengangguk. “Aku yakin, kau pasti paham maksud ku!”


Sean ternganga. Otaknya belum sampai pada ucapan Yudhar. Anak itu, setiap ucapan yang dia katakan dengan terperinci, sulit dimasukkan kedalam otak jernih Sean. Tapi ....


“Tunggu,” kata Sean ingin memahami. “Kau tidak mati. Lalu, kau kembali ke istana. Kau tidak lenyap dimangsa oleh makhluk mengerikan itu. Bagaimana mungkin kau selamat, sedangkan aku dan yang lainnya jelas-jelas melihat semua kejadian ini.”


“Iya, sungguh, aku memang selamat dari makhluk itu. Aku memang benar-benar belum mati, Sean!” Yudhar masih berusaha menjelaskan.


Sean memicingkan matanya. Menatap haus Yudhar.


“Jika kau tidak mati, maka hanya ada satu pertanyaan untuk mu ....”


“Apa?” Yudhar membesarkan matanya, menunggu ucapan yang tersisa dari mulut Sean. “Katakan Sean. Aku ingin tahu.”


“Jika kau masih hidup, untuk apa aku menangisi mu saat itu?” kata Sean mengakui. “Bukankah itu sia-sia. Kau tidak mati!”


Mendadak, orang-orang yang berada dalam istana saling berpandangan. Kecuali Jessica dan Driyad. Keduanya yang paling memahami Sean selama perjalanan menuju ketempat ini.


“Hahaha ..., ternyata pangeran pernah menangis. Apakah aku tidak salah dengar?”


Gordon menyahut, diikuti tertawa terbahak-bahak. Sesekali menepuk perutnya, karena terpingkal akibat ucapan polos Sean.


Crypto menepuk bahu Gordon. “Kau tak bisa menahan rasa senang mu. Kau akan dihukum oleh yang mulia Shutanhamun jika berani meledek cucunya.”


“Hei. Kau tenang saja. Yang mulia tidak sekejam itu,” sikut Gordon. Gaya bicaranya sok akrab, Crypto agak geli menerima rangsangan itu.


“Oke. Kau menangisi ku. Bahkan aku tidak tahu itu,” kata Yudhar santai.


Sean melirih Yudhar. “Kau bocah bau. Bagaimana bisa kau sesantai ini untuk tidak meratapi kesalahan mu!”


“Dia sudah terlatih untuk apatis saat ini pangeran,” sahut Driyad.


“Maksud mu ...,”


Driyad mencebikkan bibirnya ketika Sean melirihnya. Melirik Yudhar, anak itu hanya cengengesan ketika Driyad menginterupsinya dengan sorot mata meledek.


“Driyad, dia yang paling mengerti.”


Sean, dia pelan-pelan memahami. Memperhatikan wajah Driyad dan Yudhar, kemudian Sean menjentikkan jarinya.


“Jadi, kalian ....”


“Mereka kenapa Sean?” sambar Jessica.


“Kurang ajar. Kalian telah menipuku!” ucap Sean berang.


Jessica, gadis itu mengerutkan alisnya. Dia bingung, apa yang dimaksud oleh Sean. “Apa yang Sean katakan. Kenapa dia berkata ambigu seperti ini?” kata Jessica pelan.


Jessica mengedarkan pandangannya, Yudhar dan Driyad terkekeh geli.


“Maaf pangeran, ini bukan ide ku. Ini adalah ide yang mulia Shutanhamun. Aku tidak mungkin melakukan ini tanpa izin Tuan.”


Driyad mengakui, Sean benar-benar pandai dalam menebak. Driyad takut jika Sean marah padanya, jadi Driyad mengalihkan semua kesalahan ini pada Lord Shutanhamun.


Pria tua itu masih sok berwibawa. Seakan tanpa dosa, dia masih tersenyum pada Sean.


“Oh. Jadi, ternyata kau yang menjebak ku. Lalu, diam-diam kau memerintah Yudhar mengawasi ku. Kemudian membawa ku memasuki tempat ini.”


Sean berkata lesu. Namun bagi Lord Shutanhamun, ini bukan pilihan. Ini adalah sebuah paksaan.


“Fia benar-benar cerdas. Dia mampu menebak hanya dalam waktu sepersekian detik.”


††††


Dari kisah Yudhar, Sean tahu. Anak itu ternyata penyebab semua ini.

__ADS_1


“Yudhar, ternyata dia yang merencanakan semua ini. Dia yang memaksa ku memasuki tempat ini.”


Sean duduk dipinggir ranjang tidur, kuno namun lumayan futuristik. Setidaknya, agak empuk dibandingkan tidur di tanah. Saat seperti Sean kala dia berada di hutan.


Banyak pengganggu, nyamuk, kedinginan, ada Gort. Oh, Sean sebal pada kejadian dimana dia merasa tidak aman.


Lalu, Sean ingat pada cerita Edward tadi. Sebenarnya, Edward tersesat di hutan kala itu. Yudhar yang membantunya, dan anak itu yang membantu Eed lepas dari terkaman serigala buas.


“Oh. Sialnya. Kenapa semua ini bisa terjadi!” gerutu Sean sebal.


Kalau diingat-ingat, Sean makin sebal pada anak itu. Sungguh, demi apapun.


“Yudhar, dia berani menipuku!”


Saat Sean menggerutu sebal, pintu kamarnya terbuka. Sean berada di istana Lord Shutanhamun. Istana besar, dan ini yang dinamakan bangunan emas. Semuanya terbuat dari bebatuan murni itu.


“Kau tidak tidur cucuku?” tanya Lord Shutanhamun.


Pria tua itu mendekat, lalu berdiri dihadapan Sean. Sean tak beranjak, dia masih terbungkus dalam perasaan bingung—kenapa dia ada disini.


“Bisakah kau jelaskan siapa aku. Kenapa kau ada didalam mimpi ku. Lalu, orang-orang menyebutku Lausius. Kau pasti tahu siapa sebenarnya aku?”


Lord Shutanhamun menepikan tangan keriputnya dipundak Sean, lalu berkata. “Jika kau penasaran pada dirimu, maka aku tidak akan keberatan untuk menceritakan segalanya pada mu.”


“Benarkah?”  Sean seketika bangun dari duduknya, lalu memposisikan diri, menyamai tinggi pria tua itu. “Katakan, kisah apa yang akan kau ceritakan mengenai diriku, Ayah, Ibu dan masa lalu ku. Aku ingin tahu segalanya.”


Pria tua tersenyum ramah. “Ikut aku,” ajaknya.


Dia berbalik, meninggalkan kamar Sean. Sean mengekorinya, pria tua itu terlihat masih berwibawa. Jalannya kokoh, tangannya melipat dipunggung. Dan satu lagi berada didepan. Tangannya tak pernah tidur, seolah tangan-tangan sedang bermunajat, mengucapkan sesuatu.


“Pelan-pelan aku akan menceritakan siapa dirimu. Siapa aku, dan kenapa kau berada disini. Juga sebutan Lausius itu. Aku ingin kau tahu segalanya saat ini juga.”


Keduanya berjalan menyusuri lorong berkarpet merah. Para penjaga nampaknya tidak menjaga setiap sudut lorong, jadilah jalan keduanya agak lengang.


“Lalu ..., kau. Bagaimana aku harus memanggil mu?”


Sean memperhatikan sudut matanya yang sudah mengeriput. Pria itu mendengkus.


“Panggil aku kakek. Karena aku adalah kakek mu!”


Sean mengangguk pelan. Dia mengerti, Sean akan membiasakan dirinya memanggil kakek. Pria tua itu, dia cukup baik.


Jalan keduanya, kini tiba disebuah pintu besar. Lagi-lagi, Sean tak heran. Karena sebenarnya dia tahu, semua bangunan disini dibuat dari lapisan emas.


“Ayo masuk,” ajak Lord Shutanhamun.


Sean kembali mengekori Lord Shutanhamun, pintu terbuka setelah si pria tua itu mengibasnya dengan kekuatan ditangannya.


“Oh. Wow ....” Sean ternganga, dia kaget.


Ketika memasuki sebuah ruangan, Sean dihadapi dengan sebuah pajangan yang luar biasa.


Ada peti terbuat dari kaca transparan, dan ....


“Oh. Apakah ini manusia hidup?” tanya Sean.


Tangannya yang putih bersih, kini menyentuh kaca-kaca yang didalamnya berisi pria-pria menawan. Bukan satu atau dua, tapi banyak. Mereka ditempatkan dalam peti kaca, berhiaskan pria-pria tampan.


Dan Sean yakin, mereka sepertinya diawetkan. Semua peti berhiaskan bunga-bunga cantik, didalamnya ada ikan indah. Mereka dihias sedemikian rupa, hingga nampak makin indah untuk dilihat—layaknya kaca akuarium, peti-peti itu berjejer disepanjang dinding ruangan.


Aula besar didalam mahligai, Sean mengakui dia takjub.


Mahligai ini, terbentang lantai kaca berlapis es di setiap Sean melangkahkan kakinya.  Tiang-tiang penyangga mahligai, menjadi penanda pembatas setiap kaca yang berisi puluhan makhluk tampan. Sama seperti Sean, dia seakan melihat kembarannya sendiri.


“Peti kristal yang pertama, yang berdiri didekat pintu masuk. Itu adalah penanda, kalau dia adalah saudara pertama mu. Semua yang ada didalam peti kristal ini, adalah saudara-saudara mu. Para Lausius.” Lord Shutanhamun memberitahu Sean.


“Oo ..., maksud mu ..., kau sedang tidak bercanda bukan?”


Lord Shutanhamun menggeleng. “Kau adalah Lausius terakhir. Kau cucuku yang sudah lama aku tunggu kelahirannya.”


Sean, dia jelas mengerti maksudnya. Sean tahu, penjelasan ini berulang kali sudah disebutkan banyak orang. Termasuk Medusa, dia memberitahu Sean bahwa dia Lausius.


Sean, dia masih jelas mengingat ucapan Medusa. Sean juga tak lupa pada ucapan Elius, Yanga mengatakan dirinya adalah Lausius terakhir.


“Ikut aku.”


Jubah putih berjalan itu, mengajak Sean makin masuk kedalam ruangan penyimpanan jasad ini.


Sean, sambil mengikuti sang pria tua, dia terus memperhatikan wajah-wajah yang terpejam. Wajah putih, wajah pucat pasi yang terkungkung dalam peti kristal.


Tempat yang dikira Sean adalah peti kaca. Tangan-tangan Sean penasaran, dia menyentuh salah satu peti.


Peti yang berdiri diujung aula penyimpanan, di sana ada ukiran burung surga itu. Phoenix emas.


Saat Sean menyentuh peti itu, mendadak cahaya putih dari benda itu keluar. Sean, dia seolah tertarik masuk kedalam sana.

__ADS_1


“Oh. Tidak!”


††††


__ADS_2