
Akh!!
Teriakan terkejut Sean membuat Jessica dan Driyad terbangun. Kedatangan Amuria di belakangnya secara tiba-tiba seperti ini membuatnya tersungkur hingga masuk di semak-semak.
Pada akhirnya, malam ini bukanlah malam yang indah bagi Driyad untuk bermimpi.
"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Amuria pada Sean. Dia mengintrogasi anak itu, mereka berempat kembali duduk di dekat api. Mengitari si elemen panas itu, mendapatkan kehangatan dari terpaan angin malam.
"Itu.... Sebenarnya aku.... Hanya ingin buang air kecil," jawab Sean gugup. Dia menggaruk kepalanya, malu rasanya kali ini dia berbohong. Sean tersenyum agak memaksa, Amuria terlalu banyak bertanya.
"Kau tahu. Di hutan ini, bukan hanya Amuria saja yang hidup. Tapi masih banyak lagi makhluk lain," Amuria memberitahu. "Terutama gort, mereka sering hilir mudik kesana kemari. Keluar masuk hutan, memangsa manusia, termasuk kalian."
"Kami tahu itu," Jessica menyahut. "Kami sudah siap bertarung melawan si makhluk buruk rupa itu."
"Tidak semudah yang kalian bayangkan!"
"...... Tidak semudah yang di bayangkan?" Jessica mengulangi perkataan Amuria.
Amuria tahu segala hal di hutan wilayahnya. Dia paham benar, makhluk itu pasti mengincar Sean. Auranya sangat kuat, walau Amuria tidak tahu siapa Sean, yang pasti Amuria menilai bahwa Sean bukan anak biasa.
Para gort itu bisa membedakan mana aura yang menarik perhatian dan mana yang tidak. Amuria mulai meragukan Sean. Saat di lihatnya anak itu, dia melihat seperti ada sesuatu yang berbeda dari dia. Menarik, anak itu membuatnya seakan merasakan sesuatu yang berbeda.
"Di hutan ini, kalian masih beruntung bertemu dengan hewan-hewan jinak dan bersahabat," Amuria berkata. Dia seolah memberitahu bahwa hanya hutan miliknya saja yang paling beres, sementara yang lain adalah hutan berbahaya. "Semakin kalian berjalan melewati hutan ini, maka semakin mencekam pula mara bahaya yang akan kalian temui."
"Misalnya?" Sean menyahut.
"Makhluk di hutan gelap!"
Sean mengernyitkan dahinya, memicingkan mata. Menatap wajah garang Amuria yang ternyata memiliki hati. Makhluk itu hangat, walau dia garang dan menyeramkan.
"Kenapa dengan hutan itu? Apakah ada sesuatu yang istimewa di dalamnya?" Jessica ikut menyambar. Dia mulai penasaran, inilah yang paling dia sukai. Cerita menyeramkan.
"Di sana banyak di huni oleh makhluk berbahaya," ujar Amuria.
Jessica melirik Driyad, apa yang di katakan oleh makhluk itu ternyata di benarkan oleh Amuria. "Seperti apa makhluk itu, Tuan Amuria?" tanya Sean.
"Makhluk itu berasal dari suku manun. Mereka suku anak gunung yang menyeramkan, suka menghisap darah juga bertubuh kerdil." Amuria memberitahu. "Makhluk-makhluk itu adalah kaum pria dari desa manun. Sama seperti kaum wanita, mereka berubah menjadi buas sesaat setelah desa itu di hancurkan oleh para Dewi dari olympia. Tubuhnya seperti kayu kering, tapi mereka
gesit.
Suka memakan daging mentah dan apapun itu, termasuk hewan dan manusia. Mereka tinggal di bawah anak gunung, di dalam goa gelap. Mereka memliki perangkap yang mampu menjebak siapa saja mangsa yang memasuki wilayahnya," jelas Amuria.
Sean berpikir, mendengar cerita Amuria ini, tentu saja dia sudah membayangkan kalau makhluk itu seukuran bayi berusia dua sampai tiga tahun.
Dia ingat, saat ada di sadon, Dewi Handita pernah menceritakan makhluk ini.
"Lalu? Bagaimana cara membebaskan diri dari makhluk-makhluk itu!" Kini Sean yang bertanya. Rasanya asik jika membahas sesuatu yang menantang.
__ADS_1
"Jalan satu-satunya melepaskan diri dari makhluk-makhluk itu, adalah..... Bertarung sampai mati." Bukan ide liar, tapi inilah kenyataannya.
Sean tiba-tiba membelalakkan matanya. Uh, dia ingin mengeluh rasanya. Kenapa harus seperti ini menghadapi si menyeramkan. "Apakah tidak ada cara lain menghindar dari serang mereka?"
"Kau memiliki aura yang kuat. Jelas, kau tidak akan bisa menghindari ancaman makhluk-makhluk suku manun itu."
"Kau jangan menakutkan Sean dengan cerita konyol mu itu," Jessica menyela. "Aku tahu, kau pasti berbohong."
"Amuria benar," Driyad menyahut. "Suku manun di bawah anak gunung itu tidak akan melepaskan Sean jika dia melihatnya. Aura Sean terlalu kuat. Mereka membenci orang-orang yang memiliki paras yang tampan nan elok. Jumlah mereka ribuan, tak mudah mengalahkan mereka."
Sean makin penasaran, sejujurnya dia ingin tahu seperti apa makhluk itu. "Bagaimana bisa kita pergi ke kota saranjana, jika itu adalah satu-satunya hutan yang menembus ke Padang pasir tanpa akhir itu."
Sean tidak mengeluh, hanya buntu ide. Tidak ada yang bisa di pikirkan tentang hal ini, kecuali dia sudah berkeringat dingin. Kenapa harus dia yang menjadi mangsa hanya karena memiliki aura yang kuat. Semakin Sean memikirkan tentang aura aneh yang dibicarakan oleh orang-orang itu. Sean merasa semakin sebal. Otaknya harus bekerja penuh, selalu terpikirkan oleh kata-kata itu.
"Apakah kalian ingin pergi ke Padang pasir tanpa akhir itu?" tanya Amuria.
Jessica mengangguk, dia merespon. "Kami ingin ke desa Mouli, lalu ke kota saranjana. Menemukan Eed, dan..... Yah, kau lihat. Kami ini anak manusia, tentu saja kami akan kembali ke tempat asal kami setelah menemukan teman kami, Eed," jelas Jessica.
"Aku bisa menuntun kalian keluar dari hutan gelap hingga menuju ke Padang pasir," Amuria menawarkan diri.
"Kau yakin?" Mendengar tawaran ini, Sean bersemangat. Setidaknya, dia memiliki teman yang bisa di andalkan. "Apakah kau sedang tidak bercanda, bukan?"
"Karena kalian membantu ku terbebas dari racun, maka aku akan membantu kalian sebagai timbal balik," balas Amuria. "Anggap saja, aku sedang berbaik hati malam ini."
"Yeah," Jessica mengangkat tangan penuh kemenangan. "Setidaknya kita memiliki seseorang yang berguna saat ini."
Driyad tahu, anak-anak mengharapkan hal ini. Dia tidak payah, hanya malas dalam segala hal. Kecuali Herren, hanya dia yang bisa membuatnya tak berdaya untuk bekerja. Selebihnya, tidak peduli ada ancaman. Driyad lebih suka menghindar.
"Kenapa harus sekarang? Bukankah masih ada hari esok?" sahut Jessica.
"Aku akan menjelaskannya nanti!" ucap Amuria. Di tatapnya Sean, anak itu berpikiran jauh kedepan. Pasti dia tahu apa yang harus di lakukan dan yang tidak di lakukan.
Sean paham. "Aku setuju, sebaiknya kita berangkat sekarang!"
"Tak ada pilihan lain. Amuria tahu yang terbaik," timpal Driyad. Jessica, dia ikut arus. Dia tak tahu apa-apa? Yang ia ketahui adalah, Sean tak meninggalkan dirinya sendirian.
Mereka mencapai kesepakatan. Saran Amuria jauh lebih baik saat itu. Sean mungkin mengambil langkah yang tepat. Dia menyuarakan idenya, mengikuti langkah makhluk itu. Melewati bukit tempat di mana dia dan Jessica sebelumnya guling-guling.
Melewati jalan curam, ada jalan di sisi tebing, meniti jembatan seutas tapi usang. Jembatan hampir lapuk, tapi mereka berhati-hati dalam melangkah. Ada beberapa tanaman indah yang bersinar saat mereka melewatinya. Lalu ada.... Burung-burung Kolibri malam yang bermandikan cahaya emas. Mereka menjadi penuntun jalan mereka yang gelap.
Sean sempat bertanya, bagaimana bisa makhluk itu menjadi penerang jalan mereka. Dan sederhana sekali jawaban Amuria. "Dia makhluk ku. Dia akan ikut kemana tuannya pergi." Cukup filosofis kata-kata itu.
Jalan menuju ke hutan gelap, mungkin ada rahasia dibalik hutan itu. Bukankah siang hari kegelapan setidaknya akan berkurang. Tapi kenapa harus malam hari berjalan? Sean ingin bertanya, tapi.... Dia ragu ingin mengucapkannya.
"Itu hutan gelap," di atas bukit yang lumayan tinggi, Amuria berkata.
Mereka berdiri di pinggir bibir jurang yang dalam. Hutan itu berbatasan dengan Padang rumput Amuria.
__ADS_1
Makhluk itu penuh misteri, dia berkata seakan ada kengerian di balik bicaranya.
"Sebelum fajar tiba, kita harus keluar dari hutan gelap itu," Amuria memberitahu.
Sean maju beberapa langkah, berdiri di sebelah Amuria. "Ada rahasia apa di balik hutan itu. Kenapa harus malam seperti ini melewatinya?" Sean bertanya. Rasa penasaran sudah menyelimuti dirinya.
"Jika berjalan melalui hutan itu di malam hari. Aura dalam diri mu akan sedikit berkurang. Aku tidak yakin jika aura mu bisa berkurang saat malam hari. Yang pasti, kau bisa mengelabui makhluk-makhluk kerdil itu, kecuali indera penciuman penyihir manun," jelas Amuria. "Dia mampu mengendus keberadaan mu."
"Penyihir manun?" Jessica menyahut. "Bukankah dia ada di...... Maksud ku, bukankah dia ada di goa sebelum menuju ke desa manun?"
Amuria menoleh ke arah Jessica, anak itu benar-benar masih mengingat dengan jelas kediaman Muli. "HM... Sebenarnya, penyihir dari manun bukan hanya satu. Tapi banyak yang masih hidup," Amuria menjelaskan. Di lihatnya dengan baik hutan yang ada di depannya, lalu melanjutkan ucapannya. "Yang kalian temui itu, satu dari puluhan penyihir buta yang masih selamat. Walau mereka buta, tapi sihir mereka cukup kuat memikat lawan jenis. Itulah kenapa aku mengkhawatirkan anak itu, dia berparas elok. Takutnya jika berangkat keesokan harinya, aura itu semakin terasa. Buta bukan berarti tak bisa mencium aroma."
Sean bingung, kenapa dirinya yang harus menjadi sasaran? Dia hanya anak biasa, tidak ada aura seperti yang di sebut oleh Amuria itu. "Bagaimana mereka bisa buta? Apa kau tahu penyebabnya?" tanya Sean. Sejujurnya, mendengarkan kisah di masa lampau adalah pelajaran yang paling menarik bagi Sean.
"Aku hanya mendengar rumor, kalau mata mereka mengering, di sebabkan oleh salah mempelajari ilmu sihir. Mereka tamak, tidak perlu lagi di ragukan betapa hausnya mereka akan aura pria elok." Amuria tidak menakut-nakuti Sean, dia berkata fakta.
"Kalau begitu, -- itu artinya - Sean setiap saat dalam bahaya, begitu-kah yang kau maksud?" Jessica berusaha menerka.
"Hingga saatnya tiba, kau akan tahu kebenarannya."
"Kebenaran?" Sean mengulangi.
"Sebaiknya kita lanjutkan lagi perjalanan ini, sebelum matahari terbit. Sangat berbahaya jika penyihir buta itu tahu keberadaan Sean," Driyad mengambil alih perkataan. Dia tahu, Amuria sedang menebak. Dia memang menyebalkan, kadang mulutnya tak sesuai dengan tingkah garangnya. Dia hewan yang sok tahu.
BERSAMBUNG
***
***
Ilustrasi gort ada dua versi. Pertama versi kerbau, kedua versi serigala. Nampak seperti siluman, namun mereka adalah satu jenis walau berbeda bentuk. Mereka memiliki darah berwarna hijau terang saat terluka. Darah itu berbentuk seperti uap. Akan hilang jika terbawa angin. Bangsa Gort terkenal dengan kekejaman, brutal dan bringas.
Oh, iya, ngomong-ngomong. Sampai bab ini apa kesan kalian terhadap novel ini. Jangan lupa tulis di kolom komentar yah.
Sebenarnya novel ini terinspirasi dari kota SARANJANA yang sesungguhnya.
Walau kota SARANJANA yang sebenarnya terkenal horor, tapi author ubah mindset itu menjadi petualangan fantasi.
Pst..... Sedikit bocoran. Sebenarnya novel ini adalah karya author sejak SMP loh. Dan bersyukur, akhirnya tahun 2019 kemarin, author bisa mewujudkan mimpi author bisa mempublish novel ini.
Semoga kalian suka ya dengan novel ini.
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Jangan lupa bantu naikin rating novel yah. Kasih bintang lima, biar author semakin semangat. Terima kasih. ^^✓^^