
KILAUAN EMAS VOL.5
Keduanya mulai melangkahkan kaki memasuki dinding yang terbuka.
Gelap, pengap dan sunyi ruangan itu nampak sangat asing dari ruangan lainnya.
mereka tak bisa melihat apa-apa karena tak ada penerangan di dalamnya.
"Jessica apa kau membawa ponsel mu?" Tanya Sean pada Jessica.
"Aku.... Aku lupa membawanya karena ku pikir kita tak akan mengalami kejadian seperti ini," Jawab Jessica jujur.
"Baiklah aku mengerti!" Sean memasang ekspresi wajah yang lelah mendalam.
Ia memegang kedua kepalanya dan teringat pada lampu elektronik yang ia bawa tadi.
"Ah sial! aku menjatuhkan lampu kita di hutan.
Semua ini karena serigala sialan itu." Sean mengumpat serigala dengan kata-kata kasarnya.
"Sudahlah! tak ada hal yang lebih penting dari keselamatan kita. Lagi pula kita beruntung masih bisa lolos dari incarannya." Jessica mencoba mengingatkan Sean.
Ia mulai menghibur Sean, remaja yang ia anggap bodoh sebelumnya.
Sean dan Jessica masuk kedalam tempat yang gelap itu, namun masih sebatas di depan di dinding yang terbuka lebar tadi.
Mereka masih enggan melangkahkan kaki lebih jauh lagi.
Terlihat sangat jelas di wajah Sean rasa cemas dan ekspresi kurang yakin, lebih tepatnya Sean masih ragu-ragu untuk masuk lebih dalam lagi menyusuri ruangan yang gelap gulita itu.
Entah apa yang akan terjadi di dalam sungguh Sean tak mampu menebaknya kali ini!.
*S*rukkkk
Suara dinding yang terbuka tadi menutup dengan sendirinya.
"Sean aku takut!" Ucap Jessica kaget seraya memeluk bahu lebar Sean spontan.
"Tenanglah, itu hal umum yang sering terjadi!" Jawab Sean dengan kata-kata penuh hiburan.
"Kau yakin begitu?"
"Tentu saja, apakah kau mulai tak mempercayai ku lagi seperti sebelumnya?" Sean bertanya pada Jessica untuk memastikannya.
"Tentu saja aku percaya pada mu. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini!" Jessica mengalihkan pokok bicara mereka.
keduanya perlahan berjalan mengikuti jalan ruangan yang sangat gelap gulita.
Melangkahkan kaki perlahan sambil meraba-raba dinding sebagai penuntun jalan bagi keduanya.
Berjalan makin jauh dari titik pertama mereka masuk.
__ADS_1
Mereka terus berjalan hanya mengikuti insting, karena tak ada satupun alat yang bisa di andalkan.
Ponsel, kompas, bahkan penerangan pun tak ada yang mereka pegang.
"Menyebalkan!! kenapa kita harus mengalami nasib sial seperti ini!" Seru Sean kesal karena tak ada satu pun alat yang di butuhkannya ada di tangan.
"Tenanglah Sean! Aku rasa kita masih bisa berjalan walau keadaan sangat gelap!" Jessica membalas seruan kesal Sean.
"Entahlah mengapa aku merasa kita seperti sedang di bodohi oleh tempat keparat ini!" Sean dengan wajah sendunya memilih tetap berjalan walau agak kesal baginya karena melalui jalan yang bahkan ia sendiri tak mampu melihatnya.
"Dari pada hanya bicara tak karuan lebih baik menyusuri lorong ini secara perlahan dengan begitu kita mungkin saja menemukan jalan keluar!" Tambah Sean yang terlihat kesal.
Ya itulah Sean lebih suka melakukan apa yang ingin ia lakukan tanpa ada rasa menyesal.
Bagi Sean penyesalan akan datang di belakang, jadi ia memilih tetap berjalan menyusuri tempat yang amat gelap ini dari pada berdiam diri saja menunggu bantuan.
"Kita sudah berjalan melintasi lorong ini, mungkin saja kita sudah berjalan separuh dari lorong ini. Apakah kita akan menemukan jalan keluarnya Sean?"
Jessica bertanya melepaskan rasa canggung dan tegang di tubuhnya.
"Entahlah. Aku rasa kita terus berjalan saja agar bisa meraih jalan keluar itu!" Sean belum bisa memberikan jawaban yang tepat karena dirinya juga masih dalam keraguan.
keadaan makin mencengkam dan makin tegang. Keringat membanjiri tubuh.
Bahkan seberkas cahaya tak menampakan rupanya di sisi goa yang terselubung ini.
Sean mulai merasakan sesak, nafas yang ia tarik mulai tak stabil.
Kali ini Sean menghentikan langkahnya, Sean lebih memilih tersungkur perlahan di tanah seraya tangan kanannya memegang erat dadanya.
kekhawatiran Jessica amat jelas.
Ia memegang tubuh Sean penuh kendali karena ia tak mau Sean terluka.
"Aku baik-baik saja!" Timpal Sean tegas sambil tangannya melerai tangan Jessica yang memegang bahunya. Seperti menampik tangan yang anti di sentuh.
" Apakah kau yakin itu? Aku tidak ingin kau menyembunyikan sakit mu. Ayo katakan pada ku apa yang kau rasakan?" Sekali lagi Jessica bertanya dengan ekspresi makin cemas.
Namun Sean tak memberikan respon apapun.
Ia hanya termenung dan tertunduk.
Sean mulai merasakan kesakitan di kepalanya.
Seberkas ingatan pun muncul seolah menuntunnya.
Seperti sel syarafnya mulai menarik kencang aliran darah hingga ke otak dan memaksa otak itu bekerja keras untuk mengingat seberkas memori yang sempat punah dari ingatan.
Ia mulai merasakan sakit itu sangat parah tapi ada sisi lain yang ia rasakan.
Jantungnya berdegup amat kencang.
__ADS_1
bahkan otaknya ikut memaksa untuk bekerja lebih keras lagi lalu berputar putar tanpa arah dan tujuan.
Aliran darah, syaraf dan juga denyut nadi serta jantung semuanya seakan mengarah ke otak.
Mereka seperti menyalahkan otak agar mengingat dan menuntun remaja yang masih suci ini menemui tempat yang terang.
tempat yang penuh dengan cahaya yang mempesona.
Sean merasakan sakit itu telah memberikan sedikit ruang pemahaman akan lorong yang gelap.
Matanya terpejam sangat kuat karena tak mampu menahan rasa sakit dan nyilu yang amat mematikan.
Sayup-sayup suara panggilan Jessica terdengar sangat samar.
Pejaman mata itu ia alihkan menjadi sebuah konsentrasi yang mendalam.
Karena telah menuntun Sean menuju ke arah cahaya yang amat apik dan menggairahkan.
Ia merasa dirinya di dorong oleh sekilas ingatan lama.
Perlahan rasa sakit itu mulai mereda namun cahaya yang membanjiri ingatannya masih bisa ia lihat.
"Sean? Apakah kau bisa mendengarkan aku!" Suara Jessica sudah terdengar sangat jelas mengusik telinga Sean.
Sean akhirnya tersadar dari ingatan itu.
Namun nafasnya terengah-engah seperti seseorang yang sedang berlari dari ancaman bahaya.
Ia menarik dalam-dalam nafas dan mulai memperbaiki ritme jantungnya yang berdegup berirama ria.
"Aku tahu tempat itu?" Sean sudah tahu maksud dari rasa sakit yang ia rasa.
"Sean! coba kau tenangkan dulu dirimu. Lihatlah dirimu penuh dengan keringat," Jessica masih belum paham pada ucapan Sean.
"Aku telah menemukan tempat itu. Apakah kau tahu kita hampir sampai. Tempat itu tak jauh dari sini!" Sean bicara tak karuan, namun sekali lagi ia ingin mempertegas ucapan sebelumnya.
"Iya aku mengerti kau telah menemukan tempat itu? Tempat apa yang kau maksud!" Jessica masih heran pada ucapan rancu Sean yang penuh tanda tanya.
Tak ada angin tak ada hujan Sean bangkit dari sungkurannya .
Beranjak meninggalkan tempat itu menuju ke arah cahaya yang ia lihat dari sekilas ingatan yang terlintas.
Sekali lagi Sean yakin pada pilihannya, mengikuti tuntunan diri.
BERSAMBUNG.
**
**
**
__ADS_1
**
SARANJANA EPISODE 21