
Disebuah ruangan perpustakaan yang penuh dengan manuskrip tua, catatan kuno yang tersusun rapi. Pria tua (Lord Shutanhamun) berdiri sambil mengurut Surai rambut di jenggotnya.
Pria itu memandangi bola kaca sihir, yang memantau pergerakan Sean. Anak itu, dia selamat—membuat pria itu itu tersenyum sumringah.
“Yang mulia Tuan agung pangeran sudah menuntaskan misinya. Apakah tugas pangeran belum juga selesai?” tanya Dewi Handita penasaran.
“Masih banyak hal yang perlu dia lakukan. Perang tiga ribu tahun itu, sebentar lagi akan tiba. Kecuali, para perusak itu musnah sebelum perang itu berlangsung.”
“Maksud anda ...?”
Pria tua itu membalikkan badannya. “Elius tidak akan berhenti untuk memburu Lausius. Dia bukan musuh yang dianggap rendah. Terlebih, Zumirh dan Zurry serta dewa iblis juga akan datang dalam pertempuran ini. Aku yakin, mereka kembali bekerjasama untuk mendapatkan Lausius. Itulah kenapa, aku ingin misi yang aku embankan ini, sangat berat.”
“Jadi, maksud Tuan agung, pangeran harus jauh lebih kuat dari para iblis itu?” tebak Dewi Handita.
Pria tua itu mengangguk. “Jika dia lemah, siapa yang akan melindungi awan Metis ini?”
Dewi Handita mengangguk lemah, kini dia mulai mengerti maksud pria tua itu.
“Aku memahaminya,” katanya mengerti. “Tetapi, ada satu hal yang ingin aku ketahui. Bagaimana bisa pangeran menyanggupi semua keinginan Tuan agung. Setahu ku, pangeran sangat keras kepala. Dan ....”
“Dia cukup mengerti akan dirinya. Jadi tidak sulit untukku membujuknya.”
“Oh, jadi ..., Tuan agung yang melakukannya?” tebak Dewi Handita sesumbar.
Pria tua itu mengangguk, wajahnya sangat santai. Siapa sangka, dia adalah pria dibalik semua ini. Pria yang memaksa Sean menjalankan misi ini.
“Ini tidak kejam. Tetapi, sebuah keharusan.”
††††
Jalan didepan, Driyad sudah ancang-ancang. Menyipitkan matanya, melihat dari jauh adanya fatamorgana. Mereka akan melalui tempat yang gersang, jauh dari tempat teduh. Driyad mengakui, kalau dirinya sangat benci setiap kali bertemu dengan pasir.
“Padang pasir. Kita akan melaluinya?”
“Apakah hanya ini jalan-jalan satu-satunya keluar dari lembah ini?”
Sean bertanya balik, saat Driyad bertanya—yang dalam artian, pria ini meminta pendapat dari Sean dan kedua rekannya. Kemudian, Driyad mengangguk. “Tak ada jalan lain, kecuali kita kembali ke jalan bercabang dua sebelumnya. Dan ..., itu cukup jauh jika harus kembali pada rute itu.”
“Dan itulah jawabannya,” ujar Sean menukas.
Melalui Padang pasir? Ide gila. Tapi, Sean suka jalan itu. Dia tidak mungkin mundur kembali pada jalan sebelumnya, karena bagi Sean dia suka pada petualangan yang baru.
“Huh. Aku takut kulit ku terbakar jika Melawati gurun tandus ini. Oh pangeran, kau telah menyusahkan ku lagi,” gumam Driyad pelan. Dia mengiba, berharap di kasihani.
Tapi, apa daya. Bahkan Sean tak menoleh ke arahnya sedikitpun. Anak itu tetap fokus pada jalannya, diikuti oleh kedua temannya yang tak peduli pada Driyad.
“Mereka teman yang baik. Aku berharap, para petinggi langit membalas sikap dingin mereka pada ku.”
Melihat ketiganya sudah memasuki Padang pasir, Driyad berlari mengejar ketiganya. Dia tidak mau ketinggalan, demi apapun Driyad ingin berhenti untuk mengeluh. Tetapi dia tak ada kuasa, atau Sean akan menendangnya keluar dari rombongan.
“Crypto, tidakkah tempat ini mirip dengan Padang pasir Medusa?”
Sean melirih, dengan tatapan dingin. Pria itu membalasnya, sigap. “Hanya mirip, dan kedua tempat ini tidak ada kaitannya sama sekali.”
“Kau yakin itu?” sahut Amuria ikut berkata.
“Meskipun aku tidak pernah melewati tempat ini sebelumnya, tapi aku sedikit mengetahuinya.”
Amuria mencebikkan bibirnya, memanyun dengan ledekan. “Oke, aku mengerti. Crypto yang paling baik diantara kita,” kata Amuria berhenti berulah.
Sean yang berjalan di depan, mendadak berhenti. Ketiga pria di belakangnya, ikut berhenti saat Tuannya memasang mata waspada.
“Aku merasa, ini adalah tempat monster Padang pasir itu berada. Dia tidur di dekat sini.”
Mata Sean melirik tajam, kanan kiri. Ketiganya terpaku, juga mulai memperhatikan keadaan sekitar.
“Apakah pangeran lagi-lagi sedang mengatakan sebuah misteri mengenai tempat ini?” bisik Driyad pada Amuria.
Amuria mengangkat kedua bahunya. “Kita lihat saja nanti. Bukankah Crypto sudah mengatakannya, kalau pangeran penuh rahasia.”
“O ..., oke. Aku paham.”
Tak ada alasan lain bagi Driyad untuk meragukan Sean. Kecuali, dia menjadi bahan perundungan kedua rekannya.
“Aku merasakan hal yang sama dengan pangeran.” Crypto maju kedepan, selangkah dari Sean.
Pria itu menunduk, mengambil sejumput pasir lalu di genggam, menghisap aromanya. Sedangkan suasana di sekitarnya, nampak banyak batu dimana-mana. Tebing itu, agak menutupi Sean dari panasnya terik matahari. Suasana hening, hanya panas yang menderu.
“Jika itu benar tempatnya berada, kalian harus bersiap siaga. Dia mungkin jauh lebih kuat dari perkiraan kita,” ucap Sean memperingati.
Amuria dan Driyad mengangguk, memahami peringatan Sean.
“Baik pangeran. Kami mengerti,” balas Amuria seraya mencabut pedangnya.
“Ayo kita jalan lagi. Namun tetap perhatikan jalan, selalu waspada.”
Sean berjalan santai, dia tidak takut. Hanya khawatir pada ketiga pria itu—yang Sean lakukan saat ini.
Baru berjalan beberapa langkah, kini Sean mempertajam pendengarannya. Gendang telinga Sean menangkap sesuatu yang peka, dan ini kali keduanya dia mendengarkan suara ini.
“Ada apa pangeran? Apakah pangeran sedang merasakan sesuatu?" tanya Crypto ingin tahu.
“Suara luruh ini. Mereka ....”
Sean menyipitkan matanya, saat ada gumpalan pasir didepannya mendekat. Seperti ada badai yang datang, pasir itu menyerang. Awan debu yang tinggi, Sean merasakan kehadiran mereka.
“Dia datang!" pekik Sean memperingati.
Sean melirik ketiganya, mereka sudah siap dengan pedang masing-masing. Saat pasir itu mendekati kaki Sean dan ketiga pria itu, Sean memilih terbang. Ketiganya mundur, walau hampir pasir itu menghampiri mereka.
“Pangeran benar, iblis pasir itu mengetahui keberadaan kita!” kata Amuria membenarkan ucapan Sean.
“Ini bukan waktunya untuk berdiskusi. Bersiap-siap, iblis itu pasti di sekitar sini.”
__ADS_1
Crypto menyela. Dia menaikkan burka di wajahnya, menutupi setengah wajahnya hingga menyisakan mata. Sayap sudah mengembang, terbang dari atas menghindari awan debu, ilusi makhluk pasir itu.
Driyad memandang wajah Amuria, pria itu kemudian mengangguk. “Ini bukan waktunya untuk berdiam diri. Melompat ke tempat tinggi, saat ini selamatkan diri masing-masing.”
Driyad memahaminya, dengan sigap dia juga mengepakkan sayap. Tanpa pikir panjang, Driyad memilih menghindar dari awan debu itu.
Sean terbang di atas awan pasir yang menggumpal. Sedangkan ketiganya memilih berdiri di atas tebing-tebing.
“Pangeran, berhati-hatilah,” teriak Amuria dari seberang sana.
Sean merespon santai, sambil memandang penuh kehati-hatian. “Awan pasir ini makin pekat. Dan ....”
Ketika Sean sedang mengambil kesimpulan, dari kumpulan debu pekat itu muncul makhluk yang ....
“Apakah dia iblis pasir itu?” gumam pelan.
Sosok mengerikan, seperti seorang prajurit berbaju besi. Dia meraung, lebih familiar dengan monster. Hanya saja, terbuat dari pasir, membuatnya nampak seperti patung yang bergerak.
Ketiga tebing tempat Amuria, Crypto dan Driyad berdiri. Ketiganya saling lempar pandangan. Sesaat kemudian ....
“Ini saatnya,” ucap Driyad berisyarat.
Kedua pria disebelahnya mengangguk. Sedetik kemudian, mereka bertiga terbang, akrobatik di udara.
“Hiya ....”
Suara lengkingan Amuria, dengan pedang ditangan sudah menghunus tubuh yang sepenuhnya terbuat dari pasir itu. Mata Sean bercahaya, menandakan bahwa Sean sangat waspada.
“Jumlah makhluk ini satu, tapi ....”
“Amuria berhati-hatilah!”
Belum usai Sean berkata pelan, menebak sisi lain dari iblis pasir ini, Driyad sudah berteriak. Membuyarkan pikiran Sean, entah berantah.
Sialnya gerakan cepat Amuria telah terbaca oleh monster pasir itu. Dan Sean ingat, makhluk itu jauh lebih unggul dibanding dengan raja Mossarus. Lord Shutanhamun memberitahu Sean sebelumnya.
“Oh, tidak!”
Sean, kini dia harus menelan ludah pahit. Amuria terkena serangan monster itu. Tubuhnya terpental, menabrak dinding batu yang keras.
Sean ingin menangkap tubuh amuria dengan kecepatan kilatnya, namun sayang. Sean, dia terhalangi. Makhluk itu ternyata sensitif, dia mengetahui pergerakan Sean.
Suara dentuman itu amat keras. Hingga membuat keretakan di permukaan bebatuan akibat terbentur punggung Amuria.
Terhalau oleh debu pasir, Sean nyaris tak bisa melihat keadaan sekitar. Jika bukan cepat Sean menghindar, bisa jadi dia tak akan bisa menghindari serangan iblis pasir itu.
“Kau tak apa-apa?" tanya Driyad. Dia menghampiri Amuria, pria itu terluka. Mungkin tulang punggungnya patah.
“Aku baik-baik saja, tapi pangeran ....”
“Jaga saja dia wahai Driyad, biarkan aku yang menyerang iblis pasir ini bersama pangeran,” sahut Crypto terbang rendah di sekitar keduanya.
Driyad mengangguk, dia menjalankan instruksi dari Crypto. Amuria dipangku oleh Driyad, dan kini perhatian Crypto beralih pada iblis pasir itu.
“Pangeran, biarkan aku lebih dahulu yang menyerangnya!” Crypto berinisiatif, dan Sean menyetujuinya.
“Dia kuat. Pasti ada salah satu kelemahan yang dia miliki. Tapi apa?”
Sean mencoba menerka. Mengulur waktu, Crypto menjalankan tugasnya. Saat berada di dalam hutan di lembah gelap sebelumnya, Sean sudah memasang sebuah siasat.
Sean memperhatikan setiap gerakan. Dan ....
“Apa mungkin dia tidak memiliki sebuah kelemahan?”
Mungkin Sean ingin menyerah menerka, tapi itu tidak terjadi. Saat ini, semua bergantung pada Sean. Kini perhatian Sean terpatri untuk Crypto, pria yang sedang berusaha kuat mengalihkan perhatian iblis pasir.
Crypto menyerang dari berbagai arah, dengan pedang tajam bak samurainya itu, setiap pasir yang bergerak dengan raungan berat itu, dia tebas.
Suara dentingan adu pedang mengalun. Crypto berhasil menebas kaki, tangan dan pinggang iblis pasir. Dia tersungkur, karena tak bisa berpijak. Tubuhnya kemudian hancur, hilang, menyatu kembali dengan pasir yang gersang.
“Iblis seperti mu selemah ini? Apakah aku sudah menemukan lawan yang hebat?”
Crypto, baru kali ini pikirnya dia mampu melawan musuh terkuat para Lausius. Sebelumnya, dia tak pernah merasakan hal itu, kecuali hanya mengawal. Itu yang dia lakukan selama ini.
“Jangan senang dahulu Crypto, dibelakang mu!” sahut Sean memberitahu.
Crypto menoleh, dikiranya tubuh yang sudah hancur itu punah. Namun itu nyaris, dia ....
“Oh, Crypto, kau ....”
Sean mempercepat kepakan sayapnya, dengan kekuatan kilat dia berusaha menyelamatkan Crypto. Pria itu tidak waspada, jadi dia terkena serangan tangan besar iblis pasir.
“Kau kurang waspada!” ucap Sean pada Crypto. Sean berhasil mendapatkan pria itu, sebelum dia terbentur di tebing bebatuan, sama seperti yang dialami oleh Amuria.
“Pangeran, aku ..., uhuk!”
Di udara, Crypto memuntahkan darah segar dari sela bibirnya. Dia juga memegang dadanya, nampaknya Crypto terluka bagian dalam.
Sean menurunkan pria itu, tepat di sisi Amuria.
“Kau tetap disini, biarkan aku yang mengatasinya. Luka mu akan berakibat fatal jika kau memaksa untuk terus bergerak!”
“Tidak pangeran. Ini tugasku, biarkan aku yang mengatasinya!”
Sebelum Sean memulai, Driyad lebih dahulu menyela. Tanpa pikir panjang, menunggu persetujuan Sean, Driyad mengangkat pedangnya. Sepersekian detik, dia sudah di udara. Menyerang dengan kekuatan dahsyatnya.
“Driyad, dia ....”
Sean tak bisa menahannya, pria itu sudah liar dengan sayapnya. Sedangkan makhluk tinggi besar di atas, yang bahkan bayangannya hampir sama dengan bayangan awan, dia terbahak. Iblis itu sangat girang, dengan suara menggelegar.
“Haha ..., Driyad si makhluk rendahan itu. Kau ingin mencoba bermain-main dengan ku rupanya.”
“Tutup mulut mu monster rendahan. Kau akan mati ditangan ku!”
__ADS_1
Driyad, dia di Serang balik, ketika pria itu ingin menyerang. Alih-alih dia mampu mengatasinya, justru Driyad kewalahan.
Driyad hanya mampu menghindari tangan-tangan besar yang mencoba meraihnya itu. Beberapa kali pedangnya itu menepi di tubuh sang raksasa, namun itu tak membuahkan hasil—layaknya hal yang dilakukan oleh Crypto. Driyad tak berhasil menebas tubuh berlapis pasir itu, entah kenapa dia terlihat kebal.
Walau begitu, Driyad masih memiliki nyali. Dia belum mundur walau Driyad tahu dia pasti akan kalah.
“Apakah Driyad mampu mengatasi kekuatan iblis pasir. Aku rasa, dia terlalu lemah, dia akan terluka jika pangeran tak segera membantunya.”
Crypto cukup khawatir pada Driyad, meminta Sean segera mengakhiri pertarungan tak seimbang itu.
“Baiklah, kau dan Amuria tetap disini. Kalian pulihkan tenaga masing-masing.”
Crypto mengangguk. Dan, pria itu makin lemah terasa. Menyandarkan punggungnya di bebatuan, sambil memegang dadanya. Crypto merasa dia tak sanggup lagi untuk bertahan. Tetapi, bukan hampir mati, namun dia hanya lemah saja.
Memperhatikan Sean yang sedang bertindak, Amuria dan Crypto bersyukur Sean bisa melindungi mereka. Alih-alih menjalankan tugas, justru mereka yang menyusahkan Sean.
Di udara, Sean memperingati Driyad
“Driyad, menyingkirklah!” teriak Sean memberitahu.
Namun malang, Driyad tak menyadari tubuhnya telah terkena serangan itu. Membuatnya terlempar di bebatuan, mengulangi apa yang dialami Amuria.
“Cepat sekali!”
Lagi-lagi, Sean dibuat bingung akan hal ini. Kembali, tebing bebatuan itu menerima mangsa empuk.
Sean hanya sekedar menoleh, memperhatikan tubuh yang tersungkur lemah. Setelahnya, perhatian Sean terpatri untuk monster iblis itu.
“Haha ..., Lagi-lagi Lausius. Ternyata berita kelahirannya sudah tersebar. Aku hampir ketinggalan berita penting ini.”
Sean mencabut pedangnya, mengacung, memaksa Sean geram. “Aku datang kesini untuk membunuh mu. Kau harus hancur!”
“Siapa yang berkata aku akan mati ditangan Lausius?”
“Kau tak perlu tahu itu. Yang pastinya, hari ini apa yang telah kau perbuat. Merusak dan sebagainya, akan terbayar lunas dengan kematian mu ditangan ku!”
“Haha. Kau berusaha memprovokasi ku?”
Sean menggeleng pelan. “Inilah akhir mu iblis pasir.”
Sean menyerang lebih dahulu. Monster pasir menyeringai dibalik wajah pasir itu.
Tiba-tiba ditangannya, keluar pedang besar. Yang besarnya mungkin sepuluh kali lipat dari tubuh Sean.
“Kalau begitu, kau juga harus membayar atas kematian mu.”
Iblis pasir mengibaskan pedangnya, Sean berhasil menghindar dari serangan itu. Sean terbang kebelakang leher sang iblis, namun dia berhasil mengetahui keberadaan anak itu.
“Hiya ....”
Saat Sean ingin menghantam tengkuk leher iblis pasir, pedang besar sang monster menghalau Sean.
Adu pedang Sean dan pedang milik monster itu, terjadi hingga menyebabkan percikan api kecil.
Sean memutar tubuhnya, menaiki pedang itu, meniti di atasnya. Sean berjalan cepat, terbang hingga menaiki kepala sang iblis pasir.
Sean menghantam kepala sang monster yang ditutupi pelindung kepala. Terjadi keretakan di sana, tetapi tak membuat monster iblis itu goyah.
“Kau lincah juga rupanya. Tapi itu tidak akan lama, kau akan mati Lausius!”
Suara besar monster iblis terlihat mengganas. Dia memutar tubuhnya, mencari dimana Sean. Sean berada di atas tebing. Dia menemukan Sean, dengan cepat pedang besarnya menghantam ke tebing, tempat Sean berpijak.
Di sana, tebing yang tingginya sebatas dada sang monster, terbelah menjadi dua. Begitu dahsyatnya pukulan itu, hingga membuat siapa saja pasti ngeri melihatnya.
Secepat kilat Sean beralih tempat pijakan. Sean lihai menghindari setiap serangan sang monster. Dan tiba-tiba saja dia sudah berada di atas pundak sang iblis pasir.
“Kau ..., cukup sudah kau membuat ku marah. Kau harus mati!”
“Lakukan jika itu bisa!”
Iblis pasir itu menghantamkan pedangnya di bahu tempat Sean berdiri, Sean menghindar.
Sayangnya, Sean tidak terluka, justru sebelah bahu makhluk itu terputus akibat pedangnya sendiri.
“Akh ..., Kau ...,”
“Itu ulah mu sendiri. Maka, aku akan mengakhiri dominasi mu terhadap kekacauan. Kau harus lenyap sekarang!”
Sean terbang tepat dihadapan iblis pasir. Monster kuat itu terisak-isak kesakitan.
“Kau ..., akh. Aku akan membunuh mu Lausius kecil.”
Sambil meraung kesakitan, sang iblis pasir berupaya tetap menyerang Sean. Walau hanya dengan satu lengan, dia berusaha keras.
“Lakukan apapun yang kau mau. Tapi, kau harus tahu, kau akan mati sekarang!”
Sambil menghindari serangan dari iblis pasir, Sean melirih agak puas.
Sang iblis pasir kurang lincah, sulit untuk menangkap anak itu. Tidak seperti sebelumnya, kini pergerakan sang iblis terbatas.
“Kau ..., kau bermain curang rupanya. Kau ...,”
“Simpan saja kekesalan mu itu. Bersiap-siaplah untuk mati. Hiya ....”
Kepakan sayap Sean, dari atas sudah memposisikan diri. Pedang besar Sean sudah siap menghunus kepala sang monster.
Dalam hitungan detik ....
SRAK!!
Sean menapakkan kakinya di pasir, ketika dia berhasil membelah kedua bagian iblis pasir itu. Dengan pedang besarnya, memaksa dua tubuh itu terbagi rata.
Membentuk bagian sempurna, tubuh iblis pasir terbelah menjadi dua bagian utama. Kemudian hancur, menyatu menjadi pasir lagi. Kembali ke bentuknya yang semula.
__ADS_1
“Pangeran!”
[“Jangan lupa berikan like yang banyak ya. Atau tinggalkan review kalian mengenai novel ini. Aku sangat senang jika kalian mau memberikan kritik dan saran untuk Sean.”]