Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 143


__ADS_3

“Seribu empat puluh dua....... Seribu empat puluh....... Tiga...... Seribu empat.... Puluh em...... Pat. Huh....”



Seorang pria, menyeringai keringat besarnya. Lelah, sudah pasti.


Terlihat, dua orang pria menawan berjalan menaiki anak tangga, agak berat. Seakan langkah mereka, seperti menyeret bola besi dari neraka. Dua  pria muda itu nampak kelelahan ketika menaiki ribuan anak tangga.


Banyaknya anak tangga yang di lalui, seakan seperti memanjat pohon kelapa tanpa akhir.


Tangga yang pernah Sean lalui. Tepat di sisi di mana Sean berhenti, di situ pula kedua orang pemuda itu merentangkan tubuh mereka di lantai istana.


Keringat mengucur, membuat keduanya merasa gerah. Di tambah kaki yang terus berjalan, membuat keduanya seakan kakinya seperti mau putus.


Napas mereka ditarik amat berat, terengah-engah. Mereka kemudian memandangi wajah satu dan yang lainnya, lalu berpindah menatap matahari yang terik.


“Amuria.... Aku... Tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan hal ini pada Tuan agung. Aku....”


“Kau berkata apa. Kau hanya berpikir terlalu jauh. Kau terlalu takut menerima kenyataan.”


Amuria, dia memandang wajah pria di sebelahnya. Keduanya meregangkan tubuhnya, melepaskan letih yang menyandera.


Napas pria menawan yang berkata pada Amuria, sulit di normalisasi kembali. Butuh waktu untuknya agar bisa menormalkan tekanan udara yang masuk, menjangkau paru-paru.


“Aku tidak mau Tuan agung mengubah ku lagi dalam bentuk serigala semacam ini. Sudah cukup bagiku seperti ini. Aku tidak mau mengulangi lagi bentuk tubuh ini.”


“Hah....” Amuria mendesah, menggeleng lelah saat teman di sebelahnya hampir menyerah. “Jangankan kau. Aku pun sudah lelah hidup di dalam tubuh harimau Padang rumput itu. Aku tahu, Kali ini kita akan berakhir kembali menjadi hewan itu. Tetapi, setidaknya kita sudah bertemu dengan pangeran Lausius terakhir sebelum kita berubah lagi menjadi hewan memalukan itu.”


Amuria kini duduk, tangannya menopang dagu, lalu pikirannya terbawa memutar pada kisah masa lalu mereka.


“Kau mengingat kejadian itu?” tanya pria di sebelah Amuria. Dia adalah  Driyad, yang kini menyamakan duduk di sebelah Amuria. Dia mencoba menebak, apalagi jelas kalau wajah sendu itu gusar.


Amuria mengangguk. “Dulu kita tak bisa melindungi Lausius dari kejaran Elius. Sekarang, kita kembali kehilangan harapan. Apakah patut, kita di ampuni oleh Tuan agung.”


Keduanya kini memandang awan yang sama. Pikiran mereka kembali berputar ke peristiwa ribuan tahun yang lalu. Kejadian yang tak bisa di lupakan. Kejadian yang membuat Lord Shutanhamun murka, seakan seluruh dunia akan runtuh akibat kehilangan Lausius.


Kejadian itu terjadi tepat di sisi tebing gurun salju pegunungan Utara. Musim dingin yang pekat, menusuk kulit. Di sana, memang terkenal area berbahaya, tempat yang jauh dari perbatasan kota Saranjana.


Amuria dan Driyad, serta beberapa penjaga yang lainnya menjaga Lausius. Terdesak di sebuah lereng salju yang curam. Bersembunyi dari kejaran Elius, itu tak semudah yang di bayangkan.


“Haha.... Kini kalian sudah terjebak, bagaimana bisa kalian lepas dari kejaran ku Amuria dan Driyad.”


Lausius, dia terbang rendah di hadapan Amuria dan Driyad. Kedua pria menawan itu sebelumnya bukanlah serigala dan harimau. Keduanya adalah pengawal Lausius, dua pria menawan.


Akibat kematian Lausius ke sembilan puluh delapan, membuat keduanya bahkan penjaga yang lainnya berubah menjadi makhluk buas. Namun hanya rupa saja, pada dasarnya nafsu mereka tetap sama. Mereka tak memangsa hewan atau daging mentah.


“Kau terlalu sombong Elius. Kau terlalu menyombongkan diri untuk menangkap pangeran kami.”


Driyad mengacungkan tombaknya, Amuria demikian. Sedangkan, Herren dan yang lainnya sudah lumpuh tak mampu menghalau Elius. Mereka terluka di dalam hutan, tak bisa lagi berjalan menuju ke lereng bukit terjal ini.


Amuria dan Driyad memposisikan diri mereka, menutupi dan melindungi Lausius sebelum Sean lahir.


Di belakang mereka adalah sisi jurang yang tajam. Siapapun yang jatuh kesana, dapat di pastikan menjadi mayat.


Driyad dan Amuria pernah melalui tebing tinggi di bawah sana. Benar, ada banyak tulang hewan dan makhluk lainnya di sepanjang jurang. Di perkirakan mereka mati karena terjatuh.


Udara dingin menusuk, apalagi tak lama angin badai salju akan tiba. Pakaian jubah yang di pakai orang-orang di pinggir jurang ini sudah berkibar.

__ADS_1


Elius tertawa, saat melihat keberanian Driyad menentangnya. “Katakan. Apakah kalian berani melawan ku dengan kekuatan semut kalian?”


Elius memainkan jari jemarinya. Di sana keluar kekuatan sihirnya, senyum di wajah Elius memicik. Terbang rendah, bisa saja dia secepat kilat mendapatkan Lausius lemah di depannya. Hanya saja, Elius belum bermain-main dengan kedua pengawal lemah seperti Amuria dan Driyad.


“Paman. Bagaimana ini. Dia tak bisa dikalahkan saat ini.” Lausius membisik, sedangkan keduanya tak mampu memalingkan wajah. Takut-takut, jika Elius menyerang tak terduga.


“Jangan takut pangeran. Aku pastikan, tidak akan terjadi apapun pada pangeran,” balas Amuria tegas.


“Hahaha..... Keberanian yang patut di apresiasi,” sahut Elius girang.


Driyad dan Amuria menggertak gigi, menandakan berang. Driyad memandang wajah karibnya, lalu sepakat mengangguk. Mereka sudah  mengisyaratkan diri masing-masing.


“Sebaiknya, kita serang dia sekarang. Aku sudah muak berhadapan dengan Elius. Dia pantas mati di hadapan jurang Kematian ini,” ucap Driyad lebih dahulu.


Amuria mengangguk, tombak tajam sudah siap menusuk seisi tubuh Elius. Mengoyak usus, membuatnya menderita atas ambisinya itu.


“Kalau begitu, maafkan kami Elius. Kami harus mengakhiri hidup mu saat ini,” kata Amuria menggertak.


Elius mengeluarkan kekuatan di tangannya, sambil menatap dingin kedua penjaga tak berguna itu.


“Haha..... Lakukan apa yang kalian bisa. Aku menantikannya!”


Driyad mendengus sebal, dia lebih dahulu maju menyerang Elius. “Hiya..... Matilah kau!” teriak Driyad berang.


Amuria menepuk pundak Driyad, kemudian pria ini tersadar dari lamunannya.


“Kau terlalu jauh terhanyut dalam ingatan dimasa lalu,” kata Amuria menegur.


“Oh. Ternyata aku sudah mengenang kisah masa lalu itu sangat jauh. Aku kira, aku....”


Kembali, Amuria mengingatkan dengan ucapan sok bijaknya. Jika di hukum, dia juga terkena dampaknya. Tetapi....


“Hei. Tidakkah kau sadar tentang diri kita?”


Driyad mengingatkan, dan kini dia sadar telah terjadi sesuatu pada mereka. Sejak tadi, Driyad mengira kalau dirinya dan Amuria adalah serigala dan harimau jelek itu.


“Maksud mu..... Kita....”


“Sejak masuk pintu ke kota ini. Tidak kah kau dan aku menyadari kalau kita sudah berubah menjadi.....”


“Benar,” sambar Amuria cepat. Dia memperhatikan tangan, tubuhnya, kadang menyentuh kulit wajahnya. Kini wajah ku bukan lagi berbulu, namun sudah kulit layaknya Sean dan yang lainnya. “ Kita sudah berubah menjadi bentuk semula. Jangan-jangan...”


“Apakah kau berpikiran yang sama seperti ku?”


Amuria mengangguk. “Pangeran Lausius itu di sini?”


Keduanya berpikiran hal yang sama. Yakni, Sean.


Mereka kini berubah kembali menjadi semula jika, mereka bisa membawa Lausius muda itu kembali.


Atau, dengan kata lain, mereka akan kembali kedalam bentuk tubuh semula jika Lausius terakhir sudah lahir.


Seketika, keduanya saling lempar pandangan. Tak lama kemudian, mereka beranjak berlari kecil masuk kedalam istana.


“Aku yakin, dia pasti di sini,” kata Driyad sumringah. Sambil berlari, dia tak bisa melepaskan ingatannya pada Sean.


Amuria membalas, dia senada dengan Driyad.

__ADS_1


“Kau benar, dia sepertinya di sini.”


††††


“Hei, dari tadi kau selalu tersenyum pada ku. Tidakkah kau lelah selalu mengukir wajah bahagia setiap saat seperti itu!”


Sean lelah, jujur. Sedari tadi, dirinya bertanya, merengek meminta penjelasan pada pria tua yang datang dari mimpinya ini, lalu muncul di hadapannya. Sean tak tahu, kenapa dia selalu mengukir wajah bahagia seperti itu.


Sebal, sungguh Sean sudah merasakannya. Dia, akh. Sean ingin melupakannya. Namun tak bisa, wajah tersenyum apalagi kulit keriput itu selalu membayang-bayangi pikiran Sean.


“Oke. Jika kau tak mau menjawab semua pertanyaan ku. Aku tak masalah. Asal, aku mohon, kali ini. Kau mau menjawab pertanyaan ku. Beritahu aku, jalan keluar dari sini. Aku mohon, kalian tidak menghalangi kepergian ku dan kedua teman ku dari sini.”


Lagi-lagi, pikir Sean. Si tua di hadapannya ini tetap tersenyum ramah. Di tambah, tangannya sedari tadi pula tak ada lelahnya mengurut dagunya.


“Sean.” Edward datang dari belakang, menepuk pundak Sean, dia mendekati temannya itu. “Aku harus mengatakan hal ini pada mu.”


“Tentang apa? Jangan katakan kalau kau ingin membual!”


Sean sudah cukup sebal pada si tua di depannya. Dia tidak mau, Edward menambahkan kesal yang tengah Sean hadapi sekarang.


“Sebenarnya. Kau, aku, dan Jessica. Kita tidak akan bisa kembali ke tempat di mana kita berada sebelumnya.”


“Maksdu mu?” Sean mengangkat kedua alisnya, Sean mulai bingung pada ucapan Edward.


“Kita.....”


“Tidak akan bisa kembali ke dunia manusia saat ini, Sean!” Jessica menyahut. Dia memberitahu.


Sementara Sean, dia tersenyum miring. Sean seperti salah mendengar ucapan aneh Jessica.


“Ayolah Jessica, Eed. Kalian jangan membual. Mana mungkin kita tidak bisa kembali ke dunia kita. Ini bukan saatnya bercanda.”


Sean masih bersikap polos, tak akan dia percaya pada ucapan Jessica ataupun Edward.


“Sungguh Sean, aku tak berbohong pada mu.” Kembali Edward mencoba menyakinkan Sean. Sedangkan Edward, jelas dia tahu tidak akan bisa kembali ke tempat di mana mereka seharusnya berada.


Di pulau, di atas sana. Dimana Edward tersesat. Selama tinggal di istana si tua, Edward di beritahu oleh Lord Shutanhamun, bahwa mereka tak akan bisa kembali.


Sean mendengkus kesal, kemudian Sean memutarkan tubuhnya. Berbalik, menatap pria tua di singgasananya.


“Apakah benar jika kami tidak bisa keluar dari tempat ini?” tanya Sean pada Lord Shutanhamun.


Pria tua itu masih bersikap sok wibawa, Sean melihatnya begitu. Tak menutup kemungkinan, Sean makin kesal padanya.


“Jika kau ingin keluar dari tempat ini. Ada satu hal yang bisa kau lakukan.”


“Apa?” sambar Sean tanpa ragu. “Katakan, aku bisa melakukannya. Asal kami bisa keluar dari tempat ini,” kata Sean lagi, menyanggupi permintaan si tua itu.


“Kau yakin mampu menyanggupinya?”


Sean mengangguk, dia jauh lebih yakin dari apapun. “Kau tak perlu meragukan ku. Aku bisa melakukan apapun yang kau pinta.”


Pria tua sumringah, senang rasanya bisa mendengar kata-kata jantan Sean.


“Baiklah. Kau mendapatkan kesempatan itu.”


††††††

__ADS_1


__ADS_2