Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 126


__ADS_3

“Hiya!”


Sean sebenarnya sudah malas bertarung. Akan tetapi ketiga orang itu malah makin membuatnya terus mengeluarkan kemampuan. Dan kabar buruknya, Sean tidak bisa menghindar dari mereka—selain membalas serangan Nekabudzer dan dua orang lainnya. Walau terpaksa, Sean tetap mengangkat pedangnya, membalas serangan ketiga makhluk itu.


“Hiya!”


Sean membalas. Dari jarak beberapa meter, Sean mengibaskan pedang merahnya. Dari ujung pedang yang bersinar merah darah ini, keluar kilatan cahaya kekuatan.


Tepat mengenai Nekabudzer, Elius dan Xavier. Mereka tak bisa mengelak dari serangan Sean.


Kembali, mereka kalah lagi. Mereka terhuyung, jatuh pun mereka layaknya pejuang yang benar-benar sulit di kalahkan.


Tidak butuh kekuatan penuh, ketiganya terhempas.


“Ada apa ini. Kenapa Lausius ini makin tak tertandingi. Bahkan sulit di kalahkan. Padahal penyatuan dua jiwa ini belum sampai satu hari. Seharusnya anak ini tidak lebih kuat dari Medusa. Tetapi kenapa dia berbeda. Uhuk...”


Setelah bergumam pelan, Nekabudzer terbatuk keras. Darah segar dia muntahkan. Pertanda bawah serangan Sean tidaklah lemah.


Sean memperhatikan lagi lawan-lawannya. Setelah mengedarkan pandangannya, Sean terbang menuju ke Medusa.


Mengangkat wanita ular itu, lalu membawanya terbang meninggalkan istana Medusa.


“Kita harus pergi. Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi di sini,” kata Sean pada Medusa.


Medusa tersenyum, dia mampu merasakan napas segar Sean. “Menuju ke Utara, di sana akan aman.”


Medusa sedang menyarankan Sean. Apalagi dari dada Sean, dia sedikit terluka akibat tak sengaja terkena pedang Zurry.


“Mereka kabur!” Xavier berusaha mengejar, akan tetapi Nekabudzer lebih dahulu mengacungkan tangannya, menarik pundak raja neraka ini agar tetap di tempatnya.


“Kita akan menemukan mereka di perbatasan menuju ke kota Saranjana. Biarkan mereka pergi,” kata Nekabudzer memberitahu.


“Kapan mereka akan tiba di sana?” tanya Xavier.


“Dia hari lagi.”


“Dan selama dua hari ini, kita harus memulihkan tenaga,” sahut Elius berkata.


Benar apa kata kedua orang itu. Seharusnya Xavier tidak mengejar Sean lagi. Dia juga tidak akan mampu mengejar Sean, karena tenaganya terus terkuras.


Lebih-lebih, Sean terbang dengan kecepatan tinggi, tentu gila kalau ingin menyamai kecepatan anak itu. Xavier tidak mau mengambil resiko, atau dia akan berakhir kali ini.


Karena Nekabudzer lebih tahu dari pada dirinya, Xavier bisa berbuat apa. “Baiklah kalau begitu. Sebaiknya aku pergi dahulu. Aku akan kembali ke perbatasan gurun. Aku pastikan Lausius itu akan menjadi milik ku kali ini!”


Setelah berkata dia menghilang di balik pasir. Sementara Elius, dia terlihat baik-baik saja. Dia memang memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya setelah terluka dalam pertarungan.


“Sudah kalah, masih sombong. Aku pastikan, setelah ini aku akan merobek mulutnya,” gerutu Elius berang.


Memang Elius selalu membenci Xavier, sampai kapan pun.


Nekabudzer juga terlihat sudah pulih setelah mengendalikan jiwa kekalahannya. Walau sempat memuntahkan darah, namun itu hanya efeknya saja.


“Kita pergi sekarang. Kita akan kembali ke perbatasan gurun. Beberapa hari lagi, Lausius dan Medusa akan kesana.”


Elius mengangguk. Kemudian keduanya mengepakkan sayap, terbang meninggalkan istana Medusa.


Zurry juga sudah membaik. Hampir saja dia kalah telak oleh Sean, jika tidak segera mengendalikan kekuatan anak itu. Atau bisa-bisa seluruh tubuhnya terkoyak berantakan.


“Batu jiwa dan Lausius itu tidak kita dapatkan hari ini. Tapi kita masih punya kesempatan lain.”


Zurry mengangguk paham. Sialnya bagi dua iblis ini, Sean tidak mampu di prediksi seperti yang mereka bayangkan. Jadilah, karena terlalu meremehkan lawannya, Zurry menerima kekalahan. Bahkan ini dalam sejarah hidupnya yang terkenal panjang umur.


“Ayo kita pergi. Kita akan kembali ke pintu perbatasan. Mereka akan ada di sana beberapa hari lagi.”


Zurry mengepakkan sayapnya di ikuti oleh Zumirh. Mereka meninggalkan tempat ini dengan kekalahan.


“Baiklah!” balas Zumirh patuh. Keduanya tak bisa berlama-lama di tempat ini, lagi pula kedua iblis ini tak terbiasa hinggap di tanah kekuasaan kaum lainnya.


Tetua ular memperhatikan dua sayap yang sudah meninggalkan gurun dingin di malam hari ini. Kemudian dia menyeringai tersenyum.


“Usaha kalian untuk mendapatkan batu permata dan Lausius itu gagal. Untung dewi ular kami lebih cerdik. Jika tidak, mungkin kami akan kehilangan Dewi ular kami saat ini.”


»»»»»


Sean terbang melewati jalur yang sempat dia hitung setiap jaraknya. Ya, jarak setiap tebing sebagai rencana  pelariannya sebelumnya. Secepat kilat, mereka melesat melewati celah-celah bebatuan yang sempit.

__ADS_1


Medusa pun terlihat berpegangan erat, menggantung di leher Sean.


Medusa menuntun Sean pergi ke sebuah lembah bukit di hutan bagian Utara.


Hutan lebat itu di penuhi rerumputan hijau. Sean membawa Medusa masuk kedalam sebuah goa besar, di dalamnya terdapat seperti kuil. Ada patung ular besar di berdiri kokoh, juga ada tempat api sebagai penerangan.


Sementara ada begitu banyak bunga-bunga bercahaya cantik yang tumbuh liar. Sean seolah tergoda melihatnya.


Sean meninggalkan tubuh Medusa di atas tempat tidur batu es. Uapnya masih alami, keluar bagai batu giok.


“Kau terluka pangeran.” Medusa menarik tangan Sean yang hendak menjauh darinya. Sean berbalik.


“Aku tak mengapa. Kau jangan khawatir kan aku!” balas Sean datar.


“Tidak. Pangeran harus segera di obati!”


Medusa beranjak dari tempat duduknya, meminta Sean duduk sebentar, dia pergi menuju ke bunga-bunga bercahaya cantik di dekat telaga kecil di dalam goa.


“Apa yang dia lakukan?” Sean memperhatikan, lekuk tubuhnya dari belakang mengundang Sean ingin tahu.


Tidak lama Medusa kembali, dengan tangan di penuhi tumbuhan nan cantik.


“Pangeran harus segera di obati. Jika tidak, maka luka ini akan menjadi serius.”


Medusa menempelkan obat dari bunga-bunga yang telah dia lembutkan tadi. Sean sedikit meringis menahan perihnya luka di sentuh oleh obat Medusa. Rasanya seperti di berikan tetesan air lemon.


Sean memperhatikannya dengan teliti, jari jemari yang lentik itu agak telaten mengobatinya. Dan itu bersebrangan dengan image Medusa yang tegas.


“Apakah kau pernah belajar mengenai cara mengobati orang yang terluka?” tanya Sean. Setelah penasaran, dia memberanikan diri untuk bertanya.


Medusa mendesah, dia telah selesai mengobati Sean. Lalu duduk di sebelahnya, dengan sudut bibir yang sudah tersenyum manis.


“Dulu aku pernah mengobati seorang pria menawan. Dia juga pernah terluka akibat tusukan dari pedang lawannya.”


“Pria yang pernah kau ceritakan pada ku?” Sean menebak.


Medusa mengangguk pelan. “Dia pria yang sama seperti pangeran. Pria yang aku temui ribuan tahun yang lalu. Pria menawan itu.”


“More!” kembali Sean menebak. Dan Medusa kembali memberikan senyum terbaiknya.


“Dia pria yang menganggap aku sebagai wanita yang kuat. Dan dia juga pernah berjanji akan membantu kaum ular mencapai puncak keabadian. Namun, setelah dia berkata begitu. Dia menghilang setelah ribuan tahun. Pada akhirnya aku kehilangan dia hingga saat ini.”


“Aku tahu kau pasti sudah mengalami kesengsaraan selama menjalani kehidupan mu. Aku sedikit memahami keadaan mu.”


Tidak tahu, apakah kata-katanya tadi sudah menghibur Medusa atau tidak. Yang jelas, Sean hanya bisa memapah pundak yang rapuh itu.


“Ehm. Ngomong-ngomong, tempat apa ini. Kenapa ada kuil ular. Tidakkah kau pemilik tempat ini?”


Sean beralih bicara. Mata Sean berputar jengah, menatap seisi tempat di dalam goa ini.


“Sebenarnya ini adalah tempat pemujaan rahasia ku. Namun aku jarang pergi ke tempat ini. Aku akan ke sini jika aku merindukan sosok More,” kata Medusa memberitahu.


“Ehm...” Sean paham. Kemungkinan ini adalah tempatnya membantu More yang terluka. Bisa jadi, setelah dia mengisahkan masa lalunya, itu kemungkinan terjadi di sini. “Baiklah. Aku mengerti!”


Kemudian Sean memperhatikan lagi tempat ini. Saat menoleh ke kanan, ada satu lorong terang. Sean penasaran, dia ingin ke sana.


“Tempat apa itu?” tanya Sean.


“Lorong ini menuju ke air terjun.”


“Air terjun?” Sean memandangi wajah Medusa. Mulai, ide liar itu bergumul di otaknya.


Medusa mengangguk. “Pangeran ingin kesana?”


Jangan di tanya, Sean tentu antusias. “Kenapa tidak?” balasnya sumringah. Sean menuju ke lorong yang bersinar, seperti..... Mungkin sudah siang? Sean berpikir demikian. Matahari mudah muncul, bisa jadi begitu.


Ketika sampai di ujung lorong, dan yah. Ternyata hanya fatamorgana. Hampir tadi Sean terkecoh.


Namun, setidaknya lebih asik. Benar, tebing di goa ini adalah hamparan rumput hijau, ada air terjun mengalir di bawah tebing, di ujung tebing goa ini ada tebing yang di selimuti hutan lebat.


Ketika melihat Sean sumringah, Medusa ikut tersenyum.


“Hei. Apakah air di bawah ada buaya nya?” tanya Sean.


“Tidak,” balas Medusa. “Ada apa? Pangeran berniat berenang di bawah?”

__ADS_1


Sean mengangguk, memanyunkan bibirnya sempurna dengan antusias gila. “Aku ingin menangkap ikan. Aku merasa sudah lapar!”


Medusa cengingisan, lucu melihat Sean yang riang. Setidaknya, tempat gelap yang di terangi oleh cahaya rembulan ini makin terang karena sinar dari tubuh Sean.


“Kau tunggu di atas. Aku akan menangkap satu ikan untuk mu!”


Dari pinggir tebing, Sean melompat ke bawah. Di dasar air terjun, Sean yakin kalau ada banyak ikan besar di sana.


“Pangeran!” Medusa mencoba menahannya, akan tetapi pria tak berbaju ini sudah lebih dahulu melompat. “Kau benar-benar mirip More!”


Sean berenang, di dalam air yang agak gelap ini. Ada banyak ikan besar, bercahaya. Unik. Karena begitu banyak ikan, Sean tidak perlu menggunakan senjata untuk menangkapnya. Cukup menangkap satu cahaya, maka satu ikan besar sudah di tangan.


“Aku dapat!” teriak Sean dari bawah. Medusa ada di atasnya, masih nampak wanita ular itu di pelipis Sean.


Setelah mendapatkan dua ikan, Sean terbang ke atas. Kembali ke tebing goa. Setidaknya, Sean sudah terbiasa dengan sayap-sayap dari cahaya di punggungnya ini.


»»»»»»»»»»»


“Makanlah ikan mu. Kau pasti belum makan!” Sean memberikan ikan besar hasil panggangannya pada Medusa, tanpa ragu.


Mereka duduk di pinggir tebing goa, dengan api besar di depan mereka. Setidaknya malam ini tidak terasa dingin, karena ada api yang menghangatkan.


Medusa mengambil ikan pemberian Sean, namun tak sampai memakannya, hanya memandanginya saja. Hal ini membuat Sean bergidik heran melihatnya.


“Kenapa kau tak memakannya?” tanya Sean bingung. “Apakah tidak enak?”


Medusa menggeleng. “Aku tidak pernah memakan makan seperti ini sebelumnya.”


“Kau makan daging mentah?” sambar Sean terperangah.


“Tidak, tidak, tidak. Aku mana mungkin melakukannya!” Dnegan cepat Medusa menjelaskan. Setidaknya dia bukan makhluk yang buruk, memakan makanan mentah. Baginya itu menjijikan.


“Lalu?”


“Aku...... Hanya makan makanan pemberian dewa!”


“Hah...”


“Makanan dewa,” Medusa mengulangi.


Sean yang sedang memakan ikannya, tiba-tiba tersedak. Medusa membantu Sean, memberikan air minum dari gelas bambu.


“Apakah kau kaget?” tanya Medusa.


“Lebih dari itu.”


Medusa tersenyum. Seharusnya dia tidak mengatakan hal ini pada Sean, namun pada akhirnya Sean sudah tahu kalau Medusa memakan makanan dewa.


“Sebenarnya. Makanan dewa yang aku maksud adalah batu permata pemberian dari dewa ular. Itulah kenapa aku tidak pernah memakan makanan seperti ini. Karena sebenarnya aku tidak memiliki nafsu makan seperti pangeran dan yang lainnya.”


“Apakah semua kaum ular begitu.”


“Tidak,” Medusa menggeleng. “Ada sebagian dari kaum ku yang memakan makanan layaknya makhluk biasa. Aku jarang memperhatikan makanan apa yang kaum ku makan.”


Oh, Sean paham sekarang. Itulah kenapa wanita ini terlihat sangat ramping. Mungkin karena dia selalu diet setiap saat. Diet ketat.


Ketika mereka asik berbincang, Sean melirik ke sekeliling. Ada suara yang jelas Sean dengar. Dia agak sensitif mengenai suara beroktan rendah.


“Ada apa pangeran?” tanya Medusa. Sean sudah beranjak, bahkan sudah bersiap-siap dengan pedangnya. Menumpas siapa yang mengawasi mereka.


“Aku merasa ada yang sedang mengawasi kita.”


Medusa ikut melirik sekitar. Dia menutup matanya, melalui kekuatan sihir di matanya, mungkin cukup membantunya melihat siapa yang berani mengusik dirinya dan Sean.


Sesaat setelah menutup matanya, Medusa tersenyum. Nampaknya dia sudah menemukan makhluk yang mengawasi mereka.


“Mereka ada di sana!” tunjuk Medusa ke arah rerumputan di depan Sean.


Sesaat kemudian, puluhan serigala bertanduk keluar. Wow, fantastis. Ukuran mereka sama besarnya seperti ukuran Driyad. Hanya saja, tubuh mereka ada api. Bulu putih nan lembut ini, Sean memperkirakan kalau mereka berasal dari daerah salju.


Ehm, Sean tersenyum kecut. Sesaat kemudian—


ROARK!!


Serigala mulai menyerang, sedangkan Sean menebaskan pedangnya, menumpas semua serigala berbahaya ini.  Medusa tak bertindak, hanya makhluk kecil. Serigala neraka, Medusa yakin, kalau itu suruhan dewa iblis.

__ADS_1


“Matilah kalian!” pekik Sean beringas.


TBC


__ADS_2