
Aaah.... Byur..... Rintik-rintik air membasahi badan. Semula Sean berpikir kalau dia akan berakhir pada kematian. Ternyata, di bawah kaki goa, ada air terjun, mirip Niagara. Mereka masuk kedalam air itu. Tenggelam, air itu melahap tubuh mereka. Hingga Sean dan Jessica tak sadarkan diri.
Arus sungai membawa Sean dan Jessica tiba di pinggir bibir sungai. Begitu panjangnya sungai, sampai keesokan paginya mereka di muntah-kan oleh air di tempat yang hening.
Sean membuka matanya, sesaat setelah sinar matahari pagi menyeruak di menyilaukan matanya. Dia menutup mata dengan telapak tangan, silau itu membuatnya tak mampu melihat dengan jelas.
Suara merdu burung-burung yang berkicau membuat Sean tersadar kalau dia entah ada di mana. Di sebelah Sean, Jessica juga terbaring. Anak itu belum tersadar sepenuhnya. Sean membangunkan Jessica, gadis itu kelelahan.
"Jessica.... Jessica...." Terdengar suara panggilan itu masuk ke dalam gendang telinga gadis yang sedang bermimpi di alam jiwa. Suara lembut itu adalah Sean, Jessica mengenalinya.
Jessica membuka matanya, di depan wajahnya, Sean terlihat agak samar-samar.
Uhuk-uhuk! Kesadaran Jessica membuatnya memuntahkan begitu banyak air. Dia tersedak, ah, air itu masuk ke dalam lambungnya. Rasanya air itu membuat Jessica kekenyangan.
"Kau sudah sadar," Sean menyambutnya dengan perasaan lega.
"Sean? Kau baik-baik saja?" ingatan semalam membuat Jessica tersadar sepenuhnya. Dia memeriksa seluruh bagian tubuh Sean. "Kau.... Apakah tak terjadi apapun pada mu?"
"Aku baik-baik saja," jawab Sean. "Kau tak perlu mencemaskan aku."
"Oh, syukurlah," Jessica melepaskan nafas lega. "Aku pikir semalam. Kau dan aku—"
"Lupakan kejadian semalam," kata Sean beralih. "Kita sebaiknya mencari Driyad dahulu. Kita kehilangan mereka semalam."
Jessica mengingat-ingat. Ya, sebenarnya tadi malam mereka terpisah dari dua makhluk itu. Setelah itu, dia ingat si buta melempar tubuhnya. Sebelumnya dia bertarung dengan si kerdil menjijikan. "Ya, aku ingat," Jessica mendadak menjentikkan jarinya. "Tadi malam mereka ada di depan kita. Lalu...... Ada lubang besar yang menarik kita kebawah. Dan, setelah itu....."
Mimpi semalam berakhir menggantung. Jessica menyesalinya, kenapa dia tidak melihat akhir dari kejadian semalam.
"Kau tahu, pada akhirnya kita terdampar di sini." Sean memberitahu. Jessica masih mengingat-ingat, sedangkan Sean sudah jelas tahu kejadian itu. Semalam dia yang memapahnya keluar dari goa. Bahkan Jessica mungkin tidak akan tahu kalau semalam ada batu besar yang mengejar mereka. "Ayo, kita pergi dari sini," kata Sean mengajak.
Matahari sudah agak meninggi, teriknya mulai menyengat kulit karena begitu panas.
Sean mengulurkan tangannya pada Jessica, dia membantu gadis itu berdiri. Tapi, Jessica..... Semalam benar-benar bingung. Bagaimana bisa dia ada pinggir sungai. Ehm, lebih tepatnya di pinggir rawa-rawa berpasir.
"Ngomong-ngomong, bagaiman kita bisa lolos dari si buta?" tanya Jessica.
Sean berjalan di depan. Menebas-nebas semak-semak, dia membuka jalan. Ya, yang tampak di mata, hanya semak-semak tak berguna. Tak ada jalan yang terlihat, semua terhalang oleh rumputan liar itu. Sean melihat Jessica sekilas, terlihat dia menantikan jawaban atas pertanyaan-nya itu. "Dia sudah mati," ucap Sean datar.
"Hah... Mati?'
Sean mengangguk, itulah yang dia ucapkan.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" jujur, Jessica penasaran dengan bagian ini. Si penyihir buta bisa mati, sebuah keajaiban bagi Jessica saat mendengar ucapan itu. "Apa kau yakin? Apa kau melihatnya? Kau sungguh-sungguh melihat dengan mata kepala mu sendiri kah?" Jessica mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.
"Entahlah," jawab Sean lagi. "Aku saja bingung. Aku hanya melihat dia tiba-tiba sudah mati. Tidak tahu siapa yang membunuhnya."
"Hm...!" Jessica mengurut dagu. Benar-benar suatu misteri saat mengetahui kematian si buta, tapi dia tidak tahu bagaimana bisa itu terjadi. "Apa mungkin dia terkena serangan jantung?" tebak Jessica.
Sean meliriknya sekilas. "Lelucon konyol."
__ADS_1
"Hei, ayolah Bung," Jessica berjalan menyamai langkah Sean. Oh, bagusnya adalah, dia berjalan tepat di samping Sean, melangkah mundur. "Bisa saja dia mati karena serangan jantung. Atau memang dia sejak awal ada penyakit semacam itu. Siapa saja tidak tahu umur kapan akan mati."
Sean menggeleng. Imajinasi liar Jessica di luar akal sehat. Sean membuang nafas sekali tarik. Oh, anak itu membuatnya sebal. "Kau pikir di sering pergi ke klinik? Menemui dokter spesialis, lalu dia diagnosa memiliki riwayat penyakit jantung. Seperti itukah yang kau pikirkan?" Sean menambahkan. Kekonyolan Jessica patut membuat Sean bergidik ngilu.
"Aku membayangkannya seperti itu. Lagi pula, kematiannya memang penuh misteri. Bahkan kau sendiri saja tidak tahu bagaimana dia mati? Kau yang terakhir bersamanya." Jessica menuding. Dia hanya bisa menebak atas apa yang membuat si buta bisa mati.
"Bukan berarti aku akan tahu segala hal tentang dia," Sean menimpal ucapannya.
Ada benar juga apa yang di katakan Sean. Pikir Jessica, — Sean yang terakhir masih membuka matanya. Jelas dia pasti tahu apa kejadian selanjutnya. Tapi, bukan berarti temannya itu tahu segala hal seperti yang di tudingkan-nya tadi.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kita bisa sampai di anak sungai itu?" Jessica beralih berkata. "Tidakkah ini menjadi suatu misteri?"
"Semisal: Memiliki kekuatan gaib, lalu tanpa sengaja kekuatan itu membantu kita terbebas dari si buta. Atau, ada seorang pahlawan datang menolong kita. Apakah begitu yang kau pikirkan?" Sean menebak. Anak itu mulai bermain-main lagi dengan logika tak masuk akalnya itu.
"Aku rasa bukan sesuatu yang buruk berpikir seperti itu," timpalnya pada ucapan Sean.
Sean mengibas-ngibas pedangnya membebaskan langkah mereka dari semak-semak. Dia tidak begitu memikirkan pertanyaannya itu.
Jessica masih terpaku pada pikiran liarnya. Bagaimana bisa mereka terbebas dari makhluk itu. Bagaimana mereka bisa di pinggir sungai. Dan...... "Bagaimana kita selamat Sean?" tanya Jessica lagi. Di ujung kalimatnya, dia mengagetkan Sean.
"Whoohoo! Bruk!" Sean terjatuh di semak-semak. "Ah," erangnya kesakitan. Di siku-siku tangan Sean, darah keluar. Sean terluka kecil karena tak memperhatikan langkahnya. "Dia mengejutkan aku," ucapnya pelan.
"Kau tak apa-apa Sean?" Jessica mengulurkan bantuan.
"Aku baik-baik saja," jawab Sean ketus. Berdiri, lalu meniup luka yang terasa perih itu.
"Maaf!"
"Luka itu," ucap Jessica bersalah. "Aku mengagetkan mu, pasti rasanya kau hampir mati. Atau jantung mu terasa copot saat aku tiba-tiba melakukannya."
"Aku rasa, kau hampir membunuh ku," gerutu Sean sebal. Perihnya luka, masih Sean tahan. Ada rerumputan tajam di sana. Seperti duri yang menjalar, mengganggu langkahnya. Sean meniup-niup luka itu agar tak terlalu perih.
"Oh benarkah?" kata Jessica hampir ketakutan. "Maafkan aku, Sean. Maafkan aku, —aku ceroboh — aku tak akan mengulanginya lagi."
"Tsk," Sean men-decak seraya menggeleng kepala. "Kau memang sengaja ingin melakukannya pada ku."
"Akh, tidak. Mana mungkin aku sengaja melakukannya pada mu. Aku bersumpah, demi nama Bibi Jane, aku tidak akan menyakiti putra semata wayangnya. Demi bukit di ufuk barat, demi sungai Niagara. Aku tidak sengaja melakukannya. Aku berani bersumpah, Sean!"
Ya, ya, ya. Sean hanya bergidik menggeleng kepala. Tingkah Jessica membuatnya ingin menendangnya hingga ke bulan. "Oke, baiklah. Kau memang tak sengaja."
"Kau memaafkan ku?"
Sean menggeleng. "Tidak?!"
"Lalu apa artinya tadi?" tuntut Jessica.
"Hanya...... Sejenis..... Intermezzo," Sean berkata bingung. Anak itu mencecarnya.
"Jadi kau mengatakan bahwa tadi hanya lelucon?"
__ADS_1
"Bisa di bilang begitu," ledek Sean.
Jessica memalingkan wajahnya, dia sewot pada Sean. Jessica melipat tangan di dada, dia berjalan tak memperhatikan langkahnya hingga.....
"Ah,......." Jessica terjatuh di semak-semak belukar. Sean yang melihatnya terkekeh, Jessica, gadis itu terkena nasib sial. "Ah. Menyebalkan. Kenapa hari ini amat menyebalkan."
Sean sebenarnya tidak mau mengulurkan tangannya pada Jessica, tapi, anak itu amat malang. Sean sampai tak bisa berhenti menahan kekeh-an.
"Apa kau tulus ingin membantu ku?" tanya Jessica pada Sean. Uluran tangan yang putih bersih itu, membuat Jessica berdebar. "Jangan membantu ku jika hanya ingin meledek."
"Aku tidak meledek."
"Kau yakin tidak meledek ku?" tanya Jessica kembali memastikan.
Sean mengangguk pelan. Wajahnya terlihat tersenyum, Jessica hampir saja jatuh di pesona anak sialan itu. "Aku tulus. Lagi pula, aku tak ada dendam apapun pada mu?" ungkap Sean jujur.
Jessica menerima uluran tangan itu. Dia, agak terpaksa menjabat tangan Sean. Ada kodok-kodok yang meloncat hinggap di kepalanya, sungguh sial nasib Jessica hari itu.
Bahkan beberapa kodok menampar wajahnya menggunakan badan mereka yang meloncat ke sembarang tempat. "Kah, sial!"
****
Amuria dan Driyad sejak semalam mencari mereka. Setelah semalaman ini, akhirnya, kedua makhluk itu menemukan pintu masuk kedalam goa. Saat menyusuri sudut-sudut goa, di sana tak di temukan siapapun, kecuali, ratusan makhluk kerdil itu yang mati.
Dan.... Malangnya, mereka menemukan mayat si buta terbujur kaku di tanah.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Driyad pada Amuria. "Kemana anak-anak itu?"
"Hm...." Amuria mencoba mengendus keberadaan kedua anak yang sudah menghilang itu. Tapi sayang, tak ada aroma yang tercium di hidungnya. "Aku rasa, kedua anak itu tidak di sini!" ucapnya berspekulasi.
"Apa kau yakin?"
"Jika di lihat dari kematian si buta, bisa jadi anak itu yang melakukannya," ujar Amuria. Dia memandangi bentuk tubuh si buta. Tubuh itu sudah kering kerontang seperti kayu yang siap di bakar. Hanya menyisakan tulang-tulang dan kulit saja. Matanya hampir keluar, rambutnya berubah menjadi amat putih. "Benar, sepertinya, pedang anak itu yang menghunus si penyihir buta."
"Lalu kemana mereka pergi, jika dia yang melakukan semua ini?" tanya Driyad lagi. Dia masih bingung, anak-anak itu menghilang tanpa jejak.
"Aku kurang yakin. Yang pasti, mereka tidak ada di sini. Mereka selamat," jawabnya memberitahu.
Driyad percaya bahwa anak-anak itu pasti selamat. Hanya saja, dia kehilangan mereka. Dia menyesalinya.
"Sebaiknya kita pergi sekarang. Lebih baik kita cari mereka, sebelum kita kehilangan mereka lagi," Amuria menyarankan.
"Ide yang bagus. Aku mencemaskan mereka," kata Driyad setuju pada Amuria.
Driyad mengekori Amuria. Dia tahu segala hal dari dirinya. Makhluk itu, benar-benar satu tingkat lebih pintar, lebih kuat, dan lebih garang dari dirinya.
Saat mereka ingin pergi, lagi dan lagi. Makhluk-makhluk kerdil itu muncul. Mereka datang ber-gerumul, mangsa mereka telah datang saat sebelumnya mereka kehilangan Sean dan Jessica.
"Kita adalah tawanan!" Driyad menggumam.
__ADS_1
BERSAMBUNG