
“Apakah ini bentuk dari penggabungan batu jiwa dan jiwa Lausius?”
Medusa makin berdebar, sungguh. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau dirinya beruntung bisa mendapatkan Lausius ini. Bahkan menyaksikan kekuatan dahsyat yang sedang terhubung.
“Hei. Kau. Akh.....”
Sean merasa badannya seakan terbakar. Cahaya itu melahap tubuhnya, membuat Sean menggeliat seakan ada api besar memanggang tubuhnya.
“Pangeran!” Medusa tidak tinggal diam. Batu merah yang selalu dia simpan, kini Medusa keluarkan. “Jika benar Lausius mampu menyatukan kekuatan dari dua batu permata ini. Maka, aku tidak perlu khawatir untuk memberikannya pada pangeran.”
Tanpa ragu, Medusa ingin menggabungkan semuanya. Tunggu, Medusa ingat. Jika menikah dengan Lausius, itu artinya dia akan terhubung dengan putra cahaya itu. Dengan begitu, Medusa secara tidak langsung mendapatkan kekuatan hidup abadinya dari Lausius.
Batu permata merah delima di tangan Medusa terserap masuk kedalam tubuh Sean. Saat ini, ketiga cahaya itu bertempur, yang membuat Sean makin mengerang.
Tidak tahu apakah Sean meringis kesakitan atau hal lainnya. Medusa memandanginya dengan tatapan membeku. Dia tidak tahu rasanya ada di posisi Sean.
Perlahan, keluar api dari tangan Sean. Kemudian dari tubuhnya juga ikut mengeluarkan api biru. Memaksa mata Medusa terperangah. Bibirnya menyungging tersenyum miring.
“Apakah ini berhasil?” kata Medusa sumringah.
Tidak menutup kemungkinan kalau Medusa senang melihat hasil dari perpaduan dua kekuatan terkuat yang pernah dia ketahui.
“Akh.......”
Sean mengerang makin memuncak, membuat dinding-dinding batu stalaktit di atasnya bergetar hebat. Seakan gempa, tempat mereka berguncang amat dahsyat.
“Benar. Sepertinya kekuatan itu memang di takdirkan milik Lausius!” gumam Medusa.
Dia yakin, Sean sudah mencapai puncaknya. Puncak di mana dia di takdirkan menjadi ksatria tanah surgawi. Medusa mungkin berbangga hati—sebab tujuannya tercapai.
Sean terpuruk, tersungkur menahan sesak di dada. Matanya makin bersinar, juga tanda lahir di dadanya tak henti-hentinya bercahaya. Perpaduan sempurna.
“Kenapa. Kenapa dengan diriku. Kenapa aku merasa tubuh ku seperti terbakar oleh api yang cukup dahsyat.”
“Mungkinkah itu efek dari penggabungan kekuatan dahsyat ini?”
Melihat Sean yang tersungkur, Medusa yakin—kalau dia tidak salah. Sean di takdirkan sebagai pemilik batu jiwa dua dimensi itu. Pemilik yang akan membantu Medusa mencapai puncak keabadian. Di mana dia harus membawa semua kaum ular mencapai peradaban tingkat tinggi. Meninggalkan tempat ini.
Bahkan selamanya, Medusa tidak pernah berpikir akan mendapatkan Lausius muda. Dia tahu, bahwa sebenarnya di luar sana banyak yang mengutuk kaum ular. Selama ini mereka di tindas oleh ras lain—yang memaksa Medusa harus lebih kuat—agar kaumnya tidak lagi di remehkan. Namun, dengan adanya Lausius, mungkin setidaknya membuat Medusa di perlu di takuti.
Sean menatap tangannya yang mengeluarkan api biru. Perlahan rasa sakit dan rasa terbakar di tubuhnya mereda. Walau belum sepenuhnya hilang, setidaknya itu lebih baik dari pada sakit yang baru saja dia rasakan. Pikir Sean begitu.
“Kau baik-baik saja pangeran?” tanya Medusa mendekat. Dia membantu Sean berdiri.
“Aku baik-baik saja. Tidak terjadi apapun,” balas Sean tenang.
Medusa mendesah. “Syukurlah. Aku kira terjadi apa-apa pada pangeran.”
“Tidak! Aku baik-baik saja!”
Sekali lagi, Sean menegaskan keadaannya—baik-baik saja. Medusa tahu, dia akan baik-baik saja. Lagi pula ucapan tadi hanya bentuk kekhawatiran saja. Medusa tidak berharap kalau Sean akan terluka.
Kekarnya tubuh Sean di nikmati dengan baik oleh Medusa. Setiap inchi yang memancar dari tubuh anak itu, membuatnya terperdaya.
Medusa memapah Sean, membawanya meninggalkan tempat ini.
“Apa yang terjadi tadi. Kenapa aku tiba-tiba merasa terbakar?” tanya Sean di sela-sela langkah mereka.
“Pangeran hanya sedang panas dalam saja. Tidak perlu di pikirkan masalah saat ini,” balas Medusa.
“Tetapi rasanya beda dari panas dalam biasa!”
Tidak peduli. Medusa tidak akan mengakuinya.
“Sebaiknya pangeran kembali ke istana saja. Pangeran kelelahan nampaknya.”
__ADS_1
“Rasanya benar-benar aneh.”
Sean masih merengek. Medusa hanya bisa mengalihkan saja.
“Pelayan ku akan membantu pangeran. Panas dalam ini akan reda beberapa saat lagi.”
°°°°°°°°°°
Kegagalan Xavier membawa Lausius muda, membuat iblis dasar neraka murka.
Seluruh pengikutnya tertunduk takut kala wajah makhluk api ini murka.
Hampir seratus orang lebih pengikut yang menyembah di hadapannya, tak satupun ada yang berani menatap wajah Dewa iblis.
Kabar buruknya, iblis neraka amat kuat. Tingkat kekuatannya di perkirakan menyamai penghuni langit, di balik awan Metis.
“Maaf dewa. Kegagalan ku mendapatkan Lausius itu karena kelalaian ku!” kata Xavier mengakui kesalahannya.
Di hadapan dewa iblis, hanya mengakui kesalahan adalah yang terbaik. Xavier tahu, walau dia kuat, bukan berarti dia tidak ada kelemahan sedikit pun.
Suara membulat dan besar dewa iblis menggema di seisi istana api ini. Sayangnya itu tidak cukup menghibur dewa iblis. Wajahnya yang terlihat murka, membuat seisi istana hampir tak bisa bernapas lega.
“Kau selalu gagal. Bukankah Lausius muda itu makhluk kecil.”
“Benar dewa. Dia hanya makhluk kecil. Tetapi dia tidak bisa di remehkan begitu saja. Dia menyimpan potensi kekuatan besar, bahkan tidak hanya aku yang menjadi korban Lausius ini. Tetapi Elius juga mengakui ketangguhan pangeran cahaya itu!”
“Omong kosong!” bentak dewa iblis. “Tidak ada yang namanya Lausius muda akan lebih kuat dari pengikut dewa iblis. Lelucon tak berdasar!”
“Maaf jika aku lancang dewa. Sepertinya memang dia benar-benar melampaui batasnya sebagai Lausius di usia muda. Lebih-lebih, saat ini Medusa berhasil mendapatkan Lausius itu. Akan sulit mendapatkannya lagi.”
Kembali, Xavier mencoba mengatakan bahwa apa yang dia jelaskan itu adalah kenyataan. Alih-alih akan membuat dewa iblis takut dan kocar kacir. Malah itu membuat dewa iblis tertawa puas.
Suaranya menggelegar di seluruh seisi istana.
Apakah itu ambisinya? Mungkin saja. Iblis ini terlihat sangat prestisius ingin mendapatkan Lausius.
“Maaf dewa. Tidakkah dewa perlu memikirkan ulang rencana penyerangan ini?”
“Kau kira aku dewa iblis yang lemah?” dengan sombongnya dewa iblis berkata. Setidaknya bagi Xavier, dia memang benar.
“Aku hanya takut jika dewa terluka. Bahkan Zumirh saja tak bisa mengalahkan Medusa dalam sekali serangan.”
“Hahaha..... Iblis wanita itu!” kata dewa iblis menahan kekehan lucu. “Iblis wanita itu tidak akan lebih baik dari ku. Dia kira dengan kekuatan seperti semut itu bisa mengusik Medusa. Kau harus tahu, hanya aku yang bisa memusnahkan kaum ular itu.”
Dewa iblis benar-benar sombong. Bahkan dia tidak berani mengakui kehebatan Zumirh. Mari kita lihat nanti, siapa yang lebih unggul di antara kalian.
“Baiklah dewa. Aku rasa memang kau benar.” Xavier berhenti berkata. Dia pantas diam atau menyerah berkata. Jika tidak, maka dia akan mati kata. “Kapan dewa akan menyerang mereka?” tanya Xavier ragu-ragu. Dia mengalihkan bicara.
“Hahahaha......” dewa iblis kembali terbahak. “Kau kira aku datang ke tanah tandus itu tanpa prajurit.”
“Maksud dewa....”
“Siapkan ratusan prajurit iblis. Kita akan menyerang kaum ular secepatnya.”
Xavier tercengang. Dewa iblis memang tidak terduga dalam bertindak apalagi berpikir. Tubuh raksasa itu memang tak pernah gentar.
“Maaf dewa jika aku menyela. Apakah tidak sebaiknya menyerang istana Medusa menunggu dua hari lagi. Mereka di hari itu mengadakan upacara penyembahan terhadap dewa ular. Aku rasa, saat itu adalah yang paling tepat. Sebab, semua kaum ular akan berkumpul.”
“Penyembahan?”
Xavier mengangguk. “Di saat itu juga batu permata merah dan biru keluar. Menyempurnakan keabadian medusa.”
“Hemph.....” Dewa iblis menyungging tersenyum. Memang seharusnya menyerang di saat seperti itu adalah hal yang tepat. Setelah berpikir sejenak, dewa iblis mengambil keputusan. “Baiklah. Kita akan datang ke istana ular itu dua hari lagi.”
__ADS_1
Benar-benar sebuah keuntungan bagi dewa iblis, sebab dia akan mendapatkan tiga keuntungan sekaligus. Pertama, dia yakin mampu mengatasi ratu ular itu. Kedua, mendapatkan Lausius, dan ketiga, dia juga akan mendapatkan dua permata hebat itu. Setidaknya begitu yang di bayangkan oleh dewa iblis ini.
Jika sampai itu terjadi. Maka aku akan menjadi dewa iblis terkuat yang pernah ada. Tidak akan ada yang berani menandingi ku. Bahkan penguasa tanah kemakmuran, Shutanhamun.
Dewa iblis terkekeh geli kala membayangkan ide liarnya menguasai tiga keadaan sekaligus. Pikirannya terpaku pada Medusa. Dia tidak sabaran ingin menghadapi ratu ular itu.
“Kalau begitu. Kami pergi dulu wahai dewa iblis yang agung. Kami akan menyiapkan pasukan iblis terkuat yang pernah ada,” kata Xavier beralih.
°°°°°°°°°
“Dua hari lagi kaum ular akan mengadakan penyembahan besar di luar istana Medusa. Ini saat yang tepat untuk mu mengambil keuntungan,” kata Nekabudzer—tengkorak besar di ruang bawah tanah Elius.
Elius bolak balik di depan tengkorak besar ini. Satu tangannya melipat di belakang punggung, dan satu tangannya lagi mengurut dagu. Dia terlihat resah. Banyak pikiran yang memenuhi otak kecilnya itu.
“Aku yakin. Kali ini yang datang bukan hanya aku saja. Tetapi dewa iblis, Zumirh dan Zurry juga akan datang.”
“Hahahah..... Apakah kau takut pada mereka?”
“Saat ini, dengan kekuatan ku seperti ini. Apakah kau yakin kalau aku akan menang melawan mereka?”
Nekabudzer memahami situasi Elius. Tengkorak besar yang menempel di dinding batu ini, mengubah bentuknya, menjadi semula. Lalu dia berdiri tepat di samping Elius. Pria itu terlihat seperti pria berusia empat puluh tahunan.
“Aku akan datang ke kuil Medusa bersama mu,” kata Nekabudzer.
“Kau ingin membantu ku mendapatkan Lausius itu?” tanya Elius memastikan.
Nekabudzer tersenyum ringan. “Mendapatkan Lausius terakhir sebagai penutup keabadian adalah tujuan semua orang di tanah surgawi ini. Tentu saja aku ingin ikut dalam perebutan sesuatu yang sangat berharga ini.”
Ehm..... Inilah yang di harapkan Elius. Adanya perang besar memperebutkan Lausius. Tentu saja Elius akan senang kalau dia datang menemaninya.
“Jika kita berhasil mendapatkan Lausius itu, maka aku akan memperluas tanah gersang ini hingga ke pusat kota Saranjana.” Lausius berargumentasi, seolah semuanya sudah di depan mata—lancar tanpa kendala.
Ketika mereka sedang berbincang, seekor burung gagak hitam masuk ke tempat gelap ini—melalui celah-celah terowongan. Elius menengadahkan tangannya, membiarkan burung pembawa berita itu hinggap di tangannya.
“Katakan. Berita apa yang kau bawa?” tanyanya pada gagak hitam itu. Matanya yang merah, menandakan setiap pemiliknya akan terhubung dengannya.
Elius mendekatkan paruh gagak hitam itu di telinganya. Sejenis telepati, mungkin gagak hitam itu sedang membisik di telinganya.
Elius tersenyum, sesaat kemudian dia melepaskan kembali gagak hitam itu. Terbang kembali pada Uli, yang diam-diam mematai istana raja neraka. Ya, gagak itu milik Uli.
“Dewa iblis menyiapkan banyak pasukan menuju ke istana Medusa dua hari kedepan,” kata Elius pada Nekabudzer. Dia memberitahu rencana spesial ini pada Nekabudzer. “Uki masih memantau mereka saat ini.”
“Mereka akan mendapatkan keuntungan jika dewa iblis datang ke istana Medusa.”
“Apa saja keuntungan yang mereka dapatkan?” tanya Elius. “Kau sedang tidak manipulatif bukan?”
Nekabudzer menoleh sekilas, memutar lehernya. Sampai hanya separuh wajah Elius yang berdiri di belakangnya yang terlihat.
“Membunuh Medusa, meluluhkan lantakkan kaum ular. Mendapatkan Lausius muda, juga mendapatkan dua batu permata itu. Itulah keuntungan yang akan di dapatkan oleh dewa iblis.”
“Apa kau seyakin itu kalau dia mampu mengalahkan Medusa. Terlebih menghancurkan kaum ular.”
Elius ragu, bahkan jika dewa iblis itu kuat. Bisa saja tidak lebih seimbang dengan Medusa.
Nekabudzer membalikan badannya. Tentu saja sebenarnya itu hanya angan-angan saja. Mana mungkin dewa iblis memprediksi kemenangannya melawan Medusa. Nekabudzer tahu siapa itu Medusa. Dia adalah pimpinan kaum ular yang tidak terkalahkan. Tidak mudah mengalahkannya, di tambah dua batu permata itu ada di tangannya. Jelas saja kekuatannya berlipat ganda.
Nampaknya dewa iblis menganggap enteng siapa itu Medusa. Walau begitu, aku harap salah satu di antara dua orang kuat itu bisa mati. Ehm..... Harapan konyol.
“Kita lihat saja nanti. Siapa di antara dua makhluk berkekuatan tinggi yang akan menang dalam pertarungan ini. Aku yakin, akan ada yang berakhir pada kematian di antara mereka berdua.”
“Jika tidak Medusa, maka dewa iblis yang berakhir.” Elius menebak. Nekabudzer menjentikkan jarinya, dia membenarkan tebakan rekannya ini.
“Maka yang perlu kau pikirkan adalah Zumirh dan Zurry. Mereka lawan terberat mu saat ini.”
Elius tersenyum miring, tidak sia-sia kalau Medusa di serang. Tetapi menyangkut Zumirh dan Zurry, dia harus memikirkan sebuah siasat. Seingatnya, dulu saat bertarung melawan Zurry, mereka seimbang. Tidak tahu kalau sekarang.
__ADS_1
“Kita akan menentukannya di istana Medusa nanti.”
BERSAMBUNG