
“Hiya.....”
ZRASH!!
Sean menyayat tengkuk leher raksasa Gondola. Pria berbadan buntal dengan wujud menyeramkan itu meraung kesakitan. Tersungkur, dan ini kali pertama baginya lepas dari singgasana batunya.
“Kau....”
Sean angkuh, seakan sudah melumpuhkan makhluk bertubuh besar ini. Sean berjalan di atas tubuh besar bak kasur ganda, Sean menyukai empuknya ketika jalan di kulit elastis ini.
“Bagaimana? Apakah kau sudah menyerah?” tanya Sean picik.
“Tidak semudah itu anak kecil!”
“Ho.... Kau rupanya....”
“Akh.....”
Satu tangan si badan besar terangkat, kembali ingin menghantam. Namun mata Sean dengan cepat menginterupsinya.
Sean menghindar, terbang mengelak dari serangan diam-diam itu. Sean berbalik, ketika sayapnya mengepak di udara.
Dari atas, Sean menghujam keras tangan si badan besar. Hingga awan debu tercipta, pertanda bahwa serangan itu sangatlah dahsyat. Pedangnya tidak menancap, hanya mencoba memenggal lembut. Akan tetapi, rasanya sakit bagi si badan besar ketika menerima serangan itu.
“Akh.....”
Si badan besar makin meraung-raung kesakitan, membuat Sean puas berbangga. Sean tak kasihan ketika melihatnya menderita, walau Sean tak tega melakukannya.
“Apakah kau masih belum menyerah?” tanya Sean lagi.
“Tidak semudah itu anak kecil!” balas sang badan besar.
Sean lupa, kalau satu tangannya masih bisa bergerak. Tanpa Sean sadari, ternyata tangan itu sudah menghantam Sean.
Sean hampir kalap, dengan cepat pedang Sean menangkis tangan sekeras batu ini. Suara dentuman membuat Sean seakan membuat tubuh Sean tak berdaya. Dia amat kuat, bahkan tangkisan Sean saja membuat Sean mundur beberapa langkah.
Dia.... Rupanya dia masih kuat.
“Haha.... Kau kira aku tak bisa mengalahkan mu Lausius muda. Kau hanya terlalu berangan.”
Sean mendengkus, memoles sedikit ujung hidungnya. Lalu menatap sinis si badan besar.
“Jika kau tak mau menyerah, maka aku yang akan membuat mu bertekuk lutut. Hiya.....”
Sean kembali bergaya. Terbang rendah di udara, pedang besarnya mengarah ke objek yang sudah di tentukan. Dapat.
Sean menghantam tangan si badan besar. Membuatnya kikuk, menjadi tak berdaya. Si badan besar, seketika. kembali tak bertenaga setelah satu tangannya di buat cedera. Dengan serta Merta, suara melengkingnya menyergah, meraung kesakitan.
“Kau.....”
“Apakah kau sudah menyerah? Atau kau masih berusaha untuk melawan ku?”
Pelan-pelan kaki Sean turun ke tanah. Sayapnya menghilang, terlipat di balik punggung. Si badan besar kembali tersungkur.
Sean sudah kesal, si badan besar ini masih saja perkasa walau sudah Sean lumpuhkan. Bahkan untuk bangkit saja dia tak mampu, namun dia keras kepala.
“Kau....”
Sean menginjak kasar tangan sang badan raksasa. Hingga si tubuh besar itu lagi-lagi meraung keras, sampai menggema di seisi goa. Rasanya sakit, seakan tangan si badan besar di timpa batu besar.
“Katakan. Apakah kau masih belum menyerah.”
“Akh......”
Melihat si pemangsa buas ini meraung merasakan kesakitan yang tiada Tara. Sean berbaik hati, melepaskan pijakan kakinya di tangan yang sudah memar ini.
Kornea mata bercahaya Sean mengedar sekeliling, melirik beberapa bawahan si badan besar.
Mereka takut, tak mampu melihat Sean seperti sebelumnya. Melihat dengan tatapan bahagia bisa memangsa Lausius. Kali ini berbeda, Sean tangguh, apalagi Tuan mereka kalah melawan Sean. Bawahan Gondola hanya bisa mengerjapkan matanya, takut.
“Kita akhiri pertempuran ini di sini. Aku tidak mau membunuh mu, dan kau aku ampuni sekarang!”
“Apakah...... Kau.....”
Sean tersenyum miring, terlihat Sean seperti makin dewasa kala menghadapi suatu masalah besar.
“Kita tidak saling mengenal. Itulah kenapa aku tidak mau membunuh mu!”
__ADS_1
Benar, menurut Sean dia tak harus menginterupsi si badan besar dengan serangan mematikan.
Sean menanggalkan kembali pedangnya ke punggung. Seolah tadi tidak terjadi apapun, Sean melupakan pertarungan ini.
“Kenapa kau tidak membunuh ku?” tanya sang badan besar. “Aku pemangsa. Kau seharusnya membunuh ku. Aku....”
Sean menggeleng lemah, wajahnya datar nan polos. “Aku tidak mungkin membunuh orang-orang lemah. Aku bukan pecundang.”
“Kau.......”
Sean berbalik, tidak lagi Sean membalas si badan besar dengan suara besar yang menggemanya itu. Di kanan dan kiri Sean, anak buah Gondola hanya mematung. Tak sanggup mereka menyerang, lebih ke takut. Mereka kikuk tak bersua.
“Aku harap, kau dan aku tidak bertemu lagi di lain hari. Ini pertemuan pertama dan terakhir kita, jangan pernah menunjukan lagu wajah mu di hadapan ku.””
Sean menoleh sekejap, sebelum dirinya benar-benar ingin berlalu. Si badan besar tak bisa melakukan apapun, selain tersungkur dalam keadaan menyakitkan.
“Dia......”
Usai menoleh, Sean tak mau melihat ke belakang lagi. Jalannya sudah menjauh, keluar dari goa indah ini.
Ligong, makhluk itu mengikuti Sean dari belakang. Sementara, si badan besar hanya beringsut kesal.
Sesekali Sean melirik temannya itu, jalan mereka kompak. Senada.
“Apakah kau takut tadi kawan?” tanya Sean pada Ligong. Macan hitam itu menganggukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca.
Sean mengusap lembut kepala Ligong, memberikannya senyum sumringah. “Kau jangan takut, kita akan keluar dari tempat ini.”
Di ujung lorong goa, Sean melihat pintu keluar dari goa. Berbeda saat di dalam goa, di luar gelap. Sementara di dalam goa ini terang benderang.
Cahaya di dapatkan dari warna bebatuan yang menyerupai karamel. Ketika terkena sinar matahari, maka tempat ini akan menyimpan energinya.
Itulah kenapa, di malam hari, di dalam goa ini amat terang. Bahkan lebih terang dari lampu LED. Sean pernah mempelajari energi alam, dan inilah keajaiban alaminya.
“Tempat ajaib.”
****
“Anak itu, dia....”
Tetapi, kali ini. Penghinaan besar yang di lakukan oleh Sean, benar-benar telah menyakiti citranya.
“Jika aku bisa berdiri dan berjalan dengan sempurna. Akan aku buat tulang Lausius itu patah hingga menjadi debu. Aku pastikan dia tak akan melihat dunianya lagi.”
Si badan besar makin geram saat mengingat kekalahannya tadi. Baginya, Sean adalah ancaman terbesar, yang pernah dia temui. Tempat duduknya yang di buat dari undakan batu. Di pukul keras, seolah sedang menyalurkan emosi pada benda itu.
“Lausisus......”
Suara itu menggema, seisi goa rasanya akan runtuh saat di terjang suara bulat nan besar ini.
Suara itu membentuk irama yang bergulung hingga sampai di telinga Sean. Tepat di ambang pintu keluar dari goa besar ini. Sean mendengar teriakannya.
Sean tersenyum, menoleh sekejap, lalu kembali melihat hamparan padan pasir di depannya.
“Dia ingin memakan ku. Rasakan saja, memangnya dia siapa.”
Sean mendengus bahagia. Tidak tahu siapa itu Lausius yang di sebut oleh si badan besar. Namun rasanya, si raksasa itu meneriakkan namanya.
Sean sudah akrab pada nama itu. Tak bisa di ragukan lagi, kalau Sean mulai populer di kalangan para pemeran antagonis. Setidaknya, inilah pengalaman. Bisa berkelahi dengan makhluk uang badannya amat besar.
“Ayo Ligong. Kita harus cepat sampai di pintu itu.”
****
Lagi-lagi, yang Sean temui hanyalah gurun pasir yang luas. Hamparan debu berterbangan di tengah dinginnya malam, apalagi angin yang berembus agak kencang.
Bosan, sudah pasti. Lelah juga mulai menyelimuti diri Sean. Semua pandangan yang dia lihat di tempat yang terhampar pasir-pasir halus ini, adalah tulang belulang.
Banyak tulang besar, tulang-tulang hewan berbadan super raksasa. Sean beberapa kali melewati celah tulang-tulang itu. Ada juga cangkang kerang besar, tanduk, bahkan beberapa tulang yang tak Sean kenal.
Mereka utuh, berada di permukaan pasir, walau sebagian tubuh belulang itu tertutup oleh pasir. Tak ada yang rusak. Seandainya Sean adalah arkeolog, mungkin ini adalah penemuan terbesarnya.
“Tempat ini semacam tempat prasejarah. Belulang menumpuk, seakan mereka mati bukan karena bidak alam. Tetapi karena di mangsa.”
Sean menebak, kalau mereka mati di terkam atau jadi santapan makhluk buas lainnya. Atau bisa jadi, memang benar—jika tempat ini memang butuh persembahan. Entahlah, Sean tak paham.
Sean sesekali mengambil satu tulang untuk di teliti. Entah sejak kapan dia mulai menyukai dunia arkeologi. Tapi unik, Sean bisa menebak kalau belulang itu berasal dari hewan yang tak ada di dunia manusia. Bisa jadi, tulang hewan yang Sean telaah itu adalah tulang hewan gurun. Sean belum pernah melihat tulang tengkorak semacam ini sebelumnya.
__ADS_1
Tak tahu apa, yang pastinya Sean tak ingin mengoreksinya hingga ke sudut terkecil. Sean malas, tak berani bertindak lebih jauh lagi.
Ketika Sean sedang merunduk menelaah belulang kering di tangannya. Mata Sean mengedar, membuatnya tetiba menganga.
“O..... Bukankah.....!”
Sean menyipitkan matanya, melihat benda yang berdiri kokoh tak jauh darinya. Benda segi empat yang Sean cari. Sudut mata itu terfokus, dan.....
“Ya. Benar. Itu pintunya.”
Sean memeluk Ligong sumringah, satu tangannya mengepal, seakan kebahagiaan itu sudah menghampiri Sean.
Pandangan Sean tak terhalau oleh ancaman apapun. Tak seorang pun di sana. Beruntung, sudah pasti.
“Ayo kawan. Kita sudah menemukan pintu itu.”
Langkah Sean memburu, dia telah menemukan pintu itu. Sesampainya di depan pintu di ujung gurun, mata Sean menangkap beberapa kejadian yang seharusnya tak Sean lihat.
“Mereka...... Mati.....”
Di dekat pintu, banyak tergeletak tulang belulang manusia atau semacamnya. Pakaian dan jubah yang mereka kenakan sudah usang—ketika Sean menyentuhnya. Lapuk, kain-kain penutup kepala para tengkorak kering yang Sean sentuh hancur. Benangnya sensitif, seakan sudah lama sekali tertahan oleh gempuran iklim.
“Jika aku perhatikan. Sepertinya mereka mati sudah lama. Kemungkinan mereka kelelahan, atau mereka terjebak terlalu lama di sini. Sehingga mereka meregangkan nyawa tak wajar seperti ini.”
Sean menelan ludah pahitnya. Rasanya, dia mual ketika melihat belulang di sini. Sean makin meluaskan pandangannya, benar saja, makin banyak tulang belulang yang Sean temukan. Sesekali sepatu kuno yang di pakainya itu tak sengaja tersandung oleh tulang yang tertutup pasir.
“Ckckck...... Mayat yang malang,” gumam Sean menyayangkan.
Sementara itu, banyak burung gagak yang terbang di sekitar belulang kering ini. Kemungkinan mereka mencari makan dari daging bisik di sini. Meskipun sudah lama menjadi tengkorak, namun tetap saja. Bau itu masih saja menyengat. Bau bangkai yang khas dan kuat.
Sean berjalan pelan, ketika melangkahkan kakinya pelan, dia menemukan sebuah benda kecil. Berbentuk bulat sempurna, dan ada gambar segitiga di tengahnya. Benda itu tertanam di dalam pasir, beruntung sepatu Sean tak sengaja menendangnya.
“Tidak kah benda ini unik Ligong?” ucap Sean. Di telitinya dengan baik benda yang baru saja dia temukan, ada sedikit warna di dalamnya.
Benda kecil yang terbuat dari batu. Unik, namun mata Sean terpancing ke arah pintu itu. Di sisi pintu ada cahaya, tak ada kusen sebagai penyangganya.
Sean memandangi daun pintu, yang terlihat seperti pintu di dalam game. Sean meraba permukaan pintu, ukiran yang terbuat dari emas ini sarat akan misteri.
Tunggu, Sean menemukan sesuatu di sana.
“Apakah benda ini bagian dari pintu itu?”
Sean penasaran, ada lubang yang kosong. Dan lubang itu pas jika di masukkan benda yang Sean pegang.
Ada banyak simbol-simbol unik di daun pintu. Ada ukiran aneh yang menyertainya. Tak berpikir lama, Sean menanggalkan benda kecil yang ada di tangannya. Simbol ular.
Di sana, benar. Pas, bahkan di takdirkan memang untuk lubang itu. Benar saja, benda yang terbuat dari batu itu memang adalah simbol yang menyatukan dan menghubungkan simbol yang lainnya.
“Wow..... Apakah ini cara membuka pintunya?”
Sean bergumam takjub, sudut mulutnya ternganga. Dari benda yang Sean masukkan, langsung mengeluarkan cahaya putih. Mereka saling terhubung, menyatu satu dengan yang lainnya.
Sean memperhatikan dengan jelas. Tak lama, pintu mulai bergerak. Pintu itu......
“Terbuat dari batu. Dia.... Terbuka, melipat ke sisi kanan. Apakah orang-orang ular itu sudah menggunakan teknologi super canggih di sini?”
Entahlah, Sean tak tahu pasti. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka. Lebar, membuat Sean takjub.
“Perbatasan.....”
Ya, di luar pintu, adalah rerumputan hijau, dan..... Oh, pepohonan rimbun menyambut siluet mata Sean. Sementara, tempat Sean berdiri, masih sama seperti sebelumnya. Yakni, Padang pasir.
Pelan-pelan Sean melangkah kesana, keluar dari gurun Medusa ini. Sama seperti di gurun tadi, di sisi lain pintu ini gelap, memang masih malam. Matahari belum muncul.
“Apakah ini yang di maksud dengan perbatasan?”
Mata Sean menginterupsi sekitar pintu besar, di mana, di kanan dan kiri pintu gurun itu adalah dinding batu.
Sesaat, setelah kaki Sean meninggalkan gurun, tiba-tiba pintu itu tertutup dengan sendirinya, lalu..... Sean menoleh, dia kaget.
“Pintunya hilang!”
Sean ingat, Dewi Heksodus pernah bilang. Kalau pintu itu akan hilang, jika sudah keluar dari gurun tanpa akhir itu. Sean tidak heran, beruntung si Heksodus sudah pernah memberitahu dirinya akan pintu aneh ini. Pintu kuno, yang di ukir dengan ukiran ular emas. Sean menebak, bahwa itu ratu kaum ular. Medusa.
“Ayo Ligong. Kita tinggalkan tempat ini.”
TBC
__ADS_1