
Nimfa adalah peri-peri hutan yang bertubuh kecil. Pimpinan para nimfa bernama Rhodes. Sebelumnya, pimpinan pertama mereka adalah dewi Meruya.
Namun, sejak terjadinya kehancuran perang Troya membuat para peri hutan lunta-lantung menyelamatkan diri masing-masing.
Perang yang hampir memusnahkan seluruh kehidupan hutan yang cantik ini membuat para nimfa kehilangan sebagian dari populasi mereka.
Dewi Meruya yang sejatinya adalah pimpinan para peri hutan namun sejak kematiannya, alam peri hutan di ambil alih oleh anaknya, Dewi Rhodes.
Selama ribuan tahun ini Dewi Rhodes tertidur dalam mimpi yang panjang.
Dia tidak akan terbangun jika bukan karena misteri manor-nya yang terungkap. Tidak ada legenda yang akan menceritakan kisah hidup nya, karena dia menutup diri dari keramaian. Tidak banyak kisah yang di ketahui orang banyak mengenai dewi Rhodes.
Dewi Rhodes hanya akan menampakkan dirinya jika manor terbuka berubah menjadi emas. Dan saat itulah dia akan terbangun dari tidurnya yang lelap.
Orang-orang di seluruh dunia saat ini, khususnya para pecinta kisah mitologi, mereka berdiri dalam kisah yang sebenarnya membual. Mereka banyak merujuk pada kisah mitologi Yunani, bahwasanya hanya di Yunani yang terdapat hal semacam ini.
Mungkin Dewi Rhodes telah di lupakan dalam legenda perdewian, bukan berarti dia tidak memiliki kelebihan. Hanya saja menutup diri dari bualan tak bermakna membuatnya jauh lebih tenang.
Salah satu keahlian Dewi Rhodes adalah, dia ahli dalam berperang dan suaranya dalam bernyanyi terkenal sangat merdu. Senjata yang mewakili dirinya adalah suling berwarna biru dan sebuah alat musik petik sejenis kecapi yang ber-melodi lembut, sesuai dengan keindahan yang dimilikinya.
Manusia akan selalu menganggapnya Dewi suci jika mengetahui kisah hidupnya yang abadi. Tetapi setidaknya ketiga anak itu sudah melihat rupanya.
Malam yang panjang telah di lalui oleh ketiga anak itu dengan baik. Suasana matahari pagi masuk menyeruak menyinari seisi ruangan manor emas ini.
Mereka terbangun dari tidur semalaman yang di lalui sedikit panjang. Di tengah manor, ketiganya berkumpul. Seakan seperti bangun tidur dari hotel mewah, anak-anak langsung di suguhkan dengan pemandangan yang tak biasa.
Tetapi Sean ingat jika Dewi Handita berpesan padanya untuk membuka tangki air di manor nimfa. Namun dia tidak tahu di mana tangki nimfa itu berada. Ini adalah tanggungjawab untuk memenuhi permintaan Dewi Handita. Walau sejujurnya dia tidak tahu seperti apa tangki air di mahligai itu.
"Ada apa Sean? Apa yang kau pikirkan!" Jessica bertanya. Dia melihat anak itu berdiri dengan ekspresi agak kebingungan di tengah ruangan manor yang luas.
__ADS_1
"Aku hampir melupakan permintaan Dewi Handita. Dia meminta ku untuk membuka tangki air di mahligai nimfa. Tetapi aku bingung di mana tempat tangki air itu berada." Jawab Sean sembari memikirkan ide lain menuju ke tangki air itu.
Tanggung jawab ini tidak terlalu berat untuk dijalani oleh Sean. Hanya saja menemukan tempat itu yang sulit baginya. Bahkan tidak ada petunjuk sedikit pun mengenai tempat itu selain kata manor yang dikatakan oleh Marmaida itu.
Masih sepagi ini mereka sudah berbincang mengenai misi. Lebih tepatnya misi permintaan Dewi Handita. Yudhar, si manusia hutan ini sepenuhnya belum mengerti perbincangan mereka. Sikap polosnya acuh tak acuh, mengucek matanya dan menguap lebar membuka mulutnya menandakan bahwa anak itu sebenarnya masih mengantuk.
Kelakuan Yudhar tak ada ubahnya walau penampilan anak itu sedikit lebih tampan dari sebelumnya.
"Aku sangat jengkel pada mu. Bau mulut mu itu menampar wajah ku. Bahkan bulu hidung ku hampir rontok saat dia masuk ke dalam hidung ku ini. Kau tahu itu manusia hutan." Jessica bersikap sarkasme pagi ini. Bau mulut Yudhar pun tak luput dari kekacauan wanita kasar ini.
Yudhar bertingkah biasa saja. Dia sudah terbiasa dengan sikap gadis berambut kuning keemasan ini. "Aku lupa menyikat gigi ku semalam. Aku rasa bakteri di mulut ku mulai berpesta pora semalam karena mendapatkan makanan lezat dari para nimfa."
Seolah tanpa dosa, Yudhar mengatakan hal-hal yang makin membuat Jessica bertambah jengkel. Ini adalah pekerjaan Sean, melerai pertikaian keduanya.
"Hentikan sikap kekanakan kalian berdua. Dari pada kalian berkelahi adu mulut tidak jelas begitu. Ada baiknya kalian membantu ku mencari mahligai itu. Aku harus membuka tangki air itu sesegera mungkin." Sean melerainya sambil memberikan solusi terbaik yang pernah ia pikirkan.
Anak-anak membungkuk saat melihat Dewi Rhodes menghampiri mereka sambil mengucapkan selamat pagi pada Dewi hutan itu.
Lalu Sean bertanya-tanya mengapa bisa dia membuka tangki air itu. Sean kembali ke pokok pembicaraan dirinya.
"Aku!" Sean menyeringai tidak mengerti maksud Dewi Rhodes.
Dengan santainya Dewi Rhodes kembali mengatakan hal-hal yang menyakinkan pada Sean. "Iya. Kau telah membuka tangki itu. Rahasia manor emas ku ini adalah saat kau menemukan rahasia ini maka secara bersamaan kau telah membuka rahasia lainnya."
"Tetapi? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi! Bahkan aku pun tidak menyadari itu mungkin." Sean berkilah menolak mengakui kebenaran.
Dewi Rhodes memegang bahu Sean. Lalu dia memulai kisahnya. "Jauh sebelum kau menemukan rahasia di balik tempat ini, tidak ada seorang pun yang bisa memecahkan misteri di manor emas milik Dewi hutan.
Dulu, manor ini pernah menjadi mahligai terbesar yang pernah ada dalam sejarah kota ini. Tetapi, gort, para penjahat itu ingin mengambil alih manor emas ini sebagai bagian dari kekuasaan mereka.
__ADS_1
Beruntungnya, sebelum itu terjadi, aku telah mengubah tempat suci ini dari tangan-tangan penjahat perusak kehidupan para nimfa ini.
Hingga saat ini, belum ada yang pernah bisa membuka rahasia manor emas ini. Semua yang melintas di depan manor sama seperti kalian, pada awalnya menganggap bahwa manor tua ini tidak menampakan cahaya emasnya. Berkat bantuan awan metis, aku berhasil menipu mata yang mencoba mencuri kediaman ku ini.
Selama ribuan tahun, dalam tidur ku tidak ada yang berani membangunkan aku. Kecuali melalui rahasia di balik ini. Manor emas ini bukan sekedar kediaman para nimfa saja, tetapi di bawah manor terdapat air suci yang terhubung langsung dengan Osirus.
Dan inilah sebabnya kenapa kau telah membuka tangki air itu. Kau manusia yang unik, yang pernah aku temui sepanjang hidup ku. Dari darah mu mengalir kekuatan supranatural yang sulit aku tebak. Tetapi aku tidak menjamin apakah kelak peruntungan mu itu akan baik atau buruk. Hanya kau yang bisa mengendalikannya."
Dewi Rhodes mengakhiri ceritanya dengan kata-kata yang mampu menghipnotis anak-anak. Mendengar cerita Dewi ini saja sudah membuat imajinasi anak-anak itu mampu mengembangkan seperti apa kisah di jaman dulu.
"Ehm... Lalu? Apa yang terjadi setelahnya?" Sean bertanya mulai penasaran pada kelanjutan kisah ini.
"Tidak ada yang spesial dari kisah ku ini. Tetapi, menuju ke kota saranjana, mungkin kau akan mendapatkan banyak pengetahuan akan kisah masa lalu. Dalam manor megah ini kau tidak akan mendapatkan cerita apapun. Tak ada ubahnya kisah ini." Dia berkata sambil menyarankan anak-anak menuju ke saranjana.
Kemungkinan pikir Sean saranjana adalah ide yang tepat menuju kesana. Tetapi dia menolaknya. "Aku datang ke mari hanya karena mencari teman ku Edward. Bahkan aku tidak berencana ingin mengunjungi kota itu." Tegas Sean mengambil keputusan tanpa berpikir panjang.
"Jika tidak pergi ke kota itu, kau tidak akan mampu keluar dari kota ini. Saran ku, sebaik kau kunjungi lebih dahulu kuil emas lotusha milik shutanhamun. Dengan begitu, keputusan kalian boleh meninggalkan kota ini atau tidak ada di tangannya." Dewi Rhodes memberikan solusi terkait kepulangan Sean dan para sahabatnya.
Sejujurnya Sean tidak ingin pergi menemui kuil itu maupun pergi ke kota saranjana sedikit pun. Tidak peduli ia bisa pulang ke dunia manusia atau tidak? Sean akan memikirkan hal ini nanti.
"Apakah ada cara lain untuk keluar dari tempat ini? Aku rasa kota misteri ini pasti menyembunyikan salah satu pintu keluar. Aku menebaknya."
Sean bicara gamblang menyinggung pintu rahasia keluar dari kota ini.
Tepat sekali, apa yang Sean pikirkan adalah kenyataan dari apa yang terjadi. Pintu rahasia yang menghubungkan kota saranjana dengan alam manusia sebenarnya ada.
Namun tidak gampang menuju kesana. Dewi Rhodes jauh lebih tahu di balik pintu itu. Dia tersenyum saat Sean menyinggung pintu waktu itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1