
Sean menoleh ke belakang. Si penyihir buta ternyata menghindari para roh. "Mirip zombie," ujar Sean saat memicingkan matanya.
Jalan mereka terhuyung-huyung tak bertenaga. Berjalan seperti mayat hidup, wajah mereka mengerikan. Tapi, dia tidak berada di sebuah perkampungan horor. Hanya arwah-arwah orang mati, bukan sesuatu yang menakutkan, kecuali Sean benar-benar memang penakut. Sean yakin, roh-roh itu hanya bergentayangan.
"Kenapa mereka muncul di tengah malam seperti ini. Apa yang terjadi. Kenapa mereka nampak aneh. Seharusnya roh tidak bisa kembali ke alam dunia, apa mungkin jiwa mereka tak bisa menembus dimensi lain?"
Terlalu banyak pertanyaan yang ingin Sean lontarkan. Sean merasa seakan rahasia di perkampungan ini makin membuatnya kebingungan. Di tengah kegelapan dan kesunyian ini. Semuanya menjadi misteri dan rahasia yang tersimpan bertahun-tahun. Sean benar-benar harus berpikir keras menemukan ide, mencari kebenaran tentang semua ini.
Sean memperhatikan dengan benar apa yang terjadi. Sean mengingat-ingat, sebelum masuk ke dalam perkampungan mati ini, ada sebuah batu besar di luar. Ada gambar di atas permukaan batu itu, lalu ada ukiran hewan dan tengkorak kepala banteng di tiang saat masuk ke dalam perkampungan ini.
Setelah itu, Sean bertemu dengan beberapa roh yang keluar dari empat pilar di dalam kuil. Setelah itu lagi mereka berkata meminta dia dan Jessica keluar dari perkampungan ini menuju ke Utara.
Dan...... Sean ingat. Jessica menghilang. Anak gadis itu benar-benar hilang. Sean mengingat-ingat kembali, Jessica menghilang sesaat setelah badai berhenti. Lalu datang Jessica yang lain. Jessica dari tubuh si penyihir buta. Sean makin bingung, misteri ini makin runyam, membuat Sean mengaduk-aduk pemikirannya. Sean benar-benar merasa di ambang kebimbangan saat ini.
Apa maksud dari semua ini? Kenapa ada begitu banyak rahasia yang sulit di terka.
Sean memikirkan ini dengan keras. Walau Sean sedang dalam kebimbangan, dia tidak takut jika para toh yang berjalan seperti zombie itu mendekatinya. Terlihat darah-darah itu mengotori wajah para roh. Mereka masih mengenakan baju zirah yang terbuat dari lempengan baja namun di penuhi luka di sekujur tubuh.
Seberapa keras Sean berpikir, ada hal yang tak bisa di jelaskan secara logika. "Apa mungkin penyihir buta takut pada roh?" Sean berusaha menebak. Dan Sean berspekulasi bahwa penyihir buta takut pada roh.
"Oh, aku paham sekarang," tukas Sean menyimpulkan. Tiba-tiba saja ide mengalir deras dalam otak Sean. Dia seperti mendapatkan sebuah jawaban atas semua pertanyaan tak mendasarnya itu. "Penyihir buta lari setelah melihat para roh. Sebelumnya aku melihat ada kehidupan di sini. Lalu mereka menghilang seiring menggelapnya malam. Lalu mereka muncul lagi jika tengah malam di rasa sudah mencapai puncak. Dan kemunculan mereka kali ini bukan sebagai penduduk kampung. Tapi sebagai para roh. Dan, jalan satu-satunya adalah, aku harus menghancurkan mereka," kata Sean bertekad.
Sean berpikir mungkin dengan menumpas-kan para roh yang berusaha mendekatinya itu bisa mati dengan pedangnya. Mungkinkah ini jalan satu-satunya bagi Sean? Bagaimana mungkin dia akan menghadapi para roh itu. Bukankah sama saja bagi Sean menghadapi asap!
Sean benar-benar harus berpikir keras mengenai semua ini. Ini bukanlah perkara mudah. Semua harus terencana sebelum di lakukan.
Saat para roh itu sudah mendesak Sean, —Dia melayangkan pedangnya ke seluruh roh.
Tapi apa yang terjadi adalah, roh-roh itu menghilang seperti asap. Sean sudah menduganya. Prediksi Sean benar-benar tepat, roh sama dengan sekumpulan asap yang tak bisa di tebas, kecuali melalui angin yang bisa membuyarkan kepulan roh itu. Berulangkali Sean mengibaskan pedangnya, namun, lagi-lagi —roh-roh itu hilang dan di gantikan dengan roh baru yang datang bermunculan.
"Ada apa ini? Kenapa mereka tidak bisa di sentuh oleh pedang?"
Ah, Sean makin bingung. Entah apa yang terjadi, tapi,— ini tidak masuk dalam logikanya. Bagaimana mereka bisa muncul di tengah malam seperti mayat-mayat hidup tapi tak bisa di hancurkan.
Tapi —Sean ingat, kalau di kuil tadi para roh itu berkata bersinonim.
Roh menyatu dengan alam. Sekilas, Sean ingat sepenggal kata-kata ini.
Sean ingat, saat di kuil itu, keempat roh mengatakan hal ini padanya. Jelas, namun tak tahu bagaimana Sean bisa mengalahkan mereka. Semua roh sudah mengerumuninya. Sean terdesak dan terjebak dalam kerumunan itu.
Roh menyatu dengan alam, bukankah ini sama artinya Sean harus bertempur dengan alam. Namun alam yang mana yang harus dia musnahkan?
"Ah, bagaimana ini? Mereka makin mendesak ku," kata Sean kebingungan. Sean kehabisan ide untuk berpikir bagaimana menghindar dari para roh.
Sean mengacungkan pedangnya pada roh-roh itu. Membabat dengan membabi buta, tapi mereka tak ada ubahnya. Mereka tetap ada, mereka kembali. Mereka seperti asap yang selalu muncul saat di padamkan. Mereka seperti abadi dalam kesunyian. Mereka sulit di lawan, mereka seakan-akan di takdir-kan berjiwa tak mampu di hancurkan dalam kegelapan malam ini.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Namun, sekonyong-konyong Sean sudah kehilangan ide dan buntu berpikir. Tiba-tiba muncul pria berbadan besar dari ujung jalan saat memasuki perkampungan mati ini. Dia membawa semacam palu besar atau gondola hitam. Ada mata pisau yang tajam di semua sisinya yang bulat.
__ADS_1
Ah, badannya begitu besar. Di kepalanya ada seperti helm penutup kepala tapi ada tanduknya. Lalu, perutnya bulat, jalannya mengangkang seperti orang yang terkena bisul. Dia menggunakan baju besi terbuat dari baja berwarna perak dan di lengan-lengannya ada bulu-bulu semacam bulu domba.
Tidak tahu asalnya dari mana, ukuran tubuhnya tiga kali lipat dari tubuh Sean. Tingginya, mungkin mencapai dua meter. "Mirip Tn. Muller. Tapi..... Dia lebih kecil dari pria ini."
Sekilas Sean melihatnya seperti profesor sejarah di sekolahnya. Anak itu ingat bentuk tubuh Tuan Muller. Tapi, dari segi wajah, sejujurnya wajah pria gemuk di depannya jauh lebih jelek dari Tuan Muller. Dia nampak seperti gembel. Lucu rasanya jika Sean bisa bertemu dengan Tuan Muller di sini.
Mereka tak sama, hanya bentuk tubuh yang membuat Sean teringat Tuan Muller. Selebihnya, mereka berbeda tiga ratus enam puluh derajat.
"Hohoho!" pria gemuk itu tertawa amat gembira. Menenteng Godam hitam di pundaknya. "Kalian jangan berpikir bisa lepas dari tangan ku para roh!" ucapnya menggila. "Beraninya kalian muncul lagi di hadapan ku!"
Saat melihat ada pria gemuk itu datang, setidaknya dia telah mengalihkan perhatian para roh dari Sean. "Tenang anak muda. Selama ada Gordon kau akan baik-baik saja," katanya pada Sean. Dia mengedipkan matanya sebelah pada Sean, mengisyaratkan bahwa dia mampu di andalkan.
Sean tentu saja bingung, dia tiba-tiba datang bak pahlawan yang akan menyelamatkan dirinya. Lalu menyeringai tertawa gembira dengan suara bulat khas orang-orang viking. Baju besi yang menutupinya itu, di tambah pakaian berbulu dari domba, jelas orang itu pikir Sean adalah orang-orang dari suku bar-barian.
Pria gemuk itu menyeringai tertawa puas saat para roh itu berbalik menyerangnya. Tak ada suara pertempuran saat pria gemuk itu melayangkan Godam besarnya di tubuh para roh. Hanya ada sekelibat angin-angin dan asap yang mengepul.
"Hohoho. Akan ku buat kalian mati untuk yang kedua kalinya para roh tak berguna." Sembari bertarung melawan roh yang sudah mati, Gordon kegirangan. Walau badannya besar, itu tidak menghalangi badannya yang lincah dan gesit dalam bertarung. Wajah garangnya bisa membuat musuh-musuhnya takut.
"Dia sangat hebat," Sean bergumam takjub. Menggeleng kepala, tak percaya bahwa pria gemuk itu memutuskan pemikiran kuno. Yah, selamanya manusia terkutat pada pemikiran bahwa orang kelebihan berat badan, pasti akan sulit beraktivitas. "Dia keren, luar biasa. Apakah dia salah satu ahli berperang?" Sean mencoba menerka pria ini di masa lalunya.
Ah, semua itu hanya sia-sia. Sean hanya mengintipnya saja. Pertempuran yang tidak terlalu hebat, seakan bertempur melawan bayangan sendiri, pikir Sean demikian.
"Hei nak, kau jangan bengong. Mari bertarung melawan mereka. Sangat mengasyikan melawan jiwa-jiwa mati ini," kata Gordon pada Sean yang terpaku melihatnya.
"Bertarung dengan asap?"
"Kau pikir aku gila!" balas Gordon berang.
Sean menundukkan kepalanya. Pikirnya pria gemuk itu gila. Sean merasa tidak bersalah, tapi kenapa dia menyerangnya. Godam itu bagai bumerang, setelah di lempar mengarah ke Sean, kini kembali ke tangannya.
"Kau kurang waspada, Nak. Roh di belakang mu tak kau ketahui," katanya memberitahu.
Sean menoleh ke belakang, yah, ada asap sisa-sisa kebrutalan si gemuk mirip kasur ini. Dia membidik roh yang ada di belakang Sean. "Ku pikir kau tadi menyerang ku!" kata Sean yang sempat berprasangka buruk. "Ternyata aku salah."
"Ayolah Nak, kau meremehkan ku." Pria itu mengelu-elu, dia memiliki fisik bertarung yang hebat. "Dari pada kau terpaku seperti itu, lebih baik nikmati pertarungan ini!" katanya memberi saran. "Atau kau akan menyesal tak menikmati sesuatu yang tak akan pernah kau temui seumur hidup."
Sean berpikir, memang asik kalau bertarung dengan roh, walau jika di pikir-pikir oleh Sean, seperti bertarung melawan asap.
Sean mengikuti saran si gemuk Gordon. Pedangnya itu ingin menikmati pertempuran yang terlihat mengasikan itu.
Bush!! Bush!!! Ah, mereka menghilang seiring kibasan pedang itu meracau di seluruh roh. Pertemuan di malam itu, berbanding terbalik dengan kemampuan anak dan pria gemuk itu. Ratusan melawan dua orang, bukan masalah pikir Sean.
Godam besar itupun berakhir di pundak Tuannya. "Ah, sial. Aku belum selesai dengan permainan ku. Kenapa mereka menghilang secepat ini, bahkan aku belum menikmati permainan ini." Pria gemuk ini mengomel dan menggerutu sebal. Kadang menenteng Godam hitamnya di pundak kadang pula di hentak-nya di batuan granit itu. "Hei Nak," tegurnya pada Sean. "Siapa kau? Dan dari mana asal mu?"
"Aku?" Sean menunjuk dirinya. Dia memastikan. Dia menengok ke kanan dan ke kiri, tak ada orang lain kecuali Sean. "Apa kau bicara pada ku?"
"CK," Gordon men-decak. "Kau kira aku bicara pada roh-roh yang kau tumpaskan tadi?"
"Oh, maaf Tuan. Ku pikir kau sedang tidak berkata pada ku," kata Sean polos.
__ADS_1
Gordon menggelengkan kepalanya, dia memijit keningnya. Sean terlalu lamban baginya yang suka pada sesuatu yang serba cepat. "Panggil aku Gordon. Si benteng yang kuat nan tangguh!"
"Apa itu arti nama mu?" Sean menebak.
Gordon membuang nafas lelah, baru kali ini dia bertemu dengan bocah kecil yang tak paham siapa dia. "Dari mana asal mu?" tanyanya lagi. "Dan, apa yang kau lakukan di sini!"
"Aku......"
"Kau pasti bukan dari sini, kan?" Gordon menyambar cepat. Dia berkata, menebaknya kembali. "Kau nampak berbeda dengan orang-orang yang pernah ku temui. Kau...... Ehm..... Terlihat seperti aku kala muda?"
"Benarkah?"
Gordon mengangguk. "Tapi aku lebih tampan dari mu Nak," katanya lalu tertawa terbahak-bahak.
Sean benar-benar di buat gila melihat pria berbadan besar ini. Di usianya yang tua, ternyata dia pandai membual. "Pria aneh dan picik," gumam Sean pelan.
Gordon berjalan menuju ke arah ujung jalan sambil menyeret Godam besarnya. Dia berjalan di depan Sean, tangan besar itu berulah, dengan menyentuh kepala Sean. "Ikut aku. Kau pasti tersesat."
"Tapi—"
"Ikut saja aku. Kau pasti bingung tiba-tiba melihat ada beruang berjalan menawarkan sesuatu yang berharga. Semua orang mengakui aku beruang berjalan, karena tubuh ku yang besar." Dia mengakui sendiri siapa dirinya. Dia hebat, bisa menebak Sean dengan benar.
"Padahal aku tidak mengatakan kalau dia beruang," gumam Sean hampir tak bersuara. Tapi kakinya mengikuti pria itu menuju ujung jalan perkampungan tempat dia bersama dengan Jessica tadi.
Dari ujung jalan, Jessica meluncur menuruni gundukan tanah. Anak itu baik-baik saja, Sean melihatnya selamat, Sean bersyukur, dia tak terjadi apapun atau terluka.
"Sean!" teriaknya dari rumah di dekat gundukan bukit itu.
"Jessica!" balas Sean. Dia ingin mendekati Jessica, namun semua itu terhalang.
Saat Sean mencoba kesana, menuju ke arah Jessica. Gordon menahannya, dia tak mengizinkan Sean mendekati Jessica. "Kau jangan mendekati dia," ucapnya meragukan.
"Kenapa?"
"Apa dia bersama mu?" tanya Gordon.
Sean mengangguk. "Dia sahabat ku, Jessica. Apakah ada yang salah darinya?"
"Tidak," jawab Gordon. "Aku sempat meragukannya tadi. Ku pikir dia si penyihir buta," ungkap Gordon berkelakuan konyol.
Jessica yang ada di ujung rumah, tidak jauh dari mereka menyahut ketus. "Hei, kau, si gemuk seperti beruang. Beraninya kau mengatakan aku sebagai penyihir buta."
"Oh, nampaknya dia mendengarkan aku." Gordon menatap Sean, baru kali ini dia melihat seorang gadis kecil memarahinya. "Apa dia kekasih mu?" tanyanya lagi membisik lada Sean. "Dia amat garang."
"Tidak!" Sean membantah cepat. "Dia teman terbaik ku. Mana mungkin dia kekasih ku," jawab Sean malu-malu.
Gordon menyikut Sean, dia menggoda remaja itu. "Kau sama seperti ku. Menyukai seorang gadis, tapi malu mengungkapkan kebenaran bahwa kau menyukainya."
Sean tak habis pikir. Manusia kuno seperti pria ini bisa mengenal artinya sebuah perasaan. Untuk manusia seukuran Gordon, dia lebih pantas menjadi pemburu hewan liar ketimbang menjadi vandal berhati lembut.
__ADS_1
BERSAMBUNG