
Semar raksasa bagian dua.
"Sean. Kau sudah melakukan yang terbaik. Kau tidak perlu menyesali kepergian Yudhar."
Jessica memeluknya erat-erat.
Apapun yang telah mereka lalui, semuanya terasa tidak seru saat anak itu pergi meninggalkan mereka.
Sean menangis meratapi kepergian Yudhar. Dia tidak bisa membayangkan seperti apa jadinya saat dia harus mati dalam cengkraman mosarus.
Sean menitipkan air mata harunya.
"Aku mengerti! Takdir memang tidak baik untuk kita saat memasuki kota ini. Tidak tahu apalagi yang akan terjadi kedepannya, aku yakin pasti satu persatu kita akan lenyap. Kita di takdirkan mati di tempat biadab ini." Sean menumpahkan seluruh rasa penyesalannya dengan memukul tubuh Driyad. Dia terisak menangis, walau sebenarnya ini kali pertama baginya menangis. Dia tidak bisa menahan air mata yang keluar. "Aku muak pada tempat ini."
Driyad tidak marah, pukulan itu tidak menyakitinya. "Lakukan apapun yang kau mau Sean. Asal, kau tidak lagi menyalahkan diri mu." Driyad berusaha mencarikan suasana. Dia paham sekali bagaimana rasanya kehilangan seorang sahabat.
Lebih-lebih sahabat seperti Sean. Siapa pun akan menyukai sikap tanggung jawab anak ini.
Mereka bertiga berdiri di perbatasan hutan Semar raksasa--hutan pelangi.
Hutan Semar adalah hutan kematian, karena satu-satunya tumbuhan yang kerap menyantap makhluk besar maupun kecil.
Bahkan sebesar mosarus pun akan di habisi.
Driyad membawa Sean meninggalkan lembah tandus ini. Mereka kembali memasuki hutan lebat.
Menuju ke permukiman penduduk, Driyad menuntun perjalanan anak-anak yang tengah bersedih. Di perjalan Sean, di atas punggung Driyad dia teringat pada kata-kata ibunya yang melarangnya liburan ke Indonesia, Bali atau semacamnya.
Ternyata beginilah yang di khawatirkan oleh ibu Sean. Takut kehilangan dirinya dan Sean merasa amat bersalah karena tidak mendengarkan kata-kata sang ibu. "Ibu!" Sean merengek. "Aku sangat menyesal ketika tidak mendengarkan kata-kata ibu. Dia benar tentang ini. Dia sangat mengkhawatirkan aku," Sean mengenang perkataan ibunya.
Jessica tahu merindukan seorang ibu adalah sebuah hal yang diinginkan Sean, walau bagaimanapun hidup bersama ayahnya membuat Jessica sedikit bersikap keibuan. "Kau jangan terlalu bersedih Sean! Mungkin kepergian Yudhar sudah menjadi jalan hidupnya. Kau harus percaya bahwa kau telah melakukan yang terbaik." Dia menepuk pundak Sean yang duduk di depannya. "Jangan pikirkan apapun lagi Sean. Kita harus fokus menemukan Eed, dan lupakan hal yang baru saja terjadi," Jessica bersikap normal. Dia ingin melupakan hal yang sudah berlalu ini.
__ADS_1
Benar yang di katakan Jessica. Dia harus kuat dan melupakan apa yang terjadi pada Yudhar tadi. Dia tidak bisa hanya mengenang Yudhar yang telah meninggalkan mereka.
"Tuan serigala!" Sean memanggilnya. "Apakah kau yakin apa yang di katakan oleh Dewi Handita?" Dia bertanya, karena Driyad memahami tempat ini terlebih Dewi Osirus itu.
"Tentang apa?" Driyad bertanya singkat, memalingkan kepalanya ke atas.
"Tentang Edward!" Sean masih penasaran. "Terakhir kali dia mengatakan bahwa Eed akan segera bertemu dengan kami. Apakah dia benar bisa di percaya?"
"Entahlah!" Driyad menyahut. "Aku tidak bisa memahami Dewi Handita. Dia sama seperti Dewi lainnya, sulit di tebak."
Jessica duduk di belakang Sean. Dia membisik temannya itu. "Mungkin saja kita harus percaya pada wanita itu Sean. Aku yakin dia bisa di percaya."
"Aku mulai mempercayai kata-katanya, hanya saja aku ingin memastikan perkataan Dewi itu," Sean membalas berbisik.
Jessica mengangguk, dia melihat Sean sudah tidak lagi bermuram. "Kalau begitu, jangan lagi memikirkan semua yang telah berlalu. Aku sangat bangga padam mu. Jadi, jangan menyesali kejadian ini, semuanya akan baik-baik saja!" Jessica berusaha memperbaiki emosi Sean yang sempat kalang kabut.
Saat di atas punggung Driyad, Jessica dan Sean kembali melintasi sebuah bukit. Kali ini bukit yang mereka lalui adalah bukit alang-alang.
Hingga larut malam. Driyad yang menuntun perjalanan, akhir tiba di desa manun. Desa yang dulunya milik para penyihir buta dari kaum manun.
Tidak seperti yang terjadi seperti dahulu, desa ini lebih layak di sebut sebagai sebuah kota besar. Kota new York mungkin tidak ada bandingannya dengan tempat ini.
Orang-orang berhilir mudik, berlalu lalang kesana kemari walau hari sudah larut.
Di desa manun, bangunan yang Sean dan Jessica lihat tidak menampakkan diri sebagai sebuah desa. Penduduknya maju, bahkan pintu gerbang kota pun sangat tinggi menjulang hampir menyentuh awan metis.
"Apakah ini pemukiman penduduk yang kau maksud, tuan serigala?" Sean bertanya dengan tatapan nanar takjub melirik seluruh isi bangunan yang mereka lalui.
"Ya, ini adalah permukiman penduduk." Driyad membenarkan kata Sean. "Dan, bangunan tempat kita berdiri sekarang adalah pusat perdagangan desa manun," katanya memberi tahu.
__ADS_1
"Desa manun?" Jessica menyambar, sambil bertanya sedikit mengingatnya pada sesuatu. "Kau yakin ini adalah desa?" Dia kembali bertanya karena tidak ada tanda-tanda bahwa tempat ini adalah sebuah desa.
"Ya!" Sekali lagi Driyad membenarkan ucapan kedua anak yang sedang tertegun itu. "Desa ini bernama manun. Dahulunya desa yang pernah di huni oleh penyihir buta." Driyad memberitahu kedua anak itu. "Dan, desa ini menjadi pusat perdagangan mistis jaman dahulu di luar transaksi bersama penduduk kota saranjana."
Jessica dengan matanya menatap langit-langit bangunan yang tingginya mungkin sedikit lebih rendah dari menara Eiffel di Perancis. Bangunan sedikit megah ini membuatnya terpukau. "Desanya pun semegah ini, apalagi kotanya. Aku rasa kota saranjana pasti sangat megah!" Jessica bergumam takjub. "Katakan! Apakah kota saranjana sangat megah seperti dugaan ku!" Dia menyikut makhluk itu. Dia penasaran pada bangunan di saranjana.
"Sangat megah!" Driyad menambahkan kata-kata takjub. "Di sana semua yang terlihat adalah emas. Tak ada satu pun yang tak terlewatkan oleh emas." Driyad berkata membanggakan kemegahan saranjana.
Sean sedari tadi menatap keanehan tempat ini. Kuno! Ya, seharusnya begitu yang dikatakan oleh Sean. Orang-orang berpakaian dari bulu domba. Hal ini menarik perhatian Sean. "Dari mana mereka berasal!" Dia menunjuk ke beberapa segerombolan pedagang bertubuh besar dengan pakaian domba berbulu hitam yang melintas di hadapannya.
Driyad melirik orang-orang yang di maksud Sean. "Mereka adalah orang moria dari desa moule. Desa yang juga tidak jauh dari sini." Driyad melihat bahwa Sean dan Jessica terus menatap segerombolan pedagang yang sudah menjauh dari pandangan mereka. "Mereka mengenakan pakaian berbulu karena adanya akulturasi dari berbagai budaya yang pernah masuk ke dalam kota ini." Driyad melanjutkan kisah kaum moule atau Moria, sudah pasti Sean sangat menyukai cerita ini.
"Lanjutkan cerita anda tuan serigala," Sean mulai penasaran sembari tak sabar mendengar kelanjutan cerita tentang kaum itu.
Driyad menarik nafas, lalu kembali bercerita. "Selain karena ada akulturasi budaya yang pernah masuk dari Utara Ireland, mereka juga memiliki persamaan fisik dan tinggal di wilayah yang juga bersalju. Dan desa moule adalah desa bersalju abadi."
Jessica dan Sean menjadi pendengar yang baik. Keduanya belum memotong pembicaraan makhluk itu sedikit pun.
Driyad makin semangat dalam menceritakan kisah mereka, kaum Moria bertubuh besar. "Dahulu, orang-orang Moria adalah keturunan anglo Saxon di era beberapa ratus tahun yang lalu. Mereka masuk ke kota ini untuk berdagang. Namun siapa sangka, desa bahkan kota ini menjadi daya pikat bagi kaum berbulu itu sehingga mereka memutuskan tidak kembali ke negara mereka. Setidaknya perdagangan dulu sangat luas, hingga mencakup daerah yang bernama Mozambique datang ke sini mencari peruntungan."
Mendengar cerita ini, satu yang mengganjal dalam benak Jessica. Dia langsung menyela cerita Driyad. "Itu artinya, kerajaan Inggris sudah lama berdiri dengan mengusung nama anglo Saxon di seluruh wilayah Utara Irlandia." Jessica berpikir dengan jernih, dan kini dia paham kenapa Inggris amat terkenal. "Dan, hingga saat ini Inggris sudah berdiri setidaknya cukup lama!"
"Tepat sekali!" Driyad membenarkan.
Tetapi Sean, dia paham betul seperti apa sejarah. Pengetahuannya memberitahu Jessica tentang kisah masa lalu. "Tidak!" Dia membantah kebenaran yang di katakan oleh Driyad. "Inggris tidak ada hubungannya dengan Utara Ireland dan juga Northern Ireland masuk dalam united kingdom yang meliputi empat negara. Sedangkan Inggris yang kalian maksud adalan negara dengan ibukota London. Dan nama lainnya yang tidak termasuk dalam Inggris adalah Britania raya. Ketiga nama negara ini berbeda."
Jessica menyahut, kebenaran bahwa apa yang di katakan Sean adalah fakta. "Dan kau ahli sejarahnya!" Celetuk Jessica sambil mengedipkan mata menggoda Sean.
Sean memiringkan kepala, dia membesarkan bola matanya. "Sedikit. Bahkan aku akan menggantikan Mr. Franklin nanti!" Celetuk Sean .
BERSAMBUNG
__ADS_1