
Burung-burung terbang di sekitar lereng bukit—lalu menembus istana awan Metis. Membelah awan, di istana Lord Shutanhamun. Berputar girang, menyambut kedatangan Lausius.
Di dalam istana, Jessica membelai kepala Ligong, setelah beberapa hari tak berjumpa dengan si hitam bercahaya. Jessica butuh beberapa saat untuk menguasai hati Ligong. Sebab, dia lebih menyeramkan dengan rupanya yang terlihat seperti macan hitam lainnya.
Sekali, Edward menyikut Jessica. Berbisik pelan, penasaran pada makhluk unik, buas namun bertingkah seperti anak kucing. Apalagi, tak ada sifat binatang buas dalam bertingkah. Jelas, Ligong lebih condong ke kucing alih-alih menjadi macan.
“Siapa makhluk yang datang bersama Sean itu. Kau menyentuhnya dan membelainya, seakan kalian terlihat akrab pada hewan hitam itu?”
“Dia Ligong, makhluk Sean,” balas Jessica membisik.
“Ligong?”
Jessica mengangguk. “Sean menemukannya di lembah Pharos. Dia adalah hewan bercahaya, dia hewan ajaib. Kau akan takjub jika sudah melihat sisi lain dari dirinya,” ujar Jessica memberitahu.
Edward mengerjapkan matanya, dia takjub, sedikit. Walau hanya sekilas mendengar Jessica menjelaskan keajaiban Ligong, bagi Edward itu adalah hal yang luar biasa. Edward bisa membayangkan, kalau dia benar-benar bercahaya, pasti indah cahayanya itu.
Saat ini Edward tak melihat cahaya di tubuhnya, kecuali ada semacam kristal merah di punggung dan kepalanya. Seolah Ligong hitam adalah hewan hasil ciptaan komputer 3 dimensi.
“Kau kenapa!” tanya Jessica. Edward hanya terdiam, Jessica jadi ragu menjawabnya tadi. “Kau baik-baik saja bukan?”
“Aku...... Hanya bingung saja. Kau.... Sean.... Oh, tidak. Seharusnya di tempat ini, kalian.... Yah, aku rasa aneh.”
Jessica menggeleng, di ikuti decakan heran. “Kau akan memahaminya, saat kau sudah bersahabat dengan si hitam manis ini,” kata Jessica memberitahu—seolah Ligong adalah makhluk sahabat semua orang.
Satu tangan Jessica mengelus lembut kepala macan hitam yang terus bercahaya. Dia mencoba memamerkan Ligong penurut pada Edward. Sedangkan Edward, dia hanya membuka mulutnya ternganga. Aneh saja, pasalnya dia terlihat menyeramkan, namun semudah itu akrab dengan belaian lembut dari Jessica.
“Baiklah, aku akan mencoba memahaminya nanti. Kau pasti benar, dia bercahaya.”
Usai bertanya-tanya tentang kucing hitam besar itu. Kini Edward, berbalik, melihat Sean yang sedang berkata pada yang mulia Shutanhamun.
Edward paham, pria tua itu memperlakukannya amat baik dan ramah. Bahkan Edward pun sudah di berikan tempat tinggal, di berikan pakaian zirah yang terbuat dari baja ringan namun kokoh.
Juga di perlakukan bak bangsawan, Edward merasa betah tinggal di istana awan ini untuk waktu yang lama. Edward seakan di paksa melupakan dunia fana-nya.
“Kau akan mendapatkan kesempatan itu,” kata pria tua pada Sean.
“Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan. Aku akan menepatinya untuk mu, asal kau memberitahu jalan keluar dari sini.”
“Kesemepatan ini, kau harus menerima dengan lapang dada. Aku tidak mau, kau berhenti di tengah jalan. Karena permintaan ku ini agak sulit. Apa kau menyanggupinya?”
Sean mengangguk setuju, atau apapun itu. Sean tidak peduli jika permintaan si pria tua itu akan sulit. Pada intinya, Sean menyanggupi semua keinginannya. Edward takjub pada Sean, dia benar-benar pria jantan.
“Kau jangan khawatir, aku akan melakukannya untuk mu.”
Jawaban mantap dari Sean, membuat pria tua itu tersenyum ramah lagi. Kadang dia mengurut jenggot putihnya, dia terlihat amat bahagia.
Sean baru sadar, kalau di sepanjang altar berkarpet merah cerah ini, ada banyak pengawal yang berbaris rapi. Mereka menggunakan tombak, baju perang terbuat dari tembaga tebal nan ringan.
Ada tombak di tangan, lalu memakai topeng anjing. Tunggu, Sean mulai menyadari. Mereka terlihat lazim, seperti orang-orang yang pernah Sean lihat.
“Orang-orang ini. Kenapa aku seperti pernah melihatnya ya?”
Sean berpikir sebentar. Dia ingat sesuatu di balik wajah bertopeng anjing. Ehm...... Seperti.....
“Oh. Ya, aku ingat,” gumam Sean pelan. “Mereka mirip seperti prajurit Mesir kuno. Aku ingat, aku pernah melihat ukiran dan patung manusia berkepala anjing. Tidak, maksud ku, dewa..... Oh, ya, Dewa Anubis. Dewa berkepala anjing. Tetapi, kenapa orang-orang ini memakai hal yang sama seperti yang di pakai para prajurit Mesir kuno? Tidakkah ini terlalu aneh?”
Sean menelisik sekeliling. Dia heran, sebenarnya dia berada di kota ajaib itu, atau berada di era Mesir kuno. Ketika melihat prajurit bertopeng anjing, rasanya aneh bukan.
Sean pernah mengunjungi Mesir, persis seperti yang pernah Sean lihat sekarang. Mereka sama seperti orang-orang Mesir. Di dalam ukiran, di Giza.
Sean menoleh ke belakang. Sesaat, pintu besar di belakang Sean terbuka lebar. Dengan kasar dua orang pria masuk, berlari kecil dengan napas memburu.
Sean mengernyitkan dahinya. “Siapa lagi orang-orang ini. Kenapa mereka seperti tak ada sopan-nya mendekati pria tua ini.”
Oh, Sean juga lupa. Kalau Sebenarnya dia sendiri tak pernah bersikap sopan pada pria berubah putih itu.
__ADS_1
Sean melihat dua pria itu, ketika tiba di hadapan pria tua, keduanya langsung tertunduk hormat dan patuh. Menyatukan kedua tangan, tak sanggup melihat wajah si tua beruban. Sama seperti yang di lakukan oleh Crypto dan Gordon sebelumnya.
Salah satu kemudian berkata.
“Maaf yang mulia atas kedatangan hamba tanpa membawa kabar apapun. Jika hamba lancang, hamba tidak membawa Lausius itu. Tetapi.....”
“Tetapi apa?”
Driyad memandang wajah Amuria, sempat ragu untuk mengatakan hal itu. Namun.....
“Maaf jika hamba sebelumnya berpikir pangeran Lausius terakhir sudah tak ada harapan. Namun kini, saat melihat tubuh kami kembali ke bentuk tubuh yang semula. Maka, kami pastikan.....”
“Berdirilah kalian berdua.”
“Yang mulia. Anda?!”
Driyad membulatkan matanya, dia berpaling menatap mata Amuria.
“Apakah kau tidak salah dengar?” bisik Driyad pelan.
Amuria menggeleng. “Aku berpikiran hal yang sama,” katanya senada.
Kemudian, keduanya sepakat berdiri. Namun, perasaan takut itu kembali menghantui mereka. Biasanya, kalau Tuan agung mereka sudah berkata begitu, ada keraguan di baliknya.
Mereka tak mau kembali menjadi seorang hewan, walau itu lebih baik daripada di rajam.
Amuria mencoba berkata, dia ingin memperjelas keadaannya.
“Yang mulia. Hamba memohon ampun, hamba tidak bermaksud..... ”
“Kalian tidak perlu memikirkan kutukan itu. Tak akan ada lagi hal semacam itu.”
Lagi-lagi, keduanya di buat terpaku bingung. Amuria dan Driyad saling lempar pandangan pandang. Aneh, sungguh mereka sudah merasakannya.
“Yang mulia, anda.....”
“Yang mulia. Apakah anda yakin?”
Driyad memandang wajah Lord Shutanhamun, pria tua itu mengangguk pelan. Senyum ramah, menyisir jenggot putihnya. Satu tangan dia lipat di belakang punggung, sikapnya amat bijaksana.
Sean melihat kedua orang menawan itu lamat-lamat. Wajah mereka kuyu, namun agak antusias.
“Hei. Kenapa kalian berdua bertingkah seperti itu,” sahut Sean pada ucapan Driyad—yang kini beralih menoleh ke arah Sean. “Kalian terlalu formal. Padahal hanya sekedar basa-basi saja,” ucap Sean lagi. Kali ini dia bersikap apatis, tak peduli apapun.
Pria tua itu tersenyum ramah. Bersabar? Tidak, pria tua itu justru bahagia melihat tingkah polos remaja yang telah dia tunggu kelahirannya selama ribuan tahun ini.
Sedangkan bagi Driyad dan Amuria, keduanya justru membelalak kaget.
Mereka tak tahu jika anak yang sedang mereka singgung, kini berdiri di belakang keduanya. Mereka tidak sadar tadi, dan setelah Sean menyahut. Barulah keduanya mengerti kenapa kemurkaan yang mulia mereka berubah menjadi hangat kembali.
“Dia......” Amuria balik memandangi wajah Lord Shutanhamun, setelah kaget melihat Sean ada di hadapannya.
“Dia sudah datang. Maka, tak akan ada lagi keraguan di dalam diri kalian,” ucap pria tua ini.
Tak tahu, kenapa ini bisa terjadi. Secepatnya, Driyad mulai memahaminya. Di kira, sejak awal perubahan mereka karena yang mulia Shutanhamun sedang berbaik hati, namun dugaan mereka benar. Lausius ada disini.
Driyad langsung menghampiri Sean, di pandangi wajah Sean dengan seksama. Dia baik-baik saja, Driyad bersyukur masih melihat kulit wajah menawan Sean tak tergores sedikit pun.
Sementara Sean, dia agak risih. Sean tak suka jika wajahnya di tatap khidmat, hingga di sentuh oleh tangan pria di depannya. Pria yang tidak dia kenali.
“Pangeran. Inikah kau?” tanya Driyad.
Sean menampik tangan Driyad.
Tangan pria itu sudah menjalar kemana-mana.
__ADS_1
“Hei hentikan. Siapa kau? Kenapa kau menyentuh ku tanpa seizin ku!” ucap Sean ketus.
“Pangeran. Kau melupakan aku?”
“Aku tidak mengenal mu. Sungguh,” balas Sean ketus. “Lagi pula, aku bukan pangeran. Jangan bicara yang tidak-tidak!”
Akh, Driyad lupa. Sean mengenalinya sebagai hewan. Dan, di balik wajah menawannya, jelas Sean tak akan mengenalinya.
Amuria datang dari belakang Driyad, kini dia yang berkata. “Pangeran. Maafkan kami yang telah membuat pangeran sengsara selama dalam perjalanan. Maaf, jika kami tak bisa menjaga pangeran dengan baik.”
Amuria tertunduk, sedangkan Sean makin bingung pada kelakuan keduanya.
“Hei. Aku bukan pangeran. Kalian berkata apa? Menjaga ku? Aku bahkan tidak pernah merasa memiliki seorang penjaga. Kalian salah mengenali orang lain.”
“Tidak. Pangeran hanya melupakan wajah kami. Pangeran sangat mengenali wajah kami.”
Kembali, Amuria berkata. Entah, Sean tak tahu harus berkata apa untuk menampik ucapan pria yang menyembahnya itu.
“Pangeran melupakan kami.”
Driyad menepuk pundak Sean. Sean membesarkan matanya, mereka berkata rancu dan aneh.
“Ayolah. Kita tak saling kenal. Bagaimana bisa aku mengenali kalian.”
“Aku Driyad, dan dia Amuria,” ucap Driyad yang langsung menjelaskan. Kata-katanya, membuat Sean tak percaya.
“Hei. Driyad dan Amuria yang aku kenal adalah serigala dan harimau. Mana mungkin keduanya berubah menjadi seperti kalian. Lelucon konyol.”
Sean bersikap apatis. Lebih tepatnya, Sean tak peduli siapa mereka. Sean hanya percaya pada apa yang dia lihat. Akan tetapi, Sean menimbang ulang ucapannya.
Sean memperhatikan lagi wajah Driyad. Wajah menawan, yang tak kalah jauh menawan dari Crypto.
“Apakah benar dia Driyad?”
Pertanyaan itu mulai meragukan Sean. Pasalnya, pria itu langsung mengenalinya di sini.
“Ehm.....” Deham Sean kecil. Driyad menatap Sean, Amuria begitu juga. “Jika kalian adalah Driyad dan Amuria, pasti kalian tahu dimana kita terakhir kali berpisah.”
Jelas, Driyad tidak akan melupakan semua kejadian ini. Dia paham betul, dimana mereka berpisah.
“Di hutan gelap. Saat kita menuju ke tempat ini, pangeran dan si gadis berambut putih terperosok kedalam lubang jebakan penyihir buta,” balas Driyad.
Tak di ragukan lagi, dia sangat paham kejadian itu hingga detail. Sean bergumam kecil, dirinya mulai mempercayai pria di hadapannya ini adalah Driyad dan Amuria.
“Benar apa yang di katakan oleh pria ini. Kami berpisah di dalam hutan gelap. Apa mungkin jika dia.....”
“Apakah pangeran percaya pada kami?” tanya Amuria ingin tahu.
Sean sempat terdiam. Namun tak ada pilihan lain, kecuali......
“Kalian benar. Aku akan percaya bahwa kalian adalah Driyad dan Amuria.”
Mendengar ucapan Sean, keduanya langsung membungkuk hormat. Sean tak heran, dia selalu di perlakukan begitu.
“Terima kasih pangeran. Kau telah menyelamatkan kami.”
Sean tak paham, menyelamatkan dalam bentuk apa. Namun, bagi keduanya, mereka di selamatkan karena tak lagi berubah menjadi hewan itu. Syukurlah.
“Ya, aku memang juru penyelamat kalian.” Sean tak tahu apa maksud ucapan keduanya. Yang jelas, Sean hanya menjawab sesumbar.
Saat Sean sedang di penuhi rasa penasaran mengenai kisah penyelamatan apalah itu. Dari belakangnya, seseorang memanggil nama Sean, lalu dia berlari kecil kearah Sean.
“Sean!!!”
Sean menoleh. Bayangan itu, Sean kenal.
__ADS_1
“YUDHAR!!”
††††††