Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 146


__ADS_3

“Oh, tidak!” teriak Sean.


Dia masuk kedalam dimensi itu lagi. Dimensi, yang hanya di dominasi warna putih.


Sean tiba-tiba terjatuh, sialnya. Kali ini, moncong Sean tepat berada di kaki ....


“Kakek,” kata Sean sumringah. Segera Sean berdiri, ternyata pria tua itu ada di sana juga. “Kakek. Kapan kakek ....”


“Kau akan tahu, inilah kesempatan mu.”


Seketika, semua yang terlihat putih, kini berubah kembali menjadi ke semula. Tempat yang dipenuhi pria-pria menawan itu, kini Sean kembali melihatnya. Namun, tidak dalam peti mati kristal itu, melainkan mereka ....


“Hidup ....”


“Kami adalah Lausius, para pejuang yang sudah berakhir.”


“Bagaimana bisa kalian ....”


“Keabadian tak bisa diukur dengan seberapa kuatnya kau. Namun, keabadian bisa kau capai jika kau melakukan kebaikan dalam hidupmu. Orang-orang akan mengingatmu, di sanalah kau abadi. Didalam hati orang-orang yang mencintai mu. Kau mampu melakukannya, jika kau bisa melindungi tanah keabadian ini.”


Salah seorang Lausius berkata, wajah mereka serupa. Walau ada bedanya sedikit. Mereka semua menawan, untunglah Sean bukan wanita. Jika tidak, mungkin Sean akan jatuh cinta pada sosok putih bersih dihadapannya.


Bayangkan saja, pahatan hidung mereka begitu sempurna. Mata-mata mereka indah. Tubuh bercahaya mereka makin menambah kesan, kalau mereka bukan hanya sekedar pria menawan saja. Tapi, lebih dari itu.


Sean mengedarkan pandangannya, memperhatikan dengan jelas wajah-wajah itu. Sean memejamkan matanya, lalu ....


“Apakah benar bahwa aku adalah Lausius? Apakah aku adalah salah satu dari puluhan pria-pria dihadapan ku ini?”


Benak Sean bertanya-tanya. Dadanya terasa berat. Setiap napas yang ditarik, seakan membuat Sean harus segera sadar.


Sean, dia pelan-pelan membuka matanya. Sean menyadarkan dirinya dari ilusi ini. Mata dan tubuhnya kembali bercahaya.


Lord Shutanhamun berdiri di atas mimbar. Di sana ada ukiran burung Phoenix emas, ukiran yang Sean lihat tadi.


Sean memperhatikan sekali lagi kulitnya yang bercahaya, membentuk sebuah pola. Di dadanya, Sean menyentuh warna biru bercampur kuning kemerah-merahan. Tulisan itu juga nampak, Sean kali ini tidak bisa membantah kalau dia sebenarnya adalah Lausius. Ksatria yang disebut berkali-kali oleh orang-orang yang memperhatikannya.


“Kekuatan ular Medusa, ditambah kekuatan cahaya alamimu. Kau memiliki sebuah kekuatan yang besar saat ini,” kata Lord Shutanhamun memberitahu.


Sean terpaku, dia masih tak bisa berhenti untuk memandangi tubuhnya.


“Bagaimana dengan tulisan cahaya ini?” tanya Sean.


“Putra cahaya, kau yang paling diberkati. Kau beruntung anakku, kau memiliki kekuatan itu. Kau adalah Filli Lucis sesungguhnya.”


“Cahaya Medusa itu. Dan, tulisan ini.”


Persis seperti yang dikatakan oleh si tua. Tulisan di dada Sean membentuk kata Filli Lucis.


Kata yang Sean pahami, yakni—putra cahaya. Dulu, sempat Sean mengira bahwa tulisan itu hanya tato ajaib. Tapi sekarang, Sean tidak lagi meragukan keadaannya.


Ingatan Sean, kini sepenuhnya ingatan itu muncul. Sean terpuruk sebentar namun itu hanya alibi. Nyatanya, Sean melihat masa lalunya.


“Aku ..., Aku Adalah Lausius!”


Pria tua mengangguk. “Kau tak bisa menyangkalnya. Itulah kenapa kau berada disini.”


“Tapi ..., aku belum siap dengan semua ini, Kakek!”


Sean memperhatikan lagi wajah yang berusaha menghiburnya ini. Pria tua itu menuruni tiga anak tangga. Dari mimbar, dia mendekati Sean. Membantunya, memapah Sean berdiri.


“Inilah saatnya kau melihat dunia. Kau putra Edna, yang mungkin tak akan adalagi putra Edna kedua atau ketiga. Kau satu-satunya Lausius yang kelahirannya sudah diketahui semua orang. Kau tidak bisa lari dari kenyataan ini.”


“Kakek. Aku ....”


Pria tua itu menepuk pundak Sean. “Percayalah pada dirimu sendiri. Kau pasti mampu menjadi pejuang bagi semua saudara mu.”


Mata Sean melirik sekali lagi kearah pria-pria didalam peti kristal. Tidak tahu apakah dia mampu melakukan atau tidak, Sean kini mengakui dirinya. Dia Lausius, Sean layak dengan gelar itu Sekarang.


“Lalu. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanya Sean tanpa keraguan.

__ADS_1


“Kau akan tahu secepatnya.”


††††


Jessica mondar mandir didepan Edward. Keduanya berada dikamar yang sama. Edward, dia duduk di kursi kayu era zaman kuno. Jessica menilai, anak itu sedang senang.


Menjungkat jungkitkan kursi, duduknya sangat santai. Jessica menggeleng sebal melihat kelakuan anak itu.


Berbeda dengan Edward, Jessica terlihat cemas. Sedari tadi anak itu tak merubah ekspresi wajahnya.


“Kenapa Sean belum datang kemari. Kenapa kamar kita dipisahkan dengan kamarnya. Ini tidak adil!”


“Hei. Kau sejak tadi mondar-mandir di sana. Apakah kau tak bisa diam. Pusing kepala ku melihatnya.”


Edward mengomel, sambil mulutnya  memakan anggur. Jessica mendesah sebal, lantaran Edward sangat santai ditempat ini.


Ya, walaupun Jessica mengakui, kalau tempat ini penuh keajaiban. Namun, bukan berarti mereka akan terjebak ditempat ini dalam waktu yang cukup lama.


“Eed. Bisakah kau berhenti mengunyah anggur-anggur itu. Aku lelah melihat kau bertingkah konyol!”


“Tidak bisa. Dedikasi ku hanya untuk makan!”


Jessica menggeleng sebal. “Eed, di dunia kita, makanan semacam itu banyak. Kau bisa memakan sepuasnya jika kau mau. Aku akan mengajak mu ke kebun paman Mc (Mec) jika kau inginkan semua itu. Tapi tolong, berhentilah untuk tidak peduli pada keselamatan kita sekarang!”


“Siapa peduli!?” Edward mengangkat kedua bahunya. Dia acuh pada ucapan Jessica. “Kau tak akan aman jika menunggu Sean kemari. Dia sekarang sangat sibuk, tak lagi dia akan memperhatikan kita disini.”


“Oh. Dia selalu apatis,” gerutu Jessica.


Jessica berdiri didekat pintu. Pintu itu terbuka, kepala Yudhar keluar dari balik pintu yang menyeka itu.


“Apakah aku mengganggu?”


Anak itu terlatih dalam berbasa-basi. Jessica memutar matanya jengah, bosan melihat kehadiran cyborg bak Transformers itu.


“Ada apa kau datang kemari?” tanya Jessica ketus. “Jika kau kesini hanya untuk membual, sebaiknya kau pergi. Aku benci membahas ide liar dan kebohongan mu tempo hari itu.”


“Untung aku terlatih dalam hal ini. Jika tidak, telinga ku akan memanas setiap kali mendengar ocehannya.”


“Aku datang kemari karena ....” Mata Yudhar melirik kearah kaki Edward, di sana kakinya santai. Di naikkan di atas kursi, dan ..., Yudhar menarik kursi itu, hingga Edward berhenti bersantai-santai. Meregangkan semua otot dipunggungnya.


Anak itu hampir terjungkal kebelakang, untung tangan Jessica sigap. Dia menangkap kursi yang diduduki oleh Edward, atau anak itu. Dapat dipastikan punggungnya patah.


“Hei. Apa yang kau lakukan pengganggu!” gerutu Edward sebal.


“Diamlah. Aku sedang bicara serius pada kalian berdua.”


Jessica mengangkat kedua alisnya, menatap Yudhar yang sekarang bersikap sok akrab padanya. Anak itu duduk di kursi, menopang dagunya pada pinggir kursi. Jessica tak tahu, kapan kursi emas itu berlabuh di dagu anak itu.


“Katakan. Kau ingin bilang apa?”


Jessica menantikan, sedangkan Yudhar? Jelas, dia akan menjentikkan jarinya kegirangan. Dia menantikan mulut manis gadis itu berkata lembut padanya. Kapan lagi Jessica akan bersikap manis padanya, jika bukan malam ini.


“Ini tentang Sean!”


“Sean?” sahut Edward.


“Tidak, maksud ku pangeran!”


Jessica membesarkan matanya. “Hidupmu terlalu mendramatisir. Aku malas mendengarnya!”


“Oh, tidak. Aku tidak bermaksud begitu.”


“Lalu?” Edward menyahut lagi.


Jessica acuh, dia tidak mau berkata apapun lagi pada si pembawa berita palsu. Si pembohong, siapa lagi kalau bukan si Yudhar.


“Jadi, pangeran saat ini sudah mengakui dengan jelas siapa dirinya,” kata Yudhar memberitahu. Matanya kemudian melirik Edward dan Jessica. Kedua anak itu hening, tak terkejut atas ucapan Yudhar. “Kenapa kalian tidak meresponnya?”


“Semacam kaget?” Jessica menimpali.

__ADS_1


Yudhar mengangguk. “Apakah ceritaku terlalu pasaran?” tanyanya penasaran.


“Kau sudah menceritakan hal ini padaku lebih dari sepuluh kali. Untuk apa lagi aku kaget.”


Edward mengenang, diikuti oleh Yudhar. Anak itu juga mengenang, dimana dia dan Edward sepanjang hari selalu bersama. Bermain di kolam taman, memancing di danau istana. Dan ..., lain-lain. Dia juga menceritakan kepada Edward tentang Sean. Edward, dia bukan remaja dungu yang mudah lupa pada ucapan Yudhar, anak itu sangat mengingat semua detail kejadian. Walau kadang lupa.


“Kau tahu. Aku sudah tahu hal ini sebelum kau menceritakannya pada ku!” ucap Jessica berang.


Yudhar menyengir, bagai kuda. Menggaruk kepalanya, padahal tidak gatal. Dia salah tingkah saat Jessica menginterupsinya dengan nada sinis.


“Oke, oke, baiklah. Kalian tidak perlu menghakimi ku seperti ini. Kalian benar, aku dramatis.”


Keduanya kikuk tak berkata, justru makin apatis. Edward, anak itu bahkan tak berekspresi dengan datangnya si pengacau.


“Tapi kali ini. Aku akan membawakan berita bagus untuk kalian.”


Kembali, Yudhar berkata. Jessica mendesah bosan, mungkin tak mau mendengarkan apapun lagi ucapan anak itu.


“Jika cerita ku tidak berkualitas, sebaiknya kau pergi. Atau aku akan melempar mu dengan pisau ini,” tegur Edward.


“Kali ini aku serius. Kau tak perlu se-emosional seperti itu.”


“Mulailah berkata. Aku akan mendengarnya, walau terpaksa.”


Jessica bersua, lagi-lagi Yudhar tersenyum. Gadis itu melipat tangannya di dada, sesekali melirik Yudhar sok jaim.


“Jadi. Pangeran. Dia saat ini sudah siap dengan jati dirinya yang baru.”


“Maksud mu?”


Jessica mengerutkan alisnya, tapi dia mulai tertarik mendengar ucapan Yudhar.


“Lord bilang, pangeran Lausius akan diumumkan sebagai kesatria baru di istana awan Metis ini. Begitu yang aku dengar.”


Yudhar menjelaskan, kini anak itu sok pintar. Dia yakin, pasti keduanya akan ....


“Kau yakin  apa yang kau katakan itu adalah sebuah kebenaran?”


Edward menyambar ucapan Yudhar, apel yang dia makan hingga sepotong, bahkan terjatuh entah kemana. Mungkin ke .... bawah meja.


“Tentu saja, kapan aku pernah berbohong pada mu,” kata Yudhar menyombongkan diri.


Melipat tangan di dada, ekspresi Yudhar sangat cocok sebagai seorang remaja pelit cerita.


“Kita belum memastikan dengan benar apa yang terjadi. Jika benar Sean menjadi ksatria, itu artinya ....”


“Kalian takkan bisa pulang!” sahut Yudhar membenarkan.


“Oke. Aku mengerti.”


Edward memahami, dan ya, dia paling tidak bisa seperti ini. Dia sangat berharap berlama-lama disini. Tempat seindah surga, Edward tak akan menolaknya.


“Ayo kita keluar. Kita cari Sean.”


“Kau ingin menemuinya?” tanya Yudhar sambil menahan Jessica.


Gadis itu mengangguk. “Aku ingin tahu, apakah dia benar-benar mengatakan akan menjadi pelindung tempat ini!”


“Itu ide gila kawan. Sebaiknya kau jangan kesana, tunggu saat pangeran sedang lengang. Sekarang bukan waktunya, karena Lord Shutanhamun akan mengumumkan kepada penduduk kota kalau Lausius sudah kembali.”


Yudhar memberitahu, kedua anak itu terdiam sesaat. Tangan Jessica menahan pintu, hampir pintu terbuat dari emas itu terbuka.


Jessica menutup kembali pintu hingga merapat, kemudian menatap kedua temannya.


“Bagaimana kita akan kembali ke dunia kita Eed?”


Edward menggeleng. “Aku tak paham, sebaiknya tanyakan pada Yudhar.”


Yudhar mengangkat bahunya. “Jangan tanya aku. Tugasku hanya membawa kalian kemari, bukan membawa kalian keluar dari tempat ini.”

__ADS_1


Jessica mendesah, membuang napas lelah. Kemudian dia nampak seperti sedang menyerah.


“Neraka yang sempurna!”


__ADS_2