
BUAH RAKSASA
Sean, Yudhar dan Jessica cukup beruntung. Terbebas dari jeratan ular, kini mereka jatuh di tumpukan buah raksasa yang begitu empuk.
Ketiganya jatuh di atas buah berwarna merah darah, walau tidak sakit tetapi buah itu cukup membuat pakaian ketiganya bersimbah daging buah yang lunak.
Tomat, ya mereka menggulingkan badan di atas buah yang bertekstur lembut ini. Hingga seluruh bagian tubuh mereka hampir tak bisa di kenali karena daging buah tomat menyelimuti seluruh badan.
Tak terkecuali Jessica, tubuhnya bahkan terlihat begitu menjijikan saat semua bagian badan itu memerah.
Yudhar menjadi yang pertama melihat Jessica. Dia tak bisa menahan gelak tawa saat gadis itu bangkit dari balutan buah segar itu.
"Haha... Kau nampak seperti monster darah seperti itu. Menjijikan." Yudhar meledek Jessica tanpa pamrih. Dia untuk sekian kalinya memancing keributan.
Jessica yang sebelumnya sedang membersihkan wajahnya yang tertutup oleh lemak buah ini, memasang wajah ketusnya karena di ledek olah Yudhar.
"Apa kau bilang! Aku monster darah. Perhatikan ucapan mu. Bahkan kau jauh lebih menjijikan dari zombie." Balas Jessica sembari tangannya melempar Yudhar dengan sisa-sisa buah yang mereka rusak.
Seluruh tubuh Jessica amat kotor di penuhi buah tomat. Buah itu tumbuh tepat di pinggir ngarai. Bentuknya sangat besar. Bahkan jauh lebih besar dari ukuran tubuh ketiga anak malang itu.
Jessica sempat melayangkan pukulan kejinya pada Yudhar. Dia tidak mau melepaskan pria kolot itu sebelum misi dendamnya terbalaskan.
Plak.
Lemparan Jessica tepat mengenai wajah Yudhar hingga ia tak bisa melihat. "Kau. Aku akan membalas mu nanti!" Seru Yudhar tidak terima atas perlakuan Jessica.
"Kau tak akan mampu membalas ku lagi manusia hutan. Aku jauh lebih berani dari pada kau yang congkak itu." Jessica sesumbar membalas ledekan Yudhar. Dia tidak peduli jika Yudhar akan membalasnya.
Tetapi pukulan tadi Jessica menganggapnya kurang puas. Hingga niatnya melemparkan tomat ke tubuh Yudhar ia lakukan berulang kali.
Melihat keduanya terus saja bertengkar, membuat Sean bergidik menyerah untuk melerai keduanya. Dia menarik nafas panjang seraya bersikap tak peduli.
"Hei. Hentikan perbuatan mu penyihir sombong. Rambut putih mu akan ku buat rusak jika kau terus melakukan ini pada ku."
Sembari menutup wajahnya, Yudhar mencoba melindungi diri dari serangan Jessica.
Seberapa hebat mereka berkelahi, Sean hanya ingin bersikap menjadi penonton drama keduanya. Sean tak berpikir untuk merusak kelakuan Jessica dan Yudhar. Dia mulai terlatih untuk bersikap tak peduli.
Namun, tepat di belakang Sean, bayangan hewan besar menyelimuti tubuhnya yang kecil. Sinar matahari siang itu menampakan bayangan hewan itu dengan jelas.
Sean menengoknya, dia tahu pasti lagi-lagi hewan buas yang menghampiri mereka. Entah akan berakhir sampai kapan para hewan buas mengikuti langkah mereka, yang pasti Sean sudah lelah menghadapinya.
__ADS_1
Roar...
Hewan besar ini tiba-tiba mengagetkan Sean.
Yang terlihat bukan menyeramkan saat hewan itu mengagetkan nya, tetapi justru membuat Sean senang.
"Driyad. Kau! Ku pikir kau sudah lenyap. Ternyata kau?" Tanpa pikir panjang Sean langsung memeluk hewan itu yang tadi sempat menghilang.
Driyad membalas pelukan Sean dengan lidahnya yang berlendir. Dia menjilat Sean yang di penuhi oleh tomat.
"Ahahaha.... Tolong hentikan tingkah mu kawan. Aku merasa sedikit geli." Sean berusaha menghindar saat wajahnya yang kotor ulah tomat di bersihkan oleh Driyad. Lidahnya melumat wajah Sean tanpa henti, dia bertindak bagai anak kucing yang menggemaskan.
Bahkan pakaian hingga rambut Sean tak lupa di bersihkan oleh serigala ini. Walau tidak bersih, tetapi cukup bagi Sean terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Kau telah kembali? Kau selamat!" Jessica menghentikan sikap anarkisnya pada Yudhar lalu kini beralih bicara pada Driyad.
Suara parau dan berat Driyad sedikit menyombongkan diri saat anak-anak khawatir padanya. "Tentu? Aku baik-baik saja."
Dia menunjukkan seluruh tubuhnya pada Jessica dan Sean seolah dia sedang mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja.
"Ehm... Ku pikir tomat ini telah merusak seluruh tubuh kalian." Driyad balik memperhatikan tubuh ketiga anak macannya.
"Tidak. Bukan tomat raksasa ini yang merusak tubuh kami. Tetapi kami yang merusaknya." Sambar Sean mengatakan hal sejujurnya. Seakan korban sesungguhnya adalah buah raksasa itu.
"Hm. Tidak ada petani di sini." Balas Driyad singkat.
"Bagaimana mungkin di tempat ini tidak ada petani. Lalu? Bagaimana buah ini tumbuh jika tidak ada yang memperhatikannya." Jessica sedikit bingung menanggapi hal ini.
Tapi itulah kenyataannya. Driyad mengatakan hal sebenarnya. "Kebun buah ini milik Marmaida. Hanya saja dia jarang menampakan dirinya di daratan."
"Ehm..... Ya, memang ku pikir di tempat ini tidak ada yang aneh, kecuali pemilik buah yang kau maksud itu." Jessica sesumbar membalas Driyad seolah tidak percaya kata-katanya.
"Omong-omong, mengapa kalian tidak takjub saat melihat kebun buah ini?" Tanya Driyad yang Melihat ketiga anak berekspresi biasa saja saat tiba di kebun buah raksasa.
Serigala ini berharap bahwa anak-anak akan takjub pada tempat ini karena buah-buahan yang super besar. Namun kenyataannya berbeda seperti dugaannya.
"Bagaimana kami akan takjub, jika sebelumnya para kawanan mu mengatakan tempat ini penuh keajaiban?" Sambar Sean berkelakar. Dia berbicara fakta, seakan tidak tertarik pada kebun buah raksasa ini.
Apalagi tomat yang telah merusak tubuh mereka hingga bermandikan buah.
"Ya, kurasa anak-anak mulai bosan pada tempat ini." Tukas Driyad berhenti bicara.
__ADS_1
Matanya kemudian menengok sekeliling dengan ekspresi heran seolah meniru wajah manusia.
"Dimana Yudhar? Kemana dia pergi?" Tanya Driyad bingung. Bahkan di sekelilingnya anak itu tidak tampak.
"Kalian telah melupakan aku." Yudhar menyambar cepat pertanyaan Driyad.
Anak itu tidak nampak karena seluruh tubuhnya sudah di penuhi oleh buah tomat.
Kontras dengan merahnya buah tomat membuat anak itu nyaris tak di kenali.
"Ku pikir kau sedang berkamuflase!" Seru Driyad bicara lelucon.
Jessica dan Sean mengangkat kedua bahunya seolah mereka bersikap netral.
"Anak-anak. Ku rasa kalian butuh kebersihan hari ini." Kata Driyad. Tidak tahu apa yang sedang di rencanakan oleh hewan ajaib ini, yang pasti bicaranya terdengar sedikit menuntut.
"Ya. Kurasa tubuh ku sudah mulai lengket karena buah ini. Dia mengotori ku. Tidak maksud ku, sekujur tubuhku sudah di penuhi oleh tomat raksasa ini." Yudhar merespon lebih dahulu seraya ia membuang sisa-sisa kotoran buah yang masih menempel di badannya.
Dari sekujur tubuhnya, hanya Yudhar yang teramat menjijikan. Sementara Sean lumayan bersih usai di jilat bersih oleh Driyad. Sedangkan Jessica berpenampilan urak-urakan sama halnya seperti Yudhar.
Hanya saja wajah gadis ini setidaknya sudah sedikit bersih ketimbang Yudhar yang masih memejamkan mata. Pikir Yudhar buah tomat sangat perih sehingga enggan baginya membuka mata. Takut saja akan membuat matanya menjadi iritasi. Tetapi ini bukan cabai, Ini tomat.
"Apa kau tahu di mana sungai di sekitar sini yang bisa kami pakai untuk merendamkan badan?" Sean bertanya lebih dahulu.
Dia tahu bahwa kedua temannya sudah tidak nyaman lagi dengan bau tomat yang sedikit menyengat dan mulai sedikit lengket seperti telur.
"Ayo ikut aku. Aku tahu di mana sungai untuk berendam. Hanya saja, tempat itu lumayan sedikit jauh." Driyad memberitahu tempat itu. Dan ketiga anak ini sudah sangat menantikan tempat itu.
"Tidak peduli jauh atau tidaknya, mari kita kesana." Tanpa basa basi Jessica menyambar perkataan Driyad sembari berjalan lebih dahulu menuju perkebunan buah raksasa. Gadis ini kini berjalan menuju arah bagian Utara.
"Aku setuju!" Yudhar kali ini berbicara senada dengan rivalnya itu. Tanpa menunggu jawaban dari Sean dan Driyad, remaja berkulit cokelat itu ikut mengekori Jessica dari belakang. Jalannya sedikit kaku bak robot karena tomat ini mengganggunya.
Driyad memandang wajah Sean usai memalingkan wajahnya kala melihat langkah kedua tomat berjalan itu. Mungkin jika Driyad adalah manusia dia akan memasang ekspresi sedikit kebingungan melihat perilaku keduanya.
Sean mengangkat kedua bahunya seraya berkata, "Ya... Itulah mereka."
Sean cukup paham pada perilaku kedua remaja yang bersikap sok tahu itu.
Driyad lalu menurunkan dan merendahkan badannya yang besar di hadapan Sean. Dia kemudian berkata sedikit singkat pada Sean.
"Sebaiknya kau naik di punggung ku. Kedua anak itu sudah salah jalan."
__ADS_1
Sean sudah menduganya. Pasti kedua anak itu sudah memilih jalan yang salah. Tanpa pikir panjang Sean menaiki punggung berbulu tebal dan halus itu. Setidaknya Sean sedikit tinggi saat hewan ini berusaha jalan dan menegakkan tubuhnya. "Ayo kita berangkat." Tukas Sean memerintah seolah sedang menunggangi kuda.
BERSAMBUNG