Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 171


__ADS_3

Jessica duduk di sebuah gazebo kayu Ulin bercat cokelat. Dia duduk, menopang dagu di tangannya. Memperhatikan Sean, itulah yang Jessica lakukan di pagi hari ini di dalam gazebo.


Gazebo itu berdiri di atas sebuah air, di sekitar gazebo di penuhi bunga lotus merah muda dan putih. Juga ada bunga lainnya yang mengambang di atas air.


Bunga penuh warna, Sean membuatnya melayang di udara, kemudian menebasnya dengan pedang tajam. Hingga terbelah menjadi dua.


Sesekali Jessica tersenyum, ketika melihat Sean sedang berlatih mengendalikan kekuatan yang dia miliki.


“Sean, dia sekarang jauh berbeda dengan yang aku kenal. Dulu dia sangat cerdas, sekarang dia bertambah hebat dalam segala hal!”


Mungkin, tak akan cukup bagi Jessica menuliskan kisah Sean hanya dalam satu buku. Butuh puluhan buku untuknya, menceritakan detail tentang kehidupan Sean.


Anak itu berputar kesana kemari, terbang dengan sayapnya. Sedang telanjang dada, nampak sekali tubuh yang indah itu di mata Jessica. Demi apapun, Jessica mengakui kalau dirinya mengagumi sosok Sean yang rupawan nan cerdik.


Sean berjalan di atas air, mungkin sesuatu yang baru bagi Jessica untuk di lihat. Namun itu, hanya satu dari banyaknya keajaiban dari Sean.


“Oo ....”


Jessica makin ternganga saat melihat lekuk tubuh Sean yang terus mempesona. Ketika Jessica terus memperhatikannya, Sean tiba-tiba menarik Jessica melalui kekuatannya.


Jessica yang sedang termangu menatapnya, sontak kaget. Tapi Jessica tak bisa menolak, Sean telah menarik tubuhnya. Terbang di atas air, tubuh tanpa pakaian Sean memeluk tubuh Jessica.


Menatap dalam-dalam wajah gadis itu, Jessica tak bisa menyembunyikan perasaannya. Sean begitu membuat Jessica merona.


“Pangeran. Kau ....”


“Aku ingin mencoba kau terbang bersamaku melalui sayap ini. Kau akan menyukainya,” bisik Sean pelan.


Kepakan sayap burung Phoenix itu, makin sempurna. Sean memecut sayapnya, terbang ke atas bersama Jessica. Menembus awan, Jessica merasa ini seperti mimpi.


Terus menatap Sean yang fokus pada terbangnya, Jessica seakan tak percaya. Satu tangannya menyentuh dada Sean, di sana degup jantung Sean begitu tenang. Jessica mampu merasakan kehangatan anak itu.


“Sean. Dia membawaku terbang? Apakah ini sungguhan?”


Jessica menekan dadanya, di sana degup jantungnya makin cepat berdetak. Sean melirik Jessica.


“Apakah kau menyukainya?” tanya Sean.


Jessica mengalihkan perhatiannya dari mata Sean, sambil menjawab pertanyaan Sean. “Aku menyukainya. Tapi ....”


“Kalau begitu, kita akan terbang menuju ke langit paling tinggi. Kita uji sayap ini, sejauh mana dia mampu membawa kita.”


“Tapi Sean ....”


“Jangan khawatir. Aku akan selalu memelukmu. Kau tak perlu khawatir akan keselamatanmu!”


Lagi-lagi pikir Jessica, ucapannya selalu terpotong oleh sikap sepihak Sean. Oke, Jessica tak akan menolak, kemanapun Sean akan membawanya terbang.


Menembus awan, rasanya asik saat terbang bersama Sean. Jessica makin tak percaya, saat Sean berhasil membawanya ke langit paling tinggi.


“Ini bukan mimpi kan?”


Mata Jessica makin membesar, saat mereka berada di atas langit. Tempat yang di penuhi bangunan surga.


“Ini adalah istana para petinggi langit. Aku pernah datang ke sini, saat aku bermimpi,” kata Sean memberitahu.


“Kau pernah ke sini?”


Sean mengangguk. “Dahulu sekali. Itu mimpi semu, namun ini nyata.”


Sean melepaskan pelukannya, lalu membiarkan Jessica menapakkan kakinya di cermin raksasa. Lantai langit yang transparan, dan bisa melihat kehidupan di bawahnya. Termasuk awan, istana awan Metis, dan lainnya yang ada di bawah Sean.


“Jadi ..., Sean. Apakah ini ....”


Jessica sumringah, menginjak keras lantai putih bening. Melihat istana awan Metis dari istana para petinggi langit, seakan ini adalah fantasi yang tak bisa dia lupakan. Jessica mencoba, apakah lantai cermin itu akan pecah saat dia menginjaknya keras. Namun, ekspetasi Jessica di luar dugaan, lantai kaca itu tak mudah pecah.


“Sean. Lantai kaca ini, tidak pecah. Bagaimana bisa ini terjadi?” kembali Jessica bertanya.


“Aku tidak tahu,” balas Sean. “Tapi. Mungkin saja mereka menggunakan sihir atau semacamnya agar lantai kaca ini bisa kuat.”


“Sihir?” Jessica berdelik, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Sean. Sihir, bisa saja memang lantai kaca itu di buat dari sihir yang begitu kuat dan dahsyat. Alhasil, jadilah lantai kaca yang begitu tangguh. “Benar juga. Tapi, apakah istana ini dan istana di bawah adalah ....”


Sean mendekati Jessica. “Sebagai urutannya. Langit tertinggi ini adalah pemilik dari segala kehidupan. Awan Metis hanya tempat yang di gunakan sebagai dasar hidup para pelayan langit. Jadi, bisa di bilang, kita beruntung bisa datang ke sini.”


“Tapi, tempat ini terlihat sepi!” tegas Jessica usai menelisik sekeliling tempat.


Benar apa yang di katakan oleh Jessica, tempat ini memang tak ada siapapun. Kecuali bangunan emas, dan istana dengan ratusan ribu anak tangga untuk mencapai puncaknya. Lalu, ada lantai kaca serta bunga-bunga cantik di sekitarnya.


“Kau tak akan bisa melihatnya. Karena kau manusia, bukan seseorang yang memiliki kemampuan khusus untuk melihat sesuatu yang sulit kau lihat.”


“Maksudmu?”


Sean menunjukkan jarinya ke sekeliling istana. “Sebenarnya, kita berada di antara para dewa petinggi langit. Kau tak melihatnya, namun aku bisa!”


“Jad, kau mencoba mendetailkan kalau kau ....”


Sean mengangguk. “Akulah putra cahaya. Itulah kenapa aku bisa melihat para petinggi langit.”

__ADS_1


Para dewa tersenyum pada Sean. Anak itu bisa melihatnya, namun tidak bagi Jessica. Dia sebuah pengecualian. Yang Jessica lihat hanya dirinya dan Sean. Jessica memang tak tahu apapun tentang putra cahaya, karena Jessica belum meneliti dengan benar ucapan itu.


“Aku tak tahu apapun mengenai putra cahaya dan sebagainya. Maaf Sean, aku tak bisa memahami ucapan mu!”


“Tak mengapa,” balas Sean. “Kau memang sulit mengerti jalan cerita semua ini.”


Sean memahami Jessica, gadis itu nampak kebingungan dalam alur ucapan Sean. Tak ingin berlama-lama dalam rasa kebingungan, Jessica mengedarkan pandangannya. Mencari sesuatu, yang mungkin unik saat di lihat.


“Baiklah. Kau rasa, kita harus kembali. Waktu kita di sini sudah terbatas.”


Sean menghentikan bayang-bayang Jessica yang sedang takjub bercampur bingung.


Sean memeluk Jessica dari belakang. Sayapnya kembali mengembang, kemudian keduanya terbang meninggalkan istana langit.


“Lausius yang sempurna. Namun tak sesempurna takdirnya!” ucap salah satu dewa.


Petinggi langit tersenyum, kala mendapati ucapan seperti itu. “Takdirnya telah di tentukan. Dia akan kembali pada langit, sebagai penerus dari cahaya penerang kehidupan.”


††††


Sean kembali menapakkan kakinya di air, tempatnya semula berada. Jessica masih bersama Sean, dan gadis itu sedikit bertanya. Dia penasaran akan sesuatu.


“Sean. Apakah aku boleh bertanya?”


“Silahkan!” balas Sean.


“Apakah dewa yang kau lihat itu, tubuh mereka kecil seperti yang aku bayangkan?”


Sean menggeleng. “Mereka jauh lebih besar dari apa yang kau bayangkan. Tinggi mereka empat kali lebih besar dari tubuh kita. Alasannya mereka tak bisa di lihat, karena mereka adalah cahaya. Jika kau mencoba melihat para dewa di atas, alih-alih berhasil. Justru kau akan mati.”


“Maksudmu?”


Jessica melirik Sean, dan remaja ini mendesah.


“Cahaya mereka melebihi cahaya api dari cincin matahari. Dengan cahaya sepanas itu, kau tak akan sanggup melihatnya. Itulah kenapa, kau tak akan pernah bisa melihat mereka. Sampai kapanpun!”


Kini dari pelukan, Sean mengambil tangan Jessica. Berjalan di atas air, keduanya menuju ke gazebo Ulin. Menuju ke dalam istana berbentuk perahu Piragua.


“Kita akan melanjutkan lagi pembicaraan ini lain kali.”


Sean meninggalkan Jessica di gazebo. Dirinya menuju ke ruangan manuskrip, tempat Lord Shutanhamun berada.


Jessica terpaku di satu tempat. Memandangi punggung Sean, Jessica lagi-lagi di tinggalkan seorang diri.


“Entah berapa banyak lagi rahasia yang akan aku ketahui dari Sean.”


Sementara itu, Sean. Dia sudah berada di dalam ruangan manuskrip istana. Di sana, matanya mendapati pemimpin tertinggi tanah kemakmuran ini, dan satu orang pelayannya.


“Lord Lausius tiba, pelayanmu pergi dahulu ya Tuan agung!” kata salah seorang pelayan pria tua itu.


Dia (pria tua) mengangkat tangannya. “Tinggalkan kami berdua.”


Saat Sean masuk, hanya dia dan pria tua itu yang tersisa. Datang mendekat, pria tua itu membalikkan badannya.


“Guratan di tubuhmu ....”


Sean memandangi tubuhnya, pria tua itu menunjukkan sesuatu.


“Ada apa dengan tubuhku?” tanya Sean ingin tahu.


“Mengenai takdirmu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Takdir itu ....”


Sean mengernyitkan dahinya, lalu mendekati pria tua itu.


“Ada apa dengan takdirku kakek?” tanya Sean lagi ingin tahu.


Lord Shutanhamun mendesah, mengembuskan napas berat. “Kau tahu cucuku, mungkin kau memang akan di takdirkan hancur. Aku tak sanggup mengatakannya. Tapi, kau berhak mengetahuinya!”


“Maksdu ....”


Sang pria tua itu tak lagi mampu melanjutkan ucapannya, kecuali dia menjauh dari permata merah yang mengambang. Di dalam bola kaca, benda itu terlindungi.


Sesuai dengan julukannya, takdir dan harapan ada di sana. Sean melihat bola kaca yang melindungi batu permata. Benda itu terus bersinar, memancarkan sebuah adegan layaknya pemanggil kisah di masa lalu.


“Apakah ini ....”


“Semua perjalan hidupmu, baik itu dari lahir hingga dewasa. Semuanya berada dalam bola kaca itu.”


Pria tua itu meneruskan ucapannya, sebelum Sean menebak lebih jauh lagi mengenai takdir itu. Sean terpaku ketika melihat dirinya ada di sana.


Termasuk dirinya sedari kecil, Ayah, Ibu, Edward, bahkan berpelukan dengan Jessica. Semuanya tergambar jelas di bola kaca itu.


Perjalanan Sean demi menuntaskan misinya pun tak luput dari bola kaca itu. Bahkan, mimpi Sean saat bertemu dengan dewa Opis, memiliki sayap Phoenix pun Sean melihatnya dengan jelas. Semuanya tergambar di sana, seolah terekam apapun jejak yang pernah Sean lalui.


“Jadi, inilah takdirku?”


Sean terpaku, dia tak akan bisa membayangkan bahwa hidupnya akan seperti itu kedepannya.

__ADS_1


“Maafkan atas kekejaman para petinggi di Opis. Semua ini, bukan kehendak ku!”


Pria tua itu mencoba menguatkan Sean. Sean yang terpaku, memang tak akan bisa mengubah takdir kehidupannya.


Sebisa mungkin, Sean mencoba kuat kala tahu dirinya akan menerima takdir yang kejam. Sebentar lagi, takdir itu akan menyambanginya.


Sean tidak bersedih, dia tahu takdir setiap orang sudah di tentukan. Sean tak membantah atau menuntut lebih atas apa yang akan dia terima, justru Sean mencoba menghadapinya.


“Jika ini adalah takdirku. Maka, aku tak akan bisa menolak atau menyangkalnya lagi. Biarkan aku, menjalankan tugasku sebagai seorang Lord Lausius, putra cahaya penutup keagungan. Maka, aku rela harus kehilangan separuh kehidupanku walau aku tak bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik kedepannya.”


Pria tua itu, dia menepuk pundak Sean. Sesaat kemudian, dia memeluk Sean erat-erat.


“Kau begitu berlapang dada. Aku yakin, dewa Opis sangat bangga telah melahirkan putra cahaya sepertimu cucuku!”


Sean membalas. “Aku akan senang hati menerima diriku sebagai putra cahaya.”


††††


Dalam keadaan terluka, Zurry mendatangi sebuah lembah gelap nan mengerikan. Petir menyambar, jalan yang di lalui pun begitu sulit. Hingga pria itu sampai di sebuah istana di atas bukit, tempat yang begitu megah. Tak kalah dengan istana milik Elius.


Seorang wanita duduk dengan anggun, dia tersenyum saat melihat kedatangan Zurry di hadapannya. Wanita itu duduk di singgasananya, di dalam altar besar ini hanya ada dirinya sendiri.


Karpet merah, sudah menjadi tradisi kalau pemimpin suatu kaum ingin yang megah dan mewah. Membentang sepanjang lorong istana.


Zurry jalan tertatih-tatih sambil memegang dadanya, mendekati wanita cantik bak bidadari itu. Ada banyak anak tangga menuju ke singgasananya.


Zurry tak mampu lagi lebih dekat pada wanita itu, jadi Zurry hanya bisa tertahan di anak tangga yang pertama.


“Zurry. Kau terluka lagi.”


“Maafkan hamba Patriak Zhu. Hamba, datang kemari hanya karena hamba terluka. Hamba ....”


“Aku benci pada orang-orang yang datang padaku hanya karena membutuhkan bantuan. Usai tak menginginkan sesuatu dariku, lalu menghilang bak di telan nebula. Itulah alasanmu datang kemari, karena kau butuh sesuatu dariku!”


Patriak Zhu tahu segala hal tentang para pembangkang yang datang ke istananya. Bukan karena apapun yang bisa menguntungkan wanita cantik ini, melainkan karena butuh bantuannya.


“Maafkan hamba ya Patriak Zhu. Hamba mengakui kesalahan hamba!”


Di hadapan Patriak Zhu, Zurry bersujud sembah. Membuat wanita itu tersenyum girang. Dia memainkan jari-jarinya yang lentik dan bercat biru, kulit seputih susu. Siapa yang tak akan tahu dirinya.


“Baiklah. Aku terima kesalahan yang telah kau akui. Dan sebagai gantinya, kau harus mati. Apakah kau setuju!”


Mendengar ucapan wanita itu, seketika mata Zurry membulat. Sialnya, dia tak bisa menolak permintaan wanita ini. Semua yang dia ucapkan, pasti akan terkabul apapun caranya.


Jalan satu-satunya bagi Zurry, dia harus menuruti kemauan wanita itu. Dia tahu, Patriak Zhu bukanlah orang sembarangan yang mudah di kalahkan.


“Jika Patriak Zhu inginkan hal seperti itu. Maka ..., tak ada pilihan lain bagi pengikutmu untuk menolak.”


Patriak Zhu kembali tersenyum. “Berdiri!” perintahnya pada Zurry.


Dengan cepat, Zurry berdiri. Mengikuti perintah wanita itu.


Tangan putih Patriak Zhu mencekik leher Zurry hingga menggantung di udara. Hanya dengan kekuatan dari jarak jauh, dia mampu membunuh Zurry dalam hitungan detik.


Zurry menahan sakit dari cekikan sihir milik Patriak Zhu. Dia tak bisa memberontak, kecuali kematiannya akan semakin menyakitkan.


Melihat Zurry lemah tak berdaya, Patriak Zhu melepaskan cekikan-nya. Melempar tubuh Zurry, hingga membentur pintu istananya. Wanita itu lalu meniup lembut tangannya, seakan menyekik leher Zurry dengan kekuatan adalah sebuah hal hina baginya.


Zurry terbatuk-batuk, mencoba menormalkan lagi napasnya yang nyaris hilang. Pria itu sekuat tenaga, berdiri tegap.


Usai berdiri, Patriak Zhu lagi-lagi berulah. Kini, dengan kekuatannya lagi, dia menarik tubuh Zurry. Pria itu kemudian mendekatinya.


“Kau seharusnya aku buat mati menyusul Zumirh. Tapi sayang, aku begitu murah hati dengan membiarkan kau masih hidup!” ucap wanita itu berang.


Zurry terdiam, dia begitu tak mampu melawan Patriak Zhu. Wanita itu, lalu melepaskan tubuh Zurry, dia lagi-lagi bermurah hati tak ingin membunuh nyawa Zurry.


“Baiklah. Katakan. Apa yang kau inginkan dengan datang ke istana Zhu?” lanjut wanita ini bertanya.


Dengan sigap, Zurry langsung bersimpuh di hadapannya.


“Ya Tuan ku, yang agung. Hamba hanya ingin, Tuan agungku membunuh Lausius itu. Ini adalah masanya, Patriak Zhu harus turun tangan mendapatkan Lausius itu.”


Wanita itu terkekeh. “Apa untungnya aku mendapatkan anak itu?” tanyanya memancing keingin tahuan.


Zurry, dia tahu. Wanita ini memiliki sebuah ramalan. Dia sangat menginginkan Lausius terakhir, sebab di situlah kekuasaannya berada. Dia salah satu pemburu Lausius, namun tak begitu ambisius seperti Elius dan lainnya. Dalam hidupnya, dia hanya bertindak sebagai pengrusak.


Sisanya, dia hanya terobsesi pada satu pria. Lausius terakhir. Lausius yang di gadang-gadang memiliki kekuatan setara para petinggi langit.


“Jika Patriak Zhu berhasil mendapatkan anak itu, maka aku rasa. Mimpi Patriak Zhu sudah tercapai. Menjadi pemuja langit, Patriak Zhu akan benar-benar menguasai kekaisaran awan Metis.”


Wanita itu mendengus tersenyum. “Rencana yang elok. Tapi, tak begitu menarik perhatianku untuk menangkapnya. Karena dia akan mati dengan sendirinya.”


“Maksdu Patriak?” tanya Zurry bingung.


Wanita itu kembali tersenyum. “Tak lama lagi, Elius akan bertindak. Jadi, aku akan memiliki keuntungan dari semua ini.”


††††

__ADS_1


__ADS_2