
Dewi Handita memegang bahu besi Sean. Di dalam ruangan helian ini, hanya ada mereka berdua.
"Aku ingin mengatakan, beberapa hal mengenai perjalanan mu nanti," Dewi Handita menatap wajah Sean sedikit kaku.
"Perjalanan? Perjalanan seperti apa yang kau maksud?" Tanya Sean bingung.
"Perjalanan kalian menuju kota saranjana."
Sean tak paham mengenai perkataan Dewi Handita. Dia berpikir sejenak. "Maksud Dewi Handita...." Sean menebak. "Aku harus.... Ke kota itu?"
Dewi Handita mengangguk. "Kau benar, kau harus ke kota itu." Handita menyarankan.
"Tetapi kenapa?" Lirih Sean. "Bahkan aku tidak berencana ingin pergi ke kota itu," kata Sean membantah.
"Kau harus kesana," jawab Dewi Handita. "Demi teman mu, Edward!"
"Eed?" Sean menyebut nama temannya. "Kenapa dengannya? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" Sean menuntut.
Dewi Handita menghela nafasnya, dia sedikit gusar. "Mungkin jika kau pergi ke kota itu, kau akan mendapatkan jawaban dan bisa menemukan teman mu itu." Dewi Handita berkata sambil membalikkan badannya. Dia menatap rak-rak tua berisi jutaan manuskrip tua helian.
"Hanya dengan pergi kesana kau bisa menemukan teman mu itu?" Dewi Handita menyuruhnya, dia memaksa Sean agar pergi ke kota itu.
Sean sekali lagi membantah, dia tak yakin atas ucapan Dewi Handita ini. "Apa kau berkata benar, jika teman ku bisa di temukan di sana!" Sean sedikit cemas. "Bagaimana jika aku tidak pergi ke kota itu? Apa yang akan terjadi pada ku dan Jessica."
"Tidak bisa kembali!" Dewi Handita bicara cepat. "kau dan Jessica tidak akan bisa kembali ke dunia kalian jika kau tidak pergi ke kota itu." Dewi Handita sedikit meninggikan suaranya.
Sean paham, dia tahu maksud perkataan Dewi Handita. "Apakah harus jika aku pergi ke kota itu. Mengapa jika aku tidak ke kota itu, aku tidak bisa kembali ke dunia ku." Sean bertanya, dia menuntut kejelasan atas semua rahasia di kota ini.
"Kau akan tahu siapa diri mu jika kau pergi ke kota itu." Wajah Dewi Handita sedikit sayu, dia berkata mulai merendahkan suaranya.
"Tetapi aku tidak ingin pergi kesana!" Sean kembali membantah. "Sampai kapan pun!"
"Jika kau tidak kesana, aku tidak bisa menjamin kau bisa bertemu orang-orang yang kau cintai atau tidak." Dewi Handita berkata meyakinkan Sean. "Aku hanya menyarankan mu pergi kesana, kau harus mengerti."
Sean berpikir, dia harus bagaimana. Antara menemukan Eed dengan datang ke kota itu, atau tidak kesana sama sekali tapi tanpa bertemu dengan Eed. Dia akan terjebak di kota ini selamanya jika tak pergi ke kota itu. Sean mulai kebingungan.
"Aku harus mengambil keputusan." Sean meyakinkan diri sendiri. Dia berpikir panjang, dia harus menemukan jawaban yang tepat. "Benar. Sebaiknya aku harus kesana!" Sean memutuskan untuk pergi kesana, Sean memutuskan keputusan yang menurutnya benar. Menuruti perkataan Handita, mungkin ada benarnya bagi Sean.
"Baik! Aku akan pergi ke kota itu sesuai perintah anda." Sean memantapkan ucapannya, dia mengambil keputusan singkat. "Tapi, beri tahu aku. Apa yang harus aku lakukan untuk anda jika aku telah sampai di kota itu."
Dewi Handita menoleh, dia menatap wajah Sean teliti. "Perjalanan kalian akan melewati beberapa bukit, hutan, ngarai, lembah dan juga beberapa tempat yang sedikit berbahaya."
Dewi Handita memberitahu. "Aku hanya ingin kalian menjaga diri baik-baik. Terlebih, untuk ke kota itu, kalian harus melewati satu desa yang berbatasan langsung dengan kota saranjana. Dia adalah desa mouli, desa orang-orang Moria."
__ADS_1
Sean sedikit berat pergi menuju ke kota itu. Tetapi, Dewi Handita memaksanya, dia memaksa Sean pergi kesana. Itu sebuah keharusan bagi Handita walau Sean berkali-kali menolak pergi kesana.
Dengan terpaksa Sean menyetujui perintahnya. "Baiklah. Aku mengerti sekarang, aku harus ke kota itu tanpa pengecualian." Wajah Sean nampak sayu dan lesu, dia terlihat tidak mau kesana.
Dewi Handita mengelus lembut lengan Sean. Dia memahami situasi Sean. "Aku hanya ingin kau bisa kembali ke dunia mu Sean. Aku harap kau mengerti apa yang aku ucapkan."
Mendengar perkataan Dewi Handita yang sama dengan dengan perkataan orang yang paling di sayangi-nya, Sean menatap wajah Dewi Handita seksama.
Dari mulutnya terucap kata "IBU." Dia teringat pada ibunya yang pernah mengkhawatirkan dirinya.
Entah kenapa wajah Dewi Handita saat itu mengingatkan Sean pada sang ibu. Terutama perkataan nya tadi yang mirip dengan ucapan wanita yang amat ia rindukan.
Bayang-bayang wajah sang ibu ada di hadapannya. Kerinduan Sean pada sang ibu, membuat Sean langsung memeluk Dewi Handita.
"Ibu!" Sean menitipkan air matanya. "Maafkan Sean Bu. Maafkan Sean yang tak mendengarkan kata-kata ibu," di pelukan Dewi Handita, Sean terisak tangis.
Terpaksa bagi Dewi Handita memeluk anak itu. Dia mengelus tengkuk belakang kepala Sean, Dewi Handita ingin menenangkan Sean, dia tahu apa yang terjadi. "Tenangkan diri mu Sean. Kau akan baik-baik saja dengan teman-teman mu. Kau akan kembali dengan selamat dan bisa bertemu dengan ibu mu."
Sean makin memeluk Dewi Handita dengan erat, dia tidak melepaskan pelukan itu. "Bu." Sean makin terisak. "Sean bersalah pada ayah dan ibu. Sean berjanji, Sean akan menuruti perkataan ayah dan ibu. Sean tidak akan pernah lagi liburan ke negara ini. Sean tidak akan pergi berlibur tanpa kalian. Sean mencintai kalian Bu, Sean menyayangi kalian."
Dewi Handita merasa tersentuh pada kerinduan Sean untuk sang ibu. Dewi Handita tak menolak pelukan hangat anak itu. "Jangan bersedih Sean, kau tidak perlu menyesali lagi apa yang telah terjadi. Kau harus kuat."
Sean sadar, dia bukan anak-anak lagi. Sean bertekad akan bersikap dewasa, menemukan Edward lalu kembali ke rumah. Meminta maaf pada ayah dan ibu dan semuanya akan kembali normal, hidup bahagia dan sibuk pada kegiatan sekolahnya. Sean berpikir demikian.
Dewi Handita tersenyum, dia merapikan rambut Sean yang bergelombang berantakan. "Kau tak perlu sungkan-sungkan pada ku. Anggap saja aku ibu mu. Ibu yang melindungi putranya," kata Dewi Handita bijak.
"Benarkah!"
"Tentu saja," jawab Dewi Handita. "Anggap saja aku ibu mu. Ibu yang paling kau cintai dan ibu yang paling berarti bagi mu."
Mendengar kata-kata Dewi Handita yang berwibawa, membuat Sean senang. Tanpa pikir panjang Sean kembali memeluk Dewi penguasa danau Osirus itu.
"Terima kasih Dewi. Kau telah membiarkan aku memeluk mu bagai ibu ku sendiri." Kata Sean. Dia merasa telah menemukan sang ibu di balik cantiknya tubuh Dewi Handita.
Lalu Sean mengakhiri pelukannya setelah Jessica tiba-tiba datang membuka pintu helian tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Oow...." Jessica terkejut. "Maafkan aku, ku pikir kalian sedang apa." Jessica berusaha beranjak, meninggalkan kedua orang itu. Dia amat malu melihat kejadian ini.
"Kau tidak perlu menghindar," Dewi Handita menghentikan langkah Jessica. "Kemari-lah. Jangan ragu," Handita meminta.
Jessica menggigit bibir bawahnya, dia sedikit canggung untuk mendekati Sean dan Handita. "Maafkan aku. Aku tidak sengaja melakukannya," Jessica memelas iba.
Dewi Handita justru tersenyum, Jessica berkata seakan dia dan Sean sedang berbuat yang aneh di pikirannya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu merasa bersalah." Dewi Handita kembali berkata bijak. "Kau adalah sahabat Sean, sudah sepantasnya kau aku berikan sebuah hadiah."
"Hadiah?" Jessica membelalakkan matanya, dia terkejut. "Ha-hadiah apa?" Jessica penasaran.
Dewi Handita memutarkan jarinya, dia mengeluarkan sebuah sihir lalu mengarahkannya pada Jessica.
Seketika Jessica berubah. Dia di berikan hadiah sebuah baju besi yang sama seperti Sean, di lengkapi dengan sebuah senjata di punggungnya. Busur panah, Dewi Handita menghadiahkan Jessica senjata miliknya pada gadis itu.
"Di jalan, kelak kalian akan menemukan berbagai makhluk ganas." Dewi Handita memperingati anak-anak. "Gunakan senjata pemberian ku ini jika kalian terdesak."
Jessica merasa tersanjung. "Terima kasih. Aku akan menggunakan senjata ini sebaik mungkin. Aku akan melindungi Sean di perjalanan nanti." Jessica berjanji dengan celetukan konyolnya.
Sean menyikut Jessica. "Kau pikir aku apa?" Dia membisik.
"Kau kan lemah!" Jessica menggerutu.
Dewi Handita kembali pada Sean, dia melihatnya. Dari tangan Dewi Handita, yang semula kosong, kini telapak tangannya mengeluarkan sinar.
Di balik sinar itu muncul pedang besar di atas telapak tangannya. Pedang yang cukup besar berwarna merah.
"Ambil ini," Dewi Handita memberikan pedangnya pada Sean. "Pedang ini akan berguna saat kau terdesak."
Sean menerimanya, karena beratnya mungkin belasan kilo, tangan Sean sempat tak kuasa mengangkat senjata itu.
"Kau harus membiasakan diri mu dengan senjata itu." Kata Dewi Handita yang paham pada situasi Sean. Posisi anak yang lemah, tak bisa mengangkat sesuatu yang berat.
"Oh, maaf. Terlalu berat, sampai-sampai aku tak bisa menegak-nya dengan benar," Sean berkilah.
Jessica terkekeh. "Dia munafik," Jessica menghardiknya.
"Sebaiknya kalian pergi sekarang. Matahari belum tergelincir, alangkah baiknya pergi dalam keadaan terang." Dewi Handita menyarankan.
Sean sigap, dia langsung menuruti perintah sang Dewi. "Kalau begitu kami berangkat sekarang!" Sean membungkuk. "Semoga berkat Dewi Handita bisa memperlancar perjalanan kami."
"Tentu. Aku akan memberkati kalian. Semoga kalian selamat sampai tujuan."
Jessica menyela. "Terima kasih Dewi atas semua kebaikan anda pada kami. Kami pergi dahulu!" Jessica pergi dengan hormat.
Dewi Handita mengangguk anggun. Dia membiarkan dua anak itu pergi, dan sadon akan kembali ke semula. Tanpa anak-anak itu.
Jessica dan Sean berpamitan. Mereka meninggalkan helian beserta Dewi Handita seorang diri.
BERSAMBUNG
__ADS_1