
Nimfa
Tidak terasa perjalanan ke empat makhluk itu menuju ke manor nimfa telah menemui titik temu. Langkah kaki mereka kini menuntun anak-anak dan Driyad tiba di depan manor tua yang hampir roboh.
Reyot bangunan kayu bertingkat tiga itu membuat imajinasi anak-anak tentang manor emas yang di katakan oleh Driyad tadi pupus. Jauh dari ekspektasi, manor tanpa perasaan ini membuat anak-anak menyesal telah mengimajinasikan nya kedalam bangunan megah.
Pikir ketiganya manor emas itu sungguh-sungguh akan tampak seperti emas. Namun nyatanya bangunan tua yang berdiri tepat di tengah hutan bercahaya ini hanya sebuah bangunan tua tak berpenghuni.
Plafon dan talang air dari manor ini saja sudah menggantung setengah jatuh dan juga sarang laba-laba hingga kayu patah menimpa atap manor. Rasa-rasanya ketiga anak itu tidak mau lagi mempercayai ucapan Driyad.
Driyad tadi mengatakan pada anak-anak bahwa manor itu mampu menghipnotis siapa pun yang melihatnya. Jangankan emas, kini yang tampak di mata mereka hanya kayu lapuk yang berisi sampah di teras manor itu.
"Ku pikir ini yang di sebut oleh manor emas milik Dewi cupid? Ternyata hanya sebuah gubuk reyot tak berguna!" Jessica mengumpat lebih dahulu. Dia sebal pada apa yang ia lihat. Dia meledek tempat itu tanpa perasaan.
"Hei manusia hutan! Bagaiman menurut mu? Apakah nampak emas di balik bangunan peyot ini!" Seru Jessica pada Yudhar meminta pendapat.
"Jauh lebih buruk dari yang aku duga," kata Yudhar ikut mencemooh bangunan tua ini.
Sean hanya mendercit saat melihat kelakuan dua temannya yang hanya bisa mengumpat saja. Sean tidak pernah berpikir untuk menjelek-jelekkan bangunan ini walau membuatnya sedikit kecewa karena menghancurkan imajinasinya.
"Ya, setidaknya kalian ahli dalam mengumpat!" Ledek Sean pada Yudhar dan Jessica.
Jessica menyikut lengan Yudhar memintanya melirik Sean yang bergumam seperti ibu-ibu ketumpahan beras itu. Yudhar mengangkat kedua alisnya mengkode gadis belia itu bahwa dia setuju padanya. "Ku rasa Sean sedang mengalami masalah pada bagian kewanitaannya." Kata Yudhar membisik, kemudian terkekeh.
Jessica juga ikut terkekeh saat mendengar kata lucu dari mulut Yudhar. Untuk sesaat keduanya sedikit akrab, lebih tepatnya sejak Yudhar berubah sedikit lebih baik dari tampilan gembelnya saat pertama kali bertemu dengan Jessica.
Mereka berdiri di depan manor tua yang tampak menyeramkan itu. Bahkan keangkerannya mulai terasa saat angin menerpa dan membuat bunyi mengerikan.
Kriet.... Kriet....
Suara bangunan tua yang seolah hampir bobrok ini menunjukan tanda-tanda bahwa dia tidak lama lagi akan roboh.
Angin yang menerpa tadi menjatuhkan salah satu wadah bunga cantik dari atas balkon manor yang terletak di lantai dua bangunan itu.
Pot bunga yang terjatuh di tanah itu sontak membuat ketiga anak itu kaget karena suaranya yang mengerikan. Jessica memeluk Sean sekencang mungkin karena mendengar riak pot itu.
__ADS_1
"Sean! Tidak kah bangunan ini ada hantu." Bisik Jessica ketakutan. Dia menggantung di bahu Sean.
Sean tidak pernah merasa takut apalagi hanya terpaan angin yang menjatuhkan pot bunga cantik itu di tanah hingga memberantakan bunga tulip putih kemerahan itu. Justru Sean masih dengan ekspresi tenangnya mencoba meredam ketakutan Jessica.
"Tenanglah. Itu hanya benda yang terjatuh. Di sini mana ada hantu." Kata Sean acuh tak acuh.
Dia tidak peduli pada kejadian ini. Bahkan jika di pikirkan sekeras apapun, tetap saja tidak akan ada hantu yang bisa menakut-nakuti mereka di hutan yang bercahaya cantik ini.
"Ayo lepaskan pelukan mu, aku mulai keberatan menahan beban tubuh mu ini." Tukasnya menghindar dari tubuh gadis yang bersikap manja itu.
"Oke, oke, oke. Kau sangat menyebalkan saat sedang datang bulan!" Jessica meledeknya.
Sean melihat Jessica, mungkin Sean kebal telinga ketika Jessica meledeknya. Sean tidak pernah menanggapi perkataan Jessica dengan sungguh-sungguh. Atau tidak, mungkin dia akan seperti Yudhar yang selalu bertengkar tidak jelas dengan gadis ini. Dia bersikap tidak peduli setiap kali Jessica mengumpat dirinya.
Terpaksa bagi Jessica melepaskan pelukannya pada Sean tadi. Dia kemudian berpikir apa yang Sean katakan ada benarnya juga. Tidak akan ada hantu di tengah hutan fantasi nan cantik ini.
Sean mencoba melangkah kakinya menuju ke teras manor yang di penuhi oleh dedaunan kering ini. Pot bunga menghiasi seluruh pilar manor tua yang hampir seluruhnya terbuat dari kayu. Tak lupa cahaya yang keluar dari bunga-bunga hidup ini menghiasi setiap sudut manor setengah bobrok ini.
Manor tua nampak lusuh tak terawat dengan kayu lapuk yang termakan usia menggerogoti dinding dan lantainya.
Sean membuka perlahan pintu manor seraya melihat di sekeliling tempat itu.
Mungkin Jessica tidak ingin tertinggal oleh Sean.
"Adakah orang di dalamnya Sean?" Bisik Jessica dari belakang.
"Entahlah! Kurasa, aku belum menemukan siapapun di dalam." Kata Sean membalasnya sambil matanya tetap memperhatikan ruang bagian dalam manor.
Tempat itu terang, karena lampu tradisional yang biasa di sebut obor menggantung di dinding menyinari seisi ruangan.
Anak-anak mencoba masuk, namun Driyad masih berdiri di tempatnya. Dia tidak melangkahkan kakinya sejengkal pun. Dia tetap berdiri di depan manor, seolah ada yang menahannya masuk.
"Hei! Tuan Driyad. Kenapa kau tidak masuk." Teriak Sean di depan pintu manor. Sean menengok ke arah makhluk itu karena dia tidak mengekori mereka.
"Aku tidak bisa masuk kedalam manor ini. Hanya kalian yang bisa masuk." Jawaban yang terlalu singkat untuk di dengar. Setidaknya Driyad sudah membalas pertanyaan Sean.
__ADS_1
Sean sedikit kebingungan? Mengapa serigala itu enggan memasuki manor ini.
Dia kemudian menghampiri sahabatnya itu. "Hei kawan! Mengapa kau tidak ingin masuk? Apakah kau sedang menyembunyikan sesuatu? Atau kau sedang ingin menyendiri?" Tanya Sean sekali lagi.
Anak ini meninggalkan Jessica dan Yudhar di depan pintu manor. Dia ingin tahu terlebih dahulu alasan mengapa Driyad enggan ikut bersama mereka.
"Tidak ada rahasia apapun yang aku sembunyikan. Hanya saja, para Asgart tidak memiliki wewenang memasuki manor milik cupid." Driyad menjawabnya sedikit jujur. Dia mengatakan kebenaran pada Sean.
Jawaban yang di lontarkan oleh Driyad ini di telaah oleh Sean dengan teliti. Dia mengernyitkan dahinya tanda bahwa ada keraguan mengenai bicara makhluk ini.
"Jadi? Itu artinya kau hanya menyuruh kami yang masuk. Sementara kau sendiri terjaga di luar, begitu-kah maksud ucapan mu." Sean menebaknya.
"Tepat sekali!" Sambar Driyad singkat.
"HM... Apakah kau yakin tidak ingin masuk? Apakah kau tidak takut ditinggal sendirian?" Bicara Sean terdengar lucu saat terdengar oleh telinga Driyad. Seakan dia sedang bicara pada anak kecil saja pikir Driyad. Sean bicara seperti itu karena dia ingin memancing Driyad agar mengikutinya.
Namun Driyad sudah sejak di depan manor ini tidak mampu melangkah lebih jauh lagi masuk kedalam manor tua itu.
"Aku sudah terbiasa sendiri. Tetapi satu hal Sean yang harus kau pahami. Ketika kau sudah memasuki manor ini, jika bertemu dengan para cupid maka perhatikanlah setiap ucapan mereka. Kau tidak boleh melewatkan sepatah katapun dari ucapan para cupid itu."
Sean menatap Driyad. Terlihat dari matanya jika dia berkata jujur penuh teka teki. Kemudian Sean teringat perkataan Driyad sebelumnya, yaitu; "Mereka adalah peri yang penuh misteri."
Dari kata-kata itu, Sean mencoba menerka bahwa ada misteri di dalam tempat ini.
"Baiklah kalau begitu. Aku mencoba masuk kedalam sana. Dan kau jangan pergi kemanapun sebelum kami keluar. Oke, kau paham bukan maksudku!" Sean sok memerintah anak serigala itu.
Pesan Sean ini sangat lucu untuk di dengar. Driyad sampai seperti di buat anak kucing olehnya.
Sean lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam manor dengan memboyong kedua temannya itu.
Sebenarnya Sean tak tega meninggalkan Driyad seorang diri, namun tetap saja Makhluk itu menolak.
"Ada apa? Mengapa Driyad tidak masuk bersama kita?" Di depan pintu manor Jessica bertanya ingin tahu.
"Dia hanya tidak bisa masuk. Mungkin ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menginjakkan kaki di manor ini."
__ADS_1
"Yah, kurasa dia memang seperti itu." Jessica menimpal perkataan Sean bersikap apatis. Dia mulai tidak peduli pada Driyad.
BERSAMBUNG