
“Ou.... Besar sekali tempat ini.”
Mata Sean menunjuk kesana kemari, melihat seisi istana. Pintu yang terbuka lebar tadi, seakan mempersilahkan Sean untuk masuk.
“Istana ini besar. Lantainya seperti kaca. Pilar-pilar meninggi, berjejer di seluruh altar. Seperti tiang mahligai, yang di sengaja menjadi baris istana, penyangga yang sempurna. Bangunan ini berada di udara, tidak berdiri di tanah. Patung juga menghiasi tempat ini. Lalu, kenapa tak ada seorangpun yang aku jumpai di sini.”
Jadi, Sean makin saja tak paham mengenai rahasia di tempat ini. Seolah dirinya di tuntun masuk ke sebuah dimensi, dimana dia harus memecahkan misteri di balik semua ini. Tanpa petunjuk sekalipun. Sean harus mengerahkan seluruh otaknya, agar bisa memecahkan semua misteri di tempat ini.
Sean melangkahkan kakinya lebih dalam lagi, memasuki istana makin kesana. Entah kemana tujuannya, hanya mengikuti langkah saja. Setiap dinding mahligai megah ini, semuanya di ukir dengan lukisan timbul. Lukisan yang di gambar sangat apik, termasuk salah satu burung surga, yang Sean lihat di luar istana sebelumnya. Phoenix emas, bersayap api. Sean jelas mengingatnya tadi.
Baiklah, Sean tak akan membahas hal itu, dimana banyak misteri di dalamnya. Sean hanya fokus, pada tempat yang membawanya entah kemana. Dia hanya mengikuti langkahnya saja. Tak mau memikirkan hal di luar itu.
Ligong, si hitam itu juga tak memberikan isyarat apapun padanya. Terpaksa, Sean harus memecahkan kebingungannya seorang diri. Kebuntuan ini, membawa Sean terasa agak pusing bukan kepalang.
“Kita kesana,” ajak Sean pada Ligong. “Aku rasa, kita akan menemukan tempat lain. Maksud ku, jalan keluar dari sini.”
Di depan Sean seperti sebuah aula besar, di sisi kanan dan kirinya ada pintu besar lainnya. Sedangkan didepannya lagi, ada pintu lainnya. Namun di depan pintu ada beberapa mata anak tangga, Sean kesana.
“Aku harap, di sana, kita menemukan jalan lain,” kata Sean pelan pada Ligong.
Sama seperti sebelumnya, daun pintu itu terbuka dengan sendirinya, ketika Sean sudah tiba beberapa meter di depan bibir anak tangga paling atas.
“Lagi-lagi,” gumam Sean pelan. “Selalu saja begini.”
†††††
Jessica menoleh ke belakang, kearah pintu besar istana. Setelah melepas rindu bersama Eed, kini hal tak terduga dia dapatkan.
Seseorang sedang datang mengarah kemari, ketempatnya berdiri. Daun pintu itu terbuka lebar, membuat Jessica tahu siapa pemilik bayangan tubuh itu.
“Sean?” teriak Jessica girang. Dia berlari, menuju ke arah Sean. Jessica tak salah lihat, bayangan tubuh itu milik Sean.
Di balik cahaya putih berkabut, Jessica amat mengenali bentuk tubuh proporsional Sean.
“Hei..... Jessica?” balas Sean terkejut.
Di ikuti oleh Edward, Jessica menghampiri Sean. Sean terkejut, kini keduanya bersama. Dalam satu tempat, di mahligai megah ini.
“Kalian.... Oo.”
Sean ternganga, kedua temannya justru terlihat bahagia.
“Sean. Kau....”
“Tentu saja ini aku,” balas Sean pada ucapan Jessica. Mata Sean melirik Edward, seakan tak percaya jika itu adalah temannya. “Apakah kau dan Eed.....”
“Kami baru saja bertemu, belum lama. Dan kau, kita akhirnya bertemu di sini. Tuhan memberkati kita Sean, kita di takdirkan tetap bersama.”
Edward memberitahu, Jessica mengangguk. Membenarkan ucapan Edward.
“Ayolah....”
__ADS_1
Edward langsung memeluk Sean, saat anak itu ingin bicara lagi. Sean, dia tak menolak. Walau Sean paling tidak suka kontak fisik bersama pria, Sean tak menyangkalnya kali ini. Sean memeluk hati Edward, dengan kata lain, keduanya saling melepas rindu bersama.
Pria tua yang duduk di singgasana mahligainya, tersenyum tipis. Mengangguk pelan saat melihat Sean. Dan, pria tua itu juga merasa senang melihat ketiganya bersama.
“Tuan Agung. Apakah kau sedang bahagia melihat anak itu?” tanya Crypto penasaran.
Lord Shutanhamun mengurut jenggot putihnya. Lagi, dia tersenyum ramah.
“Akhirnya dia datang pada ku setelah sekian lama aku tunggu. Dia pewaris ku. Tentu aku sangat senang melihatnya di sini,” katanya mengakui kebahagiannya.
Pandangan orang-orang itu, kini kembali pada Sean. Remaja yang baru saja tiba, ekspresi wajahnya agak lelah.
Sean sebenarnya bingung, pasalnya dia bertemu dengan temannya di tempat yang asing. Namun, Sean patut bersyukur, mereka baik-baik saja. Benar kata Dewi Handita, temannya aman di kota ajaib ini.
“Kalian. Bagaimana bisa bertemu seperti ini? Terlalu cepat,” ucap Sean datar. Mencoba memahami keadaan, tetapi membawa Sean agak kebingungan.
“Kau saja yang lamban.” Jessica berulah, ucapan ketus, tingkah sok cuek. Lagi-lagi, belum usai Sean bertanya mengenai keadaan mereka, Jessica sudah menyinggungnya dengan ucapan sinis. “Kau terlalu lama di jalan, sehingga kau hampir kehilangan kami,” kata Jessica kembali melanjutkan ucapannya.
“Tidak. Maksud ku bukan begitu.”
“Kau sudah tiba di sini. Bertemu dengan ku dan Jessica. Apa lagi yang membuat mu nampak ragu, kawan?”
Edward memandangi wajah Sean. Ya, Sean tahu, Sebenarnya dia tidak perlu meragukan semua ini.
Oke, Sean berhenti untuk berkata bagaimana semua ini bisa terjadi. Kali ini, Sean melirik kesana kemari, melihat siapa saja yang ada di sana.
Oh.... Sean sedikit kaget, ternyata dua orang itu sudah berada di sini juga. Gordon dan Crypto, mereka masih tertunduk, sesekali Crypto melirik ke arah Sean.
“Ada apa Sean. Kenapa kau tiba-tiba terdiam?” tanya Jessica penasaran.
“Aku kira kau dan kedua orang itu berpisah. Aku pikir, kalian kenapa-kenapa, karena aku melihat seperti...... Kalian yang berada di telaga itu.”
“Maksud mu?”
Sean mengangkat kedua bahunya, dia tidak bisa memastikan dengan benar atas ucapannya. Walau jelas, para mayat yang menyisakan tengkorak itu mirip Jessica dan yang lainnya.
“Lupakan. Kau mungkin akan bingung untuk memahaminya.”
Jessica ber-oh kecil, wajahnya mencebik ketus. Ucapan Sean berlalu, seperti angin yang numpang lewat di telinga Jessica.
Sean kini fokus pada wajah, yang amat Sean kenal. Dari jarak beberapa meter, di tengah altar berkarpet merah ini. Sean mengenali wajah itu. Wajah yang sering muncul di dalam mimpinya, wajah sok berwibawa di mata Sean.
Sean memicingkan matanya, memandangi wajah tua yang berdiri di atas tiga anak tangga. Dengan pakaian yang sama seperti yang Sean lihat di dalam mimpi, pria tua itu melipat satu tangannya ke belakang.
“Bukankah dia yang ada di dalam mimpi ku?” gumam Sean pelan.
Di perhatikan Sean dengan jelas wajah pria tua berjenggot putih. Rasa penasaran Sean, membawanya makin mendekati pria yang berdiri tegap itu.
“Kau.... Bukankah kau, yang ada di dalam mimpi ku itu. Pria tua yang sok tahu segala hal?” ujar Sean ingin tahu, memastikan dengan benar.
Pria tua hanya tersenyum, tetapi Sean tak butuh itu. Dia butuh jawaban. Pria tua beruban putih, melipat satu tangannya lagi di belakang punggung. Sebelumnya, dia sempat mengurut jenggot putihnya.
__ADS_1
Crypto yang duduk tertunduk, melirik Sean. Pertanda bahwa dia harus menunduk di hadapan pria tua ini.
Namun Sean tak melihat lirikan itu, sebab Sean fokus pada wajah tua Lord Shutanhamun.
“Maafkan pangeran Lausius Tuan. Dia hanya anak-anak yang tak mengerti akan kehormatan.”
“Dia keturunan ku. Dia berhak bertindak seperti itu,” balas pria tua ini tersenyum ramah.
Alih-alih dia marah, justru Crypto di jawab dengan ucapan lain. Crypto hampir lupa, walau dia adalah pemimpin tanah surga ini—cukup di segani. Bukan berarti, pengecualian untuk Lausius.
Lausius adalah keturunannya secara langsung, tidak heran jika Lord Shutanhamun tak marah saat Sean bertanya-tanya tanpa adab.
“Kemarilah cucu ku. Mendekatlah pada ku,” pinta si tua pada Sean.
Sean menggeleng. “Kau belum menjawab pertanyaan ku. Kenapa kau memerintah ku seenaknya saja,” balas Sean ketus.
“Kau akan tahu jawabannya, jika kau mendekati ku.”
“Untuk apa? Bahkan kau saja tak lebih dari seorang pria tua.”
Pria tua itu masih saja berwibawa, tak menuruni egonya saat Sean ketus padanya. Atau, dia akan marah ketiak Sean berulah.
“Hah..... Kau masih saja sama seperti di dalam mimpi itu,” desah pria tua ini.
Gordon memandang lamat-lamat wajah Crypto, di ikuti sebuah ucapan pada pria itu. Ucapan kecil, hanya keduanya saja yang tahu.
“Dia satu-satunya pangeran yang berani berkata seperti itu pada Lord Shutanhamun. Benar-benar Lausius muda yang pemberani.”
“Mungkin karena dia terlalu lama tinggal di dunia manusia, jadi dia lupa akan jati dirinya,” balas Crypto ikut membisik pelan.
Lord Shutanhamun kemudian berkata pada Gordon dan Crypto. “Kalian boleh berdiri.”
Dan, seketika keduanya berdiri tanpa berpikir kedua kali. Sejak tadi, keduanya tak di biarkan berdiri oleh pria tua ini. Sama sekali.
“Maafkan hamba Tuan agung. Maafkan atas kelancangan hamba, yang mengatakan bahwa pangeran Lausius tak akan selamat. Hamba menyesali ucapan hamba tadi.”
Crypto membungkuk segan, otaknya dipaksa berhenti pada kejadian tadi. Dimana, saat tiba di istana megah, awan Metis ini, Crypto menyampaikan berita bahwa Sean tak akan bisa keluar dari istana Medusa.
Lebih-lebih, jika Sean bisa bertahan hidup di sana adalah sebuah keajaiban. Setelah menyerap jiwa cahaya Lausius, bisa-bisa, Sean akan mati. Itulah yang disampaikan oleh Crypto pada Lord Shutanhamun. Jelas, dia mengatakan hal itu tadi.
Namun, nyatanya, kini Crypto merasa malu atas ucapan sebelumnya. Dia menarik paksa ucapan sesumbar tak berdasarnya itu.
“Kau tak perlu merasa bersalah. Kau hanya berkata, sesuai pengalaman mu. Kau benar, tak ada Lausius yang bisa selamat dari kejaran para pemburu jiwa keabadian. Namun pengecualian untuk cucu ku yang menawan satu ini.”
Lord Shutanhamun tahu, pengalaman mengawal Lausius bagi Crypto sudah cukup luas. Namun, bukan berarti Lausius terakhir akan berakhir sama seperti Lausius sebelumya. Pria tua ini tahu segalanya. Takdir, dia memahami kisah ini.
“Ngomong-ngomong, apakah Tuan agung akan marah pada pangeran. Dia sama saja, selalu membuat orang lain kesal atas tingkah keras kepalanya itu.”
Crypto menggeleng, bisikan dari Gordon ini membuatnya senada, Sebenarnya.
“Kita lihat saja nanti. Aku yakin, pangeran ini tidak akan membuat Tuan agung murka. Dia cucunya, dia putra Edna.”
__ADS_1
††††
Selamat berbuka puasa buat kalian yang puasa. Mohon maaf lahir dan batin.