Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 149


__ADS_3

Mata bercahaya itu indah namun mematikan. Elius, kini dia mulai mengakui mungkin kekuatannya tak sebanding dengan dua jiwa yang menyatu itu.


Jiwa dewa ular dan jiwa cahaya Sean sejak lahir, keduanya menyatu. Elius tak percaya jika hal itu bisa terjadi secepat ini. Cahaya di tubuh Sean, mungkin Elius akan berusaha mencari di mana titik lemah itu. Namun tak mudah, nyatanya Elius di buat pusing; bagaimana menaklukan Sean.


“Nekabudzer. Aku tak ingin membuang-buang waktu ku lagi di sini. Aku akan menyerang Lausius itu, aku tak mau tangan dingin ku sia-sia di sini.”


Ucapan Elius sangat pelan, hanya Nekabudzer saja yang mendengarnya. Pria itu menjawab,


“Kau jangan bertindak gegabah, kau harus ingat, kalau dia saat ini jauh lebih kuat. Jika kita tak menyatukan kekuatan, mungkin kita tak akan bisa menaklukkan anak itu.”


“Kau tak perlu mengingatkan aku. Aku tahu bagaimana cara mengalahkannya!” balas Elius santai.


Melirik Nekabudzer sekilas, lalu pria ini terbang. Kepakan sayapnya, memercikan sedikit cahaya.


“Elius, kau .....”


Pria itu tak lagi menggubris ucapan Nekabudzer. Dia hanya ingin mencapai tujuannya, yakni menaklukan Elius. Lalu mempersembahkannya untuk dewa kematian. Menuju keabadian, apapun itu dia harus mencapainya.


Pedang panjang Elius, mengarah kerah Sean. Sean, menyipitkan matanya, sebab Elius memulai sebuah serangan.


Sean mendengkus. “Dia masih belum menyerah. Aku harus waspada padanya,” gumam Sean pelan.


Sean menghentakkan pedangnya, kini dia terbang ke udara juga. Sean juga ingin membalas serangan Elius.


“Tamatlah riwayat mu Lausius!” teriak Elius geram.


Sambil berkata, pedangnya menebas musuh didepannya. Keduanya terbang rendah di udara. Sean dengan sigap mampu mengelak dari tebasan tajam pedang Elius, secepat mungkin.


Sean, kini dia menghilang dari perhatian Elius. Lalu, mendadak anak itu muncul di belakang Elius.


“Kau yang harus mati Elius!” ucap Sean yang tak kalah berang. Sean melancarkan sebuah serangan, dengan menghujamnyan melalui serangan dahsyat.


Elius menyadari serangan pedang Sean, dengan cepat dia menangkis serangan itu.


TRANG!!


Namun sayang, itu tak cukup kuat untuk menahan pedang besar Sean. Elius terpental, terdorong mundur hingga tersungkur.


Tepat di kaki Lord Shutanhamun, Elius terjatuh menahan sakit di dadanya. Lord Shutanhamun tersenyum bahagia, satu tangannya mengurut lembut jenggotnya.


“Ehm. Elius ternyata mampu di kalahkan oleh Lausius muda. Itu artinya, takdir itu benar-benar sudah meramal garis tangan seseorang Lausius kedepannya.”


Lord Shutanhamun bergumam pelan, memperhatikan dengan jelas pria tak berdaya di hadapannya.


Uhuk ..., Elius terbatuk, bahkan mengeluarkan darah segar. Sean menapakkan kakinya di lantai, lalu berdiri tepat dihadapan Elius.


“Kau ..., ternyata masih sama saja. Kau tetap kuat,” tunjuk Elius berang.


“Di dalam istana awan Metis, kau bukan apa-apa. Semua yang kau miliki bisa saja berakhir sekarang!” balas Sean, mengacungkan pedangnya.


Elius mengepal tangannya keras, dia makin geram. Namun apalah daya, dia masih belum bisa mengalahkan Sean.


“Aku ..., tak ..., akan membiarkan kau. Mengendalikan kekuatan itu Lausius tak berguna. Aku ..., Uhuk.”


Elius mencoba berdiri, namun itu tak cukup kuat untuknya. Kakinya terasa seperti patah, kekuatan itu benar-benar masih belum sebanding dengan apa yang dia perkirakan.


Dari belakang Sean, Nekabudzer mendengkus. Cambuk apinya kini kembali memantik. Cambuk bergagang besi kuat, dan berkepala tengkorak ini, memang dari penampilannya saja amat ngeri. Siapa saja yang melihatnya, pasti merinding jika sampai terkena percikan api neraka itu.


Nekabudzer mengibaskan cambuknya mengarah ke tubuh Sean. Mata bercahaya Sean menoleh, namun kali ini Sean tak bisa menghindar dari serangan Nekabudzer.


“Pangeran!” teriak Crypto memperingati.


Sayangnya, cambuk itu lebih dahulu memukul tubuh Sean.


Seketika Sean terpental, punggungnya menghantam tiang mahligai. Sangat keras, hingga membuat tiang mahligai awan Metis ini berguncang. Sedikit menyisakan keretakan.


“Pangeran ...,” teriak Crypto. Dia menghampiri Sean, sedangkan Nekabudzer mendekati Elius.


Nekabudzer memapahnya berdiri, lalu terbang rendah menjauh dari Lord Shutanhamun.


“Kita tinggalkan tempat ini. Beruntung, kau tidak mati di tangannya,” ucap Nekabudzer pada Elius.


Semua orang tak bergerak saat Nekabudzer membawa Elius menjauh dari si pria tua. Tak seorangpun ada yang menghalaunya.


“Kali ini kami kalah, namun suatu saat nanti. Lausius terakhir akan kembali menjadi milik ku. Ingatlah ucapan ku ini, wahai petinggi istana awan Metis.”

__ADS_1


Lord Shutanhamun mengangguk pelan. “Ucapan mu telah aku dengar. Kembalilah jika kekuatan mu sudah pulih.”


“Cih ...,” cicit Elius. “Kesombongan mu akan berakhir secepatnya.”


Setelah berkata, Elius dan Nekabudzer mengepakkan sayapnya. Di depan pintu besar istana, keduanya terbang meninggalkan tempat ini.


Crypto memapah Sean berdiri, dia jelas sangat khawatir pada anak itu.


“Pangeran, apakah pangeran terluka parah?” tanya Crypto.


Sean menggeleng. “Aku tak apa-apa, hanya sedikit sesak di dada,” balas Sean sambil menahan sakit.


“Sean. Kau ....”


“Aku tak apa-apa Jessica. Kau tak perlu mencemaskan aku!”


Jessica mendekati Sean, namun Sean berkata seakan dia baik-baik saja. Lord Shutanhamun mengangguk lemah, dia tahu Sean pasti kuat.


“Bawa pangeran ke ruangan manuskrip tua. Aku akan datang ke sana segera,” perintah Lord Shutanhamun.


Crypto mengangguk. “Baik yang Mulia,” katanya menuruti perintah si pria tua. “Aku akan membawa pangeran pergi.”


Crypto memapah Sean, meninggalkan istana.


Jessica, Yudhar dan Edward, mereka juga mengikuti Sean. Sementara yang lainnya meninggalkan istana awan Metis.


†††††


Sean duduk di pinggir tempat tidur. Di dalam ruangan berisi ribuan tulisan entah apa. Sean belum mengerti, namun Sean yakin di sini pasti adalah semacam perpustakaan kuno.


Lantainya di lukis dengan bunga-bunga cantik, sementara perpustakaan kuno ini sangat besar.


Jessica telah selesai mengikat luka di dada Sean. Sama seperti sebelumnya, Jessica mengikatkan kain lusuh berwarna nampak seperti kain bekas di dapur. Namun Sean yakin, itu adalah kain terbaik yang di miliki oleh Jessica.


Kain itu mengikat bak Bra, dada bidang Sean menonjol sehingga dia nampak seperti seorang wanita. Bra itu sangat cocok dengan Sean, membuat Edward terkekeh geli melihatnya.


Darah merembes, keluar dari dada Sean tadi. Namun, itu sudah berakhir, tak lagi mengalir, sebab Jessica sudah menghentikan darah itu.


“Ngomong-ngomong, Sean. Kau nampak cocok dengan bra itu. Aku rasa kau mirip wanita.”


“Hei kawan, mana mungkin aku melakukannya,” balas Edward kontra.


“Lalu kenapa kau berkata seperti itu pada Sean?”


“Aku hanya mengatakan sesuatu yang menurut ku benar!”


“Sudah, sudah. Hentikan debat kalian!” ucap Sean menengahi. Sean berdiri normal, kini dia berdiri diantara ketiga anak itu. “Jangan berdebat hanya karena masalah kecil. Aku tidak suka jika kalian melakukannya.”


“Sean, kau perlu istirahat. Keadaan mu belum sepenuhnya membaik,” kata Jessica mengingatkan.


“Tidak apa, aku baik-baik saja,” balas Sean. Lagi-lagi, Sean berkata bahwa dia adalah makhluk yang paling kuat.


Jessica melirik Yudhar, anak itu angkat bahu. “Dia keras kepala, jangan mengingatkan kembali dirinya. Atau kau akan menyesalinya.”


“Lelucon,” dengkus Jessica apatis.


Yudhar tersenyum sinis, masamnya wajah Yudhar membuat Jessica enggan meliriknya walau Jessica sudah melihat wajah palsu itu.


“Pangeran sangat kuat. Dia jauh lebih kuat dari apa yang kita bayangkan.”


“Tapi itu tidak cukup untuk membunuh Elius, bukan?” sahut Edward.


Tadi dia menyandarkan bokongnya dimeja ruangan manuskrip kuno, sekarang dia mendekati ketiga anak itu.


“Membunuh bukanlah cara terbaik bagi Lausius. Namun, melindungi adalah tugasnya,” jawab Yudhar menjelaskan.


Dia yang paling tahu, dia sudah lama ditempatkan di istana ini. Yudhar tahu segala hal.


“Benarkah?” sahut Jessica demikian. Dia ingin tahu. “Apakah kau tahu sedikit kisah mengenai Lausius dan hubungannya dengan Sean.”


“Tentu aku sangat tahu. Aku sangat hafal tentang tempat ini. Terutama Lausius.”


“Katakan. Aku ingin mendengar kisah itu!” Edward tak sabaran, dia ingin menantikan cerita dari mulut Yudhar.


Anak hutan itu, dia menyinggung dengan senyum kecut. Lalu ....

__ADS_1


“Dengarkan kisah ku,” katanya, kemudian mengeluarkan sejenis sihir dari telapak tangannya.


Ketiga anak itu sontak menoleh kearah meja. Tempat dimana Yudhar memantik sihirnya ke bola kaca bundar besar. Bola kaca yang bundarnya sangat sempurna, tak ada celah sama sekali Di sana, ajaib, bola itu mulai bercahaya.


Sebuah gambar muncul di permukaan bola itu. Yudhar membuat Edward dan Jessica takjub. Namun tidak bagi Sean.


“Perhatikan. Bola kaca ini menjelaskan siapa itu Lausius, kalian akan tahu kebenarannya!” kata Yudhar mendetailkan ucapannya.


Edward mengangguk setuju, dia paham mengenai cerita yang akan ditunjukkan oleh Yudhar.


Di sana, sebuah gambar pria-pria menawan muncul. Pria-pria yang pernah Sean lihat di aula, ..., entah Sean tak tahu apa nama ruangan itu.


“Wow, fantastis,” ucap Jessica takjub.


“Ini hanya sebagian dari kisah itu. Pria-pria ini adalah Lausius, itulah kenapa mereka sangat diburu oleh Elius dan yang lainnya.”


“Penjelasan yang mudah di kawan,” sahut Edward senang. Sedari tadi Jessica dan Edward sangat memperhatikan bola kaca itu.


Sean masih tak bersuara, dia nampak seperti memikirkan hal lain.


“Sean, apa yang kau pikirkan?”


Jessica menyadari, anak itu sedari tadi diam saja.


“Tidak, aku hanya ....”


“Apakah aku menggangu kalian?”


Tiba-tiba si tua Lord Shutanhamun datang kedalam ruangan ini. Ke empat anak itu menggeleng. Mengalihkan pandangannya pada pria tua yang baru saja masuk.


“Kami sedang senggang, Anda tidak mengganggu sama sekali,” kata Jessica ramah.


“Terima kasih atas perhatian mu nak. Aku senang mendengarnya.”


“Anda terlalu merendah yang mulia.”


Jessica tersenyum manis, pria tua itu membuat kesan baik padanya.


“Kakek, apa yang membuat mu datang kemari?” tanya Sean tanpa ragu.


Pria tua itu menginterupsi ketiga anak-anak yang berdiri di dekat Sean. Lalu dia tersenyum ramah, layaknya dia sudah terlatih akan hal ini.


“Jika tidak keberatan. Aku ingin kalian bertiga keluar dari tempat ini. Ada hal penting yang ingin aku katakan pada pangeran.”


“Oh, tentu yang mulia. Kami akan segera pergi,” balas Yudhar lalu menarik Jessica dan Edward keluar. “Ayo kita pergi dari sini. Jangan jadi pengacau,” bisik Yudhar pelan.


Keduanya tanpa membantah, ikut Yudhar meninggalkan ruangan manuskrip ini.


Saat meninggalkan ruangan ini, ketiganya berpapasan dengan Amuria dan Driyad serta Crypto. Mereka masuk kedalam, sedangkan ketiga anak itu keluar.


“Kenapa mereka masuk ke dalam, sedangkan kita di suruh keluar. Ini tidak adil!”


Di depan pintu, Jessica menggerutu sebal. Pintu sudah ditutup rapat. Jarak antara pintu dengan tempat Sean berdiri amat jauh, tak bisa bagi Jessica menguping pembicaraan di dalam sana.


“Lord sedang membicarakan hal penting. Kalian tak bisa ikut dalam pembicaraan penting ini,” jelas Yudhar.


“Kenapa hanya mereka, apakah keberadaan kita tak dianggap di sini?”


Yudhar menggeleng. “Aku tak mengerti. Hanya yang mulia yang tahu.”


“Mungkin saja ini rahasia, kau tak boleh berpikir negatif, Jessica!” sahut Edward sok dewasa. “Daripada menunggu Sean keluar dari dalam, sebaiknya kita menuju ke kolam saja. Malam seperti ini, ikan bercahaya sedang melompat kegirangan.”


Edward berlalu dari pintu besar itu, Jessica masih menyandarkan punggungnya di dinding bangunan.


Dia melirik Yudhar, namun anak itu mengangkat kedua bahunya, lalu mengekori Edward.


“Kaki mu akan patah jika berdiri di sana sepanjang waktu,” kata Yudhar sebelum dia pergi.


Jessica mendengkus sebal, kedua anak itu benar-benar meninggalkan Jessica tanpa mengajak gadis itu pergi tadi.


“Dua bocah menyebalkan,” gerutu Jessica sebal.


Namun tak urung kakinya mengekori Edward dan Yudhar. Menuju ke kolam istana, ada ikan-ikan bercahaya yang sedang menari. Asik jika melihatnya.


Walau kesal, Jessica mencoba melupakan amarahnya.

__ADS_1


“Aku benci tempat ini.”


__ADS_2