
____________________††††____________________
Istana Elius.
Elius dan Nekabudzer berdiri di hadapan seluruh para silumannya. para Gort yang berjumlah ribuan, mereka dengan patuh menunggu perintah dari Elius.
“Malam ini, kita akan berperang. Aku ingin, semuanya menghancurkan apa saja yang ada di awan Metis. Buat istana tak berguna itu hancur!”
Ucapan Elius melucuti pemikiran para Gort. Ribuan makhluk itu memang identik dengan kerusakan dan penghancuran terhadap apa saja yang mereka lihat dan lalui. Di tambah ucapan dari Elius, itu membuat makhluk siluman makin menjadi. Dan sorakan dari prajurit pengikutnya, semakin membuat suasana perang makin semangat.
“Apapun perintah Tuan. Kami akan melakukannya!” ucap salah satu Gort berupa kerbau.
“Itu harus kalian lakukan. Aku ingin, kalian melakukan hal-hal yang aku inginkan,” kata Elius tersenyum miring.
Para pasukan Gort berbalik, jumlah mereka yang ribuan itu kini meninggalkan istana Elius. Menuju ke istana awan Metis, pikiran mereka sudah di baptis oleh otak jahat Elius.
“Kau lihat Nekabudzer. Sesuai perintahmu, kita akan melakukan peperangan yang besar kali ini. Dan ini menjadi peperangan terbesar yang pernah kita lakukan setelah ratusan ribu berlalu!”
Nekabudzer dan Elius memerhatikan setiap detak langkah para Gort. Para tubuh besar bertanduk itu, benar-benar sangat merusak. Bahkan tembok istana Elius pun mereka berani merusaknya. Suara gemuruh langkah mereka begitu nyaring terdengar.
“Ehm ..., kali ini kau benar-benar berambisi ingin menghancurkan istana awan Metis sekaligus dengan mendapatkan Lausius. Aku tak bisa menahanmu, kecuali mendukungmu!”
“Itu harus!” sahut Elius. “Apapun yang aku lakukan, kau harus mendukungku. Jika aku bisa menaklukan Lausius, maka aku pastikan kau tak perlu lagi melindungiku.”
Nekabudzer mendesah. “Jika bukan karena perjanjianku dengan Tuan agung (Ayah Elius?) tak akan aku melakukan semua ini.”
Nekabudzer melirik Elius, pria itu diam-diam memperhatikan wajah Elius yang sedang di penuhi misi licik.
“Kau lihat. Apa yang mereka lakukan?”
Patriak Zhu dan Zurry memperhatikan istana Elius beserta Tuannya dari bukit tak jauh dari istana Elius.
Keduanya terbang, sambil memperhatikan langkah ribuan Gort yang telah di pengaruhi oleh Elius.
“Tuan agung Patriak Zhu. Apa yang harus kita lakukan sekarang. Apakah kita akan bergabung dengan Elius untuk menyerang istana awan Metis?”
Patriak Zhu menggeleng, sambil tangannya memainkan cincin panjang yang nampak seperti kuku. Di tangannya, semua apa saja bisa dia lakukan tanpa harus menopang pada orang lain.
“Aku tidak ingin mengotori tanganku hanya untuk misi kecil ini. Menaklukkan Lausius muda itu, aku hanya perlu menjentikkan jari saja.”
“Tetapi, Tuan agung. Dia ....”
“Ssst ..., jangan membahas kelebihan anak itu di hadapanku. Jangan rusak kebahagiaanku yang sedang melihat kisah epos ini.”
Ucapan Patriak Zhu, memang sulit untuk di bantah. Zurry tak akan berani lagi berkata jika dia sudah meminta untuk diam.
Terus memperhatikan Elius dan Nekabudzer, sesekali wanita itu tersenyum seraya mendengkus.
Jari jemarinya tak bisa diam, seolah meminta pemilik tubuh agar secepatnya mengeluarkan sihir, atau mengangkat pedangnya. Tangan-tangan Patriak Zhu mulai berulah, memprovokasi Tuannya.
“Kau lihat. Mereka akan menyerang. Kita ikuti mereka dari belakang.”
Kembali Patriak Zhu berkata. Perhatiannya masih tertuju pada kepakan sayap Elius dan Nekabudzer. Dua pria itu sudah meninggalkan istana mereka, mengekori para prajuritnya yang terdiri dalam dua bagian. Gort dan pasukan umum lainnya. Prajurit tak berguna.
Para pengikut Elius, begitu antusias ingin bertarung. Minat Patriak Zhu untuk ikut andil dalam peperangan ini, sama sekali tak akan kendur.
Setelah terbang rendah, Elius kemudian menunggangi kudanya. Begitu liciknya Elius pada konsentrasinya, sampai-sampai Elius tak menyadari kehadiran Patriak Zhu serta Zurry. Kedua iblis itu sudah mengamati pergerakan mereka sejak awal.
“Ayo. Kita ikuti mereka,” ajak wanita ini.
Turun ke bawah, keduanya juga menunggangi kuda. Menyusul Elius yang sudah menjauh.
Suara pecutan kuda Elius terdengar begitu semangat dan gagah. Peperangan malam itu, terasa lebih mengerikan daripada peperangan sebelumnya.
††††
Jessica berada di kamar Sean, anak itu membantu Sean memasangkan pakaiannya yang begitu rumit. Agak teliti dan terlatih, setiap detail pakaian Sean, Jessica memperhatikan rinciannya.
“Apakah pakaian ini tidak terlalu besar, Jessica?” tanya Sean meminta pendapat.
Jessica membalas. “Aku rasa, kau begitu cocok dengan pakaian ini. Tidak kebesaran maupun kekecilan, justru kau makin gagah.”
__ADS_1
“Benarkah?”
Jessica mengangguk. “Aku berkata jujur.”
Sean memperhatikan dirinya lagi di cermin. Benar saja, sebenarnya Sean nampak cocok saja dengan pakaian itu. Usai memperhatikan dirinya, Sean berbalik.
“Ayo kita keluar. Para petinggi istana sedang menunggu kita,” ajak Sean berlalu.
Jessica mengangguk, mengekori Sean yang sudah lebih dahulu meninggalkan kamarnya.
Di dalam istana, para petinggi sudah berjejer rapi. Berdiri, berbaris sempurna. Melihat kedatangan Sean, semuanya menunduk.
Jessica makin berbangga, pasalnya dia berada di belakang Sean. Seolah, orang-orang itu juga sedang membungkukkan diri untuknya.
Sementara itu, Lord Shutanhamun berdiri di singgasananya. Menantikan Sean, yang menuju dirinya.
Tapi, sebelum itu terjadi, seorang prajurit tiba-tiba datang. Menerobos masuk kedalam istana, napasnya memburu.
“Yang mulia Tuan agung. Di perbatasan ....”
“Atur napasmu dahulu. Bicaralah pelan-pelan,” pinta Sean.
Pria itu bersimpuh di hadapan Sean dan yang lainnya. Setelah itu, pria ini kembali melanjutkan ucapannya.
“Di perbatasan. Para Gort dan bala tentara Elius datang menyerang. Sebagian prajurit terluka.”
Mendengar pengakuan pria itu, semua orang yang berada di dalam istana tercengang.
“Kau tidak bercanda bukan?” sahut Yudhar bertanya.
Pria itu menggeleng. “Hamba terluka. Mereka menyerang menggunakan panah.”
Prajurit itu menunjukkan bahunya, yang sudah berdarah. Sean melihatnya, dia tahu situasi ini sangat mencekam.
“Kalau begitu, aku akan ke perbatasan.”
Sean tanpa pikir panjang dia memutarkan tubuhnya, mencoba meninggalkan istana. Namun, Lord Shutanhamun menghentikan langkahnya.
“Jangan gegabah. Kau perlu mengukur dahulu rencana ini sebelum pergi ke perbatasan.”
“Tapi kek. Situasi ini jauh lebih mencekam dari apa yang kita bayangkan!” seru Sean gusar.
“Aku tahu itu. Tapi, jika kau datang ke perbatasan tanpa persiapan, aku rasa pasukan istana akan di pukul mundur bahkan kalah. Kita tak bisa mengambil resiko sebesar ini!” ucap Lord Shutanhamun mengingatkan.
“Pangeran. Biarkan kami yang pergi kesana. Pangeran tetap di istana, sambil menyusun rencana.”
Amuria menyahut, diikuti oleh Crypto dan yang lainnya. Driyad membungkuk di hadapan Sean.
“Kami yang akan pergi ke perbatasan sekarang. Sebaiknya, pangeran tetap di sini,” katanya berinsiatif.
“Permasalahan ini bukan terletak pada kalian. Tapi aku. Ini semua karena mereka menginginkan aku!” tegas Sean mengingatkan semua orang.
Semuanya tahu, kalau Lausius adalah penyebab kekacauan. Bukan karena dia perusak alam dan kedamaian, melainkan jiwanya yang di buru. Ada begitu banyak orang-orang yang menginginkan jiwanya, namun Sean tetap tak peduli akan keselamatannya sendiri.
“Kita tak punya waktu. Sebaiknya, aku pergi ke perbatasan sekarang!”
Karena begitu banyak spekulasi mengenai siapa yang akan pergi ke perbatasan, Yudhar lebih dahulu berinisiatif. Dia tanpa menunggu persetujuan Sean, langsung bergegas ke luar istana.
“Yudhar, kau ....”
Sean ingin meraihnya, namun anak itu sudah hilang di dari pandangannya.
“Maafkan aku Sean. Aku rasa, aku juga sependapat dengan Yudhar.”
“Eed, kau ....”
Sean juga tak bisa menahan Edward, dia mengikuti langkah Yudhar. Meninggalkan istana, anak itu lari secepat kilat. Kedua teman sebaya Sean, begitu keras kepala. Namun, Sean mengakui kalau mereka lebih berani dari yang dia duga.
Crypto membungkuk di hadapan Lord Shutanhamun, lalu dia berkata mengusul idenya.
“Maaf Tuan agung. Aku juga merasa, aku harus pergi ke perbatasan sekarang juga. Saat ini, di sana lebih genting dari apapun.”
__ADS_1
“Aku juga ikut bersamamu,” sahut Amuria. “Kita akan pergi bersama.”
Jika dia pria itu bisa pergi, maka Driyad tak akan mudah di remehkan. Tak lupa, Driyad tak ingin ketinggalan akan hal ini. Dia mau ikut andil dalam berperang.
“Jangan lupakan aku. Kita pergi bersama-sama!” ucap Driyad ikut membara.
Pria tua yang berdiri di depan kursi kebesarannya, hanya bisa mendeham. Dia mengurut dagunya, jenggot putih itu sedang berpikir.
“Baiklah. Kalau begitu, kalian pergi sekarang ke sana. Pastikanlah, kalian menghalau dahulu serangan Elius dan prajuritnya. Aku akan segera tiba di sana bersama pasukan istana!”
“Perintah Tuan agung, kami laksanakan!”
Crypto undur diri. Dia juga melangkah keluar, diikuti oleh dua rekannya. Mereka tak bisa berdiam diri di saat situasi mencekam seperti ini.
Yang tersisa hanya penjaga istana, dan Sean serta Jessica. Tak lupa, pria tua itu juga berada di sana.
“Kakek, aku harus kesana sekarang!” rengek Sean lagi. Dia sangat bersikeras, membuat pria tua ini tak bisa membantah lagi.
“Aku tahu, masa ini telah tiba. Aku ingin melarangmu, namun aku juga tak bisa menentang kehendak takdir. Apa yang harus aku katakan saat ini agar bisa menahanmu dalam istana?”
Sean membungkuk, menyatukan kedua tangannya. “Biarkan aku mengabdi pada dewa Opis, sebagai ksatria tanah surga.”
Membuang napas lelah, pria tua itu mengizinkan kepergian Sean. Pria tua itu ingin sekali mengakui, kalau dia begitu berat melakukannya. Namun, karena keras kepala Sean telah mendominasi pemikiran Lord Shutanhamun, maka tak ada pilihan lain. Pria tua itu hanya bisa mengatakan persentuhannya.
“Semoga, para petinggi langit memberkatimu nak,” katanya dengan berat hati.
Sean langsung bergegas. Meninggalkan istana, tapi Jessica menarik lengan Sean. Sebelum Sean pergi, Sean menatap wajah Jessica yang nyaris mengeluarkan air mata. Di tambah wajahnya terlihat tak rela melepaskan kepergian anak itu.
“Aku akan baik-baik saja. Kau jangan khawatir!”
Sean memahami Jessica, dia pasti cemas akan keselamatan dirinya. Dengan berat hati, Sean melepaskan pegangan tangan Jessica.
“Aku harus pergi, semua keselamatan penduduk ada di tanganku!” lanjut Sean berkata.
Tak ada pilihan lain untuk Jessica melepaskan kepergian Sean. Jessica, bagaimanapun juga dia tak berhak menahan anak itu agar berada di sisinya.
Melihat Sean yang sudah pergi, Jessica hanya bisa berdoa untuk keselamatannya.
Semoga, kau baik-baik saja Sean.
Meninggalkan Jessica, Sean sebenarnya tak tega. Namun Sean harus melakukannya. Sampai di depan istana, Sean mengambil kuda putih yang sudah di siapkan untuknya. Tak lupa, Sean memerintah salah satu prajurit yang ada di dekatnya.
“Kirim pasukan perang sekarang juga ke perbatasan. Siapkan senjata lengkap dan baju perang, jangan sampai ada yang kekurangan. Sebagian ikut aku, kita harus tiba di perbatasan secepatnya.”
Usai berkata pada prajurit, Sean langsung memecut kudanya. Dia mempercepat langkah sang kuda, agar secepatnya tiba di sana lebih awal dari yang dia harapkan.
††††
Sesampainya di pusat perbatasan. Sebagian dinding baja benteng perbatasan sudah jebol. Lantaran mendapatkan lemparan batu panas dari pasukan Elius.
Sebagian prajurit sudah terluka karena panah api. Gordon sudah menghalau beberapa Gort yang mencoba menerobos pintu masuk perbatasan. Tubuh kekar itu masih perkasa dalam urusan perang.
Amuria dan yang lainnya langsung mengeluarkan senjata masing-masing. Satu persatu mereka menumpas kepala para Gort juga pelayan Elius.
“Berapa banyak jumlah mereka?” tanya Crypto pada Gordon.
“Hampir seratus lima puluh ribu pasukan lebih. Separuh pelayannya, separuh lagi siluman menjijikan itu,” balas Gordon cepat.
“Apakah prediksimu akurat?” tanya Amuria menyahut.
“Aku pastikan begitu.”
Walau Gordon tak tahu persis seberapa banyak mereka, namun perkiraannya mungkin tak akan salah.
Berada di benteng perbatasan, mereka memperhatikan lagi wajah-wajah para penjahat itu. Begitu banyaknya para siluman dan pelayan prajurit perang Elius, membuat Gordon dan yang lainnya ngeri.
Jumlah mereka banyak, bak semut yang sedang berkumpul. Di tengah lapangan yang gelap, kumpulan siluman bertanduk dan bersenjatakan lengkap itu terlihat tak gentar.
Elius berdiri di bagian paling depan barisan. Di atas kudanya, dia sebagai pemimpin perang.
“Kita tunggu dahulu pangeran. Kemungkinan dia sedang menuju kemari. Kita butuh pasukan yang banyak, saat ini pasukan perbatasan banyak yang tumbang. Kita tak bisa menyerang dengan jumlah yang sedikit seperti ini!”
__ADS_1
Amuria mengangguk, saat Crypto berkata. Taktik mereka belum sempurna untuk di rencanakan, itulah kenapa? Mereka butuh Sean sekarang.
“Kemungkinan, Tuan agung akan tiba sebentar lagi.”