
Desiran angin malam itu, begitu pekat. Pakaian yang dikenakan ikut terkibar-kibar, menyamai arus angin.
Menuruni jalan batu berbonggol-bonggol nan licin, keempat petualang itu tiba di depan kuil tanpa atap. Ada enam tiang besar yang berdiri sejajar saling berhadap-hadapan. Di atas tiang persegi empat itu, terdapat patung besar di setiap tiang.
Menelisik lebih dalam lagi, ada pintu besar dan tinggi di hadapan Sean. Di sisi kanan dan kiri pintu, ada dua penjaga mengenakan pakaian perang dan bersenjatakan tombak.
Saat Sean menyipitkan matanya, dia mendapati itu bukan penjaga atau prajurit—melainkan hanya patung perunggu yang menyerupai bentuk prajurit—nyaris sempurna pahatannya. Duplikat tiada bandingan.
Lantai kuil di genangi air sekitar satu sentimeter. Di kiri dan kanan bangunan ada air terjun kecil, memercikkan air yang terdengar sangat menyejukkan. Tidak heran, Sean tidak meragukan kalau tempat ini terbilang sangat indah.
“Apakah ini kuil menuju ke lembah air mata?” tanya Sean pada ketiganya.
Amuria membalas lebih dahulu. “Benar pangeran. Ini kuil menuju ke dalam lembah air mata. Atau biasa di kenal dengan sebutan Tearso velly. Tempat yang menyimpan keindahan namun mematikan. Semua orang tahu tempat ini.”
“Haruskah kita masuk sekarang?” tanya Sean lagi.
“Tentu saja. Tetapi selalu waspada, karena ada banyak jebakan!”
Amuria kembali mengingatkan. Itu jauh lebih baik berhati-hati daripada tidak sama sekali. Siapa tahu pada nasib, Sean juga tak bisa memperkirakan dengan detail apa yang ada di balik pintu kuil.
Sean menjejakkan kakinya yang pertama. Saat lantai yang di genangi air bersentuhan dengan sepatu kuno yang Sean kenakan, genangan itu menciptakan sebuah cahaya yang indah.
Setiap langkah kaki, pasti akan mengeluarkan cahaya biru cerah. Menakjubkan bukan? Itulah yang Sean rasakan.
Berhenti di tengah-tengah keenam tiang batu, Sean memperhatikan ada yang tidak wajar di sana. Sejenis, ancaman tersembunyi. Tidak tahu apa? Sean mencoba memahami situasi ini.
“Tidakkah kalian merasakan hal ini?”
Sean memandang wajah ketiga pria di belakangnya. Crypto mengangguk, setuju dengan apa yang Sean rasakan.
“Tidak tahu apa. Tapi, aku rasa bahwa akan ada yang terjadi sebentar lagi. Pangeran harus selalu waspada.”
Sean mengangguk. “Ayo kita masuk.”
Makin menapakkan kaki menuju ke pintu kuil berlantai lukisan tiga dimensi, ada banyak hal yang Sean rasakan. Rasa aneh, yang sebelumnya tak pernah Sean rasakan.
Driyad masih di belakang, saat kedua rekannya dan Sean sudah menjauh darinya.
Driyad menoleh ketika dia mendapati suara rantai besar, yang membelenggu. Rantai itu menggantung di atas patung besar yang berdiri di atas pilar. Rantai yang menghubungkan setiap patung. Seakan rantai itu menghubungkan setiap patung.
Rantai hitam besar itu bergoyang keras, suara gerincing yang khas dari besi baja tebal. Padahal Driyad tahu bahwa benda berat itu takkan bisa bergerak jika terhembus oleh angin.
“Tidak ada angin, dan juga rantai ini sangat berat. Tapi kenapa dia bergetar. Apakah akan ada yang terjadi?”
Mata Driyad menelisik sekeliling, pelipis matanya mulai menyorot tempat-tempat yang menurutnya sangat mencurigakan. Namun, nihil. Tak satupun yang dia lihat.
Sedangkan, Sean dan dua rekan Driyad sudah nyaris mendekati pintu. Sayangnya, Driyad masih terpaku untuk mengetahui apa yang dia rasa.
“Driyad! Apa yang kau lakukan di sana?” teriak Amuria. “Percepat langkahmu!”
“Oh. Iya, aku ....”
Driyad salah tingkah, setelah Amuria berteriak—dia memburu langkahnya. Sampai Driyad mendekati ketiganya.
“Aku rasa, tempat ini sangat aneh,” ungkap Driyad pada ketiganya.
Crypto mengernyitkan dahinya. Lalu bertanya sedikit ingin tahu atas apa yang Driyad rasakan. “Aneh seperti apa yang kau maksud?”
“Rantai besar di sana!” tunjuk Driyad pada rantai besar yang menggantung Kokoh. “Rantai itu bergerak. Apakah kalian mendengarnya?”
“Tidak! Kami tidak mendengarkan suara apapun.” balas Amuria menggeleng. “Mungkin kau salah mendengar.”
Driyad membantah. “Aku berkata benar. Aku mendengarnya. Rantai itu bergerak, suara ngilu itu sangat jelas aku rasakan. Tapi ..., aku tak menemukan siapapun di sana.”
Mendengar Driyad berkata seperti itu, Sean meluaskan pandangannya. Mencoba mencerna dengan baik apa yang di rasakan oleh Driyad—sama seperti apa yang Sean rasakan sebelumnya.
“Driyad benar. Sepertinya, ada yang mencoba mengusik kedatangan kita di sini!”
Sean melangkah agak menjauh dari pintu besar di kuil ini. Kembali menuju ke tengah-tengah enam pilar, dan ....
“Pangeran!” pekik Crypto memperingati.
Sean menoleh ke kiri dan ke kanan. Enam patung besar yang tinggi berlipat-lipat dari tinggi Sean—bergerak. Mereka hidup, bangkit dari bentuk mereka yang kaku.
Sean melompat ke udara, saat satu patung nyaris menghantam keras tubuhnya. Sayap emas kembali terbuka, dan satu tangan Sean mencabut pedangnya.
Lalu, ada rantai besar yang terputus. Rantai yang di maksud oleh Driyad itu benar-benar sangat besar dan tebal. Keluar api, di ikuti tubuh patung raksasa yang semuanya mulai bernyawa. Satu persatu mereka mulai bangkit.
Dan rantai yang mengikat keenam patung itu, terputus masing-masing. Salah satu patung berusaha menghantam tubuh Sean dengan belenggu rantai, namun dengan cepat Sean terbang menghindar.
Suara dentuman dari serangan rantai besar itu bahkan membuat pilar-pilar tempat keenam patung itu berpijak, hancur berantakan. Sean mulai menakar, kalau kekuatan mereka setara kekuatan petir uang menyambar.
“Jadi ini yang dimaksud dengan patung penjaga permata!” gumam Sean pelan. “Mereka begitu kuat dan tangguh. Tidak mudah mengalahkan mereka hanya dengan satu kali pukulan.”
Sama seperti sebelumnya, cahaya di tubuh Sean memancar. Menandakan bahwa Sean harus tetap waspada.
__ADS_1
Suara raungan dari keenam patung begitu keras. Keenam patung yang di ukir dari batu itu, kini sudah mulai bergerak leluasa.
Satu persatu menyerang Sean, ingin menyergapnya. Sean dengan lihai, bisa menghindar dari serangan para patung batu yang besar tak terkira ini.
Melihat Sean di kepung oleh penjaga permata lembah air mata, Crypto sesegera mungkin mencabut pedangnya.
“Aku tak bisa membiarkan pangeran mengalami kesulitan seorang diri. Aku harus membantunya!” tegas Crypto sambil membuka lebar sayap bercahayanya itu.
Amuria demikian. Crypto yang lebih dahulu terbang, membuat Amuria ikut turun tangan. Mencabut pedangnya, mengepakkan sayap kemudian ikut membantu Sean menumpas batu-batu raksasa.
“Jika kau tidak ingin bertarung, kau tunggu saja di sini!”
Amuria berpesan, sebelum dia terbang. Driyad menyinggung sinis. Dia yakin, pria itu berkata padanya. Tak ada lain di sebelah Driyad, kecuali patung perunggu. Namun, Driyad bukanlah pengawal lemah. Dia benci pada sebutan itu. Lemah, yang berarti tak bisa berbuat apa-apa.
“Mencoba melupakan aku. Kalian bisa apa!” dengkus Driyad ketus.
Mencabut dua pedangnya, Driyad terbang. Berputar kesana kemari, hinggap di kepala patung-patung besar itu.
Driyad tersenyum miring, dengan gairah yang menggelora, dia memenggal kepala patung besar di hadapannya.
“Hanya patung lemah, kalian harus musnah dari pandanganku. Hiya ....”
Dua pedang Driyad memenggal kepala patung batu. Membuat kepala itu terputus dari badannya. Tumbang, patung itu tak lagi mampu bertahan. Dengan girangnya, Driyad merasa bahagia bisa menumpas satu patung.
Darah mengucur deras dari patung batu. Rupanya saja yang batu, tetapi sesungguhnya mereka memiliki jiwa. Driyad yakin itu.
Sementara itu, Crypto dan Amuria terbang sembarangan. Menghindari serangan batu-batu yang menghantam tubuh, walau lincah tapi tidak begitu asyik di mata Driyad. Dia benci pada petarung yang tak mau membalas sebuah serangan.
Driyad, jelas dia langsung mendekati Amuria dan Crypto. Tubuh yang lincah itu, ikut membantu keduanya membalas serangan dari batu kaku.
“Kalian terlalu lamban. Aku yang akan menuntaskan mereka!” ucap Driyad pada kedua rekannya.
“Driyad, kau ....”
“Jangan khawatir. Aku bisa mengatasinya!”
Belum sempat tangan Amuria menarik pundak pria itu, Driyad lebih dahulu membalasnya dengan ucapan sok berani.
Amuria dan Crypto terdiam hening. Dua mangsa mereka, kini di ambil alih oleh Driyad. Keduanya saling lempar pandangan, Amuria angkat bahu.
Crypto mendesah lelah. “Semoga dia tidak terluka!”
“Aku harap demikian,” jawab Amuria singkat.
Memandangi kelincahan Driyad, keduanya bersikap lepas tangan. Sedangkan Sean, dia mengeluarkan kekuatannya.
Dan, seketika tubuh keras itu hancur, ketika menerima serangan kekuatan dari Sean. Dari atas Sean, dia tak menyadari kalau ada serangan dari patung batu lainnya.
Tangan sekeras martil itu, mencoba menghantam tubuh Sean, akan tetapi sayap emas Sean lebih dahulu melindungi tubuh Sean.
Sayap sekeras baja Sean mampu melindunginya dari serangan itu. Sehingga, tak bisa menghantam tubuh Sean dengan mudah. Tangan batu raksasa itu, justru hancur saat bersinggungan dengan sayap emas Phoenix.
“Pangeran!”
Amuria sempat ketakutan ketika melihat Sean terkena serangan dahsyat dari patung batu. Tapi ....
“Oh. Syukurlah. Pangeran, dia aku kira terluka.”
Saat sayap besar itu terbuka lebar, Amuria menarik napas lega. Pasalnya, tubuh Sean baik-baik saja.
“Begitu dahsyatnya kekuatan sayap itu. Apakah kau yakin bahwa sayap emas milik Phoenix surga bisa menjadi tameng pangeran?”
Amuria mengangguk saat mendapati pertanyaan takjub dari Crypto. “Jujur. Aku kira sayap itu tak akan bisa melindungi pangeran tadi!”
Crypto tersenyum. “Aku mengaggumi pangeran dengan keajaiban yang dia miliki.”
Bicara di udara, perlahan keduanya menuruni sayap ke lantai kuil. Tak ada lagi serangan dari para patung itu. Sean, dia berhasil melumpuhkan beberapa patung penjaga kuil di lembah air mata ini.
Tersisa beberapa lagi, jadi Amuria dan Crypto tida turun tangan. Melainkan, hanya memperhatikan saja Sean yang asik terbang entah kemana. Ke seluruh udara.
Kecuali Driyad, dia masih mati-matian melawan sang patung terakhir. Suara teriakan penuh amarah Driyad, benar-benar telah mengacaukan suasana.
Hingga Sean mampu melumpuhkan patung raksasa sekaligus dengan rantai yang menjadi senjata mereka. Sean mendekati Amuria dan Crypto. Sean menormalkan lagi tubuhnya yang nyaris kalah telak.
“Pangeran. Kau baik-baik saja bukan?” tanya Amuria memperhatikan.
Sean mengangguk. “Aku baik-baik saja. Hanya Driyad, dia masih belum menyelesaikan tugasnya.”
“Biarkan saja dia. Driyad selalu ceroboh dalam segala hal!” sahut Crypto apatis.
Amuria terkekeh. “Di antara kita semua, hanya kau yang tak pernah peduli padanya!”
Dari atas, Driyad melihat kedua rekannya santai. Sean pun demikian, dia sudah tak lagi bertarung. Membuat Driyad, memacu ritme pertarungan.
Setiap cengkraman tangan patung itu ingin menangkap Driyad, maka secepat kilat Driyad mampu menghindar. Beberapa kali tangan patung itu menghantam dinding-dinding kuil. Bahkan telah meruntuhkan bebatuan yang ada di atas dinding sebagai tempat mengalirnya air.
__ADS_1
Driyad mengerahkan semua tenaga dan kekuatannya. Dengan sekali serangan, pria itu berbalik ke arah punggung patung penjaga. Dan, dua pedang Driyad berhasil menepi di tangan sang patung lalu memutuskan kedua tangan itu.
Driyad kembali terbang rendah, kini berada di atas patung. Setelah itu, pria ini berusaha menancapkan pedangnya di kepala payung.
“Berakhirlah kau iblis!” pekik Driyad mengganas.
Tepat, dua pedang Driyad berhasil menancap sempurna di kepala patung itu. Darah keluar dari luka yang baru saja Driyad bentuk.
Tak lama, patung itu roboh. Driyad menyeringai tertawa. “Semudah itu mengalahkan patung ini. Huh, aku kira dia jauh lebih kuat dari apa yang aku duga!” katanya sedikit sombong.
Turun pelan, Driyad berusaha berbangga diri atas apa yang baru saja dia lakukan. Amuria, dia menjadi yang pertama merespon keberhasilan Driyad. Bertepuk tangan, menyoraki Driyad. Itulah yang di lakukan oleh Amuria, sebagain bentuk apresiasi atas kerja keras Driyad.
“Prestasi luar biasa kawan. Pertahankan prestasimu ini!” ucap Amuria, seraya menepuk pundak Driyad.
Driyad mendengkus. “Seharusnya kau bangga padaku!”
“Kau mencoba sombong sekarang?” ledek Crypto menyela.
“Lebih baik begitu, daripada menjadi makhluk lemah.”
Crypto memandang Amuria. Pria itu kembali mengangkat kedua bahunya. Aneh, memang Driyad begitu aneh. Dia mudah tersulut dalam emosi.
“Ayo kita masuk!”
Sean menyela, mengajak ketiga pengawal itu masuk kedalam. Pintu kuil terbuka, suara daun pintu melengking. Suara yang lazim terdengar menakutkan. Tetapi, tak cukup membuat Sean merinding.
Saat memasuki pintu kuil. Mereka di hadapkan pada sebuah tempat luas— sebenarnya bukan sebuah kuil. Walau rumput hijau subur di permukaan tanah, bukan berarti tempat yang mirip goa ini di sebut sebuah kuil. Hanya bagian depan saja yang di sebut kuil, bagian dalam justru lebih condong di sebut lembah sesungguhnya.
Makin melangkah masuk kedalam, tempat itu makin sempit. Ada tebing bebatuan, lalu ada air terjun di depan Sean. Jurang, memisahkan dua tebing. Sedangkan, kanan dan kiri Sean adalah jalan setapak yang memang cukup untuk di lalui Sean dan yang lainnya.
“Kuil ini. Terlihat seperti tak pernah di jamah oleh orang lain. Apakah tempat ini memang sunyi sepanjang waktu?”
Sean melirik ketiga pria di belakangnya. Crypto membalas. “Tak seorangpun yang sanggup masuk ke tempat ini. Selain berbahaya, juga banyak orang-orang yang tak bisa kembali setelah memasuki kuil air mata ini.”
Benar apa yang di katakan oleh Crypto, memang ada banyak bekas tulang belulang yang Sean lihat. Tempat yang di laluinya, meskipun asing, namun terkesan mengerikan.
Di depan Sean, ada patung besar setengah badan. Patung seorang wanita, yang nampak menangis. Patung itu berada di dinding berbatuan tanpa bentuk. Memegang sebuah kendi, dari wadah di tangan patung itu— juga dari air matanya. Keluar cairan seperti anggur, berwarna keunguan—mengalir deras.
“Aku yakin, ini pasti yang di maksud dengan lembah air mata.”
Pikir Sean demikian. Pasalnya, memang hanya patung itu yang mengeluarkan air.
Sean mendekati genangan air yang keluar dari mata patung, mengambil seteguk air di tangannya. Lalu meminumnya. Sean ingin merasakan, apa rasa dari air keunguan yang aromanya amat memikat.
“Tidakkah itu terlalu berbahaya pangeran. Kau meminumnya, aku takut air itu beracun,” ujar Driyad khawatir.
Sean menggeleng. “Aku tak mudah terkena racun. Kalian tak perlu khawatir pada keselamatanku,” jawab Sean.
Saat meminum air itu, Sean tak merasakan apapun. Hanya air biasa, bahkan Sean tak mengalami sesuatu yang aneh.
“Air ini, kenapa terasa berbeda?” ujar Sean pada siapa saja dari ketiganya. Mungkin mereka tahu sesuatu. “Rasanya aneh!”
“Air mata Dewi neraka. Ini memang tidak berbahaya, tapi agak memikat. Jelas agak aneh saat pangeran meminumnya, karena air ini di buat dari air mata dewi neraka,” jelas Crypto memberitahu.
“Dewi neraka?”
Mendengarnya saja, Sean sudah paham betul seperti apa rupanya. Setelah itu, Crypto kembali melanjutkan ucapannya.
“Lembah air mata ini juga sering memikat para korban melalui aroma air yang menyejukkan dan enak di hirup. Tapi, ini bisa di minimalisir dengan cara menutup hidung.”
“Haruskah aku menutup hidungku sekarang?” tanya Driyad.
“Jika kau ingin melakukannya, siapa yang akan melarang mu.”
Crypto, dia memang ahli dalam memancing kemarahan. Beruntung, Driyad tak pernah menanggapinya serius.
Sean men-decak sambil menggeleng. Usai melihat Crypto dan Driyad saling berdebat, Sean lebih memilih melanjutkan lagi jalannya.
Mengambil jalan setapak di pinggir dinding bebatuan lembah, Sean berjalan santai. Seakan, Sean tak bisa di batasi oleh waktu dan kepercayaan saja.
Ketiga pria itu kembali mengikuti Sean. Jalan memang sempit, itu tak mudah untuk di lalui. Setiap tempat yang mereka lalui, terlihat unik. Karena, ada banyak bunga bercahaya, yang menerangi jalan.
Terus menyusuri jalan yang kecil dan kadang harus menundukkan kepala, karena ada celah yang tak mungkin untuk di lalui dengan jalan tegak. Sean tak mengeluh, kemungkinan salah satu dari ketiga pria di belakangnya yang mulai bosan pada jalan mereka.
Hingga tiba di sebuah tempat, yang lapang. Sean menemukan sebuah tempat, yang sebenarnya mirip istana. Ada tiga anak tangga, yang nampak dari kejauhan.
Obor api menyala terang, seakan ada yang menjaga tempat ini.
“Apakah ini tempatnya?” tanya Sean memastikan.
“Benar. Ini tempatnya,” jawab Amuria.
Di atas anak tangga, ada sebuah pilar kecil. Di atasnya ....
“Bukankah itu permatanya?” ujar Driyad menyadari.
__ADS_1
Ada sebuah kotak emas, lalu ada benda mengambang beberapa senti dari kotak emas. Benda yang memancarkan warna merah terang.
Sean, dia hening sejenak.