
MELUNCUR
"Oke, tetap seperti ini. Dan aku tak akan menyakiti mu kawan. Oke tenanglah! kita adalah sahabat, kau tak perlu mengganas kawan." Sean berujar tenang seolah ia sudah paham bahwa ia telah mengerti prilaku hewan itu.
"Berhati-hatilah Sean! aku takut ia akan melukai mu." Teriak jessica dari belakang Sean.
Gadis ini memperingati pria yang ada di depannya itu agar selalu waspada.
"Ayolah Jessica, bahkan ia mulai menurut pada ku." Balas Sean dengan ekspresi senang seraya memutar balikan tubuhnya.
Remaja ini kini bergantian membelakangi beruang besar itu usai membelakangi Jessica.
Wajah takut Sean kini berangsur berubah jadi bahagia bahkan Sean mulai tersenyum manis karena berhasil membuat hewan buas bergigi tajam ini menjadi jinak dalam sekejap.
"Kau lihat bahkan dia tak terlihat buas sama sekali," Tambah Sean memuji hewan ganas yang baru saja ia jinakan beberapa saat yang lalu.
Beruang itu menikmati setiap belaian lembut penuh perhatian dari Sean. Bahkan sangking nikmatnya belaian hangat sean, ia memejamkan mata beberapa kali. Sebuah rileks dan enjoy dari pijatan jemari remaja manis itu.
"Tapi Sean! bagaimana pun juga dia tetap hewan buas. Insting berburunya masih alami. Bagaimana jika..!"
"Tenanglah Jessica, kau tak perlu takut begitu . Kau lihat dia! Dia sangat menurut," timpal Sean cepat sambil tangannya membelai lembut kepala beruang besar yang tertunduk itu secara terus menerus.
"Oke. Oke. Oke aku paham. Kau berbaik hatilah padanya jika kau menganggapnya sahabat mu yang baik. Maka aku tak peduli lagi pada mu!" sahut Jessica sewot ia mulai menyerah memperingati sean. Kedua sahabat itu bicara dalam jarak tiga meter lebih.
"Ya seharusnya kau percaya padanya, bahwa ia tak kan melukai manusia," ucap Sean penuh percaya diri.
Jessica menghela nafas panjang, dan berpikir jauh dari angan-angannya. Ia tak percaya itu!.
Tak percaya bagaimana hewan buas besar itu bisa menurut pada Sean yang bahkan sebelumnya sempat menunjukan sifat garang dan ganasnya.
Sungguh sesuatu yang tak dapat di prediksi oleh nalar dan alur pikiran Jessica.
****
"Wohooooo! kau amat pintar dan penurut," ucap Sean membanggakan jinakannya sambil tangan putih itu membelai hangat bulu-bulu lebat itu.
"Karena kau menurut dan suka dengan belaian ku, maka aku akan memanggil mu... berry!"
ucap Sean melanjutkan belaiannya pada raksasa buas itu.
"Apakah kau menyukainya berry?" tanya Sean meminta pendapat hewan yang tak mampu mengerti bahasanya itu.
Beruang itu hanya menyukai belaiannya, bahkan ia tak mengerti apa yang anak manusia itu lakukan padanya. Bahasanya yang santai seolah membuat binatang buas itu akrab dan nyaman.
Ia menunjukan tingkah manjanya pada Sean.
Jadi Sean menganggapnya itu adalah sebuah kemistri antara dirinya dan hewan itu.
"Okelah kurasa kau suka dengan panggilan itu."
Entah mengerti atau tidak, Sean menganggapnya sebuah kesepakatan.
Sementara Jessica hanya menyaksikan tingkah Sean pada hewan itu penuh kebimbangan.
"Bahkan ia telah menamai hewan buas itu dengan nama yang unik? Aku tak percaya itu. Dia melakukannya!" ucap Jessica bersikap implusif.
Ketakutan Jessica pada hewan itu telah berlalu seiring melihat tingkah manjanya pada Sean yang bersahabat.
"Hei Jessica! Apakah kau tak ingin membelai bulunya yang hangat? sungguh bulu-bulu ini sangat lembut dan halus. Kau pasti menyukainya," Sean menawarkan Jessica keramahan hewan itu.
Dan ya, Jessica tentu saja menolaknya. Bahkan Jessica tak ingin mendekatkan diri pada hewan besar itu.
"Aku tidak tertarik padanya. Kurasa kau sendiri cukup!" dengan tegas Jessica menolak tawaran itu mentah-mentah.
"Aku yakin kau akan melakukan itu!" balas Sean yang telah menduganya.
Ia melanjutkan belaiannya dan bermain bersama berry nya.
Begitu senangnya bermain bersama sang berry hingga tak menghiraukan Jessica yang terus memperhatikan tingkahnya.
__ADS_1
Tanpa takut Sean memegang kuku-kuku tajam teman barunya itu. Bahkan memeriksa seluruh bagian tubuh hewan itu.
Semua detail tubuh itu ia periksa dengan seksama.
Pikir Sean teman barunya itu mungkin sudah bertahun-tahun tak motong cakar-cakar itu, sehingga nampak tak terawat. Sean sungguh memperhatikan bentuk tubuh hewan raksasa itu.
Ada rasa takjubnya pada berry, namun ada sedikit takut juga terlintas dalam benak Sean.
Namun sekonyong-konyong belaian hangat Sean pada hewan yang merasakan kenikmatan jari tangan yang lembut itu, mata berry yang awalnya terpejam merasakan sentuhan itu tiba-tiba berubah menjadi tatapan serius dan dan penuh dendam.
Sean merasa sangat terkejut melihat prihal teman barunya tiba-tiba terbangun dari rebahan manjanya dan kini sorot mata hewan buas itu menatap wajah Sean penuh dendam dan serius.
Jessica yang menyaksikan prilaku hewan itu tiba-tiba berubah secara mendadak, juga menanggapinya dengan ekspresif dan kekhawatiran yang besar.
"Hei kawan! ada apa? kenapa kau menatap dan bertingkah seperti itu pada ku!" tanya Sean yang heran pada prilaku hewan itu.
Prilakunya yang mendadak kembali bersikap ganas dan buas seakan dirinya dirasuki oleh roh jahat.
Seperti mengidap penyakit prilaku ganda, sikap hewan itu sangat kian sensitif.
Seperti sebelumnya, hewan itu kembali mendekati Sean dengan prilaku buas alaminya, tak tahu apa yang ada di benaknya sehingga ia kembali pada sikap buruknya beberapa saat yang lalu.
"Hei berry! berry! Tenangkan diri mu!" ucap Sean membujuk hewan itu.
Kini tubuh beruang makin meninggi dari ukuran sebelumnya.
Jessica menyaksikan kejadian itu. Sungguh dugaan Jessica pada kebuasan hewan itu memang benar adanya.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan Sean dari terkamannya.
"Oh tidak!" ucap Jessica melihat hewan itu memberikan serangan kasar pada Sean.
Hewan itu memukul Sean dan melempar tubuh itu dengan kekuatan penuh.
Alhasil tubuh Sean melayang di udara dan terbentur pada dinding goa.
"Brukkk prakkkkkkk!"
Punggung Sean lebih dahulu mencium kerasnya batu dinding goa.
"Ah.." Erang Sean menahan rasa sakit usai di serang hewan itu.
Rasanya seluruh tulang belakang Sean remuk dan patah.
"Sean apakah kau tak apa-apa!" tanya Jessica khawatir seraya menghampiri tubuh yang sedang kesakitan itu.
Sean tak bergeming. Rasa sakit akibat hantaman keras dari beruang itu membuat tubuh itu seketika melemah.
Sedangkan Jessica membantu memapah Sean berdiri.
Beruang di hadapan mereka menampakan dirinya yang asli. Jati diri yang mengganas, buas dan kejam.
Hewan besar itu kini tak segan melakukan penyerang lebih keras lagi saat sorotan mata yang tajam itu melihat Sean sedang lemah.
Beruang itu dengan keberanian yang membrutal, kali ini ingin menyerang lebih dahsyat lagi.
Dengan sekali tindakan ia ingin menerkam dua mangsanya sekaligus.
Cakarnya ia layangkan dengan penuh gairah dan kekuatan penuh.
Ia ingin mendaratkan cakaran maut itu tepat di kepala mangsanya yang tergolek lemah dan cepat-cepat melumpuhkan mangsa itu.
Namun Sean, dengan tenaga yang tersisa sedikit dan terlalu lemah, ia tak akan membiarkan sejengkal pun kuku tajam itu mencampakkan dirinya.
Dengan sigap, tubuh kecil anak manusia menghindari cakaran hebat itu, meskipun tubuh itu linglung dan sempoyongan.
Sean menarik tangan Jessica lalu membawanya membanting tubuh secara bersamaan menghindari cakaran yang menancap di dinding.
Beruang ganas itu tak berhasil melayangkan kuku-kuku tajamnya tepat sasaran. Hingga memaksa kedua cakar itu meninggalkan goresan sebagai jejak di dinding goa, tepat dimana Sean terkena pukulan dari beruang ganas itu.
__ADS_1
Beruang itu tak menyerah begitu saja.
Ia masih memanfaatkan kekuatannya untuk menyerang Sean dan Jessica.
"Sean, bagaimana ini! dia tak menyerah untuk menyerang kita!" Seru jessica takut dan panik.
Sean yang sedang menahan sakit tak bisa melakukan apa pun.
Sulit baginya mencari ide untuk lolos dari makhluk yang bersifat ganda ini.
Namun bukan berarti itu adalah akhir dari perjalan mereka.
Di sisi lain lorong, samar-samar bayangan hitam menampakan diri perlahan di tengah kegelapan lorong yang sunyi.
"Hoi.... Masuk kesini! Kearah sini." Teriak suara dari dalam lorong yang ada di sisi kanan Sean dan Jessica.
Kedua orang itu berpikir seperti pernah mendengar suara ini sebelumnya. Mereka masih menebaknya siapa kira-kira pemilik suara yang amat familiar ini.
Namun bukan itu yang harus mereka lakukan.
Keduanya tak bisa terhanyut dalam pertanyaan masing-masing, karena beruang berbulu hitam itu dengan garang kembali melayangkan serangan yang lebih brutal.
"Hoawkkkk."
Suara geraman binatang itu mengganas di ikuti cakaran brutal.
Namun Sean tak bisa menangkis serangan itu dengan begitu mudah.
Setidaknya berlari menuju sumber suara yang memanggil mereka adalah pilihan yang tepat.
Jika beruang itu bisa bicara, mungkin ia akan mengatakan, "Matilah kalian para manusia lemah." Seraya memberikan cakaran keras ke tubuh mangsanya.
Sean lebih dahulu menghindarinya dengan cara berlari menuju ke arah suara sebelum hewan itu bisa meraih tubuh mereka.
Untuk kali keduanya sesosok yang berdiri di lorong gelap itu membantu mereka. Orang yang mencoba menolong mereka kali ini adalah Yudhar.
Yudhar telah berdiri di depan lorong dengan kedua tangannya menempel di dinding dengan erat.
Sambil menunggu kedatangan kedua anak berkulit putih yang hendak di tolongnya itu.
"Ayo cepat masuk kesini." Teriak Yudhar pada keduanya.
Dengan kedua tangan yang mengisyaratkan menuju dirinya.
Mereka dengan cepat memasuki lorong kecil yang di pinta oleh Yudhar.
Beruang itu sudah pasti mengejar buruannya yang berhasil meloloskan diri.
Dengan susah payah ia ingin meraih tubuh anak-anak itu.
Tapi sayang langkahnya kalah cepat dengan Yudhar yang lebih dahulu berhasil menarik masuk kedua orang asing yang ada di hadapannya kedalam ruangan yang lebih kecil.
Sambil kedua tangan yang erat menempel di dinding itu menarik batu besar sebagai penutup lorong yang pintu masuk.
"Arrrgggghhh."
Teriak Yudhar dengan keras, mencoba menutup pintu batu yang amat bandel untuk ditarik tertutup.
"Kalian sudah aman!" ucap Yudhar usai menutup pintu batu.
Sean dan Jessica bisa mengambil nafas lega lalu duduk tepat di pintu masuk lorong yang sedang mereka hadapi seraya mengembalikan nyawa-nyawa yang berhamburan entah berantah berpisah dari raga. Akhirnya mereka merasakan kebebasan dari terkamanan hewan brutal itu.
Dibalik pintu tempat mereka menyandarkan diri, terdengar suara hewan itu meronta-ronta ingin membuka pintu itu dengan paksa. Beruntungnya ia adalah hewan, bukan vampire sehingga tak tahu bagaimana cara menggunakan pikiran mereka yang jernih untuk membuka pintu lorong yang mereka sandar.
BERSAMBUNG.
"Sungguh sangat melelahkan menulis satu episode butuh sehari semalam untuk menuangkan ide buruk ini. Setidaknya ini adalah passion yang harus di kerjakan sepenuh hati. Akhirnya novel ini kurasa kurang over power dari segi penulisan. Namun setidaknya hanya ini yang bisa penulis tuliskan. Harap maklum jika fantasi novel ini belum bisa menyamai over power novel fantasi seperti penulis hebat lainnya. Tentu para pembaca merasa kurang greget dengan intuisi dan karakter dalam tokoh ini. Setidaknya pembaca berasumsi bahwa karakter terlalu lemah untuk menghadapi seekor beruang. Namun ya, penulis sudah melakukan yang terbaik agar tokoh utama bisa lebih kuat. Tapi sayangnya itu sangat sulit mengingat hewan buas amat brutal.
"*Akhirnya penulis ingin mengucapkan, Harap maklum jika ada kesalahan penulisan, typo yang meraja Lela, kurangnya power dalam tokoh dan terlalu bertele-tele dalam menyampaikan cerita." Hanya itu yang penulis ingin katakan. Semoga bisa di maklumi dan diharapkan pembaca bisa mendukung penulis dengan memberikan like, komen dan kritik saran. Semoga cerita ini tak membosankan untuk pembaca."
__ADS_1
Terima kasih atas perhatiannya.
SARANJANA EPISODE 27*