Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 101


__ADS_3

Menyusuri jalan menuju ke Utara membawa ketiganya sampai di sebuah bibir pantai. Sean tidak tahu kalau di tengah hutan seperti ini ada pantai yang berbatasan langsung dengan hutan. Pasirnya berwarna kecoklatan, ada perahu kayu besar karam di sisi kiri. Perahu itu mungkin terhempas oleh gelombang pantai lalu menabrak pohon, sementara di tengah bibir pantai yang tak begitu jauh dari teluknya itu, ada tiga buah batu yang membentuk tiang.


Ketiga batu jaraknya saling berdekatan. Di masing-masing batu yang berdiri tegak itu terhubung oleh rantai besar. Masing-masing seakan terbelenggu, kemungkinan ada sesuatu di sana. Atau, ada sesuatu di dalam air, di bawah tiga tiang batu itu.


Mata Sean menelisik. Di kanan mereka bertiga ada tebing bebatuan, sapuan gelombang pantai kadang sampai mata kaki ketiganya. Sementara di bawah tebing bebatuan itu...... Oh, mulut Jessica ternganga lebar.


"Apakah itu bangkai ikan?" Jessica melihatnya seperti seekor paus. Ukurannya amat besar, ada garis-garis vertikal di seluruh tubuhnya. "Sepertinya itu bangkai seekor ikan paus?" dia yakin kalau itu ikan paus. Ikan besar berwarna biru laut, ada siripnya. Besarnya berlipat-lipat dari ukuran gajah dewasa.


Saat mata Jessica memicing memastikan benar yang dia lihat. Kedua orang yang ada di sebelahnya lebih dahulu mendekati bangkai itu.


"Bisakah kau memprediksi kapan dia mati, Nak?" Gordon bertanya pada Sean. Wajah Sean terlalu mencolok, sehingga si gemuk yakin pasti anak itu jenius.


"Aku kira dia mati belum lama ini," ungkap Sean. Dia memeriksa seluruh bagian tubuh ikan besar ini. "Aroma membusuk belum terlalu menyengat. Mungkin besok tubuh ini mulai membengkak," katanya memastikan.


Tubuh ikan besar itu agak licin, saat di sentuh, lendir-lendir masih ada di permukaan kulitnya. Serat-serat giginya juga masih agak segar. Bagian perut ikan besar itu sudah robek, dan organ dalamnya juga nampak.


"Apakah ini jalan yang di maksud ke Utara itu, Sean?" Dari jarak beberapa meter, Jessica berkata.


Sean hanya mengikuti perkataan roh-roh itu. Dia juga tidak tahu kalau pantai adalah akhir dari perjalanan mereka menuju ke Utara.


"Apa mungkin kalau roh yang kalian maksud itu inginkan kita menyebrang pantai ini?" Gordon menyuarakan idenya. "Atau para arwah tak berguna itu hendak menipu kalian? Dan aku baru tahu jika ada tempat seperti ini di perkampungan mati ini. Aku hanya hilir mudik sebatas jalan di ujung kampung, tidak sampai sejauh itu melangkah maupun meninggalkan perumahan penduduk."


Seingat Gordon memang dia tak pernah menaiki gundukan tanah yang mirip bukit kecil itu. Apalagi memasuki hutan, bahkan dia juga tidak terlalu tahu mengenai kuil di dalam hutan.


"Aku rasa memang ke empat arwah penjaga pilar itu benar-benar ingin menipu," kata Jessica menanggapi perkataan Gordon.


"Ehm......" Gordon lagi-lagi terlihat berpikir keras. "Apa mungkin pantai ini jalur yang sering di gunakan oleh para pedagang dari dunia luar untuk singgah di sini?" ucap Gordon berspekulasi. Dia melihat bangkai kapal yang sudah karam menyisakan kayu-kayu lapuk itu. Ada bendera berlambangkan burung-burung dan juga ada pedang di tengahnya. Pedang itu membentuk silang, lalu burung itu hinggap di antara pedang.


Bendera itu masih berdiri tegak walau sudah miring ke bawah. Bendera berwarna merah cerah itu berkibar mengikuti alunan angin dari laut. Dan di dalam kapal karam yang terbalik itu ada beberapa tengkorak. Mungkin tengkorak awak kapal, bisa saja begitu. Pria gemuk ini berkesimpulan kalau mayat-mayat yang sudah meninggalkan kerangka tulang belulang itu sudah lama mati. Jauh sebelum dia datang, atau bisa jadi saat para pembantai datang ke tempat ini.


Pria ini tanpa sadar sudah berpikir agak maju kedepan. Biasanya dia malas untuk berpikir. Oh, lebih tepatnya, dia suka mengandalkan otak orang lain dalam menemukan berbagai macam hal. Keahliannya hanya bertarung. Dia tidak bisa di bendung jika sudah marah.


"Aku menemukan ini," Sean menyela. Dia menunjukan apa yang baru saja dia temui dari bangkai hewan air itu pada keduanya.


Jessica bergegas, dia ingin tahu apa yang Sean temukan. "Benda apa ini Sean?" Jessica baru kali ini melihat benda ini. "Aneh sekali!"


"Seperti baki tempat lilin," jawab Sean menduga-duga. Bentuknya seperti bunga teratai. Terbuat entah itu dari emas atau bukan, Sean tidak tahu. Yang pasti, warnanya seperti emas, agak berat. Di pinggir baki seukuran mangkok pipih ini, terdapat lekukan-lekukan berjeruji.


"Aku pernah melihatnya, tapi aku lupa di mana aku pernah berjumpa dengan benda ini!"


Gordon menyambar. Benda di tangan Sean itu nampak tak asing di dalam ingatannya.


Sean ikut berpikir keras, dia mengingat-ingat di mana pernah melihat benda serupa. Seperti tak asing di ingatan Sean, walau samar-samar tak jelas. Seberapa keras Sean berpikir di mana dia pernah melihatnya, tetap saja. Semua itu kalut, bahkan tak tahu benda apa itu.


"Aku juga seperti pernah melihat benda ini," Jessica ikut tersadar kalau benda itu tak asing di matanya. "Aku coba mengingatnya dahulu. Kemungkinan benda ini bisa aku ingat kapan pernah melihatnya."


Sean mondar mandir mencari tahu benda apa yang dia temukan dari dalam perut si bangkai ikan besar itu. Jujur, Sean pernah melihatnya walau sekilas. Dia mencoba mengingat kembali di mana dia pernah berjumpa dengan baki berwarna emas ini.


"Oh," tiba-tiba Sean menjentikkan jarinya. "Aku ingat."


"Kau ingat apa Sean?" Jessica menyambar. "Katakan. Apakah kau ingat sesuatu mengenai baki kecil ini?"

__ADS_1


"Jelas aku ingat," jawab Sean serius. "Kau ingat, pertama kali kita tersesat di hutan ini?" Singgung Sean pada Jessica.


Jessica mengangguk. "Tentu aku ingat," jawabnya. "Awal kita tersesat di goa waktu itu. Bertemu dengan serigala buas dan juga beruang besar saat ingin mencari Eed. Aku ingat itu...... Kita...... Ah, iya, kita bertemu dengan Yudhar si manusia hutan di goa sisa-sisa pertambangan."


"Tepat sekali," Sean kembali menjentikkan jarinya. "Saat itu kita ada di kuil yang semuanya terbuat dari emas. Ketika kita mencari jalan keluar dari kuil emas itu, kita tidak sengaja menemukan tempat lilin yang serupa dengan baki ini. Dan aku yakin, mungkin baki ini adalah petunjuknya."


Tangan besar Gordon memegang bahu Sean, kedua anak itu berbincang tanpa dirinya. "Apa yang kalian katakan? Kenapa tidak mendiskusikannya dengan ku?" Pria besar ini benar-benar tidak mau ketinggalan mengenai perbincangan misterius kedua anak itu.


"Kami telah menemukan jalan keluarnya," kata Sean memberitahu. "Tinggal mencari di mana kita harus mencari petunjuk lainnya."


"Aku rasa petunjuk itu ada di sekitar sini?" Jessica menyahut. Dia berkata berinisiatif. Tidak seperti biasanya, kini Jessica setidaknya mulai paham pada sebuah misteri yang penuh teka-teki. Sean menularkan ide memecahkan misterinya pada gadis kecil itu.


"Benar, kita harus mencari petunjuk lainnya di sekitar sini," Sean setuju pada perkataan Jessica.


Pria berjanggut ini hanya mengangguk-angguk saja. Tidak tahu apakah dia bisa membantu atau tidak, dia enggan berkomentar. Tapi dia tidak mengerti apapun, sungguh. "Jiwa muda seperti mereka sepatutnya lebih jenius dari pada aku si beruang berjalan." Pria ini diam-diam berkat pelan tanpa sepengetahuan anak-anak yang sedang sibuk kesana kemari mencari petunjuk.


Ah, dia harus berpura-pura ikut ambil bagian mencari petunjuk jalan. Atau anak-anak itu akan berpikir dia tidak berguna sama sekali. Walau dia malas bertindak saat itu, setidaknya Gordon ikut kesana kemari juga mencari petunjuk itu. Dia berakting sangat sempurna di hadapan kedua anak itu.


Kadang dia membuka celah-celah kapal karam itu. Membongkarnya, melihat isi dalam kerangka benda mengapung ini. Kadang juga membalikkan kapal, siapa tahu ada petunjuk rahasia dia balik badan kapal yang sudah terbalik ini. Namun hasilnya nihil, dia tidak menemukan apapun. Hanya..... tengkorak saja, dan..... Dia melihat ada beberapa tong kayu. Mungkin di gunakan sebagai wadah penampung ikan. Kapal nelayan.


Lalu pindah memeriksa si berlendir tak bernyawa itu. Kadang kala dia melihat kedua anak yang tengah menelisik rerumputan. Lebih kesana lagi Sean dan Jessica membuka semak-semak, mungkin ada sesuatu yang menyelip diantaranya. Oh, si beruang gemuk ini benar-benar sudah merasa gila dan frustasi saat itu. Bahkan dia sudah berkali-kali mengorek organ dalam si ikan besar, namun hasilnya juga kosong.


Saat mereka jengah, mencari sesuatu yang entah itu kurang pasti. Tiba-tiba air di dekat bibir pantai, diantara tiga buah tiang itu berputar membentuk pusaran.


Sean yang agak jauh dari bibir pantai menyadari ada sesuatu di belakangnya.


"Apa itu pusaran air? Airnya berputar?"


"Itu," jawab Sean. Tangannya menunjuk ke pantai, ke arah pusaran air yang Berputar kuat itu. "Di pantai, ada pusaran."


Kedua temannya itu belum sadar, setelah Sean berkata mengenai pusaran air. Barulah keduanya menoleh ke arah pantai.


"Ada apa ini Tuan kasur? Kenapa air tiba-tiba menjadi bergelombang seperti ini?" Jessica mulai mencemaskan. Dia perlu waspada.


Pria gemuk itu memicingkan matanya. Melihat dengan jelas apa yang keluar dari pusaran air yang begitu dahsyat itu.


Dan sesuatu keluar dari dalamnya. Itu tentakel, Gordon melihatnya seperti tentakel dengan selaput di sisi-sisi tentakel itu sebagai pengerat untuk menempel di bebatuan.


"Makhluk apa itu?" kata Gordon yang baru pertama kali melihatnya.


"Itu tentakel. Tentakel hewan itu mendekati kita, Sean," teriak Jessica memburu panik. "Sebaiknya kita lari dari sini."


Tentakel itu keluar dari pusaran air. Di ikuti oleh sebuah kepala yang besar. "Gurita raksasa" ya, itu yang di lihat oleh pria gemuk dari bibir pantai. Tentakel-tentakelnya yang panjang mulai menjulur ke daratan. Mungkin dia ingin menangkap mereka. Bisa jadi dia tahu ada mangsa di sekitar bibir pantai.


Pria gemuk itu cukup gesit, secepat mungkin dia menjauh dari bibir pantai. Kedua anak yang terpaku itu, dia angkat. Tubuh mereka ringan, sehingga mudah membawa mereka. Bak karung kapas.


Gordon membawa kedua anak itu kembali kedalam hutan. Tentakel yang berusaha menangkapnya tadi, ingin menggapai tubuh si gemuk. Tapi tidak berhasil, karena terhalangi oleh pohon-pohon. Sehingga beberapa pohon di bibir pantai itu tumbang ulah tentakel yang mencengkram erat itu.


MOARK!! Suaranya seperti ...... Sekilas mirip kerbau, gajah juga harimau. Kemungkinan makhluk besar ini adalah penunggu pantai itu.


Karena lari yang di rasa cukup jauh, Gordon berhenti di tengah jalan setapak tepat di atas gundukan tanah jalan yang menurun itu. Tempat di mana tadi mereka berhenti sebentar melihat ukiran di atas batu. Gordon mengambil tempat duduk di batu. Nafasnya hampir habis, dia tersengal-sengal, dadanya terasa sakit saat memboyong kedua anak itu.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" tanya Sean mengkhawatirkan.


"Aku tidak apa-apa," jawabnya sambil menarik nafas dalam-dalam. "Hanya sedikit lelah."


"Oh, syukurlah. Ku pikir kau kenapa-kenapa!"


Saat berlari, benda kecil yang Sean temukan itu masih di pegang di tangan. Sepintas ide menemukan jalan keluar melintas dalam pikiran Sean.


"Sepertinya aku telah menemukan jalan keluarnya?" Sean mulai menyadari. Saat duduk di batu yang berukiran gambar-gambar itu, Sean akhirnya mendapatkan ide.


"Benarkah?" Jessica lagi-lagi jadi yang pertama merespon. Dia sangat bernafsu, bagai ****** yang hendak menerima jatah makanan. "Katakan, di mana jalan keluarnya?"


Sean ingat, lalu menjelaskan. "Tadi saat kita ada di pantai itu. Aku melihat batu yang sama seperti batu yang ada di pohon itu," katanya sambil menunjuk pohon di belakang Jessica. Dua pohon yang bersebrangan dengan batu besar tempat si Gordon menyandarkan punggungnya.


"Benarkah? Kau tidak salah bukan?"


"Tidak. Aku benar kali ini," kata Sean meyakinkan. "Ukiran batu di pinggir pantai itu menunjukan bahwa benda ini harus dinyalakan dengan lilin. Lalu menaruhnya kembali di air terjun kecil yang kita lalui tadi. Mungkin saja benar bahwa air terjun itu adalah jalan keluarnya. Ada sandi-sandi tertentu dari gambar yang mereka ukir di atas batu."


"Tapi bagaimana kita menemukan lilin, Sean?" rengek Jessica. "Kau sendiri tahu. Tidak ada penerangan di malam seperti ini."


Benar juga apa yang di katakan Jessica. Sean memikirkan ide yang sama. Di sini tak ada lilin, jelas Sean akan kebingungan bagaimana bisa menemukan jalan keluar jika tak ada lilin.


Benda kecil yang di pegang-nya itu sama seperti yang ada di kuil emas di dalam goa beberapa waktu lalu. Jika di taruh lilin di atasnya, maka akan ada jalan keluar yang terbuka. Seperti itu mekanismenya. Sama seperti yang ada di kuil emas, di mana ketiga patung itu adalah pembuka jalan keluar.


Sean menatap wajah penuh keringat pria yang terlihat kelelahan itu. Sean memang tidak bisa mengandalkan dia. Pria gemuk ini saja sudah hampir mati kehabisan nafas, bagaimana mungkin dia ada ide cemerlang. Saat Sean melihat tubuh besar itu, matanya yang tajam tidak sengaja melihat sesuatu bersinar di balik badan besar si manusia beruang ini.


"Benda apa yang bersinar di belakang mu itu?" kata Sean pada Gordon.


"Tidak ada benda apapun. Kecuali batu," jawab Gordon lesu.


"Tidak, aku benar. Ada sesuatu yang bersinar di balik rumput itu."


Sean memang pemaksa. Pria berbadan besar ini mengikuti ucapannya itu. Dia meraba-raba rumputan yang hampir melahap batu berukir gambar aneh ini. Saat Gordon meraba-raba, ada sesuatu di sana. Di bokongnya itu, seperti ada benda keras dan panjang. Saat mengambilnya, ada sebuah kotak yang hampir tertutup es. Lalu, ada tongkat mirip obor api tapi sepertinya terbuat baja dan campuran perak.


"Benda apa ini?" ucap Jessica kebingungan. Dia menatap benda yang baru saja di temukan oleh Sean dan Gordon itu.


"Kau benar nak. Ini sekotak lilin dan alat penerang jalan milik para penduduk."


"Alat penerangan?" Jessica mengulangi. "Kenapa begitu aneh bentuknya? Apa kau yakin kalau ini alat penerang jalan?" Jessica yakin tak yakin. Benda itu mirip mainan anak-anak, panjangnya sebatas siku. Seperti tempat Ice cream yang memanjang dan di ujungnya seperti sebuah berlian berwarna merah, di sisi lainnya ada warna biru.


"Benda ini terbuat dari permata alam. Penduduk di sini membuatnya dari campuran berbagai macam permata, sehingga benda ini akan bersinar saat di gunakan." Gordon memberitahu serat menjelaskan.


"Tapi bagaimana caranya dia akan menyala?"


"Mudah sekali," jawab Gordon. Dia menggoyang-goyangkan benda itu. Hingga ada sinar yang keluar dari ujung benda ini. Hebat, mirip alat penerangan modern. "Menyala bukan?"


Jessica mengangguk. "Sungguh hebat," katanya bergumam takjub.


"Sebaiknya kita menuju ke air terjun itu sekarang." Sean menghentikan ketakjuban kedua orang itu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2