Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 84


__ADS_3

Selama berjalan, banyak ide yang ingin Sean pikirkan. Saat melintasi hutan dengan tumbuhan besar ini, semuanya yang terlihat, memancing matanya untuk berhenti agar tidak memikirkan hal lain. Termasuk memikirkan ide menuju ke Padang pasir tanpa akhir itu.


Mereka bertiga melintasi sebuah jalan tanah yang nampak berkelok-kelok. Dari jauh nampak ada sungai kecil yang bisa di seberangi singkat. Airnya jernih, bahkan Sean dan Jessica melihat banyak hewan yang menyegarkan dahaga dari air sejernih kaca ini.


"Sean, lihat!" tunjuk Jessica. "Bukankah itu rusa?" Jessica tak bisa melepaskan pandangannya dari hewan bertanduk yang memiliki ukuran tak biasa.


"Mirip kijang," sahut Sean. Dia juga melihatnya, melihat hewan besar yang sedang menundukan kepalanya dan menjulurkan lidahnya di pinggir seberang sungai.


"Apapun bentuknya, dia sangat cantik!" Jessica berkata takjub. "Ayo kita dekati hewan-hewan itu," ajak Jessica memulai aksi jahil. "Aku mengagumi mereka."


Sean mengikuti Jessica, dia juga merasakan hal yang sama seperti Jessica.



"Hati-hati, Jessica," peringat Driyad. "Mereka agak agresif!"


Serigala ini dari kejauhan memandang kedua anak yang sedang diam-diam mengendap melihat rusa raksasa ini. "Yah, aku pikir itu adalah khas gadis itu, selalu membangkang!"


Driyad mengikuti langkah keduanya. Jessica dan Sean mengintip kawanan rusa raksasa yang tengah istirahat itu dari balik batang bunga besar.


Sean dan Jessica mengeluarkan kepala mereka dari balik batang bunga raksasa, memantau kegiatan mereka layaknya pemburu atau pengintai.


"Mereka sangat keren," ucap Jessica. "Tubuh mereka cantik, aku menyukainya."


"Aku juga menyukainya," balas Sean yang ada di bawah Jessica. "Tapi mereka berkelompok, apalagi tubuh mereka sangat besar. Apa mungkin mereka tidak akan menyerang?" Sean sedikit was-was.


"Aku rasa perlu menaklukan mereka," Jessica beride. "Jika tidak mencoba, mana kita tahu dia hewan agresif atau tidak."


Jessica mengintip tepat di atas Sean, sementara Driyad berada di atas Jessica. Saat kepala mereka menjulur menikmati takjubnya pemandangan melihat rusa raksasa meminum air.


Driyad yang berada di atasnya, menumpahkan sedikit liur hingga menetes di kepala Sean.


"Kau terlalu jorok, Driyad!" omel Sean. "Kau mengacaukan imajinasi ku melalui liur jorok mu itu!" tegasnya menyewot sambil membersihkan rambutnya dari liur Driyad.


"Maaf anak-anak," ujar Driyad mengakui kesalahannya. "Aku terlalu bersemangat!"

__ADS_1


Sean bangun, dia memandangi wajah Driyad dengan tatapan sebal. "Kau selalu mengganggu kami!" tegasnya. "Kau telah membasahi rambut ku."


"Driyad memang selalu berulah," timpal Jessica.


Driyad sebenarnya tidak peduli jika anak-anak itu memarahinya. Dia hanya percaya bahwa mereka akan memaafkan dirinya setelah meminta maaf.


"Lebih baik kalian tidak mengomeli ku," ucap Driyad santai. "Bagaimana kalau kita berendam di sungai itu. Airnya jernih, sekalian aku ingin membersihkan tubuh ku dari debu yang menempel," dalih Driyad.


Jessica mengangkat kedua alisnya. Jessica menatap Sean, Dia setuju pada Driyad. "Bukan ide yang buruk mandi di sungai sejernih kaca ini?" Ucap Jessica senada. "Lupakan kemarahan mu Sean, pada makhluk ini. Dia bersungguh-sungguh meminta maaf."


"Kau ada di pihak ku atau pihak Driyad?" Sean berkata ketus.


"Tentu saja aku memihak mu, Sean," jawab Jessica. "Hanya saja, kali ini, Driyad berkata bersungguh-sungguh!" pungkasnya membela.


"Baiklah!" ucap Sean mengalah. Sean juga berpikir demikian, dia melupakan kemarahannya. "Kali ini kau, aku maafkan, lain kali aku akan benar-benar marah dan aku tidak menyukai liur mu merusak rambut ku!" tegas Sean memperingatkan Driyad untuk yang terakhir.


Driyad mengangkat mengerti apa yang Sean maksud. Driyad berusaha bersikap acuh tak acuh, tanda bahwa dia apatis. Tidak peduli pada perkataan Sean.


Sedangkan rusa yang ada di seberang sungai kecil, lebih tepatnya sungai mata air yang di selimuti oleh rumputan hijau di pinggirnya, merasa tidak terusik oleh kedatangan mereka bertiga.


Mereka tetap pada apa yang mereka lakukan. Bahkan ada kawanan rusa raksasa yang tertidur di pinggir sungai, tidak peduli kedatangan mereka. Seolah Sean, Jessica dan Driyad bukanlah ancaman.


"Mereka memang jinak, tapi terkadang juga agresif jika merasa terganggu," sahut Driyad yang berada di pinggir sungai.


"Apa kau tidak akan mandi, Tuan serigala?" tanya Sean. "Airnya jernih, dan sangat menyegarkan," pamer Sean sambil meminum segarnya air. Sean dan Jessica sudah lebih dahulu merendam badan mereka di sungai tembus pandang ini.


"Siapa yang akan menolak," jawab Driyad. "Aku juga ingin mandi bersama kalian." Driyad menceburkan dirinya juga kedalam air, dia mengikuti kedua anak yang tengah asik menggosok badan.


Jessica mendekati rusa-rusa yang tengah meminum air itu. Perlahan Jessica menjulurkan tangannya, menyentuh kepala makhluk itu agar jinak padanya.


"Tenang sayang, aku tidak jahat pada kalian," ujar Jessica berkata gugup. Jessica merasa takut sebenarnya menghadapi rusa-rusa raksasa ini, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. "Oke sayang, pelan. Tenangkan diri mu.. aku adalah Jessica, si gadis pecinta binatang," ratu Jessica.


"Apa yang kau lakukan, Jessica?" tegur Sean yang berenang di belakangnya.


"Aku berusaha mengajaknya berteman," sahut Jessica sambil menoleh kepada Sean. "Aku jamin dia hewan yang jinak!"

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya pada tingkah jinak mereka, siapa tahu mereka buas!" peringat sean.


"Tenang saja," sahut Jessica. "Aku berusaha berteman dengan mereka, aku yakin mereka makhluk yang baik!"


Sean hanya bisa pasrah melihat tingkah Jessica yang pemberani. Bahkan hewan sekelas rusa raksasa pun, ia tak gentar mendekatinya.


Tapi ajaib, Sean melihat bahwa rusa raksasa yang di dekati Jessica, justru membalasnya dengan hangat.


"Kau lihat Sean," teriak Jessica. "Bahkan dia menyukai ku!" Seru Jessica kegirangan. Hewan yang semula sedang meminum air sungai, kini menjilat wajah Jessica.


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Sean bingung. "Butuh waktu berapa detik saja dia menaklukan si agresif," gumam Sean.


"Mereka makhluk yang aneh, Sean," Driyad menyahut. Dia tahu Sean sedang bingung atas apa yang baru saja terjadi. "Kau tidak perlu kebingungan melihat mereka bisa jinak seperti itu. Mereka adalah hewan yang memahami kehangatan lingkungan sekitar," Driyad memberi tahu.


"Apa mungkin begitu?" Sean masih bertanya-tanya dengan keraguan mendalam. "Kau yakin dia tidak kan menyerang jika aku mendekatinya," Sean memastikan.


"Tentu saja Sean," balas Driyad. "Aku sudah mengenal mereka lumayan lama. Meraka adalah penghuni hutan bunga ini. Jadi wajar jika aku tahu segala hal, bukankah aku adalah penjaga perbatasan," Driyad memperingatkan.


Karena perkataan Driyad yang menyebut bahwa makhluk ini unik, Sean tertarik ingin menyentuhnya juga.


Dia berenang menuju makhluk bertanduk super besar dan tinggi ini.


Sama seperti Jessica, Sean juga di sambut dan di perlakukan hangat oleh makhluk itu. "Ohou...." Teriak Sean kegirangan. "Kau benar Driyad, dia sangat ramah."


"Sejak kapan aku membohongi mereka," Driyad berkata pelan.


Dia memandangi anak-anak itu dari pinggir sungai.


Tubuhnya Yang berbulu, basah karena air menyerap kedalam badan.


"Kalian bersenang-senang lah, aku akan menunggu kalian dari pinggir sungai," teriak Driyad memberi tahu.


Sean dan Jessica mengabaikan suara makhluk itu, mereka tidak begitu mendengarkan apa yang di katakan oleh Driyad.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Author bangga pada apresiasi kalian. Semoga novel ini tidak menjenuhkan untuk di baca.


Salam manis, Author ™®©


__ADS_2