
Di bawah kaki bukit, di atas lereng datar itu, Driyad dan Jessica serta Sean sudah ada di kebun buah yang begitu mempesona.
Anak-anak terpana, mulut mereka ternganga melihat buah-buahan yang besar sama seperti buah yang pernah mereka temui sebelumnya.
Pepohonan basah, hujan sudah mereda dan meninggalkan rintikan air hujan yang masih menggelayut di dahan pohon.
Sean menyodorkan buah jeruk yang besarnya dua kali dari tubuhnya pada Jessica. Dia mendekap buah yang ia petik, masih segar bahkan air hujan masih mengerat di kulit buah.
"Terlalu besar," kata Jessica. "Sulit sekali aku akan memakannya, Sean," Jessica menggerutu.
Sean mengerti, dia meletakkan buah itu di atas rumput. Dia mengayunkan pedangnya tepat, seimbang, dia membelah jeruk berwarna oranye itu bahkan air buah jeruk tumpah ke tanah.
"Tanpa biji!" seru Jessica. Dia terlihat sangat senang pada buah itu, karena berbeda dari jeruk yang pernah ia makan. "Benar-benar buah surga tiada tandingannya."
Sean mengangguk. "Buah ajaib," Sean berkata takjub.
"Ehm, omong-omong, buah ini sangat manis," ucap Jessica. Dia mencicipi jeruk raksasa, dengan perasaan nikmat dan damai.
"Tidak hanya manis, pohonnya saja sederhana," Sean menyahut.
Kebun jeruk di lereng bukit memang berbeda seperti pohon jeruk yang pernah mereka lihat.
Di sini, Sean merasa seperti sedang berpetualangan di dunia fantasi sesungguhnya. Pohon jeruk raksasa terlihat tidak terlalu besar, bahkan batangnya saja tidak menjulang tinggi.
Dalam satu pohon menghasilkan lebih dari lima buah jeruk berwarna oranye berkulit mulus.
"Kau tidak ingin mencicipi jeruk ini?" Sean menawarkan Driyad. "Rasanya sangat manis."
"Tidak, aku tidak lapar," jawab Driyad. Dia hanya menjadi penonton keduanya saat memakan jeruk itu, tanpa berkomentar.
"Ehm.... Aku rasa, aku sudah kenyang," Sean berkata. Dia mengakhiri santapan itu dengan manis. "Kemana kita akan pergi, tenggorokan ku sudah penuh dengan air jeruk yang kaya akan vitamin itu. Perut ku kenyang," Sean bicara pada Driyad.
"Aku juga sudah kenyang," sahut Jessica. "Jalan kemana kita," Jessica bicara seirama dengan ucapan Sean.
"Bagaimana kalau ke Utara?" Driyad menyarankan.
Sean dan Jessica saling lempar pandangan, meminta pendapat satu sama lainnya.
"Aku ikut alur saja," Jessica merespon. "Kalau kau Sean?" Jessica bertanya pada Sean. "Apa kau memiliki ide lain."
"Ke Utara, bukan jalan yang buruk," jawab Sean senada pada Driyad. "Aku setuju pada Driyad."
"Baiklah! Mari kita ke sana, menuju Utara," Driyad antusias. Kembali seperti semula, kesepakatan mereka ini membawa Driyad tetap menjadi pemandu perjalanan.
__ADS_1
Mereka melintasi jalan setapak di atas hamparan kebun buah yang hijau lengkap dengan rumputnya yang indah dan semak-semak cantik di berbagai tempat.
Di atas lereng bukit, di sisi kiri mereka terdapat lereng yang berbatasan dengan sungai kecil yang jernih. Berbatu dan gemercik air menyejukkan mata.
Jalan menuju Utara yang mereka tempuh, setelah keluar dari kebun jeruk, kini mereka sedikit melewati sebuah kebun alpukat yang bentuknya juga raksasa.
Namun berbeda dengan alpukat pada umumnya, buah lembut yang mereka lihat ini tumbuh di atas pohon yang juga hanya di isi oleh beberapa buah.
Bahkan ketika Jessica menyentuh alpukat itu, buahnya sudah matang di pohon, jauh lebih ranum dari buah yang pernah ia petik di dekat perkebunan buah milik pamannya.
"Bisa mati kekenyangan jika terus berada di sini," Jessica bergumam takjub. Dia mulai lelah melihat semua ini, semuanya di luar dugaan dan imajinasinya.
"Lihat," teriak Sean. "Kita ada di dekat kebun apel," dia memberitahu Jessica.
Jessica sedikit antusias saat mendengar ucapan Sean. Dia berlari lebih dahulu menuju kebun apel yang sama seperti kebun jeruk maupun kebun alpukat, bentuknya tak ubahnya, raksasa.
"Hati-hati, kalian akan merusak kebun apel itu," tegur Driyad. Dia mulai mengkhawatirkan kondisi kebun apel ketimbang anak-anak yang akan merusak kebun itu.
"Kau tenang saja tuan serigala," sahut Sean. "Kami akan bertindak hati-hati."
Melihat kedua anak itu yang tak begitu menghiraukan perkataannya, Driyad hanya bisa meracau, berkata menggerutu.
"Anak-anak memang paling benar," ucap Driyad mengalah.
Hingga membentuk apel sepotong, gigitan kedua anak itu nampak jelas di mana-mana.
Hingga kurang lebih lima hingga sepuluh menit, Sean dan Jessica mengakhiri kelakuan konyol dengan menancapkan gigitan di setiap apel.
"Mari kita lanjutkan perjalanan," Sean menghampiri Driyad. "Aku sudah puas."
Wajahnya nampak senang karena meninggalkan kenangan berharga di buah paling unik itu.
"Aku juga sudah puas," Jessica menyahut. "Rasa apelnya sangat manis, tidak seperti apel di rumahku. Rasanya tidak sepekat manisnya apel di kebun ini."
"Begitulah yang terjadi. Semua yang ada di tempat ini, amat unik," Driyad memberi tahu. "Kalau begitu, mari kita bersiap melanjutkan perjalanan."
Driyad menggiring kedua anak itu, mereka berjalan lancar di depan sedangkan Driyad di belakang.
"Kita akan jalan kemana tuan Driyad?" tanya Sean, mereka berjalan pelan.
"Jalan lurus, kita akan melewati sebuah kuil di balik bukit awan metis," jawab Driyad.
"Tunggu!" Sean menghentikan langkahnya. "Awan metis selalu menjadi pertanyaan ku setiap saat, aku ingin bertanya ini pada kau, hanya saja aku sering lupa bertanya mengenai awan metis ini." Sean mulai bertanya penasaran, dia suka bertanya sesuatu yang berhubungan dengan tebak-tebakan. "Bisakah kau memberitahu ku apa itu awan metis?" Sean bertanya, dia penuh keraguan sambil memaksa Driyad bercerita.
__ADS_1
"Apa yang membuat mu ingin tahu dari awan metis?" Driyad bertanya ingin tahu.
"Tentang awan yang selalu di sebut di mana-mana. Aku bahkan sudah melihat tulisan awan metis sebanyak enam kali di manuskrip tua herenoid. Itulah sebabnya aku bertanya mengenai awan metis."
Driyad menelan ludahnya, dia paham Sean akan bertanya mengenai hal ini. Driyad mendeham kecil, dia memutarkan bola matanya, melirik wajah Sean dan Jessica.
"Kalian yakin ingin tahu?" Driyad bertanya memastikan.
Dia bersikap sedikit berwibawa seolah dia adalah penyair paling terkenal di muka bumi.
Jessica mulai bosan, Driyad terlalu bertele-tele dan lamban. Hanya Sean yang sabar menghadapi cobaan seperti ini.
"Tentu saja aku akan senang jika kau menceritakan kisah di balik awan metis, atau aku akan menghantui setiap langkah mu, tuan serigala!" Sean mengancam, sedikit lebih lembut dari pada penjahat manapun.
"Kau sangat berhati nurani nak," kata Driyad. "Kau menuntut ku, aku menyukainya."
Driyad menarik nafas dalam-dalam, dia berusaha memulai sebuah kisah. Tepat di atas bukit hijau, selama menarik nafasnya, Driyad memejamkan mata selama beberapa saat. Mungkin dia meminta keberkahan pada penguasa alam sebelum bercerita.
Jessica mulai lelah melihat Driyad yang lamban. Dia berasa ingin menendang Driyad tersungkur, lalu masuk kedalam sungai di bawah lereng bukit.
"Lihatlah Sean," Jessica membisik. "Dia terlalu lamban. Hanya menceritakan satu buah cerita butuh waktu lima belas menit menunggu sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Membosankan," Jessica bersua ketus.
"Tenangkan diri mu dulu. Mungkin dia sedang mengambil sebuah pemikiran yang khidmat sebelum bercerita," balas Sean membisik. "Kita tunggu, dia akan menceritakan apa pada kita berdua," ucap Sean meyakinkan Jessica. Dia sedikit membujuk gadis yang selalu tergesa-gesa ini.
"Oke anak-anak," Driyad berkata, nampak di mata Sean bahwa Driyad sudah siap menceritakan kisahnya.
"Ayo, kau pasti sudah siap bercerita?" Sean berkata, menebaknya dengan kepastian mendalam.
"Namun sayang, aku belum siap," jawab Driyad. "Aku lupa pada kisah metis, bahkan cerita di dalamnya," Driyad mematahkan pemikiran kedua anak itu. Dia sungguh makhluk tanpa nurani.
Jessica menyikut Sean, lalu mengomelinya. "Kau lihat, Sean. Sudah aku katakan, dia adalah makhluk paling lamban dan payah yang pernah aku temui." Jessica menggerutu. "Bahkan lebih payah dari Mr. Bean."
"Itulah keahliannya, membuat orang lain mati penasaran," Sean menyahut. Namun Sean menanggapinya sedikit lebih dewasa di banding Jessica yang selalu menyambut perkataan Driyad dengan kata-kata penuh olokan.
"Lupakan saja kisah metis ini, aku sudah tidak tertarik," ujar Sean menyerah ingin tahu.
Dia melanjutkan langkahnya, bahkan Sean tidak lagi memaksa Driyad menceritakan kisah metis. "Konyol," kata Sean menggerutu. Dia mengumpat bicara amat pelan, hanya dia yang bisa mendengarnya.
Jessica menggeleng kepala, dia tak habis pikir pada Driyad yang di anggapnya aneh. "Metis, hanya cerita yang siap hilang di telan waktu," Jessica menuntut Driyad. "Kau akan menyesalinya jika tak menceritakannya pada kami;" Jessica menutup pembicaraan sedikit ketus.
Dia mengekori Sean, melangkahkan kaki, meninggalkan kebun buah. Sean dan Jessica mengikuti jalan setapak dari tanah berkontur datar.
Driyad memandangi kedua anak itu dari belakang. Dia hanya berpikir bahwa anak-anak itu terlalu banyak pertanyaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG