Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 108


__ADS_3

Saat pintu itu terbuka, mereka masuk ke dalam. Lebih jauh lagi meninggalkan mulut pintu yang terbuka lebar. Setelah melewati beberapa meter, pintu itu tertutup sendiri.


"Hal itu wajar," kata Gordon. "Biasanya seperti itu. Pintu akan tertutup dengan sendirinya."


Dia memberitahu keanehan lainnya yang terjadi di sana.


Pria gemuk itu berjalan mengangkang lebar-lebar, menenteng Godam besarnya. Dia berjalan di tengah, sementara kedua anak itu ada di sisi kanan dan kiri.


Sean membawa sebuah obor di tangannya. Jessica juga demikian, dia memegang obor sebagai penerang jalan yang mereka dapatkan di dekat pintu tadi.


"Tempat ini sangat gelap. Tapi, di sini banyak emas," gumam Sean.


Emas-emas itu berserakan di mana-mana, mereka di tumpukkan begitu saja. Selain emas, ada benda-benda menancap di tanah. Hmph..... Seperti kristal, warnanya banyak. Merah, hijau juga ungu, mereka berkilau. Lalu ada seperti berlian, ada patung emas, juga ada air yang mengalir di selokan kecil.


"Apakah tempat ini benar-benar tidak ada yang menunggu atau menghuninya?" kata Jessica bertanya pada kedua orang itu.


"Siapa yang akan menunggu tempat tanpa makanan seperti ini. Pikir saja sendiri, memangnya ada yang mau tinggal tanpa makanan, atau kau sedang menyarankan makan emas selama tinggal di sini!" ujar Gordon menjawab.


Tapi jawabannya itu aneh, Jessica sampai pusing mendengarkan jawaban itu. Saat melewati satu lorong menuju ke dalam tempat ini, mereka di hadapkan pada sebuah ruangan besar mirip aula atau altar besar. Ada tiang-tiang penyangga yang kokoh, jumlahnya mungkin puluhan. Dinding-dinding bangunan terbuat dari emas.


Keramiknya mewah, ada gambar bunga, ada juga gambar burung surga. Lalu di sisi kiri dan kanan aula ada kolam kecil di tengah-tengah kolam terdapat jawan kecil sebagai tempat menampung lilin-lilin. Jawan-jawan berisi lilin itu mengapung di atas permukaan air.


Terus, ada juga bunga lotus biru keungu-unguan menghiasi kolam. Ikan-ikan melompat-lompat kegirangan. Di depan ketiganya, ada patung besar, terbuat dari emas juga. Patung itu tersenyum, tangannya tengadah terbuka, seperti memberikan berkat.


Di sana ada singgasana besar, semua yang nampak terbuat dari emas. Sean melakukan kejahilan kecil, dia mencuci kakinya di kolam karena airnya jernih apalagi Sean melihat air itu keluar dari pancuran yang menyembul dari tanah. "Oh, sejuknya," gumam Sean pelan. Air tempatnya membasuh kedua kakinya itu, amat jernih bak kaca.


"Woah ..... Sungguh indah tempat ini," puji Jessica takjub. Matanya tak bisa lepas memandangi seluruh emas yang melapisi bangunan.


Dari ujung pintu masuk aula, seorang wanita cantik tiba-tiba tersenyum saat melihat Sean yang sedang mencuci kakinya di sana. "Selamat datang pangeran!!" ucapnya tanpa basa-basi. Dia mengagetkan ketiganya yang sedang menikmati keindahan di tempat ini. "Selamat datang di istana kecil ku."


"S—siapa kau?" tanya Sean. Dia mengacungkan pedangnya, Sean selalu waspada. "Dari mana kau? D—dan apa yang kau lakukan di sini?"


Wanita itu berjalan berlenggak lenggok, menggeolkan pantatnya kala melangkahkan kakinya menuju singgasana. "Jangan khawatir. Aku Pharos, pemilik kuil istana kecil yang tak sebanding dengan istana pangeran Lausius," katanya sopan.


"Pe—pemilik!"


"Jangan menipu kami!" seru Jessica menyambar. "Kau pasti wanita jahat yang ingin mengincar Sean, bukan?"


Pharos tersenyum, dia tidak keberatan di sebut wanita jahat. "Kau tidak perlu cemas gadis manis mengenai aku jahat atau tidak. Tanya Gordon, dia paham mengenai siapa diri ku."


Jessica meliriknya, pria itu melepaskan senyum sumringah. "Hanya sekilas, itu pun aku melihatnya di pusat kota ribuan tahun lalu," katanya langsung memberi tahu.


Pria itu menggaruk kepala, walau tidak gatal, tapi wanita itu telah menyinggungnya.


Pharos duduk di kursinya, santai, seakan dia sedang berada pantai. "Kalian telah di ikuti oleh seseorang."


"Siapa?" sahut Sean. "Kau jangan mencoba menipu ku!"


"Kalian akan tahu jika sudah memasuki hutan setelah keluar dari lembah Pharos," katanya memberitahu.


"Maksud mu......"


"Ya," jawab Dewi Pharos pada Sean yang terlihat gusar. "Dia adalah Uli, dari kaum Manun yang melarikan diri dari Dewi Handita saat di istana Sadon."


Sean mengerutkan keningnya, dia tidak paham. Kenapa lagi wanita itu masih mengejarnya. Apa mungkin—dendam itu!


"Kenapa dia terus mengikuti langkah kemanapun Sean pergi. Apa yang membuatnya tertarik mengikuti Sean?" tanya Jessica. Dia penasaran, kenapa mengikuti Sean, meskipun Jessica tidak sadar wanita itu sudah mengikuti mereka.


"Elius," ucap Dewi Pharos. "Dia yang memerintah banyak pasukan ingin menangkap pangeran."


"Dia bukan pangeran, tapi Sean. Dia sahabat ku," ujar Jessica membantah. Dia kesal, Sean selalu di sebut pangeran tidak jelas itu.


"Sebelumnya, mungkin kalian berdua sudah lama mendengar tentang Lausius," Dewi Pharos berkata. "Tidak perlu kaget, dia memang Lausius yang di tunggu itu. Dengan senang hati, saat masuk ke lembah Pharos, kalian aku sambut dengan baik. Mengingat pangeran ada di sini," ucapnya senang.


Sean sebenarnya sudah muak mendengar mereka berkata aneh. Tapi, mau tak mau, dia harus tahu siapa dia. Kenapa di sebut pangeran. Misteri siapa pangeran itu membuat Sean bingung bercampur berdebar. Apa mungkin dia adalah pangeran, pikirnya begitu.

__ADS_1


Tapi, jika di pikir-pikir lagi. Tidak ada darah keturunan kerajaan di dalam dirinya. Kecuali......, dia hanya seorang remaja yang masih bersekolah, setelah itu, seingatnya dia hanya anak satu-satunya dari kedua orang tuanya. Dan, saat Sean berpikir lebih dalam lagi..... Tak ada darah bangsawan kuno dalam dirinya. Mungkin mereka mencoba menipunya.


"Karena perjalanan kalian menuju pusat kota Saranjana masih panjang, maka aku akan memberikan seorang pengawal terkuat di kuil ini pada pangeran."


Wanita yang tengah duduk itu berkata. Hmph.... Bibirnya amat ranum, riasannya makin membuat dia terlihat sangat cantik bak bidadari. Kulitnya halus dan mulus, dengan pakaian sedikit terbuka. Sean agak sedikit tergiur melihat penampilannya yang luar biasa cantik, tapi Sean tidak berani menatapnya berlama-lama. Atau Sean makin tergoda melihat kecantikan di luar batas wajar itu.


"Pe—pengawal?" kata Sean mengulangi. "Untuk apa kau memberikan kami pengawal. Lagi pula perjalanan kami tidak begitu sulit. Kenapa harus ada pengawal yang mengikuti perjalanan ini?"


Sean makin bingung, sejujurnya kenapa orang-orang ini terlihat aneh. Dia berpikir kalau ada niat terselubung dari kebaikan mereka padanya.


Dewi Pharos tersenyum, dia memahami keadaan Sean. "Perjalanan kalian kali ini bukan hanya di ikuti oleh Uli saja, tapi akan ada banyak halangan yang kalian temui selama menyusuri jalan yang kalian lalui. Oleh karena itu, kalian akan aman jika aku memberikan satu pengawal pada mu, Tuan ku yang agung."


Sean tak begitu peduli apa yang dia katakan. Dia ingin pergi, meninggalkan tempat ini. Dia sudah bosan berkata panjang lebar dengan wanita itu. "Maaf, aku sebaiknya pergi. Terima kasih sudah menjamu kami disini," kata Sean apatis.


Saat dia membalikkan badannya ingin beranjak, tiba-tiba saja. Di ambang pintu masuk aula yang besar dia di cegat oleh prajurit yang entah dari mana mereka datang secara dadakan.


Jumlah mereka banyak, berbaju besi, bertombak yang runcing nan tajam. Ada tameng besar di tangan.


Mereka menodongkan Sean dengan senjata perang mereka, membuat Sean terpukul mundur kembali ke dalam aula.


"Jangan macam-macam pada kami, atau aku akan membunuh kalian semua!" ujar Jessica mengancam.


Sean menahan gadis itu, dia tahu, Jessica amat berani. Tapi mereka kalah jumlah. Mereka akan kalah telak jika melawan puluhan prajurit itu.


"Kenapa kau menghentikan aku?" tanya Jessica. "Apa kau takut kalau kita akan kalah?"


"Bukan," Sean menggeleng. Sebenarnya dia bukan takut, tapi, dia ingin menjaga tenaga dan energinya. Pasti sulit mengalahkan mereka di saat situasi seperti ini. "Kita jangan gegabah. Kita ikuti saja alur wanita itu, setelah kita terbebas dari sini. Barulah kita pikirkan rencana selanjutnya!" bisik Sean pelan.


Kata-kata Sean membuat Jessica mengembalikan busurnya ke punggung. Dia tidak jadi bertindak, Sean ada benarnya. Mereka banyak, pasti akan kalah jika melawan mereka.


"Aku mengikuti kemauan mu, sekarang biarkan kami pergi tanpa harus terkekang oleh kau!" kata Sean dari jarak yang lumayan jauh.


Dewi Pharos tersenyum, Sean sangat sulit di kendalikan. Dia memberikan isyarat mata pada prajuritnya. Isyarat itu di pahami oleh para bawahannya, dengan cepat dia menangkap Sean, tak membiarkannya bergerak.


"Hei, apa yang kau lakukan pada Sean!" Jessica ikut berteriak. Sahabatnya di seret menuju ke singgasana wanita cantik itu. Jessica berlari mengejar Sean, ingin membantunya terlepas dari cengkraman prajurit Dewi Pharos. Tapi—Jessica di tahan oleh prajurit lainnya. "Hei, lepaskan aku!" teriaknya meronta. "Apa yang salah pada Sean sehingga kau menahannya!"


"Diamlah!" sentak prajurit yang memegang erat lengan Jessica itu. "Jangan membuat Dewi lembah patung marah. Atau kau di kutuknya menjadi batu."


"Aku tidak peduli!" jawab Jessica. "Dia menahan teman ku. Aku harus membantunya."


Gordon angkat tangan, dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali.... Menjadi saksi dari semua kejadian ini. Gordon yang bertubuh besar itu malas berurusan dengan Dewi Pharos, sehingga dia nampak salah tingkah di hadapan si cantik Pharos.


Saat Sean sudah di bawa ke hadapan Dewi Pharos, para prajurit berbaju besi itu melepaskan pegangan tangan mereka di lengan Sean.


"Apa yang ingin kau lakukan pada ku?" tanya Sean ketus. "Apa kau berniat ingin menguliti ku sama seperti yang ingin di lakukan oleh orang-orang kanibalisme tadi?"


"Tsk," Dewi Pharos menggeleng sambil men-decak. Sean sulit di atur, sampai-sampai Dewi Pharos kebingungan bagaimana menghadapi anak itu. "Kau begitu keras kepala. Pantas saja kau meninggalkan Ibu dan Ayah mu. Karena kau tak bisa di kendalikan."


"Apa maksud mu?"


"Kau pergi ke sini tanpa izin Ayah dan Ibu mu. Jelas kau membuat mereka akan menangis tersedu-sedu. Oh anak ku, kau pergi kemana. Ibu merindukan mu anak ku tersayang. Seperti itu kata Ibu mu jika tahu kalau kau tak ada di rumah!" Dewi Pharos agak melakonis saat di berkata. Dia menirukan gaya bicara Ibu Sean, dan itu sukses membuat Sean terpaku.


"Darimana kau tahu kalau aku pergi tanpa izin Ayah dan Ibu ku?" tanya Sean ingin tahu.


"Itu mudah," jawab Dewi Pharos. "Setiap apa yang kau lakukan selalu di awasi oleh Lord Shutanhamun. Jadi, apa saja yang ingin kau lakukan, kami tahu."


"Shutanhamun?" Sean tahu. Dia ingat, dia pernah mendengar nama itu. Beberapa kali nama itu hilir mudik di telinganya. Tapi dia tidak tahu persis seperti apa rupa Shutanhamun yang agung itu.


"Ja—jadi. Kau tahu kalau aku meninggalkan rumah tanpa di ketahui Ayah dan Ibu ku?" kata Sean mengiba. Dia sudah takut, Ayahnya pasti akan memarahinya jika sampai tahu saat kembali ke rumah namun tak ada dirinya di sana.


Dewi Pharos kembali menyinggung tersenyum kecil. Baru kali ini pikirnya dia bertemu Lausius muda yang terlihat agak polos dan kekanakan di usianya yang sudah remaja. "Aku sudah bilang. Setiap apa yang kau lakukan, aku tahu. Jadi, hidup mu ada di tangan ku. Atau, kau akan siap di marahi oleh ayah mu saat kau pergi tanpa seizinnya!"


"Apakah Ayah dan Ibu ku sudah tahu bahwa aku tidak di rumah?" tanya Sean lagi. Sejujurnya, Sean sudah berdebar bercampur rasa takut. Terlintas dalam pikirannya, Ayahnya akan memarahinya kali ini jika mendapati dirinya pergi tanpa seizin darinya. Uh, Sean amat menyesali perbuatannya yang ceroboh ini.


"Untuk saat ini mereka tidak tahu. Tapi, tidak lama lagi mereka akan tahu saat kau tak ada di rumah," kata Dewi Pharos. Dia hampir terkekeh saat melihat Sean terlihat murung dalam rasa bersalah.

__ADS_1


Apalagi Sean terlihat sendu kala mengingat kemarahan sang Ayah. Dewi Pharos menahan gelak tawanya ketika Sean bertingkah patuh bak seorang anak balita.


"A—apa yang harus aku lakukan agar Ayah ku tidak tahu kalau aku meninggalkan rumah? Apakah dia sudah kembali dari perjalanan bisnisnya?"


Sambil berkata, Sean memainkan kedua jari telunjuknya. Khas anak-anak yang sedang tak ingin di marah.


"Aku bisa membantu mu," kata Dewi Pharos menawarkan. "Tapi kau harus berjanji. Tidak keras kepala, patuh pada apa yang aku katakan. Dan tidak pernah membangkang. Bagiamana? Apa kau mau menerima tawaran ku?"


"A—aku......" Oh, pikir Sean ini bukanlah kemauannya menjadi seorang anak yang tunduk pada siapapun. Kecuali—ayahnya. Hanya dia yang membuat Sean takut, selebihnya, Sean tak pernah tunduk pada siapapun. Sean melirik Gordon sekilas, terlihat pria besar itu menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia harus terima pada tawaran Dewi Pharos. "Baiklah. A—aku akan menerima penawaran ini," kata Sean lesu.


Dia terpaksa melakukannya, asal wanita itu membantunya agar sang ayah tak tahu kalau dia pergi tanpa seizinnya.


"Keputusan yang tepat!" seru Dewi Pharos sambil menjentikkan jarinya. "Aku akan menambahkan satu penjaga dalam perjalanan mu menuju kota Saranjana. Crypto akan menjadi pelindung mu."


"Tapi aku—"


"Jika kau terus keras kepala. Aku tidak akan membantu mu!" sambar Dewi Pharos menutup perkataan Sean.


"Oh. Baiklah, aku tidak akan keras kepala lagi," ujar Sean patuh. Dia memalingkan wajahnya, menundukan kepala. Dia harus berakhir menjadi anak yang patuh pada wanita itu.


Apakah aku akan berakhir seperti ini. Menjadi seorang anak yang penurut. Bahkan Ayah akan memarahi ku jika tahu aku pergi tanpa persetujuannya. Ayah benar-benar akan marah besar kali ini pada ku.


Sean bergumam kecil, menatap kolam yang berisi ikan-ikan yang sedang berenang. Ketakutannya membuat Sean gusar. Sungguh, tak ada yang Sean takutkan di dunia ini kecuali melihat raut wajah garang sang Ayah. Walau Sean belum pernah di marahi oleh sang Ayah, tapi beberapa kali Ayahnya pernah berkata dengan nada tinggi di teleponnya pada seseorang yang mengganggunya di pagi hari.


Mengingat ucapan bernada tinggi sang ayah di pagi hari kala itu, membuat Sean ngeri. Bagaimana jika dia berada dalam posisi itu. Di marah, di maki, dan..... Ah, Sean sungguh tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti.


Sean memainkan jarinya. Mengadu kedua jari telunjuknya. Kadang duduk jongkok, membuat gambar-gambar mengikuti pola gambar lantai. Sumpah, Dewi Pharos hampir terkekeh melihat anak itu. Dia sangat tidak cocok menjadi seorang anak yang patut di kasihani.


Dewi Pharos memerintahkan seorang prajuritnya, meminta memanggilkan seorang pengawal terkuat datang ke altar megahnya itu.


Saat pria yang dia panggil itu tiba, dia langsung menyembah hormat di hadapan tuannya. "Ada tugas apa yang bisa saya lakukan untuk Dewi?" katanya bertanya. Dia menyatukan kedua tangan di hadapan Dewi Pharos, bahkan tidak menatap wajah wanita itu.


Dia Crypto, orang yang paling di percayai oleh Dewi Pharos. Pria itu terlihat gagah nan tampan. Daun telinganya sama seperti makhluk lain yang Sean lihat. Mereka memiliki daun telinga yang panjang. Mata mereka berlensa cerah, bulu mata mereka panjang, kulit mereka putih bersih juga menawan.


"Mulai saat ini, kau aku perintahkan mengawal pangeran hingga sampai tujuan," perintah Dewi Pharos pada Crypto. "Selama misi ini kau emban, kau harus melindungi Lausius muda. Jangan sampai Elius mendapatkannya, cepat atau lambat, dia pasti bisa menemukan Lausius muda ini."


"Dengan rasa hormat, aku akan mengabdi di sisi pangeran. Akan melindunginya dengan segenap raga ku. Bahkan jika aku mati, tak akan aku biarkan Pangeran Lausius terluka atau jatuh di tangan Elius!" katanya berikrar.


"Bagus. Sekarang, pangeran Lausius adalah Tuan mu yang baru. Kau bisa mengabdikan diri di hadapannya."


Saat Dewi Pharos memerintahkannya, dengan sigap, Crypto menyembah di hadapan Sean yang tengah memalingkan wajahnya. "Terimalah aku sebagai pengawal pangeran muda Lausius," ucapnya pada Sean.


"Hei, aku bukan Lausius. Aku Sean," bantahnya. "Mungkin kau salah!"


"Pangeran tidak perlu khawatir mengenai kesetiaan ku. Bahkan jiwa ku siap di korbankan di tangan Tuan!" seru Crypto, pria menawan nan perkasa itu. Dia tidak peduli apa kata Sean. Dia tetap paca keteguhannya, mengabdikan diri pada Tuannya yang baru.


Sean hanya bisa mengangguk saja. Seberapa kerasnya dia membantah bahwa dia bukan Lausius itu, tetap saja mereka berkata bahwa dia pangeran.


Sungguh, bahkan Sean tidak berpikir kalau dia akan di layani hingga mengorbankan nyawa.


Sean lebih suka pada kehidupannya yang normal dari pada hidup di layani oleh orang-orang yang menyembahnya bagai seorang Tuan yang di agungkan.


Tapi, selama ada di tempat penuh misteri dan keajaiban ini. Sean baru sadar, jika sebenarnya orang-orang yang dia temui di sini sangat unik. Mereka bagai peri, bahkan wanita yang ada di hadapannya juga terlihat mirip bidadari surga yang begitu menawan tanpa tandingannya.


Tidak hanya dia saja, tapi Dewi-Dewi lainnya yang pernah dia temui juga tak kalah menawan.


"Apa mungkin mereka adalah bidadari-bidadari bumi?" kata Sean keheranan.


BERSAMBUNG


Q: Menurut reader, apakah novel Saranjana ini sulit di bayangkan kah? Lalu bagaimana alurnya? Apakah terlalu ribet dan berbelit-belit atau kalian suka.


Di jawab yah, agar author tahu di mana letak kekurangan novel ini. Agar kedepannya bisa lebih baik lagi. TERIMA KASIH sudah menyukai novel ini.


__ADS_1


__ADS_2