Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 66


__ADS_3

Pada awal tiba di istana sadon, mereka di layani dengan baik. Semua pekerja di istana sadon amat hangat menyapa tetamu penjaga istana sadon ini.


Wanita bersorban hitam bernama Medika ini menggiring anak-anak, melihat-lihat berbagai ruangan di istana ini. Dia memamerkan kemegahan sadon pada Sean dan Jessica.


Seluruh sudut tempat istana sadon yang mereka kunjungi, di jelaskan dengan baik oleh Medika. Patung-patung besar, ruangan-ruangan khusus dan tempat-tempat umum lainnya di di lirik oleh Sean dan Jessica.


Namun pada intinya sama saja, Medika menggiring keduanya menuju ke sebuah ruangan yang khusus di jaga olehnya. Ruangan helian, tempat penyimpanan manuskrip kuno berbahasa herenoid dengan aksara heliograf yang sulit untuk di pelajari.


Di istana sadon, Medika membawa Sean dan Jessica dalam sebuah ruangan besar milik orang-orang helian.


Lalu dia memulai sebuah kisah. Sementara sebelum bercerita, tiba-tiba pakaian yang dikenakan oleh Sean terlepas. Sean telanjang dada ketika wanita itu hendak bicara.


Entah apa yang terjadi, perut Sean yang awalnya datar biasa saja, saat itu berubah mengeras. Membentuk otot-otot yang kuat dan menjadi lebih kekar. Sean nampak gagah dengan perutnya yang baru. Berbentuk kotak-kotak dengan enam lekukan, setidaknya Sean tanpa olahraga keras telah membentuk otot perutnya melalui sebuah sihir. Mungkin begitu pikir Sean.


"Ada apa ini? Mengapa tubuh ku terasa aneh!" Sean berteriak ketika mendapatkan tubuhnya sudah telanjang dada hanya meninggalkan celana panjangnya saja.


Dia memperhatikan sekujur tubuhnya yang telah bertransformasi.


"Hal ini wajar. Kau tak perlu khawatir jika tubuh mu terluka. Orang-orang helian menunjukan siapa orang yang bisa membaca manuskrip tua!" Medika berkata menenangkan Sean agar tidak panik. "Ada hal yang harus kau ketahui dari tubuh mu itu."


"Tentang apa?" Sean tak paham. "Apa karena aku terlihat sebagai manusia aneh?" Dia bertanya sambil memperhatikan tubuhnya kembali.


Medika tersenyum seraya mendengus. "Kau tidak aneh. Justru kau berbeda dengan manusia. Kau bukan bagian dari manusia seperti yang kau pikirkan itu."


"Lalu? Apa artinya ini? Ada apa dengan tubuh ku!" Sean tak bisa diam mengenai perubahan dirinya.


Namun Medika sedikit sabar menghadapi kekeliruan ini. Sean terlihat panik walau Medika telah mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Lalu, dengan jentik-an jarinya, dia mengeluarkan sejenis sihir dari jemarinya yang keriput.

__ADS_1


Tubuh putih Sean yang nampak seperti susu tergambar sebuah kisah. Gambar sejenis tato namun berubah-ubah setiap Medika menjentikkan jarinya dengan kisah yang berbeda-beda. Medika mulai bicara. "Istana sadon adalah salah satu istana yang di jaga oleh para pelayan dari volinia."


Di saat bercerita, gambar-gambar yang menempel di tubuh Sean bagai layar bioskop itu kontras dengan perubahan setiap cerita yang di ucapkan oleh Medika. "Volinia adalah seorang gadis cantik penjaga istana sadon yang megah ini." Medika melanjutkan ceritanya. "Di balik kemegahan ini, tersembunyi sebuah ruangan rahasia yang telah tersembunyi ribuan tahun. Namun, siapa sangka? Bahwa ruangan rahasia itu telah membawanya pergi dari istana sadon ini. Dan setelah di selidiki, kehilangan Dewi Volinia ada kaitannya dengan manuskrip yang tersembunyi di balik pintu rahasia itu." Medika menunjukkan Sean sebuah pintu besar terbuat dari baja berlapis emas dengan ukiran naga di dinding pintu.


Sean membantah, dia tak tahu apa-apa tentang ini. "Aku tidak mengerti apa maksud ucapan mu! Aku tidak ingin terlibat dalam masalah hilangnya wanita itu." Secara mentah-mentah dia tidak ingin masuk dalam alur cerita Medika.


Medika paham bahwa Sean tidak mudah untuk di bujuk. Namun bagaimanapun, bantuan Sean sangat di perlukan dalam misteri ini. "Kau harus membantu kami membebaskan Volinia dari manuskrip tua itu!" Medika memaksa. "Bantuan mu sangat di perlukan di sini Sean!" Medika berseru memelas seakan Sean adalah bantuan terakhirnya.


"Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak mengerti ada apa dengan kalian!" Sean kembali membantah. "Dan juga! Mengapa kalian melepaskan pakaian ku seenaknya saja. Terlebih gambar-gambar ini. Aku tidak mengerti kenapa bisa ada di tubuh ku. Aku bukanlah mesin proyektor di sini!" Sean sedikit kesal karena di jadikan media penampilan kisah yang di tunjukan Medika. Bahkan dia menepis gambar-gambar yang ada di tubuhnya agar menghilang.


"Sean! Tenangkan dulu diri mu," Jessica yang berdiri di dekatnya bicara pelan.


"Tidak!" Sean tetap membantah. "Aku tidak mau membantu mereka!" Tegas Sean bicara pada Jessica. Dia lalu menarik tangan Jessica dan membawanya pergi.


"Bagaimana dengan Edward? Apakah kau menginginkan dia kembali," Medika menghentikan langkah Sean yang sembrono meninggalkan dirinya tanpa perasaan.


Sean menengok, dia melihat wajah Medika dengan tatapan tajam. "Apa maksud mu!"


Sean sebenarnya tidak percaya pada kata-kata wanita tua itu, tetapi apa yang di katakan terlebih wajah Eed yabg tergambar di kulit putihnya nampak bahwa anak itu seperti ada di sekitarnya. "Katakan! Dimana dia sekarang!" Sean tak ragu untuk mengancam Medika. "Apa yang kau inginkan dari ku."


"Tenangkan diri mu." Medika berkata santai dan tenang. "Pikirkan baik-baik, kau bantu Volinia terbebas dari pintu rahasia itu, maka teman mu kembali," Medika memberikan saran. Terdengar sederhana tapi ini adalah transaksi.


Sean berpikir, bagaimana mungkin dia bisa membantu wanita paruh baya itu. "Baiklah. Aku akan membantu mu, tetapi ingat. Bebaskan Edward setelah aku menyelesaikan tugas ku!" Sean meminta, inilah kesepakatan nya. "Dan aku tidak suka ada pengkhianatan dalam sebuah transaksi tanpa ikatan hukum ini."


Medika mengangguk setuju. Dia memenuhi permintaan Sean. "Aku tidak pernah mengingkari janji ku!" Medika berkata menyakinkan Sean. "Angin laut sebagai buktinya dan Guntur di langit metis sebagai saksinya."


"Setuju!" Sean menerima tawaran ini, demi Edward.

__ADS_1


Kesepakatan yang mereka buat membawa Sean menuju ke sebuah ruangan. Di sana ada sebuah meja yang tersinar oleh cahaya terang. Lampu, kemungkinan mereka memasang lampu berjenis LED kualitas terbaik. Tetapi bagaimana mungkin, di tempat yang belum menyentuh modernitas ini ada lampu LED.


Aneh, namun itulah kenyataannya. Sean awalnya ragu, namun karena tekadnya demi menyelamatkan Edward membawa dia menyetujui permintaan Medika. Dia harus membuka pintu yang di tunjukan oleh Medika melalui sebuah manuskrip tua dengan tulisan yang sulit di pahami.


"Kau yakin aku harus menerjemahkan bahasa ini?" Sean bertanya pada Medika yang mengawasi dia.


Medika mengangguk. Dia tahu, hanya Sean yang bisa membuka rahasia di balik tulisan herenoid itu. Kisah Sean telah terdengar melalui kabar burung para nimfa. Terlebih, tadi tubuh Sean mengeluarkan gambar-gambar mengenai orang-orang helian.


Sean menarik nafas panjang. Dia tidak yakin bisa menerjemahkan bahasa itu. Di depan manuskrip tua yang telah di tulis ribuan tahun ini, Sean sedikit gugup. Namun dia harus melakukannya, walau sebenarnya dia tidak mengerti apapun tentang bahasa aneh itu.


Sean memejamkan matanya sejenak, berharap dia bisa membaca isi dari tulisan herenoid ini.


Dan yang terjadi adalah, walau dia terlahir dengan hanya menguasai satu bahasa, namun dia memahaminya hanya dalam sekali lihat.


Sean mulai bersuara. "Awan metis membelah sungai emas mosapus. Dari kuil heres hingga danau abadi Osirus, semuanya terhubung dalam satu kekuatan. Keabadian, semua kekuatan terbentuk dalam satu bahasa yang di namakan dalam bahasa herenoid. Orang-orang helian berperang melawan angin, maka istana-istana putih di Utara manor emas, mahligai puri yang menawan akan meruntuhkan pintu baja berlapis emas berukir naga suci Osus. Maka, dengan kemampuan ku, terbukalah pintu sadon!"


Dan apa yang di harapkan oleh medika akhirnya terjadi. Pintu rahasia sadon benar-benar terbuka.


Ekspresi senang menghiasi wajah Medika saat pintu itu menganga terbuka. Dari sana keluar seorang wanita berpakaian merah merekah lalu terjatuh pingsan. Tepat di depan pintu rahasia itu, Sean telah menunjukan kejeniusannya.


"Sean. Kau melakukannya dengan hebat dan sempurna," Jessica memuji. "Aku menyukai kejeniusan mu."


Sean sebenarnya masih bingung. Kenapa bisa dia melakukan itu. Dia sendiri tidak menyadari jika dia memiliki kekuatan semacam itu. Bisa memecahkan rahasia dengan sekali baca.


"Ada apa dengan ku?" Sean bertanya pada diri sendiri. Dia menatap kedua telapak tangan seraya membolak-balik telapak tangannya yang bersih itu.


Beberapa pelayan Medika memboyong wanita yang baru saja keluar dari pintu rahasia. Mereka meninggal Sean Seorang diri di dalam ruangan yang penuh dengan ribuan manuskrip yang tersusun rapi di rak-rak menjulang tinggi.

__ADS_1


Sean masih terpaku, dia tak tahu bagaimana bisa di bisa membaca manuskrip berbahasa herenoid sementara Medika sendiri tak bisa membacanya.


BERSAMBUNG


__ADS_2