Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 59


__ADS_3

Penyihir buta.


Rasa penasaran Sean pada suara yang menggema memanggilnya membawa anak itu menyusuri lorong goa yang gelap.


Tetapi sayangnya bukan Edward yang ia temukan, melainkan sebuah goa usang menyeramkan. Terdapat obor-obor menyala menyinari gelapnya goa di tengah siang hari.


"Eed! Itukah kau?" Jessica memanggilnya, siapa tahu bahwa benar itu Eed. "Eed! Ini aku Jessica, bisakah kau mendengar suara ku!"


Mereka menyingkap seluruh tempat. Kosong, bahkan tidak ada apapun di dalam goa terkutuk itu. "Apakah ini sejenis fatamorgana suara yang fana? Apakah suara itu mencoba membodohi kita." Yudhar mulai bersuara dan menghardik tempat ini. Dia tidak percaya bahwa suara itu telah menipu mereka. "Ku rasa memang hanya suara ilusi." Yudhar mengutuk tempat ini. Dia mulai merasa kesal karena telah di bohongi.


"Aku juga berpikir begitu. Ku pikir suara itu hanya ilusi tanpa bayangan." Sean menyahut. Dia senada dengan bicara kedua temannya.


"Ku pikir Eed yang memanggil? Ternyata hanya perasaanku saja." Kata Jessica mulai menyerah. Dia suka berkata sesumbar dalam segala situasi.


Tetapi Sean sadar bahwa Driyad ada di dekat mereka. Dia melihat serigala itu dengan tatapan serius. "Apakah kau mengetahui sesuatu tentang tempat ini." Sean cukup lihai dalam bertanya sebuah misteri.


Belum sempat Driyad berbicara, mulut makhluk itu harus sedikit terbungkam karena ada suara lain yang menyambar. Kali ini suara yang datang malahai tertawa puas.


Suara seorang wanita tua yang parau khas wanita renta.


Suara tertawanya amat menyeramkan sampai-sampai Sean agak merinding mendengarnya. "Suara apa itu Driyad?" Dia bertanya sambil melirik sekeliling goa. "Apakah kau mendengarnya?"


Pandangannya terlalu buruk untuk melihat di tengah gelapnya goa. Bahkan lampu-lampu api itu tak mampu menjangkau seluruh ruangan. Sudut-sudut goa yang terpasang oleh lampu dinding saja yang mampu di lihat oleh matanya. Sinar api ini menghalangi pandangan Sean. Sementara lorong-lorong goa masih minim untuk di perhatikan dengan seksama. Sean mengidap rabun gelap, lebih tepatnya begitu.


"Suara ini adalah milik penyihir buta!" Driyad memberi tahu anak-anak. "Dia pemilik tempat ini!"


Mereka tertegun seraya terkejut.


Jessica kali ini yang mulai bertanya penasaran. "Penyihir buta? Siapa dia?"


Driyad menjawabnya, walau sedikit saja dalam ingatan yang ia ketahui dari manusia menyeramkan ini, tetapi dia mencoba menjelaskan pada ketiga anak itu. "Dia adalah penyihir yang pernah ada di kota ini. Jelas, kalau dia bukan manusia yang di anugrahi nurani yang baik." Driyad menceritakan sebisanya. "Dia wanita yang di kutuk. Lebih tepatnya, dia sendiri yang mengutuk dirinya."

__ADS_1


ketiga anak itu mendengar dengan seksama cerita yang keluar dari moncong driyad. Mendengar kata-kata ini saja sudah pasti dia makhluk yang mengerikan.


"Dia penyihir penuh tipu daya. Tetapi kadang bicara jujur. Dia suka meramal masa depan tetapi semua itu hanya bualan semata." Driyad melanjutkan ucapannya untuk yang terakhir. Lalu mengakhirinya sedikit menggantung, sehingga anak-anak mengimajinasikan sendiri seperti apa penyihir buta itu.


Jelas anak-anak sedikit takut saat Driyad mengatakan tentang penyihir itu.


Suara parau nan berat ini makin mencekam. Sebelumnya suara itu terdengar sedikit pelan, namun makin kesini, suara itu semakin mengeras.


Di balik lorong goa yang gelap, sebuah makhluk berpakaian serba hitam menghampiri mereka lengkap dengan tongkat berkepala tengkorak manusia. Penyihir itu sedikit membungkuk, layaknya wanita tua pada umumnya.


"Haa... Ternyata pangeran lausius telah tiba." Dia berkata mengejutkan Sean, Jessica dan Yudhar. "Jutaan rembulan telah menyaksikan kelahirannya di bawah purnama awan metis." Tanpa ada kata penyambutan penyihir buta langsung berbicara.


"Jaga bicara anda penyihir buta. Jangan bicara omong kosong apapun." Driyad menyambar perkataan wanita tua itu dengan bentakannya.


Dia tidak takut pada bentakan Driyad. Justru dia makin menjadi dan menggila dalam bicara. "Awan metis akan runtuh seiring kematian keturunan shutanhamun yang ke seratus. Dan hari ini, takdir mempertemukan aku dengan putra Edna. Masa depannya berada dalam ambang kematian." Mulutnya licin dalam berbicara.


"Tidak ada gunanya bicara mengenai lausius putra Edna. Pikirkan masa depan mu yang hidup dalam kebutaan. Jangan pernah meramalkan masa depan tanpa ada kebenarannya wahai penyihir tua." Driyad tidak bisa menahan emosi. Penyihir yang terlihat menjijikan ini bicara lancar seperti oli yang mengalir. Sangat licin dan licik.


Ayahnya bernama motakh. Dia adalah pria yang di juluki pedagang tampan dari negeri seberang.


Karena bertemu dengan ibunya yang menjadi seorang penyihir, motakh terpaksa harus menikahi ibunya yang terkenal kejam dan suka membunuh dengan cara yang halus.


Ibu penyihir buta atau lebih dikenal dengan nama muli, suka menggilai pria-pria tampan. Dia ingin mendapatkan seluruh pria tampan di muka bumi ini termasuk pangeran lausius ke sembilan sebagai penambah kekuatan efek sihirnya. Namun usahanya gagal, sebab niat jahatnya tercium oleh penduduk di sekitar kota tempat ia tinggal.


Hingga pada akhirnya dia di kucilkan karena rupanya yang buruk. Pada suatu hari dia bertemu dengan motakh pria tampan yang telah di incarnya sejak kali pertama pria itu memasuki kota ini. Dia menjebak pria itu dengan sihir beserta mantera penunduk kelemahan pria.


Dengan rupanya yang buruk, tidak ada pria yang mau menikahinya. Tetapi salah satu keahliannya adalah mampu mengubah wujud buruk rupanya itu menjadi Dewi kecantikan.


Berada dalam genggaman sihir, motakh tidak bisa berpikir jernih karena telah tergoda pada kecantikan penyihir itu. Namun, pada suatu saat pria itu mengetahui kebenarannya, bahwa selama ini pikirannya sudah di kendalikan oleh mantera sihir wanita licik itu.


Karena tidak bisa melawan penyihir buruk rupa itu setelah mengetahui apa yang terjadi padanya, terpaksa bagi motakh menikahi wanita licik itu. Lalu terlahirlah Muli, penyihir buta tanpa keahlian.

__ADS_1


Hingga bertahun-tahun berikutnya, karena sudah di anggap tidak lagi bisa melayani ibunya yang haus akan kepuasan, penyihir buruk rupa membunuh suaminya. Malang bagi motakh harus berakhir di tangan penjahat berdarah dingin itu sekaligus ibu penyihir muli yang kejam.


Penduduk pinggiran kota mengetahui perbuatannya. Dia menjadi bulan-bulanan penduduk yang sudah geram pada kelakuannya terutama sihir yang ia pelajari. Dia mati mengenaskan di tangan para penduduk, meninggalkan seorang anak yang tak kalah jelek. Matanya buta bagai buah kurma yang menggantung hampir jatuh di pelupuk mata dan sudah mengering serta wajahnya jauh lebih buruk dari sebuah mumi tua di Mesir.


Sean tidak mengerti maksud dari wanita itu. Wajah tua dan tangan keriputnya mencoba menyentuh wajah Sean.


Sean mencoba menghindar. Sebab belum pernah sekali pun dirinya di sentuh oleh kulit hitam legam nan keriput bahkan buruk rupa macam muli.


Sean bergidik ngeri terutama melihat bagian wajahnya yang kaku. Batang hidungnya tersumbat oleh anting-anting besar. Besarnya melebih gelang tangan yang ia pakai. Dan hidungnya rata menyamai wajahnya yang datar.


Wanita itu tersenyum kecut kala menatap Sean. "Wajah tampan mu beserta masa depan mu seharusnya menjadi milik ku." Katanya mengincar Sean. Tak ada ubahnya seperti sang ibu yang buruk rupa, bahkan kelakuannya pun di turunkan pada anaknya. "Menikahlah dengan ku, maka akan ku ramal seluruh masa depan tuan muda lausius keturunan shutanhamun."


Dia menawarkan ide yang terdengar lelucon. Siapa pun yang melihatnya tak akan pernah jatuh hati pada wanita tua itu.


Jessica melihatnya, dia mulai jijik melihat tingkah penyihir itu. "Lepaskan tangan mu dari Sean!" Jessica memekik marah. "Apa kau tahu? Bahkan rupa mu tak lebih dari seorang monster." Tanpa ragu Jessica meledeknya dengan kata-kata kasar.


Penyihir tua tidak terlalu memikirkan perkataan Jessica. Justru dia makin tersenyum penuh kepuasan. "Aku memang buruk. Itulah alasan kenapa ibu ku menyukai dan menggilai pria tampan. Terutama dari keturunan shutanhamun. Mereka memiliki daya pikat bagi seluruh kaum penyihir."


Sean tentu saja masih normal. Dia sedikit menolak saat wanita tua itu terus melekat di dekatnya. "Bisakah kau tidak menyentuh ku. Kau terlalu menjijikan bagi ku." Kata Sean mengatakan kejujurannya.


Dia mendeham sambil melayangkan kembali senyum pahit di wajah tua tanpa rupa itu. "Ku tawarkan sekali lagi, menikahi seorang kaum penyihir bisa memperbaiki masa depan mu." Dia memaksa Sean tanpa henti. "Kau harus memikirkan masa depan mu, putra Edna. Atau kau akan sengsara dengan masa depan yang terambang dalam kematian," suara paraunya sedikit mengerikan.


"Tak bisa di pungkiri, pangeran lausius dari yang pertama hingga yang terakhir ini makin membuat ku menggila. Masa depan metis akan jauh lebih cerah saat pangeran yang rupawan seperti mu menikahi kaum penyihir seperti kami. Aku menjamin kau akan menyukainya." Wanita itu mengenang kisahnya yang bahkan Sean tak paham. "Ayo. Nikahi aku sebagai istri keturunan shutanhamun, atau kau akan menyesalinya nanti." Kata-katanya sedikit mengancam memaksa.


Driyad menghentikan sikapnya yang hanya akan membuat anak-anak takut padanya. "Kau penyihir tua akan segera musnah jika tak bisa menghentikan ucapan mu itu. Sebaiknya hentikan bualan lelucon tak bermakna ini." Driyad mengancamnya. Dia memperingati muli agar tak bicara sembarang.


Tetapi makhluk buruk rupa ini sudah mulai tergila-gila pada wajah Sean. Dia tidak peduli pada peringatan Driyad.


"Kalian sendiri yang masuk ke tempat tinggal muli. Maka aku tidak akan membiarkan pangeran muda penerus keturunan para penyihir seperti lausius muda ini pergi begitu saja."


Driyad sadar jika mereka memasuki kediaman Muli tanpa izin. Penyihir itu bisa berbuat sekehendaknya. Dia memiliki kekuasaan di tangannya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2