
Gordon memegang pinggulnya yang terasa patah itu. Akibat ide liar Sean
melompat ke lembah ini membuat seluruh tubuh Gordon terasa remuk. Walau dia baik-baik saja, tapi rasa sakit di pinggulnya membuat Gordon sebal.
Saat keluar dari salju yang menimbunnya itu, Gordon berjalan merangkak. Oh, rasa sakitnya itu membuat pinggulnya semakin nyeri kala dia memaksa berjalan.
"Pinggul mu patah?" Jessica menegur.
"Tidak," bantah Gordon. "Hanya sedikit bergeser." Gordon malas mengakui kalau dia mulai lemah. Atau citranya sebagai benteng yang perkasa akan menjadi aib. Mungkin saja anak itu akan meledeknya terus menerus, dia tak mau mengakui rasa sakitnya itu.
Saat keduanya sudah keluar dari timbunan salju, hanya Sean yang belum menampakan dirinya. "Sean? Dia di mana?" Jessica menyadari.
Dia melihat sekeliling tempat mereka jatuh, anak itu tidak terlihat sama sekali. "Sean hilang. Sean, kau di mana?"
"Aku di bawah," terdengar suara itu samar-samar. Tapi Jessica kenal, itu suara Sean.
"Sean, dimana kau? Apakah itu kau?" Jessica memutar-mutarkan badannya. Mencari dimana sahabatnya itu. Ada suara, tapi tak ada rupanya.
"Aku di sini!" kata Sean lagi. Di ikuti tangan yang muncul dari tumpukan salju. Melambai-lambai bak seseorang yang melambaikan bendera putih tanda menyerah.
"Oh! Kau di sana!" kata Jessica ternganga.
Sean berada di antara kedua orang yang tengah berdiri itu. Melihat tangan Sean ada di antara timbunan salju, Gordon menarik kaki Sean. Lalu mengangkatnya ke udara.
Alhasil, penglihatan Sean menjadi terbalik.
"Kenapa salju terlihat aneh."
Kepala Sean sebenarnya agak sakit, mungkin karena meloncat dari tebing yang tinggi sehingga membuatnya sedikit agak pusing. "Bebatuan, salju, sejak kapan mereka ada di atas kepala. Bukankah mereka seharusnya di tanah."
"Hei, kau mengangkatnya terbalik!" seru Jessica menegur Gordon. "Kau sengaja melakukannya atau memang kau tak menyadarinya?"
"Oh, maaf, aku lupa." Dengan segera dia membalikkan tubuh Sean ke bentuk semula.
Sifat santai itu terus saja menjadi bumerang bagi Jessica. Dia sebal pada Gordon yang jengah ini.
Saat membalikkan kembali tubuh Sean seperti semula, tiba-tiba saja Gordon bersendawa keras. Hingga nafas dari mulutnya yang bau itu mengenai wajah Sean. Suwer, Sean merasa nafas busuk itu sangat kencang layaknya kipas angin yang menyembul di wajahnya.
Karena begitu bau busuk itu menyengat di hidung Sean—dia merasa mual. Dan yang terjadi adalah........ "Huek......" Sean muntah.
"Oh, tidak. Ini buruk," ucap Jessica ikut jijik melihat cairan yang keluar dari mulut Sean itu. Ekspresi wajah Jessica tak kuasa melihat muntahan Sean yang mengenai wajah Gordon. —Jijik.
"Oh, kau merusak wajah ku nak!" kata Gordon pasrah. Wajahnya menjadi tempat pembuangan kotoran itu.
Sean tidak sadar, siapa peduli. Meskipun dia muntah, rasa sakit di kepalanya itu membuat Sean tak takut pria itu akan menghardiknya.
"Kau belum terlalu kuat nak dalam bertahan di cuaca seperti ini," ujar Gordon. Dia tidak marah, beruntung bagi Sean.
"Bukan karena tidak kuat pada cuaca seperti ini. Tapi bau mulut mu, jelas Sean akan mual. Bau bangkai, siapa yang bisa bertahan menerimanya."
Jessica tahu, sebenarnya Gordon berusaha sedang menutupi rasa bersalahnya karena membuat Sean mual, lebih-lebih muntah.
Karena kedoknya terbongkar, Gordon hanya bisa tertawa lebar. Dia mengakui kesalahannya juga mengakui kalau Sebenarnya, Jessica tahu apa yang dia pikirkan.
Sean memegang perutnya, karena mual tadi di merasa pusing sehingga berdiri pun agak sempoyongan. Tapi— "Hei, kita ada di mana ini?" ucap Sean yang mendadak sadar.
"Ah, iya. Kita dari tadi berbincang. Kenapa tidak sadar kalau di sini ada patung besar!" seru Jessica yang ikut Sean sadar akan tempat ini.
Ini bukan jurang, tapi lembah. Ada begitu banyak patung-patung besar berdiri tegak di seluruh dinding tebing. Ada wanita, ada pria ada hewan dan..... Hanya itu yang terlihat.
"Kita ada di lembah Pharos," kata Gordon memberitahu.
"Lembah Pharos?" Sean menirukan.
Jessica menepuk pundak Sean. Kemudian berkata di daun telinganya. "Apakah kau mengingat sesuatu tentang tempat ini Sean?"
"Iya, aku tahu," jawab Sean. "Lembah Pharos adalah lembah patung batu. Tempat ini ada labirin di dalamnya. Untuk keluar dari lembah ini, kita harus memecahkan misteri disini. Karena pintu keluar dari labirin tersembunyi, oleh karena itu tempat ini di sebut sebagai lembah kebingungan. Karena akan sulit keluar dari labirin yang ada di dalamnya," jelas Sean pada Jessica.
"Dari mana kau tahu tentang lembah ini Sean? Bukankah ini pertama kalinya kita di sini?"
"Dari Volinia," kata Sean menjawab.
"Maksud mu....... Wanita di istana itu?"
Sean mengangguk. "Saat kita akan pergi, dia memberitahu."
"Dari pada kalian berbincang seperti ini. Sebaiknya kita masuk saja kedalam. Akan lebih baik tahu segala hal di dalamnya," ujar Gordon menyela perbincangan keduanya.
__ADS_1
"Benar, sebaiknya kita masuk!" seru Sean setuju.
Salju terus turun di dalam lembah ini. Tapi patung-patung itu ada lampu penerangan. Api obor menyala, dari jauh terlihat seperti ada sebuah pintu besar. Di depannya ada puluhan anak tangga. Di sisi-sisi kiri kanan anak tangga ada patung harimau besar. Lalu di kepala patung harimau itu ada seperti...... Marmaida.
Terlihat seperti itu, seorang wanita duduk dengan santai di atas patung harimau. Dia hanya menggunakan bra saja, menelentangkan ekornya yang mirip ikan bersirip.
Di bawah anak tangga, ada lahar panas yang menyembul setiap saat. Sean memperhatikannya sekilas, dia tidak berani menatapnya lama. Ada kengerian tersendiri yang Sean rasakan, terutama sesuatu yang jatuh ke sana. Mungkin akan berakhir menjadi daging bakar.
Saat tiba menaiki anak tangga demi anak tangga itu. Semua yang mereka lihat adalah besar. Apa yang di bangun melebihi tubuh kedua anak-anak itu. Obsesi membangun—bangunan yang besar melebihi tubuh, mungkin adalah sebuah pencapaian di masanya.
"Sean, bagaimana cara masuk ke dalam?" tanya Jessica. Mereka bertiga berdiri di depan pintu yang terbuat dari baja itu.
Lalu ada dua Grendel besar berbentuk lingkaran sebagai gagang pintu. Ada kepala singa yang di ukir di daun pintu baja itu. Sempurna, pahatan itu membentuk kepala singa besar dan sangat rapi mendetail, menyerupai bentuk aslinya.
"Ehm...." Sean mengurut dagunya. Dia juga bingung, bagaimana bisa masuk ke dalam. Apalagi pintu itu terlihat menyatu dengan bebatuan. Di masing-masing sisi pintu ada lampu penerangan tersendiri. "Aku pikirkan dulu bagaimana cara membuka pintu ini."
"Tuan Gordon, kau tahu sesuatu mengenai pintu ini?" tanya Jessica padanya.
"Mengenai cara membukanya?"
Jessica mengangguk. "Kau pasti tahu sesuatu mengenai tempat ini."
"Seingat ku tidak!" balas Gordon. "Ini kali pertamanya aku masuk ke lembah ini. Sungguh, aku berkata jujur."
Sean mendorong-dorong pintu besar itu. Akh, pintu itu amat kuat, sulit di buka dan...... Dia perkasa untuk di dobrak. "Aku rasa ada cara lain membuka pintu ini," kata Sean yang hampir menyerah.
"Seperti di film-film, mungkin saja ada alat pengendali pintu ini agar terbuka," sambar Jessica berkata. Entah dari mana pemikiran konyol itu, tapi bisa jadi seperti itu. Mungkin Jessica benar, ada alat pengendali semisal.... Kode rahasia.
"Apa mungkin ada sandi tertentu membuka pintu ini?"
"Jika pun itu ada, dimana kau bisa menemukan sandi rahasia itu?" ujar Gordon menyahut.
"Kita belum mencobanya. Lebih baik mencari dahulu sandi itu di sekitar sini. Mungkin dugaan Jessica benar."
"Aku setuju," sahut Jessica seraya menjentikan jarinya. "Sebaiknya kita cari dulu kode itu, mungkin mereka tersembunyi di tidak jauh dari daun pintu."
"Kalau begitu, jangan buang-buang waktu," ujar Gordon semangat. Walau tadi dia kontra, tapi kali ini dia setuju. "Jika kalian yakin ada cara lain membuka pintu ini, maka aku akan membantu kalian. Walau hanya sebatas doa."
"Tsk!" Sean men-decak. Dia tak habis pikir, bagaimana pria itu bisa membantu hanya dengan doa. "Dari pada aku memikirkan orang-orang konyol ini, sebaiknya aku mencari cara membuka pintu ini. Jauh lebih baik jika tidak membahas hal-hal yang tidak berguna," kata Sean pelan.
Dia menelisik sekeliling, mencari sesuatu yang sangat dia yakini ada. Sama halnya dengan Sean, gadis manis di Jessica juga ikut menyibukkan diri alih-alih berbincang dengan Gordon.
"Sejak tadi aku mencari celah membuka pintu ini, tapi tidak ada satupun yang berhasil mencuri perhatian. Kenapa begitu sulit menemukan cara membuka pintu ini?"
Sean tidak menyerah begitu saja, walau upayanya hampir terasa tak ada harapan, bukan berarti tidak ada jalan lain menemukan celah itu.
"Sean, apa yang kau pikirkan? Apa kau sudah mendapatkan sesuatu?" tanya Jessica menyela pemikiran Sean.
"Sangat sulit menemukan celahnya. Aku bingung harus seperti apa?" jawab Sean. Kebingungan dan kebimbangan membawa Sean buntu ide.
Gordon duduk termangu, menopang dagunya di tangan. Matanya sibuk melihat kedua anak yang sedari tadi mencari apa itu sandi pintu. "Bagaimana? Apakah kalian sedang mendiskusikan pintu itu? Apakah kalian sudah menemukannya?"
Sean menggeleng. "Sulit mencari keberadaannya!" kata Sean hampir menyerah dalam keputusasaan. Dia sudah lesu melanjutkan apa yang dia cari tapi tidak menemukan hasil apapun.
"Kita coba sekali lagi, Sean," ujar Jessica. "Aku yakin. Seperti sebelum-sebelumnya kita pasti bisa menemukan pintu cara membuka pintu ini."
"Tapi badai sudah menerpa! Aku takut kita tidak bisa menemukan sandi itu secepatnya!" Sean meresponnya cepat.
Saat Sean tertunduk lesu, matanya melirik batu yang di duduk oleh bokong Gordon. Batu itu sedikit aneh, Sean merasakan sesuatu.
Sean mendekatinya, pria itu agak merinding saat Sean menatapnya dalam-dalam tanpa teralihkan perhatiannya sedikitpun.
"Hei, nak. Apa yang kau lihat?"
Sean tak menjawabnya, perhatian Sean sangat tajam. Hanya satu—Gordon. Dia yang jadi pusat perhatian Sean.
"Sean, kau kenapa?" Jessica merasa heran. Sean seperti seseorang yang rasuki oleh roh. Jessica menghentikannya, menarik pundak Sean. "Kau baik-baik saja, bukan?"
"Sepertinya, aku menemukan apa yang kita cari!" seru Sean memberitahu.
"Oh, ayolah Sean. Apa kau yakin?"
"Itu dia," Sean menunjukan jarinya ke batu tepat di atas bagian pribadi Gordon.
Pria gemuk seketika menutupi kemaluannya, karena Sean menunjuk bagian vitalnya itu secara tiba-tiba pada Jessica. "Hei, Nak. Apa kau tidak waras, mana mungkin milikku ini menjadi alat pembuka pintu itu!" tegasnya memberitahu. Takut kalau Sean berkata membual tanpa sadar.
Jessica terkekeh saat Sean menunjuk bagian itu. Diam-diam Jessica merona, menahan tawa yang hampir terlepas itu. Apalagi sikap di tua Gordon yang amat proteksi terhadap alat vitalnya itu.
__ADS_1
"Bukan itu yang aku maksud! Tapi, batu itu. Batu yang kau duduki itu!" kata Sean menegaskan.
Gordon melihat kebawah, yang di maksud Sean adalah batu yang mirip kotak nyaris sempurna itu. Batu yang di pahat segi empat yang seluruh sisi ya sama rata.
"Maaf, aku pikir kau sedang berkata bagian vital ku!" kata Gordon malu-malu. Di garuknya caruk leher. Walau tidak gatal, tapi dengan cara ini dia bisa menghilangkan rasa malunya yang ambigu.
Sean menundukkan badannya, jongkok di depan batu pahatan itu. Bentuknya seperti kotak, lalu—ada bagian yang timbul di dalamnya—menonjol dari permukaan lainnya. Di tengahnya ada..... Semacam angka atau huruf lainnya tapi dalam bentuk seperti aksara. Sean melihatnya hingga detail, beberapa kali dia mengerutkan alisnya karena merasa kebingungan.
"Apakah di kota ini sudah mengenal angka?" tanya Sean pada pria yang berdiri tegak di belakangnya.
"Apa itu angka?"
"Kau tak kenal angka?" sahut Jessica yang hampir tak percaya. "Kau benar-benar tak mengenal angka? Sungguh?"
"Aku tidak tahu apa itu angka! Tapi, kami memakai sandi tertentu dalam memberikan tanda pada sesuatu entah itu benda atau semacamnya yang bisa membuat kami bingung," kata Gordon menjelaskan.
"Apakah isyarat itu seperti ini!" seru Sean menunjukan batu yang berukir. Di sana ada seperti tertulis huruf X lalu ada seperti angka nol tapi kurang sempurna karena tidak saling menyambung di ujungnya. Ada huruf P terbalik yang sekilas mirip huruf b. Dan ada huruf serat angka-angka lainnya yang Sean sendiri tak bisa menjelaskannya.
Gordon merunduk, melihat kombinasi sandi aneh itu. Tangan jahilnya tanpa sengaja menyentuh batu kecil yang timbul itu—layaknya tombol. Ajaib! Batu itu membuka dinding di atasnya.
SRUK!! Suara dinding batu itu terbuka lebar. Dan, mereka terkejut. Di dalamnya muncul sandi dengan kombinasi simbol-simbol aneh. Ada juga gambar peta—semua terhubung dalam batu bingkai yang mirip pajangan di museum.
****
****
Ilustrasi
"Apa ini sebuah kode tertentu?" ucap Jessica. Dia berpikir kalau kode itu sangat sulit di terjemahkan.
"Aku mencoba mencari jejaknya yang lain," kata Sean berinisiatif. Dia mencari-cari di sekitar gambar yang menempel di dinding batu itu.
Terlihat mirip lukisan, sangat besar. Mungkin seukuran daun pintu berukir kepala singa itu. Dan....... Ah, sangat sulit bagi Sean berpikir bagaimana memecahkan misteri kode itu.
Saat Sean melihat-lihat kode itu, dia melihat ada tulisan kecil di dekat sandi-sandi itu. Sean memicingkan matanya, melihat dengan jelas tulisan apa itu.
"Garis lurus vertikal lalu di tengahnya ada empat garis horizontal. Sandi kedua tiga buah garis horizontal lalu di ujung ketiga garis, ada garis vertikal yang menutup simpul bagian kanan. Lalu sandi yang ketiga sama seperti sandi yang kedua tapi garis vertikal ada di sebelah kiri. Kemudian ada sandi keempat di mana lima buah garis horizontal miring tujuh puluh lima Drajat dan di tengahnya ada garis vertikal yang membagi dua kelima garis itu. Miringnya sama, tujuh puluh lima Drajat. Dan sandi yang terakhir membentuk sandi yang sama seperti sandi pertama. Mereka saling terhubung satu sama lain."
Sean memikirkan ide, memecahkan kebuntuan yang melanda idenya itu.
Gordon berdiri di belakang Sean, dia menepuk pundak anak itu. "Apakah kau sudah menemukan jawabannya?" tanyanya ingin tahu.
Sean menggeleng. "Belum sama sekali. Terlalu sulit untuk di artikan."
Wajah Sean terlihat lelah. Mungkin Sean ingin menyerah, tapi dia tidak segampang itu putus asa.
"Aku akan mencoba mengartikan apa maksud dari semua ini. Mungkin aku bisa menemukan hal-hal lainnya," kata Sean. Dia mencoba berusaha kembali menganalisis kode itu. Oh, tapi sayang, itu amat sulit.
"Pertama-tama. Ada simbol-simbol berbentuk huruf di atas peta. Di samping simbol bundar itu terdapat tulisan kecil. Di bawah simbol terdapat sebuah peta. Semuanya jika di hubungkan mungkin menjadi sebuah huruf sebagai pembuka pintu."
Saat Sean berkata, Jessica mungkin sedikit bisa membantu walau dia tak paham apapun. "Sean, bukankah tulisan kecil itu memiliki simbol yang sama dengan di sebelahnya?" kata Jessica memberitahu.
"Maksud mu.......?"
"Kau lihat," balas Jessica. "Garis-garis kecil itu bukankah sama dengan garis-garis yang ada dalam simbol. Apa mungkin simbol itu adalah garis dan sebaliknya."
Sean berpikir, ada benarnya juga. Tadi Sean hanya membaca garis saja, tanpa memperhatikan simbol di sebelahnya. "Aku akan mencoba," ucap Sean bertekad.
"Ingat nak, kali ini kau harus berhasil!" sahut Gordon dari belakang. Dia menyemangati, dalam hal terselubung.
Sean tahu, itu yang harus dia lakukan. Membuka pintu berukir kepala singa itu yang di apit oleh dua dinding-dinding batu. Sean mengulangi lagi apa yang dia ucapkan sebelumnya.
"Simbol pertama adalah garis lurus vertikal lalu di tengahnya ada empat garis horizontal. Sandi kedua tiga buah garis horizontal lalu di ujung ketiga garis, ada garis vertikal yang menutup simpul bagian kanan. Lalu sandi yang ketiga sama seperti sandi yang kedua tapi garis vertikal ada di sebelah kiri. Kemudian ada sandi keempat dimana ada lima buah garis horizontal miring tujuh puluh lima Drajat dan di tengahnya ada garis vertikal yang membagi dua kelima garis itu. Miringnya sama, tujuh puluh lima Drajat. Dan sandi yang terakhir membentuk sandi yang sama seperti sandi pertama. Mereka saling terhubung satu sama lain. Jika di artikan dari simbol menjadi huruf, membentuk huruf...... E —N —T —R— E."
"Masuk," sahut Jessica. ENTRE artinya masuk." Gadis itu mendekati Sean, dia ikut mengamati simbol-simbol itu. "Dalam bahas Inggris, Enter—masuk. Mungkin maksud E N T R E adalah masuk yang berasal dari kata Entrance."
"Benar, ENTRE sama dengan masuk!" seru Sean yang mulai memahami. "Di simbol itu ada jarum. Pertama-tama, kita putar jarum besar itu ke simbol E mundur sebanyak empat langkah. Dan kedua sama, mengikuti pola garis-garis, lalu yang ketiga, keempat dan seterusnya....."
Saat Sean memutar-mutarkan jarum besar di pinggir simbol itu, terdengar suara, "KLIK".
Dan yang terjadi adalah, "Pintunya terbuka, Sean!" teriak Jessica kegirangan.
Dua daun pintu itu ternyata terbuka keluar, bukan kedalam. Mereka hampir salah, sebenarnya pintu besar itu tidak menjorok masuk kedalam seperti pintu pada umumnya atau terlipat keatas maupun hilang di kiri maupun kanan. Melainkan keluar dari jalur perpintuan.
__ADS_1
BERSAMBUNG