Adventure Of Lord Lausius

Adventure Of Lord Lausius
Episode 54


__ADS_3

Rhodes


Di tengah ketakjuban yang di rasakan oleh ketiga anak itu. Apalagi di tengah ruangan manor, mata anak-anak itu memandang sekeliling ruangan menyaksikan kemilau emas yang menyilaukan mata.



Di balik dinding yang berhiaskan patung kepala singa menempel di dinding manor, seorang wanita cantik dengan rambut putih tergerai menyambangi ketiga anak itu.



Ilustrasi.


Dia melayang di udara dengan sayap indahnya. Anak-anak melihatnya, dia menghampiri mereka sambil perlahan menurunkan kakinya memijak di lantai manor yang berkilau. Sayapnya bercorak sangat mewah dengan cahaya yang tak kalah menakjubkan.


"Aku Dewi Rhodes pemilik manor emas di balik awan metis ini. Kalian berhasil menemukan rahasia di balik manor ini. Kalian pasti bukan manusia biasa dan sembarangan yang bisa memecahkan misteri di manor tua ini. Siapa kalian sebenarnya?" Dia tanpa basa basi langsung berbicara.


Gaya bicara yang lembut, siapapun akan terbuai kala mendengar nada merdunya dalam berbicara.


Sean berbicara lebih dahulu menjawab pertanyaan Dewi Rhodes pimpinan para nimfa. Sean bicara mewakili kedua sahabatnya. "Nama ku Sean. Dan mereka berdua sahabat ku Jessica dan Yudhar." Ujar Sean bicara sopan. Dia memperkenalkan dirinya pada Dewi Rhodes.


Dewi Rhodes sebenarnya sudah mengetahui rupa Sean dan mengenalinya. Tetapi dia berpura-pura tidak mengetahui apapun mengenai Sean. Sebelum dia mengetahui anak itu, beberapa Marmaida di bawah perintah Dewi Handita menyampaikan kabar berita ini.


Di hadapan Dewi Rhodes, wanita yang anggun ini, para Marmaida meminta agar dia menyambut kedatangan anak itu. Tepat setelah dia terbangun dari tidur panjangnya ribuan tahun ini. "Sean! Nama yang indah." Ujarnya memuji.


Lalu dia melanjutkan pertanyaan untuk Sean dan sahabatnya. "Apakah kalian datang kesini untuk bermalam?" Tanyanya seakan dia belum tahu tujuan kedatangan ketiga anak itu.


Sean mengangguk dengan sopan. "Benar Dewi. Kami ingin bermalam di sini." Sean dalam berbicara memang memiliki pesona tersendiri. Siapa saja yang melihat anak itu pasti bisa merasakan aura yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Dewi Rhodes tersenyum. Dia amat menyukai sikap sopan Sean. "Karena kau berhasil membuka rahasia manor emas ini, maka aku akan memberikan kalian hal yang setimpal karena berhasil memecahkan misteri yang ku buat ini sekaligus membangunkan aku dari tidurku yang panjang."


Ujarnya kembali dan kali ini kata-katanya hampir menyerupai sebuah perjanjian untuk pemenang sayembara.

__ADS_1


Dengan kekuatan sekali jentik melalui jari jemarinya, Dewi Rhodes memanggil ratusan nimfa. Dari belakang punggungnya, ratusan nimfa terbang menunggu perintah pimpinan nimfa ini.


"Para nimfa. Antarkan ketiga anak ini ke kamar mereka." Katanya memerintah. Dia terlihat tegas dan berwibawa bahkan Sean dan sahabatnya sampai terkagum-kagum melihat kehebatan sang Dewi.


Para nimfa terbang menghinggapi anak-anak. Mereka ingin memboyongnya dengan mengangkat tubuh mereka melayang di udara. Tetapi tepat sebelum para nimfa-nimfa kecil ingin memboyong ketiga anak itu, perut Yudhar tiba-tiba saja berbunyi. Mungkin cacing penghuni dalam perutnya sudah lapar.


Mendengar kejadian ini Dewi Rhodes sedikit tersenyum karena lucu melihat tingkah polos anak itu. "Apakah kalian belum makan?" Dewi Rhodes kembali bertanya. Walau jawabannya sudah pasti mereka akan menjawab lapar, dia melakukan ini hanya bertanya sebagai kiasan.


Yudhar menganggukkan kepalanya. Tidak bisa di ragukan lagi kalau dia sangat lapar saat itu. Dia sangat menantikan makan malam yang nikmat dalam pikirannya.


Jessica menyikut remaja bernama Yudhar itu. Gadis ini tidak menyukai tingkahnya yang terlalu kampungan. "Setidaknya meminta lah dengan anggun saat kau lapar." Kata Jessica membisik pelan. Dia mengutuk perbuatan Yudhar saat itu.


Siapa peduli? Bahkan Yudhar tidak akan mendengar sepatah kata pun yang di ucapkan oleh Jessica.


Jessica selalu mengomelinya, hal ini membuat gendang telinganya mulai merasa kebal.


"Para nimfa. Bawakan makanan yang enak ke sini." Perintah Dewi Rhodes kepada seluruh peri kecil.


Makanan tiba. Dan anak-anak tanpa pikir panjang memakan apa yang di sediakan oleh Dewi Rhodes. Dan memang masakan paling lezat yang pernah mereka temui kala mencicipi makanan peri hutan itu.


Di meja makan besar tepat di tengah manor, meja yang berornamen khas dengan sentuhan emas, ketiga anak itu santai. Mereka makan seolah seperti seorang pangeran dan putri yang sedang di layani oleh para pelayan. Mereka di suguhkan dengan kenikmatan yang tak terhingga.


Mungkin seumur-umur hidup Jessica ini kali pertamanya bagi dia menerima layanan mewah ala bangsawan ini. Betapa beruntungnya Jessica saat itu.


Di tengah makan malam mereka, Jessica dan Yudhar terlena oleh makanan yang di santap mereka. Tetapi Sean? Walau dia memakan masakan itu namun pikirannya masih terfokus pada satu perhatian.


Yaitu dia mulai mengerti maksud dari mantera yang ucapkan oleh para nimfa tadi. "Peri menangis di balik kendi... Kucing menghilang di telan lubang.... Siapapun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas."


Sean perlahan mulai mengartikan kata-kata itu dengan baik. "Jadi begitu mekanismenya. Peri menangis di balik kendi..... Adalah rahasia yang ada di balik vas bunga dan merujuk pada kunci pintu manor. Sementara kata Siapa pun kalian, temukan Rhodes, manor tua runtuhkan emas, bermakna bahwa sesungguhnya siapa saja bisa menemui Dewi Rhodes dengan memecahkan misteri ini. Dan manor tua ini runtuh berganti menjadi emas. Aku tidak menyangka jika tempat ini akan di selimuti emas melalui sebuah teka teki yang sulit seperti ini." Kata Sean berujar dalam hatinya.


Dia mulai memahami sebuah rahasia di balik kediaman besar dengan lapis emas yang berkilau. Tidak akan pernah baginya bisa bertemu dengan manor seperti ini di kehidupan manusianya.

__ADS_1


Jessica, mata anak itu melihat Sean yang nampak sedang memikirkan sesuatu. Dia penasaran, dan ingin tahu apa yang anak itu pikirkan. "Sean? Apa yang aku lamun-kan. Apa masakan ini kau tidak menyukainya?" Tanya Jessica menyela Sean dari bayang-bayang ketakjuban.


"Oh.... Tidak. Aku rasa masakan ini paling enak yang pernah aku cicipi," balas Sean jujur.


Anak itu melanjutkan makan, dia pura-pura melupakan apa yang di pikirkan-nya tadi.


"Penuh misteri." Jessica bergumam. Dia tahu Sean selalu menutupi apa yang sedang ia rasakan.


Malam semakin larut, bahkan makin panjang karena purnama masih menyelimuti sejuknya udara di dalam manor.


Bertemu dengan berbagai makhluk yang menakjubkan adalah sebuah pengalaman yang tak terlupakan.


Apalagi semua yang belum pernah Sean lihat di dunia nyata, semuanya tidak ada artinya saat ia melihat di dunia fantasi ini. Perjalanannya dalam mencari Edward kini membawanya masuk kedalam berbagai masalah tanpa akhir.


Sean sudah tidak bisa menebak apa lagi rintangan yang akan dia hadapi. Entah berapa kali ia bertemu dengan makhluk ganas, Sean tidak bisa melupakan kejadian mengerikan ini.


Kini, di kamar yang amat luas milik Dewi Rhodes, Dewi pemilik manor ini, ketiga anak itu sudah bersiap untuk memejamkan matanya. Seperti sebuah ajang uji coba dan ketangkasan, perjalanan yang belum pernah Sean lakukan seakan seperti mimpi semata.


Sebelum tidur, bayang-bayang ibu Sean muncul di kepalanya. Rasanya dia sudah mulai merindukan sang ibu.


Ketiga anak itu di tempatkan dalam satu ruangan yang luas. Ranjang tidur yang mewah dengan selimut sutera melapisi empuknya tempat tidur yang di penuhi busa empuk terbuat dari tumpukan bulu angsa.


Tempat tidur tersusun seperti bangsal rumah sakit. Tanpa pembatas tetapi jaraknya lumayan jauh yakni satu hingga dua meter. Sean mendapatkan ranjang paling tengah, sedangkan keduanya ada di sisi kanan kiri Sean.


Jessica di balik selimutnya yang tebal menatap Sean. Wajah anak itu di perhatikan sejenak oleh matanya. Sayup-sayup mata Jessica sudah mulai meredup, dan kini dia sudah tidak bisa menahan kantuknya. "Sean! Aku lebih dahulu tidur. Selamat malam."


Sean menengoknya, anak itu sudah menutup mata. Rasa kantuk-nya sangat besar dan tak tertahankan.


Sedangkan Yudhar, dia sudah lebih dahulu memejamkan matanya.


Melihat keduanya sudah menggelayut di alam mimpi membuat Sean ikut terpejam. "Selamat malam Jessica." Suaranya menjawab Jessica mulai melandai, dia juga ikut terlelap.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2